Sekelumit Pengalaman Saya

Saturday, 29 May 2010 (10:31) | 678 views | Print this Article

Oleh Zainal Abidin (Guru SMAN 3 Bandar Lampung, Pengurus Asosiasi Guru Fisika (AGFI) Pusat)

Bismillahirrahmanirrahim

I. Pendahuluan
Tulisan ini saya awali dengan penggalan catatan singkat perjalanan kegiatan saya sebagai guru.

Tahun 1992 saya mulai menjadi guru di SMAN 3 Bandar Lampung. Saya lulusan D3 Pendidikan Fisika dari FKIP Universitas Lampung. Pada1996 saya mengikuti program penyetaraan S1 selama satu tahun di tempat yang sama pada waktu mengikuti pendidikan D3. Selama lebih kurang tujuh tahun saya melaksanakan proses pembelajaran baik di ruang kelas atau di laboratorium. Saya bergaul dengan rekan-rekan guru, siswa-siswi dan anggota masyarakat sekolah lainnya sambil terus menambah pengetahuan tentang proses pembelajaran secara otodidak. Sesekali mendapat tugas mengikuti pelatihan untuk guru yang ditunjuk oleh pihak sekolah. Pada 1999, sepengetahuan saya hanya ada satu warnet di kota tempat sekolah saya berada. Pada hari minggu saya mengajak siswa-siswi saya untuk belajar dengan internet di warnet itu.

Pada waktu itu saya tidak punya komputer dan di sekolah saya hanya ada sekitar sepuluh komputer. Saya belajar komputer secara otodidak dan tidak pernah kursus komputer. Keinginan saya untuk terus belajar tentang teknologi informatika dan komunikasi terus menyala dan ternyata pada 2002 saya menjadi pemakalah pada Simposium Nasional I Inovasi Pembelajaran dan Pengelolaan Sekolah di Jakarta bersama dua orang guru dari Lampung. Selanjutnya, saya senang mengikuti kegiatan-kegiatan yang dapat menambah pengetahuan saya dan berkomunikasi via email dan berbagai komunitas di internet dengan para ahli serta menjalin komunikasi dengan sesama guru dan teman-teman di seluruh dunia. Dari sini, saya mulai merefleksi tentang peran guru di sekolah maupun di masyarakat. Saya berinovasi dalam pembelajaran dan saya pernah tuangkan dalam bentuk penelitian tindakan kelas dan mendapat penghargaan sebagai juara dua tingkat provinsi Lampung yang diselenggarakan oleh LPMP Lampun bulan Desember 2008.

Selain sebagai anggota PGRI Bandar Lampung, saya menjadi Pengurus Asosiasi Guru Fisika (AGFI) Pusat Jakarta dan Pengurus AGFI Wilayah Lampung. Bersama rekan-rekan guru fisika di Lampung, saya pernah mengadakan Seminar dan Diklat Nasiona Fisika Gasing (Gampang, Asyik dan Menengkan), 15 Nopember 2008.Bulan Desember 2009 saya lulus sertifikasiguru dan sampai saat ini dan semoga seterusnya saya berharap diberikan kesempatan dan kemampuan untuk selalu bekerja dan memperbaiki pekerjaan saya sebagai guru.

Dari sepenggal cacatan di atas, saya ingin menuliskan refleksi saya tentang pendidikan, sekolah dan profesionalisme guru dengan mencari evidensi dan relevaansi di dalamnya. Tulisan diakhiri dengan penutup yang merupakan simpulan tulisan.

II. Pendidikan

Negara yang tergolong maju adalah negara yang pendidkannya maju pula, dan demikian sebaliknya. Jadi pendidikan menopang kemajuan bangsa itu. Hal ini dimungkinkan karena selain mampu menghasilkan the best minds, pendidikan di negeri itu memiliki relevansi yang tinggi dengan kebutuhan masysrakatnya. Itulah sebabnya, mutu pendidikan yang rendah menjadi keprihatinan bangsa secara keseluruhan, bukan hanya kalangan tertentu yang terlibat langsung dalam proses pendidikan.1

Kita telah memasuki abad 21 yang dikenal dengan abad pengetahuan. Para peramal masa depan (futurist) mengatakan sebagai abad pengetahuan karena pengetahuan akan menjadi landasan utama segala aspek kehidupan.2 Abad pengetahuan merupakan suatu era dengan tuntutan yang lebih rumit dan menantang. Suatu era dengan spesifikasi tertentu yang sangat besar pengaruhnya terhadap dunia pendidikan dan lapangan kerja. Perubahan-perubahan yang terjadi selain karena perkembangan teknologi yang sangat pesat, juga diakibatkan oleh perkembangan yang luar biasa dalam ilmu pengetahuan, psikologi, dan transformasi nilai-nilai budaya. Dampaknya adalah perubahan cara pandang manusia terhadap manusia, cara pandang terhadap pendidikan, perubahan peran orang tua/guru/dosen, serta perubahan pola hubungan antar mereka. Perhatian utama pendidikan di abad 21 adalah untuk mempersiapkan hidup dan kerja bagi masyarakat.Tibalah saatnya menoleh sejenak ke arah pandangan dengan sudut yang luas mengenai peran-peran utama yang akan semakin dimainkan oleh pembelajaran dan pendidikan dalam masyarakat yang berbasis pengetahuan.2

Para ahli mengatakan bahwa abad 21 merupakan abad pengetahuan karena pengetahuan menjadi landasan utama segala aspek kehidupan. Sepuluh kecenderungan besar yang akan terjadi pada pendidikan di abad 21 yaitu3: (1) dari masyarakat industri ke masyarakat informasi, (2) dari teknologi yang dipaksakan ke teknologi tinggi, (3) dari ekonomi nasional ke ekonomi dunia, (4) dari perencanaan jangka pendek ke perencanaan jangka panjang, (5) dari sentralisasi ke desentralisasi, (6) dari bantuan institusional ke bantuan diri, (7) dari demokrasi perwakilan ke demokrasi partisipatoris, (8) dari hierarki-hierarki ke penjaringan, (9) dari utara ke selatan, dan (10) dari dan/atau ke pilihan majemuk.

Berbagai implikasi kecenderungan di atas berdampak terhadap dunia pendidikan yang meliputi aspek kurikulum, manajemen pendidikan, tenaga kependidikan, strategi dan metode pendidikan. Selanjutnya, ada 8 kecenderungan besar di Asia yang ikut mempengaruhi dunia yaitu3: (1) dari negara bangsa ke jaringan, (2) dari tuntutan eksport ke tuntutan konsumen, (3) dari pengaruh Barat ke cara Asia, (4) dari kontol pemerintah ke tuntutan pasar, (5) dari desa ke metropolitan, (6) dari padat karya ke teknologi canggih, (7) dari dominasi kaum pria ke munculnya kaum wanita, (8) dari Barat ke Timur. Kedelapan kecenderungan itu akan mempengaruhi tata nilai dalam berbagai aspek, pola dan gaya hidup masyarakat baik di desa maupun di kota. Pada gilirannya semua itu akan mempengaruhi pola-pola pendidikan yang lebih disukai dengan tuntutan kecenderungan tersebut. Dalam hubungan dengan ini pendidikan ditantang untuk mampu menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menghadapi tantangan kecenderungan itu tanpa kehilangan nilai-nilai kepribadian dan budaya bangsanya.

Berdasarkan kecenderungan di atas, pendidikan di Indonesia di abad 21 mempunyai karakteristik sebagai berikut4: (1) Pendidikan nasional mempunyai tiga fungsi dasar yaitu; (a) untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, (b) untuk mempersiapkan tenaga kerja terampil dan ahli yang diperlukan dalam proses industrialisasi, (c) membina dan mengembangkan penguasaan berbagai cabang keahlian ilmu pengetahuan dan teknologi; (2) Sebagai negara kepulauan yang berbeda-beda suku, agama dan bahasa, pendidikan tidak hanya sebagai proses transfer pengetahuan saja, akan tetapi mempunyai fungsi pelestarian kehidupan bangsa dalam suasana persatuan dan kesatuan nasional; (3) Dengan makin meningkatnya hasil pembangunan, mobilitas penduduk akan mempengaruhi corak pendidikan nasional; (4) Perubahan karakteristik keluarga baik fungsi maupun struktur, akan banyak menuntut akan pentingnya kerja sama berbagai lingkungan pendidikan dan dalam keluarga sebagai intinya. Nilai-nilai keluarga hendaknya tetap dilestarikan dalam berbagai lingkungan pendidikan; (5) Asas belajar sepanjang hayat harus menjadi landasan utama dalam mewujudkan pendidikan untuk mengimbangi tantangan perkembangan jaman; (6) Penggunaan berbagai inovasi Iptek terutama media elektronik, informatika, dan komunikasi dalam berbagai kegiatan pendidikan, (7) Penyediaan perpustakaan dan sumber-sumber belajar sangat diperlukan dalam menunjang upaya pendidikan dalam pendidikan; (8) Publikasi dan penelitian dalam bidang pendidikan dan bidang lain yang terkait, merupakan suatu kebutuhan nyata bagi pendidikan di abad pengetahuan.

Dari kecenderungan-kecenderungan di atas perlunya dipahami aspek-aspek yang penting dalam system pendidikan. Sistem pendidikan modern mencakup beberapa aspek sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 2.5

Tabel 2. Aspek-aspek pendidikan modern
Aspek Pendidikan Modern
1. informasi dan kesadaran
2. perlindungan dan tata kelola
3. tata pengetahuan
4. perdamaian dan kesetaraan
5. kontek lokal
6. transformasi
7. budaya
8. isu dan tema lintas bidang
9. kesehatan
10. pendidikan lingkungan
11. kepemimpinan

Kesebelas aspek pendidikan di atas merupakan hal yang perlu mendapat perhatian dalam dunia pendidikan secara keseluruhan sehingga terwujud pendidikan yang dapat menjawab tantangan zaman bagi peserta didik.

III. Sekolah

HAKIKAT pendidikan adalah mengubah budaya. Apa yang sering dilupakan banyak orang adalah sekolah-sekolah kita telah memiliki budaya sekolah (school culture), yaitu seperangkat nilai-nilai, kepercayaan, dan kebiasaan yang sudah mendarah daging dan menyejarah sejak negara ini merdeka.

Tanpa keberanian mendobrak kebiasaan ini, apa pun model pendidikan dan peraturan yang diundangkan, akan sulit bagi kita untuk memperbaiki mutu pendidikan. Sedikitnya, ada empat tradisi yang membatu selama ini: (1) orang tua menganggap sekolahlah yang bertanggung jawab mendidik siswa, (2) orang tua percaya bahwa program IPA lebih bergengsi daripada program IPS bagi anak mereka, (3) orang tua percaya bahwa sekolah kejuruan kurang bergengsi, (4) masyarakat percaya bahwa gelar ke(pasca)sarjanaan merupakan simbol status sosial.

Wacana pendidikan kita kini diperkaya oleh seperangkat kosakata yang maknanya berimpitan: sekolah percontohan, sekolah percobaan, sekolah unggul, sekolah akselerasi, dan sejenisnya. Dalam literatur internasional, semua itu lazim disebut lab school, effective school, demonstration school, experiment school atau accelerated school, dan sekolah-sekolah pun diiklankan dengan atribut-atribut magnetis itu.

Senarai kosakata itu tidak persis bersinonim. Ada nuansa kekhasan pada masing-masing. Dari semua itu, kosa kata yang paling lazim dipakai adalah effective school atau sekolah unggul yang didasarkan atas keyakinan bahwa siswa; apa pun etnis, status ekonomi, dan jenis kelaminnya, akan mampu belajar sesuai dengan tuntutan kurikulum.
Pendekatan yang ditempuh adalah perencanaan secara kolaboratif antara guru, administrator, orang tua, dan masyarakat.

Data prestasi siswa dijadikan basis untuk perbaikan sistem secara berkelanjutan. Sekolah unggul demikian memiliki sejumlah correlate atau ciri pembeda (tanda-tanda) sebagai berikut. Pertama, visi dan misi sekolah yang jelas. Mayoritas sekolah kita belum mampu mengartikulasikan visi dan misinya. Visi adalah pernyataan singkat, mudah diingat, pemberi semangat, dan obor penerang jalan untuk maju melejit. Misalnya, “SMA berbasis komputer”, “SD berbasis kelas kecil”, “SMP berbasis IST (information system technology)”, “SMK bersistem asrama”, “aliah dengan pengantar tiga bahasa”, dan sebagainya. Konsep iman dan takwa (imtak) dan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) selama ini terlalu sering dipakai sehingga maknanya tidak jelas, mengawang-awang, filosofis, dan tidak operasional. Misi adalah dua atau tiga pernyataan sebagai operasionalisasi visi, misalnya “membangun siswa yang kreatif dan disiplin”, dan sebagainya.

Walau begitu, ada prioritas yang diunggulkan dalam rentang zaman secara terencana. Prioritas ini dinyatakan eksplisit dalam rencana kerja tahunan sekolah. Untuk mengimplementasikan visi dan misi sekolah, ada sejumlah langkah yang mesti ditempuh: (1) pahami kultur sekolah, (2) hargai profesi guru, (3) nyatakan apa yang Anda hargai, (4) perbanyak unsur yang Anda hargai, (5) lakukan kolaborasi dengan pihak-pihak terkait, (6) buat menu kegiatan bukan mandat, (7) gunakan birokrasi untuk memudahkan bukan untuk mempersulit, dan (8) buatlah jejaring (networking) seluas mungkin. Kedua, komitmen tinggi untuk unggul.
Staf administrasi, guru, dan kepala sekolah memiliki tekad yang mendidih untuk menjadikan sekolahnya sebagai sekolah unggul dalam segala aspek, sehingga semua siswa dapat menguasai materi pokok dalam kurikulum. Semuanya memiliki potensi untuk berkontribusi dalam proses pendidikan. Komitmen ini adalah energi untuk mengubah budaya konvensional (biasa-biasa saja) menjadi budaya unggul.
Membangun komitmen bersama adalah langkah awal dan penting untuk memulai proses menuju sekolah unggul. Ketiga, kepemimpinan yang mumpuni. Kepala sekolah adalah sentral sekolah. Kepala sekolah adalah “pemimpin dari pemimpin”, bukan “pemimpin dari pengikut”. Artinya, selain kepala sekolah, ada pemimpin dalam lingkup kewenangannya sehingga tercipta proses pengambilan keputusan bersama (shared decision making).

Komunikasi terus-menerus dilakukan antara kepala sekolah dan para guru untuk memahami budaya dan etos sekolah yang yang diimpikan lewat visi sekolah itu. Bila tidak dikomunikasikan terus-menerus, visi itu akan mati sendiri. Guru juga adalah pemimpin dengan kualitas sebagai berikut: (1) terampil menggunakan model mengajar berdasarkan penelitian; (2) bekerja secara tim dalam merencanakan pelajaran, menilai siswa, dan dalam memecahkan masalah; (3) sebagai mentor bagi koleganya; (4) mengupayakan pembelajaran yang efisien; dan (5) berkolaborasi dengan orang tua, keluarga, dan anggota masyarakat lain demi pembelajaran siswa. Keempat, kesempatan untuk belajar dan pengaturan waktu yang jelas. Semua guru mengetahui apa yang mesti diajarkan. Alokasi waktu yang memadai dan penjadwalan yang tepat sangat berpengaruh bagi kualitas pengajaran. Guru memanfaatkan waktu yang tersedia semaksimal mungkin demi penguasaan keterampilan asasi. Dalam hal ini, perlu dijaga keseimbangan antara tuntutan kurikulum dengan ketersediaan waktu. Kunci keberhasilan dalam hal ini adalah mengajar dengan niat akademik yang jelas dan siswa pun mengetahui niat itu.

Mengajar yang berkualitas memiliki ciri sebagai berikut: (1) organisasi pembelajaran yang efisien, (2) tujuan yang jelas, (3) pelajaran yang terstruktur, dan (4) praktek mengajar yang adaptif dan fleksibel. Kelima, lingkungan yang aman dan teratur. Sekolah unggul bersuasana tertib, bertujuan, serius, dan terbebas dari ancaman fisik atau psikis, tidak oppressive tetapi kondusif untuk belajar dan mengajar.

Siswa diajari agar berperilaku aman dan tertib melalui belajar bersama (cooperative learning), menghargai kebhinekaan manusiawi, serta apresiasi terhadap nilai-nilai demokratis. Banyak penelitian menunjukkan bahwa suasana sekolah yang sehat berpengaruh positif terhadap produktivitas, semangat kerja, dan kepuasan guru dan siswa. Keenam, hubungan yang baik antara rumah dan sekolah. Para orang tua memahami visi dan misi sekolah.

Mereka diberi kesempatan untuk berperan dalam program demi tercapainya visi dan misi tersebut. Dengan demikian, sekolah tidak hanya mendidik siswa, tetapi juga orang tua sebagai anggota keluarga sekolah yang dihargai dan dilibatkan. Dengan melibatkan mereka pada kegiatan ekstra di akhir pekan (extraschool) misalnya, siswa sadar bahwa orang tuanya menghargai kegiatan pendidikan sehingga mereka pun menghargai pendidikan yang dilakoninya.

Inilah contoh konkret hubungan tripartit sekolah-siswa-orang tua. Upacara-upacara yang dihadiri orang tua sesungguhnya merupakan kesempatan untuk membangun citra sekolah dan untuk merayakan visi dan misi. Singkatnya, sekolah unggul membangun “kepercayaan” dan silaturahmi sehingga masing-masing memiliki nawaitu tinggi untuk melejitkan prestasi. Ketujuh, monitoring kemajuan siswa secara berkala.

Kemajuan siswa dimonitor terus-menerus dan hasil pemonitoran itu dipergunakan untuk memperbaiki perilaku dan performansi siswa dan untuk memperbaiki kurikulum secara keseluruhan. Penggunaan teknologi, khususnya komputer, memudahkan dokumentasi hasil monitoring secara terus-menerus.

Evaluasi penguasaan materi pelajaran secara perlahan bergeser dari tes baku (standardized norm-referenced paper-pencil test) menuju tes berdasar kurikulum dan berdasar kriteria (curricular-based, criterion-referenced). Dengan kata lain, evaluasi akan lebih berfokus pada performansi dan dokumentasi prestasi siswa sebagaimana terakumulasi dalam portofolio.
Dokumentasi prestasi ini bukan hanya untuk guru, tetapi juga untuk dikomunikasikan kepada orang tua. Sekolah sebagai sistem juga dimonitor secara berkelanjutan. Artinya, sekolah tidak hanya terampil memonitor kemajuan siswa, tetapi juga siap mengevaluasi dirinya sendiri. Hasil evaluasi diri ini merupakan bahan bagi pihak lain (external avaluators) untuk mengevaluasi kinerja sekolah itu. Inilah makna akuntabilitas publik.

Sekolah harus mengagendakan program rujuk mutu (benchmarking) kepada sekolah lain, sehingga sadar akan kelebihan dan kekurangan sendiri. Model sekolah unggul seperti digambarkan di atas akan berwujud bila sekolah tidak eksklusif bak menara gading, tetapi tumbuh sebagai bagian dari masyarakat sehingga memiliki kepekaan terhadap nurani masyarakat (a sense of community).
Dalam masyarakat, setiap individu berhubungan dengan individu lain, dan masing-masing memiliki potensi dan kualitas yang dapat disumbangkan pada sekolah. Dalam era globalisasi dan pesatnya informasi tetapi juga dalam keterpurukan multidimensi, khususnya ekonomi sekarang ini, kita merasakan keterbatasan dana dan menyaksikan tuntutan yang semakin tinggi akan adanya otonomi sekolah, akuntabilitas publik dan tranparansi, serta adanya harapan besar dari orang tua.
Bila ketujuh tanda di atas dilaksanakan, pendidikan yang diselenggarakan sekolah akan berdampak dahsyat pada pembentukan manusia yang unggul sekaligus berperan dalam pengembangan profesionalisme guru.

IV. Profesionalisme Guru

Gambaran singkat pembelajaran di abad pengetahuan adalah sebagai berikut. Praktek pembelajaran yang terjadi sekarang masih didominasi oleh pola atau paradigma yang banyak dijumpai di abad industri. Pada abad pengetahuan paradigma yang digunakan jauh berbeda dengan pada abad industri. Pendekatan pembelajaran yang digunakan pada abad pengetahuan adalah pendekatan campuran yaitu perpaduan antara pendekatan belajar dari guru, belajar dari siswa lain, dan belajar pada diri sendiri. Praktek pembelajaran di abad industri dan abad pengetahuan dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.6

Tabel 1. Perbandingan praktek pembelajaran di abad industri dengan abad pengetahuan.

Abad Industri
1. Guru sebagai pengarah
2. Guru sbgai smber pengetahuan
3. Belajar diarahkan oleh kuri- kulum.
4. Belajar dijadualkan secara ketat dgn waktu
yang terbatas
5. Terutama didasarkan pd fakta
6. Bersifat teoritik, prinsip- prinsip dan survei
7. Pengulangan dan latihan
8. Aturan dan prosedur
9. Kompetitif
10. Berfokus pada kelas
11. Hasilnya ditentukan sblmnya
12. Mengikuti norma
13. Komputer sbg subyek belajar
14. Presentasi dgn media statis
15. Komunikasi sebatas ruang kls
16. Tes diukur dengan norma

Abad Pengetahuan
1. Guru sebagai fasilitator, pembimbing, konsultan
2. Guru sebagai kawan belajar
3. Belajar diarahkan oleh siswa kulum.
4. Belajar secara terbuka, ketat dgn waktu yang terbatas fleksibel sesuai keperluan
5. Terutama berdasarkan proyek dan masalah
6. Dunia nyata, dan refleksi prinsip dan survei
7. Penyelidikan dan perancangan
8. Penemuan dan penciptaan
9. Colaboratif
10. Berfokus pada masyarakat
11. Hasilnya terbuka
12. Keanekaragaman yang kreatif
13. Komputer sebagai peralatan semua jenis belajar
14. Interaksi multi media yang dinamis
15. Komunikasi tidak terbatas ke seluruh dunia
16. Unjuk kerja diukur oleh pakar, penasehat,
kawan sebaya dan diri sendiri.

Berdasarkan Tabel 1 dapat diambil beberapa kesimpulan bahwa;
1. Pada abad industri banyak dijumpai belajar melalui fakta, drill dan praktek, dan menggunakan aturan dan prosedur-prosedur. Sedangkan di abad pengetahuan menginginkan paradigma belajar melalui proyek-proyek dan permasalahan-permasalahan, inkuiri dan desain, menemukan dan penciptaan.

2 Betapa sulitnya mencapai reformasi yang sistemik, karena bila paradigma lama masih dominan, dampak reformasi cenderung akan ditelan oleh pengaruh paradigma lama.

3. Meskipun telah dinyatakan sebagai polaritas, perbedaan praktik pembelajaran Abad Pengetahuan dan Abad Industri dianggap sebagai suatu kontinum. Meskipun sekarang dimungkinkan memandang banyak contoh praktek di Abad Industri yang “murni” dan jauh lebih sedikit contoh lingkungan pembelajaran di Abad Pengetahuan yang “murni”, besar kemungkinannya menemukan metode persilangan perpaduan antara metode di Abad Pengetahuan dan metode di Abad Industri. Perlu diingat dalam melakukan reformasi pembelajaran, metode lama tidak sepenuhnya hilang, namun hanya digunakan kurang lebih jarang dibanding metode-metode baru.

4. Praktek pembelajaran di Abad Pengetahuan lebih sesuai dengan teori belajar modern. Melalui penggunaan prinsip-prinsip belajar berorientasi pada proyek dan permasalahan sampai aktivitas kolaboratif dan difokuskan pada masyarakat, belajar kontekstual yang didasarkan pada dunia nyata dalam konteks ke peningkatan perhatian pada tindakan-tindakan atas dorongan pembelajar sendiri.

5. Pada Abad Pengetahuan nampaknya praktek pembelajaran tergantung pada piranti-piranti pengetahuan modern yakni komputer dan telekomunikasi, namun sebagian besar karakteristik Abad Pengetahuan bisa dicapai tanpa memanfaatkan piranti modern. Meskipun teknologi informasi dan telekomunikasi merupakan katalis yang penting yang membawa kita pada metode belajar Abad Pengetahuan, perlu diingat bahwa yang membedakan metode tersebut adalah pelaksanaan hasilnya bukan alatnya. Kita dapat melengkapi peralatan lembaga pendidikan kita dengan teknologi canggih tanpa mengubah pelaksanaan dan hasilnya.

Akhirnya yang paling penting, paradigma baru pembelajaran ini memberikan peluang dan tantangan yang besar bagi perkembangan profesional, baik pada preservice dan inservice guru. Di banyak hal, paradigma ini menggambarkan redefinisi profesi pengajaran dan peran-peran yang dimainkan guru dalam proses pembelajaran. Meskipun kebutuhan untuk merawat, mengasuh, menyayangi dan mengembangkan anak-anak kita secara maksimal itu akan selalu tetap berada dalam genggaman pengajaran, tuntutan-tuntutan baru Abad Pengetahuan menghasilkan sederet prinsip pembelajaran baru dan perilaku yang harus dipraktikkan.

Berdasarkan gambaran pembelajan di abad pengetahuan di atas, nampaklah bahwa pentingnya pengembangan profesi guru dalam menghadapi berbagai tantangan ini.

Pengembangan profesionalisme guru merupakan keniscayaan bagi proses pendidikan. Menurut para ahli, profesionalisme menekankan kepada penguasaan ilmu pengetahuan atau kemampuan manajemen beserta strategi penerapannya.

Profesionalisme bukan sekadar pengetahuan teknologi dan manajemen tetapi lebih merupakan sikap, pengembangan profesionalisme lebih dari seorang teknisi bukan hanya memiliki keterampilan yang tinggi tetapi memiliki suatu tingkah laku yang dipersyaratkan.7

Ada empat standar standar pengembangan profesi guru yaitu8: (1) Standar pengembangan profesi A adalah pengembangan profesi untuk para guru sains memerlukan pembelajaran isi sains yang diperlukan melalui perspektif-perspektif dan metode-metode inquiri. Para guru dalam sketsa ini melalui sebuah proses observasi fenomena alam, membuat penjelasan-penjelasan dan menguji penjelasan-penjelasan tersebut berdasarkan fenomena alam; (2) Standar pengembangan profesi B adalah pengembangan profesi untuk guru sains memerlukan pengintegrasian pengetahuan sains, pembelajaran, pendidikan, dan siswa, juga menerapkan pengetahuan tersebut ke pengajaran sains. Pada guru yang efektif tidak hanya tahu sains namun mereka juga tahu bagaimana mengajarkannya. Guru yang efektif dapat memahami bagaimana siswa mempelajari konsep-konsep yang penting, konsep-konsep apa yang mampu dipahami siswa pada tahap-tahap pengembangan, profesi yang berbeda, dan pengalaman, contoh dan representasi apa yang bisa membantu siswa belajar; (3) Standar pengembangan profesi C adalah pengembangan profesi untuk para guru sains memerlukan pembentukan pemahaman dan kemampuan untuk pembelajaran sepanjang masa. Guru yang baik biasanya tahu bahwa dengan memilih profesi guru, mereka telah berkomitmen untuk belajar sepanjang masa. Pengetahuan baru selalu dihasilkan sehingga guru berkesempatan terus untuk belajar; (4) Standar pengembangan profesi D adalah program-program profesi untuk guru sains harus koheren (berkaitan) dan terpadu. Standar ini dimaksudkan untuk menangkal kecenderungan kesempatan-kesempatan pengembangan profesi terfragmentasi dan tidak berkelanjutan.

V. Penutup
Pendidikan bertujuan sekurang-kurangnya bertujuan untuk: (1) membuat setiap individu menikmati hak dan tanggung jawab, meningkatkan demokarsi, membentuk masyarakat yang bertanggung jawab dan peduli, dan pentingnya falsafah pendidikan, (2) Memecahkan masalah global yang relevan, seprti kemiskinan dan pembangunan, isu lingkungan, etika kesehatan, kesetaraan gender, keragaman budaya dan lain-lain.

Sekolah merupakan peserta pengembangan pendidikan di samping orang tua, murid, pemerintah, lembaga pendidikan formal, media, sector swasta, lembaga internasional, dan masyarakat madani (modern).

Guru memegang peranan penting dalam pengembangan peserta didik di sekolah. Guru professional, guru yang dapat memberi inspirasi9 bagi peserta didik untuk keberhasilan dan sukses dalam pendidikan, yaitu: agar siswa bertaqwa, berkepribadian matang, berilmu mutakhir dan berprestasi, rasa kebangsaan dan berwawasan global.


Daftar Acuan

1 Supriadi, D. 1998. Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Yogayakarta: Adicita Karya Nusa.
2 Trilling, B. dan Hood, P. 1999. Learning, Technology, and Education Reform in the Knowledge Age or “We’re Wired, Webbed, and Windowed, Now What”? Educational Technology. May-June 1999. pp..5-18.
3 Naisbitt, J. 1995. Megatrend Asia: Delapan Megatrend Asia yang Mengubah Dunia. (Alih bahasa oleh Danan Triyatmoko dan Wandi S. Brata): Jakarta: Gramedia.
4 Surya, H.M. 1998. Peningkatan Profesionalisme Guru Menghadapi Pendidikan Abad ke-21 (I): Organisasi & Profesi. Suara Guru No. 7/1998. h.15-17.
5 Hakim, AR. Adaptasi Sistem Pendidikan Negara Maju di Indonesia. Seminar Nasional Pendidikan. Intitut pertanian Bogor. 16 September 2006.
6 Galbreath, J. 1999. Preparing the 21st Century Worker: The Link Between Computer-Based Technology and Future Skill Sets. Educational Technology. Nopember-Desember 1999. pp. 14-22.
7 Maister, DH. 1997. True Professionalism. New York: The Free Press.
8 Stiles, K.E. dan Loucks-Horsley, S. 1998. Professional Development Strategies: Proffessional Learning Experiences Help Teachers Meet the Standards. The Science Teacher. September 1998. pp. 46-49. NRC. 1996. Standar for Professional Development for Science Teacher. pp.59-70
9 Secondary Futures Hoenga Auaha Taiohi. Inspiring Teachers. http://www.secondaryfutures.co.nz.

Alhamdulillahirobbil ‘alamin

– – – – – – – – – – – – – – – – – –
a Artikel diajukan pada Lomba Penulisan Artikel pada acara SEMINAR NASIONAL DAN LOMBA PENULISAN ARTIKEL ISPI JATENG 2010 dengan tema Pengalamanku Menjadi Guru yang Inovatif dan Profesional, 23 Januari 2010.
b Guru SMAN 3 Bandar Lampung, Jl. Khairil Anwar 30 Bandar Lampung, Lampung 35116, Telp: 0721-255600, Fax: 0721-253287, email: zay.abidin@gmail.com.

Tulisan lain yang berkaitan:

Tulisan berjudul "Sekelumit Pengalaman Saya" dipublikasikan oleh Admin ISPI (Saturday, 29 May 2010 (10:31)) pada kategori Artikel. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

170 Responses to "Sekelumit Pengalaman Saya"

    Trackbacks

    Check out what others are saying about this post...
    1. Hello…

      Thanks, I have recently been looking for information approximately this subject for a long time and yours is the greatest I have found out till now. But, what about the conclusion? Are you certain about the source?…

    2. Read the Lifelock Reviews…

      How to Hide Your Online Identity…

    3. Links…

      […]Sites of interest we have a link to[…]……

    4. gay xxx says:

      … [Trackback]…

      […] Find More Informations here: ispi.or.id/2010/05/29/sekelumit-pengalaman-saya/ […]…

    5. Hey…

      You have observed very interesting details ! ps nice internet site . “There is no vice so simple but assumes some mark of virtue on his outward parts.” by Mary Bertone….

    6. Sources Trackback Link…

      […]listed below are a few web links to web-sites which I connect to seeing that we feel they will be really worth browsing[…]…

    7. Hello…

      I like this web blog very much, Its a rattling nice situation to read and incur information. “Death is not the worst thing rather, when one who craves death cannot attain even that wish.” by Sophocles….

    8. cigars 101 says:

      Hi…

      I really like your writing style, excellent info , thanks for posting : D….

    9. tonnelle says:

      Hello…

      I dugg some of you post as I cerebrated they were very useful very beneficial…

    10. Hi…

      I am not rattling good with English but I come up this real easygoing to interpret….

    11. Net minicab…

      Oxshott Taxi!…

    12. Hey…

      naturally like your web-site however you need to check the spelling on several of your posts. Many of them are rife with spelling issues and I in finding it very bothersome to tell the reality on the other hand I’ll definitely come back again….

    13. Wine Gift says:

      Hi…

      I enjoy the efforts you have put in this, appreciate it for all the great posts….

    14. travel zoo says:

      Cool sites…

      […]we came across a cool site that you might enjoy. Take a look if you want[…]……

    15. regrow hair says:

      Having problem with frontal hair loss?…

      Discover proven and effective frontal hair loss treatment that works now!…

    16. Having problem with frontal hair loss?…

      Discover proven and effective frontal hair loss treatment that works now!…

    17. Hey…

      Some really fantastic info , Sword lily I discovered this. “What you do speaks so loudly that I cannot hear what you say.” by Ralph Waldo Emerson….

    18. SEO says:

      UK’s leading SEO Company…

      Offering a complete range of SEO services to match your budget….

    19. Hey…

      I just could not go away your website prior to suggesting that I really enjoyed the usual info a person provide for your guests? Is gonna be again incessantly in order to investigate cross-check new posts….

    20. Hi…

      I like this post, enjoyed this one thanks for putting up….



    «
    »