Teknik Kata Berantai Sebagai Upaya Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi Siswa SMP 1 Kudus Tahun Pelajaran 2008/2009

Sunday, 1 August 2010 (09:39) | 7,706 views | 80 komentar | Print this Article

Oleh: Endang Siwi Ekoati, S.Pd.
Guru SMPN 1 Kudus, Anggota ISPI

Endang Siwi Ekoati

Abstrak: Pembelajaran menulis puisi masih mengalami berbagai hambatan. Hambatan tersebut berasal dari siswa maupun guru. Hal ini terjadi karena pembelajaran masih bersifat konvensional dan kurang mengeksplorasi potensi siswa. Teknik kata berantai dapat digunakan sebagai alternatif peningkatan kemampuan menulis puisi.

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh hasil bahwa “Teknik Kata Berantai” mampu meningkatkan minat dan hasil belajar menulis puisi siswa kelas VIII A SMP 1 Kudus tahun pelajaran 2008/2009. Pada Siklus I, 85% siswa telah mencapai KKM, sedangkan Siklus II, 100% siswa tuntas belajar. Hasil nontes juga menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan.

Kata kunci : puisi, teknik kata berantai, organisasi konsep

Abtract: poetry writting class in SMP 1 Kudus 2008-2009 found some obstacles doe to the conventional use of learning method that did not sufficiently explore the students’ potential. Chained words technique was used as an alternative method to improve the students’competence in writting poetry. The result shows that this technique was effective as in the first cicle of the research I, 85% students achieved the minimal mastery criteria (passing grade), while in the second cycle, the number was increased up to 100%. Besides the non test technique in the research shows significant improvement.
Keywords: poetry, word serial technique, concept organization

PENDAHULUAN
Pembelajaran menulis puisi masih mengalami berbagai hambatan. Hambatan tersebut berasal dari siswa maupun guru. Siswa cenderung lebih menyukai menulis karangan ilmiah populer daripada menulis puisi. Siswa beranggapan bahwa menulis puisi lebih sulit dibandingkan dengan menulis surat, menulis memo atau lainnya. Menulis puisi kadang menjadi beban terberat bagi siswa. Hal ini karena siswa beranggapan bahwa puisi terlalu berat dari segi bahasa maupun penafsirannya. Belum tercapainya tujuan pembelajaran menulis puisi di SMP, khususnya kelas VIII A SMP 1 Kudus, disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor yang dimaksud adalah guru, siswa dan kurikulum.

Berdasarkan observasi dan wawancara yang peneliti lakukan terhadap beberapa guru bahasa Indonesia, penyebab utama belum tercapainya tujuan pembelajaran menulis puisi antara lain karena rendahnya kompetensi guru dalam membimbing menulis puisi. Sebagian besar guru bahasa Indonesia SMP memiliki kompetensi yang rendah dalam menulis puisi. Bahkan, mereka para guru bahasa Indonesia tidak pernah atau tidak suka menulis puisi.

Rendahnya kompetensi guru dalam menulis puisi mengakibatkan para guru tidak mampu membimbing siswa menjadi penulis puisi yang baik. Mereka masih menggunakan model pembelajaran yang konvensional ketika menyuruh menulis puisi sehingga pembelajaran menjadi kurang menarik. Guru juga masih menggunakan instrumen penilaian yang kurang tepat. Akibatnya, siswa tidak mampu menulis puisi seperti yang diharapkan karena kriteria penilaiannya tidak jelas.

Untuk meningkatkan kompetensi guru bahasa Indonesia dalam menulis puisi dapat ditempuh dengan beberapa cara. Pertama, guru bahasa Indonesia diberi pelatihan menulis puisi sampai mereka mampu menulis puisi. Langkah ini diperuntukkan bagi guru-guru bahasa Indonesia yang tidak suka atau tidak pernah menulis puisi. Kedua, mengaktifkan MGMP baik di tingkat sekolah maupun kabupaten agar para guru dapat berbagi pengalaman tentang kesulitan-kesulitan mengajarkan menulis puisi. Keterbukaan untuk bertanya dan berbagi ini diharapkan dapat mengurangi kendala-kendala selama pembelajaran terutama pembelajaran menulis puisi. Ketiga, para mahasiswa calon guru bahasa Indonesia hendaknya dibekali kamampuan menulis puisi. Perkuliahan tentang menulis puisi hendaknya dapat membimbing para mahasiswa agar mempunyai kompetensi menulis puisi dan kompetensi membimbing menulis puisi. Dengan demikian, setelah menjadi guru bahasa Indonesia, mereka dapat membimbing siswa dalam menulis puisi.

Berdasarkan obeservasi dan wawancara, masalah utama rendahnya kompetensi menulis puisi disebabkan beberapa hal berikut.
1. Merasa tidak berbakat.
2. Merasa tidak mempunyai inspirasi.
3. Menulis puisi sulit.
4. Tidak senang menulis puisi.
5. Tidak ada manfaatnya
6. Belum mendapat bimbingan guru dalam proses pembelajaran menulis puisi.

Beberapa penyebab di atas menjadi penghambat pembelajaran menulis puisi di kelas. Oleh karena itu, guru harus mulai mencari cara agar siswa mau belajar menulis puisi. Pemahaman bahwa menulis puisi dapat dipelajari harus ditanamkan kepada siswa agar mereka mau terbuka untuk belajar menulis puisi.

Guru juga harus menyampaikan bahwa menulis puisi mampunyai banyak manfaat. Manfaat yang dimaksud antara lain.
1. Puisi dapat dijadikan sarana ekspresi perasaan, pengalaman, pendapat, gagasan
2.Menulis puisi dapat dijadikan sebagai mata pencaharian.

Bimbingan dan arahan guru diharapkan dapat membangkitkan motivasi siswa dalam menulis puisi. Dalam hal ini, guru harus mencari teknik, strategi atau model pembelajaran yang menarik perhatian dan minat siswa. Guru harus belajar menemukan model pembelajaran yang tepat agar pembelajaran menulis puisi berlangsung efektif dan efisien.

Dalam Standar Isi, alokasi waktu yang tersedia untuk pembelajaran menulis puisi relatif memadai. Namun, belum disertai contoh perangkat pembelajaran seperti silabus, RPP, dan alat evaluasi yang tepat. Akibatnya, banyak guru membuat perangkat tersebut secara asal-asalan.

Dengan diberlakukannya KTSP, pengembangan perangkat pembelajaran menjadi otonomi guru. Akibatnya, banyak guru yang kebingungan menyusunnya. Hal ini menyebabkan banyak guru yang tidak mampu menyusun perangkat pembelajaran dengan baik sesuai kompetensi yang diharapkan.

Langkah yang dapat ditempuh untuk membiasakan menulis puisi sangatlah beragam. Guru dapat memilih cara yang paling sesuai dengan karakteristik kelas. Penelitian tindakan kelas yang penulis lakukan di kelas VIII A adalah menulis puisi dengan teknik kata berantai. Teknik ini merupakan salah satu cara yang paling mudah untuk membiasakan menulis puisi. Selain praktis, cara ini juga menyenangkan karena melibatkan siswa secara berkelompok.

Sesuai dengan latar belakang masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk.
1.Mendeskripsikan pelaksanakan ”Teknik Kata Berantai” dalam pembelajaran menulis puisi
2.Mengetahui tingkat keefektifan ”Teknik Kata Berantai” dalam pembelajaran menulis puisi.

Apabila hipotesis dalam penelitian ini benar, penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi dunia pendidikan, khususnya pada pembelajaran menulis puisi. Adapun manfaat tersebut adalah dapat meningkatkan kemampuan menulis puisi dan meningkatkan kemampuan guru dalam memilih teknik pembelajaran, menyusun rancangan pembelajaran, melaksanakan proses belajar mengajar yang lebih inovatif dan mengevaluasi proses pembelajaran agar memperoleh hasil yang diharapkan.

LANDASAN TEORETIS
Penelitian Tindakan Kelas ini juga merujuk pada penelitian dari peneliti lain. Adapun yang dimaksud adalah penelitian yang sudah dilakukan oleh seorang linguis Inggris, Allwright yang melakukan uji coba yang menentang nosi tradisional tentang pengajaran bahasa yakni” … bila aktivitas manajemen ‘guru bahasa’ diarahkan secara eksklusif terhadap pelibatan pembelajar dalam memecahkan masalah komunikasi dalam bahasa sasaran, maka pembelajaran bahasa akan datang dengan sendirinya…” (Bloomfield 1977:5).

Suhono (2007) melakukan penelitian dengan judul “Hubungan antara organisasi konsep dan produksi tulis bahasa Indonesia peserta didik kelas IX SMP Negeri Jakenan Kabupaten Pati”. Karena antara jumlah konsep, hubungann antarkonsep dan penyebaran konsep ada hubungan signifikan dengan produksi tulis, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama, pendidik yang mengajarkan mata pelajaran bahasa Indonesia perlu mengembangkan model pembelajaran dengan memanfaatkan organisasi konsep model spreading activation network. Organisasi konsep itu dapat dimanfaatkan untuk memproduksi dan meresepsi bahasa. Organisasi konsep dapat digunakan digunakan untuk menata gagasan sebelum diproduksi dalam bentuk karangan. Organisasi konsep juga dapat digunakan untuk memahami bahasa, baik mendengarkan atau membaca.

Secara etimologis, kata puisi dalam bahasa Yunani berasal dari poesis yang artinya penciptaan. Dalam bahasa Inggris, padanan kata puisi adalah poetry yang erat dengan –poet dan -poem. Mengenai kata poet, Coulter (dalam Tarigan 1986:4) menjelaskan bahwa kata poet berasal dari bahasa Yunani yang berarti membuat atau mencipta. Dalam bahasa Yunani, kata poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa. Dia adalah orang yang berpenglihatan tajam, orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi.

Pendapat-pendapat para sastrawan dunia tentang puisi (dalam Djojosuroto 2005: 10) sebagai berikut:
(1)William Wordsworth: Puisi adalah peluapan yang spontan dari perasaan-perasaan yang penuh daya; dia memperoleh rasanya dari emosi, atau rasa yang dikumpulkan kembali dalam kedamaian.
(2)Bryon: puisi adalah lava imajinasi yang letusannya mencegah timbulnya gempa bumi.
(3)Percy Byche Shelly: puisi adalah rekaman dari saat-saat yang paling baik dan paling menyenangkan dari pikiran-pikiran yang paling baik dan paling menyenangkan.
(4)Emilyn Dickenson: kalau aku membaca sesuatu dan dia membuat tubhku begitu sejuk sehingga tiada api yang dapat memanaskan aku, maka aku tahu bahwa itu adalah puisi.
(5)Watts Dunton: puisi adalah ekspresi yang konkret dan bersifat artistik dari pikiran manusia secara emosional dan berirama.
(6)Lascelles Abercramble: puisi adalah ekspresi dari pengalaman imajinatif, yang hanya bernilai serta berlaku dalam ucapan atau pernyataan yang bersifat kemasyarakatan yang diutarakan dengan bahasa, yang mempergunakan setiap rencana yang matang dan bermanfaat.

Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur puisi adalah emosi, imajinasi, pemikiran, ide, nada, irama, kesan pancaindera, susunan kata, kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yang bercampur-baur.

Unsur-unsur Pembangun Puisi
Bahasa dalam karya sastra (puisi) bukanlah bahasa sehari-hari. Itu karena bahasa dalam karya sastra ada pada tataran secondary modelling system atau sistem bahasa yang kedua. Karenanya, arti kata dalam puisi bukan arti kata yang mutlak atau absolut, melainkan bersifat universal.  Menurut Rifaterre dalam www.bangkabelitungprov.go.id, puisi merupakan representasi dari realitas kehidupan, atau merupakan tiruan (mimesis).

Puisi menyatakan sesuatu secara tidak langsung. Ketidaklangsungan ini karena adanya displacing (penggantian arti), distorting (penyimpangan), dan creating of meaning (penciptaan arti). Puisi memiliki beberapa unsur, antara lain bunyi, diksi, bahasa kiasan, citraan, sarana retorika, bentuk visual, dan makna. Penjelasannya sebagai berikut.

Bunyi
Bunyi merupakan peran yang penting dalam puisi karena puisi merupakan karya seni yang diciptakan untuk didengarkan (Sayuti 2002:102). Bunyi berperan seperti layaknya orkestra yang dapat mempengaruhi perasaan, pikiran, dan pengalaman jiwa para pendengarnya. Kombinasi bunyi yang merdu biasa disebut dengan efoni, atau bunyi yang indah (Pradopo 2002:27). Efoni biasanya untuk menggambarkan perasaan cinta atau hal-hal yang menggambarkan kesenangan lainnya. Contoh efoni antara lain berupa kombinasi bunyi-bunyi vokal (asonansi) a, e, i, u, o dengan bunyi-bunyi konsonan bersuara (voiced) seperti b, d, g, j, bunyi liquida seperti r dan l, serta bunyi sengau seperti m, n, ny, dan ng.

Diksi
Diksi  adalah pilihan kata atau frasa dalam karya sastra. Kata-kata yang dipilih oleh penyair merupakan ”kata pilihan” untuk mengungkapkan apa yang disampaikannya secara tepat. Efek yang muncul dari pemilihan kata ini adalah adanya imajinasi yang estetis. Pemilihan kata juga bisa menjadi ciri dari seorang penyair (idiosinkresi). Salah satu penyair yang lekat dengan budaya Jawa karena banyak memanfaatkan bahasa Jawa dalam penulisan puisinya adalah Darmanto Jatman, seperti yang terlihat dalam buku kumpulan puisinya Golf untuk Rakyat (1981).

Bahasa Kiasan
Unsur puisi lainnya adalah bahasa kiasan (figurative language). Peran figurative language adalah untuk mendapatkan efek estetis dengan pengungkapannya secara tak langsung. Kadang kala, untuk mendapatkan kejelasan gambaran angan. Bahasa kiasan bermacam-macam, antara lain simile (perbandingan), metafora (perbandingan tak langsung),  personifikasi, metonimi, sinekdoki, dan alegori (Pradopo 2002:62).

Personifikasi atau prosopopoeia (Keraf, 2004:140) adalah bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan. Benda-benda mati itu seolah-olah bisa berperilaku, berperasaan, dan memiliki karakter manusia lainnya. Contoh: angin baru saja singgah di kota ini, mengendarai awan-awan yang kesepian karena ditinggalkan burung-burung kepodang.

Metafora adalah gaya bahasa yang membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Dalam sebuah metafora terdapat dua unsur, yakni pembanding (vehicle) dan yang dibandingkan (tenor). Metafora ada dua macam, eksplisit dan implisit. Disebut metafora eksplisit jika pembandingnya disebutkan, misalnya kaulah kandil kemerlap. Kau dalam kutipan itu dibandingkan dengan pelita yang memberikan cahaya. Disebut metafora implisit bila yang disebutkan hanya unsur pembandingnya saja, misalnya sebagai rerumputan / kita harus berkembang biak / dalam persatuan dan cinta.

Alegori adalah metafora yang diperpanjang. Alegori disebut juga dongeng perumpamaan. Puisi Teratai karya Sanusi Pane merupakan alegori karena bunga teratai mengisahkan tokoh pendidikan. Teratai adalah gambaran dari tokoh pendidikan itu (Ki Hadjar Dewantara) yang memberikan keteladanan kepada bangsa Indonesia.

Citraan
Citraan (imagery) adalah gambaran angan yang bermanfaat dalam pemahaman puisi. Citraan memungkinkan kita untuk mencitrakan atau membayangkan kata-kata. Citraan ini sangat bermanfaat dalam menghidupkan puisi.   Beberapa macam citraan antara lain citraan penglihatan (visual), citraan pendengaran (auditory), citraan lidah atau rasa (tactile), citraan gerak (kinaestetik), dan citraan rabaan (termal).

Sarana Retorika
Sarana retorika adalah sarana muslihat pikiran, maksudnya melahirkan pikiran dengan menggunakan dan merangkai kata-kata hingga menimbulkan tanggapan atau efek pada pembacanya. (Pradopo 2002: 94-100).

Bentuk Visual
Bentuk visual, selain merupakan unsur yang paling mudah dikenal, sekaligus merupakan ciri pembeda antara puisi dengan karya sastra lainnya. Secara tipologi, puisi ditulis tanpa memenuhi seluruh halaman, hanya berupa larik-larik.  Dalam perkembangannya, bentuk visual puisi tidak hanya konvensial (tidak memenuhi halaman, berupa larik-larik), melainkan juga mengalami inovasi dengan menuliskannya seperti prosa, memenuhi halaman.

Makna Puisi
Puisi, menurut Riffaterre, haruslah dibaca dalam dua tahapan, yakni tahapan heuristik dan tahapan hermeneutik. Pembacaan heuristik adalah pembacaan secara tekstual. Dalam hal ini, pembaca puisi mencoba memaknai unsur-unsur puisi seperti bunyi, kata, gaya bahasa, citraan, sarana retorika. Pembacaan heuristik ini harus diteruskan pada tahapan pembacaan heremenutik, yakni pembacaan secara keseluruhan untuk mendapatkan makna puisi.

Makna puisi bermacam-macam, mengingat bahwa puisi biasanya berupa tanggapan-pengalaman emosional, intelektual, sosial, imajinatif penyairnya. Ada yang berbicara persoalan cinta, kebenaran, ketuhanan, alam, kesetiaan, kepahlawanan, kematian, nafsu, dll. Menurut Sayuti (1985:185), puisi mengandung masalah yang berkaitan dengan diri sendiri, manusia lain, Tuhan, dan alam.

Penulisan Puisi
Puisi merupakan karya kreatif, yakni karya yang lahir dari kreativitas  penulisnya. Menulis puisi dengan demikian adalah persoalan kreativitas, yang lekat dengan kemampuan individu untuk memunculkan nilai baru dalam hal-hal yang diciptakannya. Meskipun demikian, kreativitas itu bukanlah suatu hal yang memiliki nilai mati. Kreativitas bisa digali dan ditumbuhkan.

Tahap proses kreatif ada empat, yakni:
1.Persiapan.
2.Inkubasi.
3.Iluminasi.
4.Verifikasi.

Tahap persiapan adalah tahap mencari bahan-bahan atau sumber tulisan. Ini bisa dilakukan dengan pengayaan materi, mencari momen-momen puitik yang bisa menyentuh perasaan.  Ide atau bahan penulisan bisa didapat dan digali dari mana saja. Kemunculannya bisa dilakukan dengan mengasah sensitivitas, pengalaman, imajinasi, dan bisa diperkaya dengan  kegiatan membaca, mengamati, atau mencari momen-momen puitik.  Upaya-upaya pengayaan bahasa perlu dilakukan, misalnya dengan pengayaan penguasaan kosakata, pengayaan bacaan-bacaan, terutama puisi, pengayaan dalam membentuk kata atau frase, dst.

Ketika semua bahan telah terkumpul, tahap berikutnya adalah melakukan inkubasi atau pengendapan. Pada tahapan ini, semua materi yang telah dikumpulkan diendapkan dalam rangka memantapkan  calon tulisan sambil   melakukan proses penyusunan. Saat semua bahan dirasa siap untuk dilahirkan dalam bentuk tulisan, masuklah tahap iluminasi atau tahap perwujudan. Pada saat ini, semua ide yang telah diorganisir dilahirkan dalam bentuk tulisan.

Setelah selesai menuliskan semua ide yang ingin disampaikan, penulis perlu melakukan tahapan   revisi.   Jika ada hal yang kurang sesuai, bisa dilakukan perbaikan-perbaikan. Revisi bisa dilakukan dengan cara peer-review, atau meminta pendapat dari teman sejawat. Revisi adalah salah satu cara untuk mencapai perbaikan naskah.  Verifikasi adalah tahapan untuk melakukan penilaian-penilaian apakah suatu karya layak untuk diterbitkan.

Phillbrick dalam www.teacher.scholastic.com (diunduh tanggal 19 Mei 2009) memberikan beberapa poin penting terkait dengan penulisan puisi. Perencanaan adalah tahap awal yang penting. Setiap penulis puisi harus mengalokasikan waktunya untuk menulis puisi, kurang lebih 5-10 menit. Hal yang perlu dilakukan adalah segera menulis. Menulis sebait puisi lebih baik daripada tidak sama sekali. Semakin sering menulis puisi, maka semakin terbiasa pula dengan puisi. Penulis puisi dapat memulai menulis sesuatu yang menarik perhatian.

Teknik Kata Berantai
Teknik kata berantai mengacu pada teori pengetahuan tentang kata dan organisasi konsep sebuah kata. Sebuah kata akan terangkai dengan kata berikutnya karena siswa telah memiliki organisasi konsep kata tersebut. Menurut Soenjono Dardjowidjojo (2008:178), paling tidak ada tiga konsep untuk mengklaim sebuah kata, yaitu aspek semantik, kategori sintaktik, dan aspek fonologis. Dengan aspek semantik, seseorang tidak hanya mengetahui makna sebuah kata tetapi juga nuansa-nuansa yang terkait dengan makna kata itu.
Teknik kata berantai mengacu pada teori tentang hubungan konsep dan bagaimana konsep itu diorganisir dengan model semantik hierarkhis dan spreading avtivation model. Model Semantik Hierarkhis (Hierarcgical Semantic Model) diajukan Collins dan Quillian sedangkan Spreading Activation Network Model dikemukakan oleh Collins dan Loftus dalam Sundjono Dardjowidjojo (2008), dapat dilihat pada bagan berikut.

Bagan 1: Model Semantik Hierarkhis

` Bagan 1 : Semantics of the hierarchical model

Dari bagan di atas dapat diketahui bahwa makin dekat satu node konsep dengan node konsep yang lain, makin dekat hubungan kedua konsep tersebut. Jika seseorang ditanya tentang perkutut, orang tersebut akan menyebut burung bukan binatang. Kedekatan itu juga dibuktikan dengan jumlah waktu yang diperlukan untuk memberikan reaksi bila diberi suatu kata.
Sedangkan model yang dikemukakan oleh Collins dan Loftus, konsep dinyatakan dalam node yang berkait-kaitan. Model jaringan menyebar dapat dilihat pada dua contoh di bawah ini.

Bagan 2: Spreading Activation Network Model

Cara model ini bekerja adalah bila suatu konsep teraktifkan maka “aliran listriknya” menyebar ke konsep-konsep lain yang berkaitan. Aliran akan kuat jika jaraknya dekat, makin jauh makin kecil alirannya (Sunjono Dardjowidjojo 2008: 188). Dengan demikian, jumlah waktu yang diperlukan untuk memahami kalimat botol tempat sirup akan lebih pendek daripada botol tempat buah, atau botol mangga.

Dengan dua model organisasi kata maka teknik kata berantai dapat digunakan untuk melatih siswa mengaitkan setiap kata dengan kata-kata lain yang lebih dekat sesuai topik yang sudah ditentukan. Agar lebih menarik, teknik kata berantai dilaksanakan secara berkelompok. Setiap siswa harus berpikir cepat untuk merangkai setiap kata yang telah dituliskan oleh siswa lain hingga menjadi sebuah puisi yang utuh.

Teknik kata berantai dilaksanakan seperti permainan bisik berantai. Bedanya, bisik berantai dilaksakanan dengan cara diucapkan, kata berantai dilakukan dengan cara dituliskan. Karena berbentuk permaian, teknik kata berantai diharapkan dapat menumbuhkan kegairahan siswa dalam menulis puisi.

Teknik kata berantai dilaksanakan dengan aturan main sebagai berikut:
1.Kelas dibagi menjadi 4 kelompok
2.Setiap kelompok memilih tema dengan cara diundi
3.Mesekipun tema dalam satu kelompok sama, setiap siswa harus menentukan subtema. Subtema akan digunakan sebagai judul puisi.
4.Setelah menentukan judul, siswa menuliskan kata pertama sebagai kata kunci dalam puisi
5.Berdasarkan kata kunci tersebut setiap anggota kelompok secara berantai melanjutkan dengan kata-kata berikutnya menjadi baris-baris puisi hingga selesai
6.Kata-kata yang dituliskan secara berantai ini tetap harus memperhatikan tema dan pola persajakan
7.Setelah waktu berakhir, siswa mempresentasikan puisi terbaik kelompok tersebut

Kerangka Berpikir
Puisi merupakan karya kreatif, yakni karya yang lahir dari kreativitas  penulisnya. Kreativitas tidak akan muncul jika tidak ada rangsangan. Rangsangan dapat berasal dari dalam maupun dari luar. Rangsangan dari dalam berasal dari siswa sendiri, sedangkan rangsangan dari luar berasal dari guru, orang tua, teman-temannya dan lingkungan. Dengan teori organisasi konsep, guru dapat merangsang siswa untuk menggali kata-kata yang dikenalnya sesuai konsep yang dikehendaki.

Teknik kata berantai dikemas dalam permainan yang dapat membangkitkan kreativitas siswa. Dalam permainan ini, setiap siswa harus melanjutkan kata yang ditulis teman kelompoknya dengan menuliskan kata-kata yang mempunyai konsep sama. Dengan kata lain, setiap siswa harus mencari kata-kata yang tidak menyimpang dengan judul atau tema yang telah ditetapkan. Jika siswa menuliskan kata kunci profesi, maka jaringan kata lain yang muncul adalah guru, dokter, pengusaha, dan contoh profesi lainnya bukan kata kucing, ayam atau singa.

Teknik kata berantai menerapkan teori organisasi konsep untuk pembelajaran menulis puisi. Dengan satu topik atau tema, setiap siswa dapat mengaktifkan konsep yang tersimpan dalam memori untuk mencari kata-kata yang berdekatan. Jika kosakata yang teroganisir dalam memori siswa dikelola dengan baik kemudian disusun menjadi baris-baris puisi maka akan terwujud sebuah puisi yang memperhatikan pilihan kata. Demikian pula jika siswa akan menulis puisi dengan memperhatikan pola persajakan maka kata-kata yang dibuat harus sesuai dengan pola persajakan. Dengan asumsi di atas maka teknik kata berantai dapat meningkatkan minat dan hasil pembelajaran menulis puisi.

Hipotesis Tindakan
Hipotesis penelitian ini adalah ”Teknik Kata Berantai dapat Meningkatkan Kemampuan Menulis Puisi Siswa Kelas VIII A SMP 1 Kudus Tahun Pelajaran 2008/2009”.

METODE PENELITIAN
Setting Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Kelas VIII A SMP 1 Kudus jalan Sunan Muria 10A Kudus. Penelitian Siklus 1 dilaksanakan pada tanggal 19 Mei 2009 dan Siklus 2 pada 26 Mei 2009. Setelah dilaksanakan tindakan, dilanjutkan penyusunan laporan pada bulan Juni hingga Oktober 2009.

Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah semua siswa di kelas VIII A SMP 1 Kudus yang terdiri atas 26 siswa, yakni 12 siswa putra dan 14 siswa putri.
Sumber data dalam penelitian ini berasal dari:
1. Siswa : proses belajar mengajar, hasil tes, hasil nontes yaitu hasil observasi dan wawancara.
2. Guru : hasil observasi/ pengamatan.

Teknik dan Alat Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah teknik tes dan nontes.

Teknik Tes
Tes dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini dilakukan melalui 2 siklus. Yaitu sikus 1 dan siklus 2. Teknik tes digunakan untuk mengetahui dan mendapatkan data kemampuan siswa dalam menulis puisi setelah pembelajaran dengan “Teknik Kata Berantai”.

Teknik Nontes
Data nontes digunakan untuk mengetahui perubahan perilaku siswa setelah proses pembelajaran. Pada teknik ini, peneliti akan menggunakan observasi, jurnal, wawancara dan dokumentasi.

Analisis Data
Dalam penelitian ini data yang terkumpul dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Analisi data hasil tes secara kuantitatif dihitung scara persentase dengan langkah-langkah: (1) merekap skor yang diperoleh siswa, (2) Menghitung skor kumulatif dari seluruh aspek, (3) menghitung skor rata-rata, dan (4) menghitung persentase dengan rumus.

Hasil perhitungan keterampilan menulis puisi dengan “Teknik Kata Berantai” pada masing-masing siklus dibandingkan. Hasil ini akan memberikan persentase peningkatan keterampilan menulis puisi dengan “Teknik Kata Berantai”.

Analisis secara kualitatif bertujuan untuk menganalisis data nontes yang diperoleh siswa berupa lembar observasi, wawancara dan jurnal. Hasil analisis kedua siklus dibandingkan untuk mengetahui perubahan tingkah laku siswa.

Indikator Kinerja
Indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah semakin tingginya minat dan kemampuan menulis puisi, yang ditandai dengan :
1.Sekurang-kurangnya 75% siswa senang menulis puisi.
2.Sekurang-kurangnya 75% siswa mampu menulis puisi.

Prosedur Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan yang dilaksanakan di dalam kelas atau biasa disebut Classroom Action Research yang bertujuan memecahkan masalah-masalah dalam pembelajaran di kelas, khususnya pembelajaran menulis puisi bebas. Penelitian tindakan kelas ini bersifat partisipatif karena melibatkan peneliti sebagai pelaku pembelajaran dan melibatkan teman sejawat (kolaborator) untuk membantu pengamatan terhadap pelaksanaan proses pembelajaran.

Model penelitian tindakan kelas dalam penelitian ini terdiri atas empat kegiatan yang dilakukan dalam siklus berulang. Empat kegiatan utama yang ada pada setiap siklus, yaitu 1) perencanaan, 2) tindakan, 3) pengamatan, 4) refleksi. (Arikunto, 2006:74).

Dengan demikian prosedur penelitian ini memiliki siklus, perencanaan – tindakan – pengamatan – refleksi dan revisi dan seterusnya sehingga tercapai tujuan yang diinginkan dengan tindakan yang paling efektif.
Model penelitian tindakan kelas dalam penelitian ini pada dasarnya menggunakan model proses dan terdiri atas dua siklus dengan prosedur sebagai berikut.

Proses Penelitian Siklus I
Siklus ini bertujuan untuk menguji kemampuan menulis puisi siswa kelas VIII A setelah diberi tindakan. Beranjak dari permasalahan yang dihadapi pada pembelajaran menulis puisi, prosedur penelitian disusun sebagai berikut.

Persiapan yang dilakukan sebelum pelaksanaan tindakan adalah sebagai berikut.
1.Penyusunan rencana dan skenario pembelajaran menulis puisi dengan “Teknik Kata Berantai”
2.Menyusun alat evaluasi tindakan berupa:
Pedoman wawancara (untuk siswa, guru dan kolaborator)
Lembar observasi kegiatan belajar mengajar
Tes tertulis dan penugasan

Pelaksanaan Tindakan (Acting)
Tindakan dilaksanakan sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah dibuat, meliputi:
Pertemuan pertama:
1.Siswa dibagi menjadi empat kelompok. Setiap kelompok terdiri atas 6 siswa.
2.Setiap kelompok memilih satu tema yang disediakan
3.Setiap siswa harus membuat subtema yang akan dijadikan judul sesuai tema kelompok
4.Setelah menentukan judul, siswa menuliskan kata pertama sebagai kata kunci dalam puisi
5.Berdasarkan kata kunci yang ditulis itulah setiap anggota kelompok secara berantai melanjutkan menjadi baris-baris puisi hingga selesai
6.Kata-kata yang dituliskan secara berantai ini tetap harus memperhatikan tema dan pola persajakan
7.Setelah waktu berakhir, siswa memilih 1 puisi terbaik yang akan dipresentasikan pada pertemuan berikutnya.
Pertemuan Kedua
1.Setiap kelompok menentukan 1 siswa sebagai wakilnya untuk mempresentasikan puisi yang telah dipilih.
2.Kelompok lain menanggapi dan bertanya perihal puisi yang dibuat.
3.Menyimpulkan hasil presentasi semua kelompok
Pengamatan/Observasi (observation)
Observasi pembelajaran dilakukan secara kolaboratif dengan menggunakan format pengamatan proses pembelajaran. Evaluasi hasil pengamatan juga dilaksanakan secara kolaboratif dengan mengolah data yang telah diperoleh dan menentukan keberhasilan tindakan yang telah dilaksanakan.
Refleksi (reflecting)

Hasil observasi dan evaluasi dianalisis. Berdasarkan analisis ini guru sebagai peneliti bersama kolaborator dan siswa melakukan refleksi diri untuk menentukan perencanaan dan tindakan selanjutnya. Refleksi juga didasarkan atas jurnal yang dibuat guru setelah selesai melaksanakan tindakan/ pembelajaran dan dipresentasikan siswa. Hasil refleksi ini digunakan dasar untuk penyusunan tindakan pada Siklus II.
Proses Penelitian Siklus II

Siklus II ini bertujuan untuk meningkatkan prestasi kemampuan menulis puisi yang telah dicapai pada Siklus I. Tema puisi diubah sesuai usul siswa yaitu profesi, cinta, bencana, dan Politik. Pembelajaran menulis puisi diharapkan berlangsung semakin efektif dan optimal. Prosedur penelitian sama seperti Siklus I dengan perubahan topik sesuai usul siswa.
Perencanaan Tindakan (planning)

Persiapan yang dilakukan sebelum pelaksanaan tindakan sama seperti pada siklus I, yaitu:
1.Penyusunan rencana pembelajaran dan skenario pembelajaran menulis puisi dengan teknik kata berantai
2.Menyusun alat evaluasi tindakan berupa:
Pedoman wawancara (untuk siswa, guru dan kolaborator)
Lembar observasi kegiatan belajar mengajar
Alat evaluasi dan tugas

Pelaksanaan Tindakan (Acting)
Pelaksanaan tindakan pada Silkus I berjalan dengan baik sehingga pada Siklus II tidak ada perubahan pelaksanaan tindakan. Pembelajaran dilaksanakan seperti pada Siklus I tetapi tema yang diberikan diubah sesuai usul siswa, yakni kebiasaaan sehari-hari, cinta, profesi dan bencana.
Pengamatan/Observasi (observation)

Seperti pada Siklus I, observasi pelaksanaan tindakan/pembelajaran dilakukan secara kolaboratif dengan menggunakan format pengamatan proses pembelajaran. Evaluasi hasil pengamatan juga dilaksanakan secara kolaboratif dengan mengolah data yang telah diperoleh dan menentukan keberhasilan tindakan yang telah dilaksanakan.

Refleksi (reflecting)
Hasil observasi dan evaluasi dianalisis. Berdasarkan analisis ini guru sebagai peneliti bersama kolaborator dan siswa melakukan menyimpulkan hasil pembelajaran menulis puisi dengan teknik kata berantai.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYA
Deskprisi Kondisi Awal
Dari hasil observasi, ditemukan berbagai alasan rendahnya minat siswa menulis puisi, yaitu:
1.Menulis puisi itu susah.
2.Tidak mempunyai hobi menulis puisi.
3.Tidak ada inspirasi.
4.Tidak suka menulis puisi.
5.Tidak bisa menggunakan kata-kata kias.
6.Sulit memilih kata-kata yang tepat.

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa siswa yang memperoleh nilai ≤75 atau berkategori baik hanya 7 siswa atau 27 %. Tujuh siswa yang mendapatkan nilai 75 adalah para siswa yanng ketika ditanya menjawab senang menulis puisi. Alasan mereka senang menulis puisi adalah:
1.Bisa melatih kreativitas.
2.Menulis puisi dianggap sebagai tantangan.
3.Dapat mengekspresikan keinginan.
4.Dapat mengekspresikan atau mencurahkan isi hati.
5.Hobi.

Dari kenyataan tersebut perlu dilakukan upaya-upaya agar pembelajaran menulis puisi tidak lagi dianggap sulit oleh siswa. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan menulis puisi yaitu memilih teknik atau model pembelajaran yang baru dan menyenangkan.

Agar teknik yang dipilih tepat sasaran, guru perlu menyusun semua perangkat pembelajaran berdasarkan teknik yang akan dirancang. Perangkat yang perlu disiapkan adalah silabus, RPP, Pedoman Penilaian, Pedoman Wawancara, Jurnal, Lembar Observasi, dan Angket.

Deskripsi Siklus I
Peneliti melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) dalam dua siklus. Pada Siklus I pelaksanan penelitian sebagai berikut:

Perencanaan Tindakan
Sebelum pelaksanaan tindakan, peneliti mengadakan serangkaian kegiatan. Rangkaian kegiatan yang dilakukan yaitu mengidentifikasi masalah, menganalisis masalah dengan mengacu pada teori-teori yang relevan, dan merumuskan masalah.

Pembelajaran menulis puisi pada Siklus I diawali dengan penjelasan guru tentang “teknik Kata Berantai”. Guru membagi siswa menjadi 4 kelompok. Setiap kelompok memilih satu tema. Meskipun tema dalam satu kelompok sama, tetapi setiap siswa harus menentukan subtema dari tema besar yang telah dipilih. Subtema selanjutnya dijadikan judul puisi. Langkah berikutnya adalah menentukan kata pertama yang akan dijadikan kata kunci. Dari kata kunci inilah setiap siswa dalam kelompok harus merangkai kata demi kata secara bergantian atau berantai. Rangkaian kata yang ditulis harus mempertimbangkan ketepatan diksi dengan tema dan pola persajakan.

Pelaksanan Tindakan
Pelaksaan tindakan pertama ini, dilakukan setelah persiapan minggu keempat bulan April 2009. Pada minggu kedua bulan Mei, tepatnya tanggal 19 Mei 2009 penulis mulai melaksanakan tindakan pertama. Pada hari berikutnya, yaitu tanggal 20 Mei 2009 penulis melakukan tindakan kedua yaitu presentasi hasil. Alokasi waktu yang digunakan baik pada pertemuan pertama maupun kedua adalah 2 x 40 menit. Jadi, alokasi waktu yang diperlukan pada Siklus I adalah 4 x 40.

Pelaksanaan tindakan siklus I merupakan langkah awal yang dilakukan peneliti setelah memahami masalah-masalah yang dihadapi siswa serta melihat hasil pre tes pembelajaran menulis puisi di kelas. Pada kegiatan inti pembelajaran, peneliti mengawali dengan menjelaskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Penulis menerangkan materi pokok tentang menulis puisi kepada siswa dan teknik yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Setelah penjelasan selama 15 menit, siswa melaksanakan pembelajaran dengan “Teknik Kata Berantai” dengan kelompok masing-masing.

Pada kegiatan penutup, guru melakukan tes proses dan memberikan tindak lanjut. Hal-hal yang dinilai dalam kegiatan tersebut adalah keaktifan dan kerja sama siswa dalam mengerjakan tugas dalam kelompok. Sedangkan untuk kegiatan tindak lanjut penulis memberikan tugas kepada setiap kelompok untuk memilih puisi terbaik dan mempersiapkan presentasi pada pertemuan kedua.

Observasi
Pembelajaran menulis puisi berjalan dengan lancar. Antusiasme siswa cukup tinggi. Selain perubahan nilai, minat siswa untuk menulis puisi juga meningkat secara signifikan. Semua siswa berkeinginan untuk menulis puisi. Setelah diberi tindakan, siswa tampak senang menulis puisi. Siswa menganggap bahwa pembelajaran menulis puisi dengan “Teknik Kata Berantai” cukup menarik. Siswa bersemangat dan antusias bekerja di dalam kelompok. Kesulitan menyesuaikan diksi dengan tema justru menjadi tantangan yang cukup mengasikkan.

Teknik Kata Berantai membantu siswa yang mengalami kesulitan merangkai kata-kata dengan bantuan teman satu kelompok. Keceriaan dan tawa menghias selama pembelajaran. Kebosanan dan kesulitan tidak lagi menjadi kendala. Siswa aktif dan bekerja secara kolaboratif. Tingkah laku siswa selama pembelajaran interaktif. Respon siswa antusias terhadap pembelajaran menulis puisi. Suasana pembelajaran aktif dan menyenangkan. Akibatnya, pembelajaran berlangsung efektif.

Selain perubahan sikap, terjadi peningkatan hasil belajar. Meskipun hasil yang diperoleh masih belum sepenuhnya seperti yang diharapkan tetapi jumlah siswa yang memperoleh nilai ≥ 75 bertambah dari 7 siswa menjadi 22 siswa. Ada peningkatan 58%.

Berdasarkan tabel 4.4 dapat dilihat bahwa pada siklus I belum ada satu pun siswa yang memeperoleh nilai ≥85. Namun, semua siswa sudah mencapai kategori cukup dan baik. Enam siswa yang memperoleh nilai kategori kurang pada pra siklus sudah meningkat ke kategori cukup. Bahkan jumlah siswa yang menduduki kategori cukup tinggal 4 siswa atau hanya 15%.

Refleksi
Selain peningkatan minat dan hasil belajar menulis puisi, sesi presentasi juga menjadi acara yang ditunggu-tunggu. Setiap kelompok berusaha memilih satu puisi terbaik hasil karya kelompok untuk dipresentasikan. Wakil kelompok pun berusaha membaca puisi dengan baik dan menjelaskan alasan pemilihan puisi tersebut. Tanya jawab antarkelompok menjadi ajang debat yang sehat. Setiap kelompok berusaha menunjukan kelebihan puisi yang dipresentasikan dengan berpedoman pada kriteria yang sudah dijelaskan guru.

Meskipun pembelajaran menulis puisi sudah berjalan lancar dan menyenangkan tetapi belum ada satu siswa pun yang memperoleh nilai kategori amat baik. Oleh karena itu, pada akhir pembelajaran penulis meminta saran siswa untuk perbaikan pembelajaran berikutnya. Beberapa siswa menyarankan agar tema puisi lebih simpel, tentang kehidupan sehari-hari, misalnya bencana, percintaan, dan profesi.

Deskripsi Siklus II
Perencanaan Tindakan
Berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan tindakan I perlu dilakukan perbaikan untuk pelaksanaan tindakan II. Perbaikan yang direncanakan tidak menyeluruh, hanya pada bagian-bagian tertentu yang dipandang oleh peneliti kurang mendukung keberhasilan pembelajaran.

Perbaikan pembelajaran yang dilakukan pada tindakan II ini adalah mengganti tema sesuai permintaan siswa. Perbaikan tindakan ini diharapkan dapat meningkatkan keefektifan proses pembelajaran dan hasil belajar siswa.

Pelaksanaan Tindakan
Dari hasil evaluasi pada pelaksanan tindakan I yang belum optimal, penulis kembali merencanakan tindakan II. Pada minggu pertama Senin, 25 Mei 2009 menyusun rencana tindakan II dan dilaksanakan pada hari Selasa, 26 Mei 2009 untuk pertemuan pertama dan Rabu, 27 Mei 2009 untuk pertemuan kedua.
Pelaksaan tindakan Siklus II dilakukan setelah melaksanakan refleksi dari hasil tindakan Siklus I pada akhir bulan April 2009. Pada minggu ketiga bulan Mei, tepatnya tanggal 19 Mei 2009 penulis mulai melaksanakan pertemuan pertama. Hari berikutnya, yaitu tanggal 26 Mei 2009 penulis melakukan pertemuan kedua yaitu presentasi hasil. Alokasi waktu yang digunakan masih sama seperti pada Siklus I. Baik pada pertemuan pertama maupun kedua waktu yang diperlukan 2 x 40 menit. Jadi, alokasi waktu yang diperlukan pada Siklus I adalah 4 x 40’.

Pelaksanaan tindakan Siklus 2 merupakan langkah lanjutan yang dilakukan peneliti setelah memahami masalah-masalah yang dihadapi siswa dan hasil tes pembelajaran menulis puisi Siklus I. Pada kegiatan inti pembelajaran, peneliti mengawali dengan menjelaskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Penulis memberikan sedikit ulasan tentang tema menulis puisi dan teknik yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Setelah penjelasan selama 10 menit, siswa melaksanakan pembelajaran dengan “Teknik Kata Berantai” dengan kelompok masing-masing.

Pada kegiatan penutup, guru melakukan refleksi bersama siswa. Dari hasil refleksi diketahui bahwa pembelajaran menulis puisi dengan “Teknik Kata Berantai” cukup efektif.

Obeservasi
Pada Siklus II, nilai pembelajaran menulis puisi dengan Teknik Kata Berantai’ mengalami peningkatan signifikan. Seperti pada siklus I, hasil nontes juga menunjukkan bahwa siswa aktif dan bekerja secara kolaboratif selama proses pembelajaran. Tingkah laku siswa selama pembelajaran tetap interaktif. Respon siswa semakin antusias terhadap pembelajaran menulis puisi. Suasana pembelajaran aktif dan menyenangkan sehingga pembelajaran dapat berlangsung efektif.

Refleksi
Berdasarkan hasil obeservasi, yang lebih mencengangkan adalah ketika pada pertemuan berikutnya siswa masih berkeinginan mempraktikkan “Teknik Kata Berantai”. Ada beberapa siswa yang menyarankan pada pembelajaran cerpen menggunakan teknik yang sama. Peningkatan hasil nontes diikuti pula oleh hasil tes. Hasil tes dapat dilihat pada tabel 5.

Pada tabel 5 dapat dilihat bahwa semua siswa mampu memperoleh nilai ≥ 75 atau mencapai batas ketuntasan minimal. Meskipun hanya 3 siswa yang mencapai kategori amat baik tetapi semua siswa telah mencapai kategori baik. Pembelajaran menulis puisi dengan “Teknik Kata Berantai” dapat membantu siswa yang kehabisan ide karena bantuan teman dalam satu kelompok. Pembelajaran dengan “Teknik Kata Berantai” bersifat permainan sehingga siswa dapat merasa lebih nyaman. Kenyamanan ini berdampak positif pada hasil belajar yang dicapai. Hasil presentasi juga menunjukkan peningkatan. Selain faktor kebiasaan, siswa berusaha menampilkan yang terbaik atas nama kelompok.

Pembahasan Tiap Siklus dan Antarsiklus
Hasil tes awal atau Pra Siklus menunjukkan bahwa siswa yang mencapai KKM hanya tujuh orang. Siswa yang mampu mencapai KKM adalah siswa yang sejak awal senang atau mempunyai hobi menulis puisi. Sisanya, 19 siswa menganggap menulis puisi sulit. Akibat anggapan yang salah tersebut, sebagian siswa belum mempunyai kemampuan menulis puisi.

Pada siklus I siswa lebih aktif dan dapat bekerja secara kolaboratif. Interaksi yang terjadi dalam kelompok terjalin secara sehat dan kompak. Siswa antusias mengikuti pembelajaran menulis puisi. Suasana pembelajaran yang aktif dan menyenangkan menyebabkan pembelajaran berlangsung efektif dengan hasil yang menggembirakan.

Dari hasil nontes, minat siswa menulis dalam puisi meningkat. Jika pada pra siklus hanya 7 siswa yang senang, pada Siklus I menjadi 26 siswa. Artinya, semua siswa di kelas VIII A tertarik untuk menulis puisi. Ketertarikan ini memberikan dampak positif pada hasil akhir belajar siswa. Hasil yang diperoleh masih belum optimal tetapi terjadi kenaikan jumlah siswa yang memperoleh nilai ≥ 75, yakni dari 7 siswa menjadi 22 siswa. Terjadi peningkatan 58% dari pre tes. Sebuah peningkatan yang cukup baik. Hasil wawancara tentang minat menulis puisi dapat diliat pada grafik 1.

Grafik1: Hasil wawancara tentang minat menulis puisi
Meskipun minat siswa menulis puisi sudah mencapai 100%, tetapi pada Siklus 2 tema puisi tetap diubah sesuai usulan siswa. Harapannya, dengan tema yang disukai maka hasil belajar pun semakin meningkat. Hal ini terbukti bahwa hasil nontes maupun tes mengalami peningkatan sangat baik. Seperti pada siklus I, hasil nontes menunjukkan terjadi peningkatan minat, keaktifan dan kerja sama secara kolaboratif. Tingkah laku yang interaktif dan antusias yang tinggi membuat suasana pembelajaran semakin menyenangkan. Dari hasil tes dapat diketahui bahwa 100% siswa kelas VIII A sudah mencapai KKM dengan rata-rata nilai 80 dengan perincian 23 (88%) siswa memperoleh nilai berkategori baik, dan 3 siswa (12%) berkategori amat baik. Perbandingan nilai menulis puisi tiap siklus dapat dilihat pada grafik 2.

PENUTUP
Simpulan
Seseorang menulis puisi karena ingin mengabadikan apa yang dilihat, dirasakan dan dipikirkannya. Proses pengimajinasian atau pengalaman akan menghasilkan proses kreatif jika kata yang ditulis dapat memperjelas atau memperkonkret apa yang dinyatakan layaknya dapat dilihat, didengar, dan dirasa. Namun, tidak semua siswa mampu memilih kata-kata dan menyusunnya menjadi deretan kata yang harmonis dan estetis dengan pilihan kata dan pola persajakan yang sesuai.

Pembelajaran menulis puisi tidak disukai. Siswa cenderung lebih menyukai menulis karangan ilmiah populer daripada menulis puisi. Siswa beranggapan bahwa menulis puisi lebih sulit dibandingkan dengan menulis surat, menulis memo atau lainnya. Oleh karena itu, guru harus mencari cara agar tuntutan kurikulum pada standar kompetensi 16 dapat terpenuhi.

Cara yang penulis lakukan adalah dengan teknik kata berantai. Teknik kata berantai mengacu pada teori organisasi konsep, bahwa siswa akan mengaitkan sebuah kata dengan kata yang lain karena kedekatan konsep. Dari hasil tes dan nontes, teknik ini mampu meningkatkan minat dan hasil belajar menulis puisi. Artinya, teknik kata beranta cukup efektif diterapkan pada pembelajaran menulis puisi.

Saran
Ada beberapa saran yang perlu penulis sampaikan sehubungan dengan penelitian ini.
1.Teknik kata berantai menerapkan teori organisasi konsep untuk pembelajaran menulis puisi. Dengan satu topik atau tema, setiap siswa dapat mengaktifkan konsep yang tersimpan dalam memori untuk mencari kata-kata yang berdekatan. Dengan pola permaianan, teknik kata berantai dapat meningkatkan minat dan hasil pembelajaran menulis puisi.

2.Agar pembelajaran tidak membosankan, guru dapat menerapkan teknik kata berantai untuk meningkatkan kompetensi menulis puisi baik puisi bebas maupun puisi jenis lain.

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Bloomfield, Leonard. 1977. Language. London : George Allen & Unwin.
Dardjowidjojo, Soenjono. 2008. Psikolinguistik: Pengantar Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indoneisia.
Depdiknas. 2003. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SMP dan MTs. Jakarta: Depdiknas.
________ . 2006. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi
Hasnun, Anwar. 2006. Pedoman Menulis untuk Siswa SMP dan SMA. Yogyakarta: CV Andi Offset.
Keraf, Gorys. 1998. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia.
Phillbrick, Rodman. Tips Menulis Puisi. www.teacher.scholastic.com (diunduh 19 Mei 2009).
Pradopo, Rachmat Djoko. 2002. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Sayuti, Suminto A. 1985. Puisi dan Pengajarannya. Semarang: IKIP Semarang Press.
Suhono. 2007. Hubungan Antara Organisasi Konsep dan Produksi Tulis Bahasa Indonesia Peserta Didik Kelas IX SMP Negeri 2 Jakenan Kabupaten Pati. Semarang: PPs. UNNES
Tarigan, Henry Guntur. 1986. Prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.

Tulisan lain yang berkaitan:

Tidak ada tulisan lain yang berkaitan!
Tulisan berjudul "Teknik Kata Berantai Sebagai Upaya Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi Siswa SMP 1 Kudus Tahun Pelajaran 2008/2009" dipublikasikan oleh Admin ISPI (Sunday, 1 August 2010 (09:39)) pada kategori PTK. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

80 Responses to "Teknik Kata Berantai Sebagai Upaya Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi Siswa SMP 1 Kudus Tahun Pelajaran 2008/2009"

  1. Buha Aritonang says:

    Bu.
    Mohon diemail disain penelitian ibu tentang “TEKNIK KATA BERANTAI SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA SMP 1 KUDUS TAHUN PELAJARAN 2008/2009”

    Humas Reply:

    @Buha Aritonang, Nanti kami sampaikan ke beliau. Semoga beliau berkenan.

    Salam!

  2. Supardi says:

    Cukup bagus, akan lebih bagus lagi kalau saya dikirimi filenya yang lengkap.Heeeeeee……..

    Humas Reply:

    @Supardi, Silakan minta langsung ke yang bersangkutan.

    Trim ya…

  3. wanti says:

    sangat membantu dan menginspirasi saya dalam pengembangan kemampuan mengajar saya……….thanks dan semoga sukses selalu

  4. Trm kasih. Ingin saya berbagai hasil penelitian saya yg lengkap tapi jumlah halamannya cukup banyak. sulit dikirm via email

  5. Purwojatmiko says:

    Trimakasih atas uploud tulisan Ibu, saya menjadi terinspirasi untuk pembelajaran saya di kelas dan untuk menyempurnakannya.

Trackbacks

Check out what others are saying about this post...
  1. Drapery says:

    Blogs you should be reading…

    [...]Here is a Great Blog You Might Find Interesting that we Encourage You[...]……

  2. poster frame says:

    Related……

    [...]just beneath, are numerous totally not related sites to ours, however, they are surely worth going over[...]……

  3. Great website…

    [...]we like to honor many other internet sites on the web, even if they aren’t linked to us, by linking to them. Under are some webpages worth checking out[...]……

  4. Home Repairs says:

    Great website…

    [...]we like to honor many other internet sites on the web, even if they aren’t linked to us, by linking to them. Under are some webpages worth checking out[...]……

  5. Stafford says:

    Superb website…

    [...]always a big fan of linking to bloggers that I love but don’t get a lot of link love from[...]……

  6. Check this out…

    [...] that is the end of this article. Here you’ll find some sites that we think you’ll appreciate, just click the links over[...]……

  7. Curtains says:

    You should check this out…

    [...] Wonderful story, reckoned we could combine a few unrelated data, nevertheless really worth taking a look, whoa did one learn about Mid East has got more problerms as well [...]……

  8. hair sales says:

    Websites worth visiting…

    [...]here are some links to sites that we link to because we think they are worth visiting[...]……

  9. BrewWiis says:

    Cool sites…

    [...]we came across a cool site that you might enjoy. Take a look if you want[...]……

  10. Sites we Like……

    [...] Every once in a while we choose blogs that we read. Listed below are the latest sites that we choose [...]……

  11. singer says:

    Sources…

    [...]check below, are some totally unrelated websites to ours, however, they are most trustworthy sources that we use[...]……

  12. clonazepam says:

    ……

    I really like your writing style, superb info , regards for putting up : D….

  13. Related……

    [...]just beneath, are numerous totally not related sites to ours, however, they are surely worth going over[...]……

  14. Baby Toys says:

    Websites we think you should visit…

    [...]although websites we backlink to below are considerably not related to ours, we feel they are actually worth a go through, so have a look[...]……

  15. Sites we Like……

    [...] Every once in a while we choose blogs that we read. Listed below are the latest sites that we choose [...]……

  16. Online Article…

    [...]very few websites that happen to be detailed below, from our point of view are undoubtedly well worth checking out[...]…

  17. Great website…

    [...]we like to honor many other internet sites on the web, even if they aren’t linked to us, by linking to them. Under are some webpages worth checking out[...]……

  18. free pussy says:

    [...] that is the end of this article. Here you’ll find some sites that we think you’ll appreciate, just click the links over[...]……

    [...] Every once in a while we choose blogs that we read. Listed below are the latest sites that we choose [...]……

  19. anxiety help says:

    Blogs you should be reading…

    [...]Here is a Great Blog You Might Find Interesting that we Encourage You[...]……

  20. ipad 2 faq says:

    My opinion is ……

    some genuinely prize articles on this site, saved to bookmarks ….

  21. ……

    I like this blog very much, Its a really nice post to read and receive info ….

  22. Recommended websites…

    [...]Here are some of the sites we recommend for our visitors[...]……

  23. Sources…

    [...]check below, are some totally unrelated websites to ours, however, they are most trustworthy sources that we use[...]……



«
»