Moral Pragmatis
Friday, 6 August 2010 (19:27) | 324 views | 886 komentar | Print this Article
Oleh TOTO SUHARYA
Terkait beredarnya video dan adegan porno di infotainment, sebenarnya banyak fakta sosial yang menjelaskan bahwa moralitas masyarakat telah mengalami penurunan. Untuk itu Presiden SBY dalam pidatonya sangat mengkhawatirkan keadaan ini. Moral adalah keharusan yang dianggap pantas atau tidak pantas untuk dilakukan masyarakat. Hal yang baik adalah sesuatu yang pantas dilakukan masyarakat dan hal yang buruk adalah sesuatu yang tidak pantas dilakukan oleh masyarakat. Penururan moralitas masyarakat berkaitan erat dengan pergeseran nilai. Pergeseran nilai berarti perubahan ukuran baik dan buruk tentang sesuatu di mata masyarakat.
Dulu, tidak ada perempuan berjalan-jalan ke mal dengan menggunakan celana pendek, karena masyarakat menilai hal tersebut tidak pantas. Nilai-nilai ajaran agama yang menuntut perempuan berbusana tertutup tidak memperlihatkan aurat, melalui bantuan media masa digeser oleh prilaku-prilaku pragmatis. Terbentuklah nilai sosial dimana pakaian-pakaian terbuka seperti bercelana pendek, memperlihatkan bagian sensitif di dada bagi kaum perempuan menjadi sesuatu hal yang baik-baik saja di mata masyarakat.
Dari sudut lain dapat kita saksikan bagaimana penuruan moralitas masyarakat terjadi. Prilaku seks bebas, pelecehan seksual, tingginya tingkat kejahatan, maraknya korupsi, rendahnya kepedulian sosial, adalah bagian dari ciri telah terjadinya penurunan moralitas masyarakat. Berbagai modus kejahatan dan penipuan berkembang dengan pesat. Demi meraih keuntungan besar, orang berani mengorbankan masyarakat banyak. Golongan masyarakat kelas miskin selalu menjadi golongan kurang beruntung dan terdzalimi. Mengapa semua ini terjadi?
Budaya kapitalis, telah menyeret masyarakat menjadi manusia-manusia pragmatis dan saling memangsa (homo homoni lupus). Dikatakan oleh Dr. Firmanzah (2008), tanda-tanda pragmatisme masyarakat telah terjadi, masyarakat sudah enggan lagi membicarakan hal-hal yang bersifat ideologis (agamis). Jualan-jualan ideologi yang ditawarkan oleh partai politik saat ini kurang diminati masyarakat. Masyarakat lebih tertarik pada program-program kerja yang bersifat pragmatis berkaitan dengan kesejahteraan (uang). Serangan pajar dengan membagi-bagikan uang pada pemilih selalu menjadi pilihan untuk meraup suara. Kini masyarakat mulai enggan berbicara panjang lebar tentang kejujuran, nasionalisme, kebersamaan, senasib sepenanggungan, kesetiakawanan, gotong royong, saling tolong menolong, dan sebagainya. Terlihat sangat enggan lagi ketika berbicara keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Jika diajak bicara soal ajaran agama, mereka langsung memungkas pembicaraan, segera beralih ke masalah pragmatis yang berkaitan dengan keuntungan politik dan ekonomi.
Nilai sosial benar-benar telah mengalami pergeseran. Dulu sejak awal kemerdekaan nilai-nilai kepahlawanan mendapat penghargaan tinggi di masyarakat. Banyak orang ingin meneladani jiwa-jiwa kepahlawanan. Keinginan ini ditampilkan masyarakat dengan sikap rela berkorban untuk kepentingan orang banyak dibingkai oleh ajaran-ajaran agama yang mereka anut. Sekarang tidak sedikit orang-orang yang berjiwa pahlawan digusur dan dilecehkan. Kasus dua janda istri pahlawan yang diseret ke pengadilan adalah ciri bahwa kepahlawanan bukan lagi ukuran menjadi terhormatnya seseorang. Semua dinilai secara pragmatis atas dasar keuntungan secara politik dan ekonomi. Dulu pada saat selokan mampet, masyarakat masih peduli dengan membetulkannya secara gotong royong. Dulu ketika jalan-jalan umum sudah terlihat kotor, seluruh warga masyarakat turun ke jalan untuk bekerja bakti. Di masyarakat desa atau kota, nilai-nilai di atas sekarang hampir punah. Sekarang semua diukur dengan uang, ada uang ada kerja, bahkan berbahayanya lagi tidak ada kerja uang harus tetap ada.
Sekarang budaya pragmatisme cenderung telah menjadi mindset masyarakat. Nilai-nilai ideologis terdesak oleh budaya-budaya pragmatis yang didukung oleh sistem politik ekonomi kapitalis. Ekonomi kapitalis menuntut persaingan bebas, menuntut manusia bekerja keras. Persaingan bebas mendorong orang untuk berpikir individualitis. Liberalisme telah mendorong masyarakat untuk terus mencari dan mencari apa yang diinginkan tanpa memperhatikan kehidupan orang lain. Masyarakat menjadi sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Mereka tidak sempat lagi mengikuti kegiatan-kegiatan sosial, waktu mereka sangat terbatas oleh pekerjaan. Di satu sisi waktu mereka tersita tidak bisa mengikuti kegiatan-kegiatan sosial, di sisi lain kebutuhan hidup mereka semakin sulit dipenuhi. Pada akhirnya masyarakat berubah menjadi masyarakat individualistis dan pragmatis yang melulu memikirkan kepentingan pribadi. Tidak heran jika masyarakat rebutan sedekah dan zakat, pengurus koperasi melarikan uang anggotanya, anggota DPR mangkir dari rapat, merajalelanya korupsi, dan pungutan-pungutan liar.
Menyikapi semua ini tidak ada jalan lain kecuali kita menyuarakan kembali pentingnya ajaran-ajaran moral dan membumikan nilai-nilai ajaran agama yang kini sudah hampir jarang dibicarakan. Kemendiknas melalui pendidikan karakter yang digagasnya, harus lebih gencar mensosialisasikan model pendidikan ini. Seminar-seminar tentang pendidikan karakter yang didalamnya memuat kajian-kajian moral Pacansila dan nilai-nilai ajaran agama harus terus dikampanyekan. Di sekolah-sekolah atau kampus-kampus, guru dan dosen harus berani membahas ajaran-ajaran moral dan agama di setiap pembelajaran atau perkuliahan. Lebih penting lagi sudah saatnya mengulas kembali ajaran sekulerisme dalam pengembangan ilmu, dan harus sudah mulai memikirkan bagaimana menghubungkan kembali antara ilmu dengan agama, dan bahkan menjadikan agama sebagai sumber pengetahuan dalam pengembangan ilmu. Mudah-mudahan dengan cara demikian, hal yang dikhawatirkan Einstein, “ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu lumpuh” tidak akan terjadi. Kita semua berharap dengan pola-pola pengembangan pendidikan karakter dan bertemunya kembali antara ilmu dengan agama, masyarakat akan terhindar dari pola-pola pikir pragmatis semata. Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua. Wallahu ‘alam.
Toto Suharya merupakan Staf Pengajar Universitas Widyatama, Pengamat Sosial Keagamaan, dan Ketua AGP PGRI Jawa Barat
Tulisan lain yang berkaitan:


Prilaku masyarakat yang pragmatis sudah menjadi pemandangan yang biasa bagi sebagian dari kita. Namun, Saya selalu yakin apapun yang terjadi dalam kehidupan ini pada akhirnya berujung pada sebuah kebenaran yang hakiki. Jangan pernah lengah dan menyerah terhadap kondisi yang ada sekarang karena bagaimanapun Alloh Swt sudah punya rencana tersendiri untuk hambaNya.
[Reply]