Enam Permasalahan Pendidikan di Banyumas
Friday, 7 May 2010 (13:35) | 3,731 views | 869 komentar | Print this Article
Oleh : Deni Kurniawan As’ari

Deni Kurniawan As’ariSENIN (4/8) lalu, Bupati Banyumas Mardjoko melantik Drs. Purwadi Santoso, M.Hum sebagai Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik). Pelantikan ini sempat tertunda karena menunggu persetujuan DPRD, ketika calon Kadisdik itu masih menjabat sekretaris dewan. Dengan pelantikan ini, bolehkah masyarakat Banyumas memiliki ekspetasi baru tentang maju dan berkembangnya dunia pendidikan di Banyumas?
Pergantian atau rotasi pejabat dalam pemerintahan daerah merupakan hal yang lumrah. Namun yang menarik, pergantian pejabat Disdik ini dilakukan bupati hasil pilkada langsung pertama di Banyumas. Dan, sosok yang dipercaya memangku jabatan strategis itu bukanlah seorang profesional pendidikan, melainkan sosok berlatar belakang ilmu pemerintahan.
Menarik juga dicermati ketika DPRD mengajukan usul raperda pendidikan, Mardjoko sempat menolak usulan Wajib Belajar 12 tahun. Apakah beberapa sinyal itu menjadi pertanda bahwa Mardjoko kurang ngeh terhadap dunia pendidikan? Bila melihat program Mardjoko saat kampanye, terutama terkait dengan bidang pendidikan, sebenarnya harapan itu masih tetap ada. Dalam buklet atau selebaran kampanyenya, Mardjoko memiliki sembilan bidang garapan, termasuk pendidikan. Program yang ditawarkannya meliputi kesiapan untuk merealisasi anggaran pendidikan (20 % dari APBD) sesuai ketentuan perundang-undangan, memperbanyak sarana-prasarana pendidikan secara merata, memberi beasiswa kepada siswa SD, SMP, dan SMA dari keluarga miskin, serta meningkatkan kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan.
Dalam Program 100 hari, terutama program kedua (peningkatan kesejahteraan masyarakat) point b tertulis: meningkatkan layanan pendidikan dan kesehatan dengan indikator keberhasilannya adalah warga mendapatkan layanan pendidikan dan kesehatan yang memadai (http://www.banyumaskab.go.id).
Nah, tinggal bagaimana Kadisdik dapat menerjemahkan segala kebijakan dan rencana program kampanye Mardjoko itu menjadi program riil yang menyentuh dan membawa kemanfaatan bagi masyarakat. Sebagian pihak sempat meragukan figur Kadisdik yang dilantik, terutama karena kiprah sebelumnya yang tak pernah bergelut dengan hiruk-pikuk pendidikan. Namun penunjukan kadisdik merupakan wilayah hak Bupati. Tentu ia memiliki alasan tersendiri, bahwa yang bersangkutan dapat mengemban tugas dengan baik. Sudah saatnya masyarakat memberikan kesempatan kepada Kadisdik baru untuk menjalankan tugasnya.
Di sisi lain, para ‘‘penggelut pendidikan‘‘ di Banyumas perlu introspeksi tentang masih minimnya stok calon kadisdik yang bisa ditawarkan, atau masih rendahnya bargaining position dengan Bupati Mardjoko. Mungkin mereka tidak pernah ikut dalam hiruk pikuk politik saat kampanye pilkada beberapa bulan lalu. Ada ungkapan seorang teman, bahwa politik itu adalah balas budi. Kalau tidak, ya balas dendam. Entah benar atau tidak ungkapan tersebut.
Pendidikan Murah



Ada enam permasalahan pendidikan di Banyumas yang perlu mendapat perhatian dari Bupati Mardjoko dan kadisdik baru.
Pertama, mahalnya biaya pendidikan, terutama untuk sekolah negeri setingkat SMP dan SMA. Sebagian masyarakat berkelakar, sekolah negeri dan swasta kini sama mahalnya. Alangkah indahnya kalau Bupati Mardjoko dan kadisdik memiliki program untuk membantu siswa dari keluarga tidak mampu berupa beasiswa atau sumbangan pendidikan. Syukur kalau menelurkan program pendidikan murah (SD – SMA). Dan bila memungkinkan, pendidikan gratis seperti yang sukses dilakukan Pemkab Jembrana (Bali). Semua itu tergantung dari political will dan good will Bupati.
Kedua, adanya regulasi yang jelas bagi sekolah. Besarnya sumbangan orang tua siswa baru kepada sekolah saat pendaftaran dirasa memberatkan. Sudah saatnya Dinas Pendidikan membuat regulasi untuk setiap sekolah, sehingga ada kontrol yang jelas.
Ketiga, kesejahteraan guru. Kepedulian Pemkab Banyumas terhadap kesejahteraan guru —terutama guru swasta— selama ini masih kurang, bahkan kalah dari daerah tetangga seperti Purbalingga. Sudah saatnya Bupati Mardjoko ikut memikirkan nasib mereka yang tersebar di berbagai wilayah Banyumas. Program insentif bulanan bagi guru swasta dan honorer negeri yang bersumber dari APBD layak dipertimbangkan oleh Bupati dan DPRD.
Keempat, pelayanan birokrasi pendidikan. Untuk mendukung ketercapaian program pendidikan, perlu reformasi birokrasi pelayanan pendidikan di setiap tingkatan. Selain itu, perlunya kontrol terhadap setiap pelaku pendidikan untuk meminimalisasi terjadinya praktik penyimpangan yang merugikan masyarakat. Dalam hal ini kemampuan menajerial dan ‘‘keberanian‘‘ dari Kadisdik baru menjadi sesuatu yang sangat penting.
Kelima, pemerataan fasilitas pendidikan di kota dan desa. Beberapa sekolah di kota memiliki fasilitas yang sangat lengkap dan memadai. Misal, di kelas tersedia televisi, LCD dan komputer untuk mendukung proses pembelajaran. Namun di sekolah-sekolah ndesa, banyak bangunan yang mau runtuh atau fasilitas pendukungnya jauh dari memadai.
Keenam, peningkatan kualitas dan profesionalisme guru. Sebab guru adalah ujung tombak kesuksesan pendidikan. Pemberdayaan dan peningkatan kualitas mereka perlu mendapat perhatian. Kegiatan seminar, workshop, diklat, diskusi, dan kajian keilmuan perlu digalakkan.
Akhirnya, selamat bertugas kepada Bupati Mardjoko dan Kadisdik yang baru. Teriring doa dan harapan, semoga amanah rakyat dapat ditunaikan dengan sebaik-baiknya dan rakyat pun tersenyum bahagia karena pemimpin mereka termasuk tokoh yang peduli terhadap pendidikan.
(32) Deni Kurniawan As’ari, Humas ISPI Pusat dan Ketua Umum Agupena Jawa Tengah.
Sumber : Suara Merdeka
Sumber Photo :
1. http://sbelen.files.wordpress.com
2. http://myindismart.blogspot.com
Tulisan lain yang berkaitan:
Memperlakukan Buku (Sunday, 11 December 2011, 47 views, 3 respon) Oleh Deni Kurniawan As’ari
Humas ISPI
“Buku gudangnya ilmu, membaca adalah kuncinya.” Apakah ungkapan ini masih berlaku di era...
ISPI Jawa Tengah Menggelar Musyawarah Daerah/kongres ke-3 dan Diklat Sehari Penulisan Karya Ilmiah (Sunday, 3 July 2011, 84 views, 6 respon) Oleh Deni Kurniawan As’ari —-Peserta Musda/Kongres ISPI Jateng—-
Jum’at-Sabtu, 1-2 Juli 2011 kemarin, bertempat di Hotel...
Kiat Memberdayakan Forum MGMP (Sunday, 24 April 2011, 188 views, 139 respon) Oleh : Deni Kurniawan As’ari —Humas ISPI—
Forum MGMP yang sejatinya menjadi wadah untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme...
Membangun “Surga Pendidikan” di Banyumas (Tuesday, 1 February 2011, 65 views, 727 respon) Oleh Dr. Moh. Roqib, M.Ag (Dosen STAIN Purwokerto dan Dewan Pembina ISPI Banyumas)
SURGA PENDIDIKAN
Surga pendidikan di Banyumas ? Ah itu mimpi…!...
Siswandi, Bukan Guru Biasa (Saturday, 31 July 2010, 347 views, 1,812 respon) Siswandi, seorang guru sekaligus kepala sekolah SD ini merupakan salah satu sosok guru yang patut diteladani. Ia lahir di sebuah desa yang sepi, pada...

Permasalahan ketujuh, pemerataan kesempatan untuk peningkatan kualitas dan profesionalisme guru. Biasanya yang sering mendapat kesempatan training, workshop, diklat, dsb, adalah guru-guru yang bertugas di kota, yang di daerah jarang mendapat kesempatan….
admin/Humas Reply:
August 31st, 2010 at 9:00 am
@Zaenal Arifin, Setuju banget dengan pendapat Pak Zaenal (Sekum ISPI Cilacap).
Makasih.
Juga untuk kami, Guru-guru DPK, bagai anak2 yang terbuang…?
Deni Kurniawan As'ari Reply:
March 19th, 2011 at 5:56 pm
@sarastiono, Yth. Pak Sarastiana, mohon diperjelas permasalahan bapak, apa maksud dari bagai anak2 yang terbuang itu?
Trim….
Kami guru2 DPK/ PNS yang diperbantukan di sekolah swasta…terkait dengan informasi kedinasan selalu tertinggal, karena pemberitahuan ke kami dari sekolah induk selalu terlambat.Tentang pengembangan karir? saya contohkan ada seorang teman gol.IV/a sama2 DPK tidak menjabat apa2…
Deni Kurniawan As'ari Reply:
March 20th, 2011 at 11:47 am
@sarastiono, OK, kalau gitu, saya sarankan dua hal saja:
pertama, bapak lebih proaktif dalam hal informasi terkait DPK.
kedua, bapak mengajukan pindah ke sekolah negeri.
Makasih atas sharingnya….
Semoga Kadinas Pendidikan Banjarnegara atau pihak terkait membaca harapan bapak ….
Salam ISPI!