Pengembangan Profesi Guru

Sunday, 25 July 2010 (12:54) | 4,129 views | Print this Article

Oleh: Sri Sutati, S.Pd
Staf Edukatif SMP N 2 Purbalingga dan Pengurus AGUPENA Purbalingga

Semua guru di mana pun berada, tentu berkehendak agar kenaikan jabatan bisa berjalan sukses dan lancar. Hal ini sangat wajar, karena kenaikan pangkat (jabatan) yang lancar merupakan hak setiap guru. Hak tersebut seharusnya diperoleh setelah seorang guru melaksanakan kegiatan-kegiatan dengan baik. Kita ketahui, seorang guru berkewajiban melakukan berbagai kegiatan dalam pelaksanaan tugasnya. Berbagai kegiatan itu diberi bobot angka yang disebut angka kredit yang diperlukan sebagai salah satu syarat dalam kenaikan pangkat/jabatan.

Pada Lampiran II dari Keputusan Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara, Nomor 84/1993, bidang kegiatan guru terdiri atas dua unsur yaitu Unsur Utama yang terdiri dari kegiatan pada bidang Pendidikan, Proses Belajar Mengajar / Bimbingan, dan Pengembangan Profesi. Kedua Unsur Penunjang adalah kegiatan yang mendukung pelaksanaan tugas guru yang berupa pelaksanaan pengabdian pada masyarakat dan pelaksanaan kegiatan pendukung pendidikan.

Untuk kenaikan pangkat/jabatan setingkat lebih tinggi menjadi Pembina Tingkat I, golongan ruang IV.b sampai dengan Guru Utama, golongan ruang IV.e, wajib ‘ain mengumpulkan minimal 12 (dua belas) angka kredit dari unsur pengembangan profesi. Artinya Guru Pembina IV.a menjadi Pembina Tingkat I/IV.b harus memperoleh angka kredit pengembangan profesi 12 poin, Pembina Tk.I/IV.b menuju ke Guru Utama Muda/IV.c kredit poin 24, Guru Utama Muda/IV.c menuju ke Guru Utama Madya/IV.d kredit poin 36, dan dari Guru Utama Madya/IV.d menuju ke Guru Utama/IV.e kredit poinnya 48.

Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya dalam Lingkungan Departemen Pendidikan mendefinisikan Pengembangan Profesi Guru adalah kegiatan guru dalam rangka pengamalan ilmu dan pengetahuan, teknologi dan keterampilan untuk peningkatan mutu, baik bagi proses belajar mengajar dan profesionalisme tenaga kependidikan lainnya maupun dalam menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi pendidikan dan kebudayaan. (Depdikbud, 1995 : 2).

Kegiatan guru yang termasuk pengembangan profesi yaitu membuat karya tulis (karya ilmiah) di bidang pendidikan, menemukan teknologi tepat guna di bidang pendidikan, membuat alat pelajaran (peraga) atau alat bimbingan, menciptakan karya seni, dan mengikuti kegiatan pengembangan kurikulum.

Besar Angka Kredit
Besaran angka kredit karya tulis ilmiah dibedakan berdasar macam karya tulis yang dikerjakan serta macam publikasinya. Karya tulis ilmiah hasil penelitian, pengkajian, survey, dan atau evaluasi di bidang pendidikan yang dipublikasikan dalam bentuk buku, memperoleh angka kredit 12,5/buku. Artikel di majalah ilmiah setiap karya mendapat angka kredit 6. Jika tidak dipublikasikan, tetapi didokumentasikan di perpustakaan sekolah dalam bentuk buku, setiap buku diberi angka kredit 8, dan jika dalam bentuk makalah setiap karya bernilai kredit 4.

Sementara itu karya tulis atau makalah yang berisi tinjauan atau ulasan ilmiah hasil gagasan sendiri dalam bidang pendidikan yang dipublikasikan dalam bentuk buku, mendapat angka kredit 8/buku, dalam majalah ilmiah setiap karya angka kredit 4. Jika tidak dipublikasikan, tetapi didokumentasikan di perpustakaan sekolah dalam bentuk buku, setiap buku angka kredit 7, dalam bentuk makalah setiap karya angka kredit 3,5.

Tulisan ilmiah populer di bidang pendidikan dan kebudayaan yang dimuat di media massa, seperti artikel yang berisi wacana atau opini dalam topik tertentu.mendapat angka kredit 2.

Prasaran berupa tinjauan, gagasan atau ulasan ilmiah yang disampaikan dalam pertemuan ilmiah (seminar, simposium, dan lain-lain), setiap kali penyajian angka kreditnya 2,5. Penyusunan buku pelajaran atau modul yang digunakan pada taraf nasional, setiap buku mendapat angka kredit 5. Untuk penggunaan pada taraf provinsi, setiap buku mendapat angka kredit 3. Penyusunan diktat pelajaran atau sering disebut bahan ajar yang biasanya dimanfaatkan pada proses pembelajaran di kalangan sendiri (sekolah yang bersangkutan), setiap diktat bernilai angka kredit 1. Karya penerjemahan buku pelajaran / karya ilmiah yang bermanfaat bagi pendidikan. Setiap buku / karya ilmiah angka kreditnya 2,5.
Besaran angka kredit di atas hanya berlaku bagi karya tulis ilmiah yang dilakukan secara individu. Jika karya tulis dibuat secara kelompok, maka penulis utama berhak mendapat 60% dari besaran angka kredit, sedangkan 40% besaran angka kredit dibagi rata kepada para penulis pembantu yang jumlahnya tidak lebih dari 5 orang. Harapannya rincian besaran angka kredit di atas bisa menjadi impian bagi kita, para guru yang mengemban semangat keprofesionalan dan konsekuensi mengembangkan dunia pendidikan yang inovatif.

Bukan Ilusi

Sebenarnya dengan mengembangkan tulis-menulis, guru bisa menggantungkan kelangsungan karirnya, yaitu untuk kenaikan pangkat / jabatan, terutama bagi guru Pembina, golongan ruang IV.a menjadi Pembina Tingkat I, golongan ruang IV.b sampai dengan Guru Utama, golongan ruang IV.e .

Sebuah contoh, untuk mendapat kredit poin pengembangan profesi yang sebanyak 12 poin (golongan ruang IV.a menuju IV.b), kita bisa menghitung dengan pasti. Melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan menyusun laporannya sebanyak 3 kali tanpa publikasi, hanya didokumentasikan di perpustakaan sekolah dengan perhitungan minimum, niscaya 12 poin ( 3 PTK x 4 poin) bisa dikantongi dengan mudah. Pelaksanaan 3 PTK tersebut bisa dilaksanakan dalam kurun waktu minimal 3 semester, atau maksimal 3 tahun.

Seandainya melaksanakan 3 buah PTK adalah merupakan hil yang mustahal, sekurang-kurangnya kita (paksakan) menyusun 1 PTK saja (katakan, nilai minimal : 4 poin). 8 poin yang lain kita bisa menyusun karya minimal yaitu diktat. Proses menyusun diktat lebih sederhana karena materi pelajaran yang sudah kita kuasai di luar kepala, maka bisa kita kelola dengan mudah. Gunakan referensi dari beberapa pengarang untuk pendalaman. Gandakan dan sajikan untuk kelas-kelas bagian kita. Dalam kurun waktu dua tahun, kita bisa menyusun 4 diktat yang menghasilkan 4 angka. Hm, tinggal 4 poin lagi yang belum terealisasi. Karya termudah lain adalah menulis artikel, kirimkan ke media cetak. Setiap artikel yang dimuat di media cetak bernilai 2 poin. 2 artikel saja = 4 poin. Perhitungan yang fantastis dan ekonomis ‘kan?

Guru yang kreatif tentu tidak akan berprinsip dengan skala minimum seperti contoh di atas. Lebih banyak karya yang dihasilkan, lebih mudah mencapai jalan menuju Roma. Namun, setidak-tidaknya para guru hingga masa pensiun tidak hanya beruang golongan IV/a saja . Kita harus memiliki rasa malu bila tidak bisa meningkatkan keprofesionalan, paling tidak pada golongan di atasnya, di atasnya, dan di atasnya. Hanya, masalahnya adalah bagaimana membudayakan menulis di kalangan kita, para guru.

Budaya Menulis
Kegiatan berkomunikasi dapat dilakukan secara lisan dan tulisan. Berkomunikasi secara lisan akan dibatasi oleh ruang dan waktu. Komunikasi tersebut hanya berlaku bagi orang yang berada dalam satu ruangan dan dibatasi oleh waktu, ketika pembicaraan telah selesai maka selesai pula kegiatan komunikasi tersebut. Kegiatan berkomunikasi secara tertulis dapat menembus ruang dan waktu yaitu tidak dibatasi oleh kehadiran pembaca dalam suatu ruangan. Namun, pembaca dapat melakukannya pada waktu yang berbeda, mungkin sehari berikutnya, sebulan, atau setahun yang akan datang.

Berkomunikasi melalui tulisan akan terjalin interaksi antara penulis dengan pembaca. Pembaca mencoba memahami maksud penulis melalui tulisan yang tampak secara grafika dalam naskah atau buku. (Suherli, 2008:2).

Seseorang bisa disebut penulis jika memiliki kemahiran menuangkan gagasan secara tertulis. Apa yang ditulis mengandung manfaat sehingga membuat orang lain merasa perlu membaca dan menikmatinya. Graves (1978), salah seorang tokoh peneliti belajar mengajar menulis menyampaikan beberapa manfaat kegiatan menulis yaitu bisa menyumbang kecerdasan, mengembangkan daya inisiatif dan kreativitas, menumbuhkan keberanian, serta mendorong kemauan dan kemampuan mengumpulkan informasi. Betapa besar manfaat menulis bagi pengembangan diri seseorang, tak terkecuali guru (intelektual, mental, ataupun sosial.)

Guru adalah tokoh profesi yang memungkinkan berkiprah dalam bidang kepenulisan, karena kapasitas intelektual memadai, pengalaman mendukung, dan dari segi waktu atau kesempatan terbuka lebar. Dengan memilih berbagai topik yang biasa digeluti sehari-hari, seperti permasalahan pembelajaran, isu pendidikan, kebijakan pemerintah, bahkan menulis tulisan yang bersifat rekreatif dalam bentuk sastra, karya ilmiah, buku atau artikel di media massa.

Namun, fenomena memprihatinkan muncul di lapangan, bahwa sebagian besar guru, khususnya di Jawa Tengah masih enggan menulis. Data, yang dikemukakan Sukartono S.Ip.MM (LPMP Jawa Tengah, 4/2) saat membuka pertemuan guru penulis yang menarik untuk dicermati, bahwa persentase guru PNS di Jawa Tengah yang sudah berhasil naik pangkat ke golongan IV/ b masih sangat rendah. Untuk guru SD (0,20%), SMP (2,04%), SMA (1,65%), dan SMK (1,46%). Menurut beliau, banyaknya jumlah guru yang mentog pada golongan IV/a disebabkan sebagian besar guru masih mengalami kendala dalam mengumpulkan angka kredit pengembangan profesi melalui penulisan karya ilmiah. (Sawali : http//sawali.info).

Fenomena yang kedua yang perlu dicermati adalah “Kalau guru sendiri tidak menyukai menulis, maka bagaimana dengan muridnya? Kalau guru tidak pernah mempunyai pengalaman menulis, maka bagaimana pula mereka dapat merasakan romantika dan dinamika seorang penulis untuk mengajarkannya kepada muridnya?”

Smith (1981) mengingatkan kepada kita bahwa pengalaman belajar menulis yang dialami siswa di sekolah tidak dapat dilepaskan dari kondisi gurunya sendiri. Umumnya guru memang tidak dipersiapkan untuk terampil menulis dan mengajarkannya. Berdasarkan pengalamannya di perkuliahan, guru pun akhirnya mengajarkan menulis sebagaimana dia mengalaminya dahulu. Sungguh, kondisi seperti itu merupakan lingkaran setan yang sangat mempriatinkan, selalu terjadi balas membalas antara generasi sebelum dan sesudahnya. Di mana guru untuk menolong diri sendiri dalam hal menulis saja tidak mampu, apalagi untuk mengimbaskan kepada para muridnya. Menulis adalah pembiasaan. Menulis bukan hanya dalam angan, tetapi perlu dipraktikkan secara nyata dan kontinue. Menulis adalah pemaksaan kemampuan untuk menstimulasi kreativitas diri agar segera tergali dan menjelma menjadi sebuah karya. Karena melalui karya kepenulisan, guru akan mendapat status sosial dan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi daripada guru yang hanya bisa bergumam “Ah, IV/a thok ya ora pa-pa..”. Sungguh tragis!

Membudayakan keterampilan menulis memang bukan merupakan hal yang mudah. Ketika banyak kendala, kita harus mampu mencari solusinya. Kemalasan, penyakit menahun, harus dipaksa untuk bisa dikendalikan yaitu dengan cara menggambarkan impian positif: jaminan angka kredit berarti peningkatan prestasi dan prestise dalam karir, publikasi di media massa berarti peningkatan kesejahteraan dan kepuasan batin. Kesibukan, memang selain mengajar dengan berbagai perlengkapan adminitrasi yang memusingkan, kita dibebani oleh tugas-tugas tambahan di sekolah. Kadang sangat menyita waktu, dan tuntutan itu tidak boleh tidak harus dilaksanakan. Pulang ke rumah, pekerjaan rumah tangga sudah menanti, dari mulai melayani garwo hingga keperluan thethek bengek lain yang bersifat rutinitas di dalam keluarga.

Jika kita hanya bisa terpukau dalam kelelahan, dengan hanya bisa mengeluh dan mengeluh berarti kita tidak mampu memahami prinsip ‘sekecil apa pun pekerjaan yang kita lakukan dengan diiringi keikhlasan, niscaya bernilai ibadah’, hablumminallah adalah urusan berikutnya. Sempatkan waktu senggang kita dengan sebuah target. Setiap hari disisihkan satu-dua jam misalnya, atau katika ada mood dan inspirasi kita langsung mendokumentasikan. Jangan tunda terlalu lama, karena penundaan akan lebih menjerumuskan pada kegagalan target. Takut gagal, semua manusia pasti pernah dihinggapi ketakutan semacam itu, yang penting tidak mendominasi secara kejiwaan. Sebelum berperang jangan katakan kalah. Usaha dan dicoba dulu, baru boleh bicara sukses atau tidak. Targetkan dalam skala minimum dan pada jenis karya yang lebih mudah dahulu sehingga tidak terjadi gatot (gagal total). Dan yang paling penting, jangan pernah malu untuk bertanya dan belajar dari orang lain yang lebih mampu.

Belajar menulis sedikit demi sedikit inilah yang akan menuntun kita, para guru, untuk mengejar target agar bisa membudayakan menulis. Ketika kita sudah bisa bergerak serempak dalam budaya menulis, sebenarnya kita sedang menolong diri kita sendiri untuk menjadi seorang guru yang profesional, dan hasilnya bisa dilihat dan dirasakan yaitu prestasi dan kesejahteraan.

Peran Pakar dan Media Massa
Disinyalir kegagalan guru dalam menulis adalah karena kekurangtahuan prosedur kepenulisan, persyaratan pengakuan pemerintah terhadap karya-karya pengembangan profesi sesuai petunjuk teknis, dan penolakan pemuatan dari pihak media massa. Untuk itu, seminar-seminar dan pelatihan-pelatihan dalam hal dalam hal kompetensi dan prosedur teknis kepenulisan selalu ditunggu para guru. Para pakar dalam bidang pengembangan profesi guru dan juga penulis senior yang sudah mendunia harus bisa mendesiminasikan kepada para guru di mana saja. Paling tidak dengan adanya seminar dan pelatihan akan memunculkan keuntungan ganda yaitu kemahiran kompetensi menulis sehingga mampu mengemban tuntutan unsur utama dalam bidang pengembangan profesi dan pemerolehan sertifikat yang bisa digunakan untuk memperlancar Pengajuan Angka Kredit (PAK) atau untuk pengajuan uji sertifikasi.

Media massa juga diharap lebih berbelas kasihan kepada para guru, terutama kepada guru yang berstatus sebagai penulis pemula. Bayangkan (dan laksanakan!), seandainya semua media massa menyediakan kolom khusus untuk guru terutama penulis pemula dengan lebih leluasa, bisa dipastikan tidak ada lagi guru yang terkatung-katung, limbung, dan bingung dalam melaksanakan tugas pengembangan profesi. Paling tidak sebutan guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa akan terobati dengan menerima bantuan jasa dari media massa. Guru akan sangat berterima kasih kepada media massa yang mampu menjadi tambatan hati, di mana guru bebas berkeluh kesah menuangkan impian dan inspirasi dalam bentuk tulisan. Dengan tanpa pandang bulu dan memperhitungkan pengalaman kepenulisan.

Tulisan lain yang berkaitan:

Tidak ada tulisan lain yang berkaitan!
Tulisan berjudul "Pengembangan Profesi Guru" dipublikasikan oleh Admin ISPI (Sunday, 25 July 2010 (12:54)) pada kategori Artikel. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

961 Responses to "Pengembangan Profesi Guru"

    Trackbacks

    Check out what others are saying about this post...
    1. 2011…

      Great post. I was checking constantly this blog and I am impressed! Very useful information specially the last part 🙂 I care for such information much. I was looking for this particular information for a long time. Thank you and best of luck….

    2. ……

      you are my breathing in, I have few web logs and occasionally run out from to post : (….

    3. […]always a big fan of linking to bloggers that I love but don’t get a lot of link love from[…]……

      […]just beneath, are numerous totally not related sites to ours, however, they are surely worth going over[…]……

    4. new perfumes says:

      Smell Well And Attract Men…

      It’s a known truth that right knowledge can be very important when we are doing something new and even more it if is important to us….

    5. 2011…

      Heya i’m for the first time here. I found this board and I find It truly useful & it helped me out a lot. I hope to give something back and help others like you helped me….

    6. brain injury says:

      […]Sites of interest we have a link to[…]……

      […]usually posts some very interesting stuff like this. If you’re new to this site[…]……

    7. Wow!…

      A very awesome post….

    8. Trefficx says:

      Great website…

      […]we like to honor many other internet sites on the web, even if they aren’t linked to us, by linking to them. Under are some webpages worth checking out[…]……

    9. Wow!…

      A very fascinating post….

    10. India As A Must See Traveling Destination…

      […]I believe it’s incredibly crucial that a lot more persons know about this. Keep up using the excellent writing.[…]…



    «
    »