Koruptor Itu Kafir

Thursday, 2 September 2010 (17:16) | 356 views | Print this Article

Oleh Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Dewan Pembina ISPI)
Semua warga bangsa tahu belaka, korupsi di Indonesia merupakan semacam penyakit endemis yang sampai sekarang masih merajalela dan sulit tersembuhkan. Penyakit bangsa ini bahkan terlihat kian meruyak. Orang mengatakan, kalau zaman Orba dulu, korupsi terutama terjadi di pusat; kini dengan penerapan otonomi daerah selama enam tahun terakhir, korupsi juga mengalami ‘desentralisasi’-meruyak ke daerah. Dengan begitu, korupsi kini ada di mana-mana, sejak dari tingkat pusat sampai ke daerah.

Jelas ada upaya untuk memerangi korupsi. Kejaksaan membuat target bagi penyelidikan dan pengadilan mereka yang (diduga) terlibat korupsi. Kepolisian juga seolah tidak mau kalah. Meski kedua lembaga ini mencapai hasil tertentu dalam usaha memerangi korupsi, masyarakat umumnya skeptis, karena terdapat oknum jaksa dan Polri yang juga (diduga) terlibat korupsi. Bahkan, tidak jarang kedua lembaga penegak hukum ini terlibat dalam konflik kepentingan melindungi bagian korps masing-masing. Dengan demikian, pemberantasan korupsi di dalam diri mereka sendiri tidak berjalan sebagaimana diharapkan publik.

Lalu, ada lagi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang khusus dibentuk untuk memberantas korupsi. Tetapi, KPK yang semula memberikan cukup banyak harapan, kemudian dipandang kalangan tertentu sebagai ‘superbody’ yang selanjutnya melakukan upaya cukup ‘sistematis’ untuk melemahkan KPK, sehingga hanya dapat mengusut kasus korupsi kelas ‘teri’, tetapi mentok dalam membongkar kasus korupsi kelas superkakap, semacam skandal Bank Century.

Agaknya, realitas pemberantasan korupsi semacam itulah yang membuat koruptor seolah tidak pernah kehilangan nyali dan cara untuk tetap melakukan berbagai bentuk korupsi. Meski jumlah mantan pejabat atau bahkan yang masih aktif sejak dari mantan menteri, gubernur, bupati/wali kota yang terlibat korupsi cukup signifikan, tetap belum ada tanda-tanda meyakinkan korupsi bakal berkurang di negeri ini; apalagi untuk lenyap sepenuhnya.

Berbagai pendekatan dan upaya pemberantasan korupsi kelihatan tidak berhasil. Mulai dari penegakan hukum, adanya KPK, perbaikan gaji, dan pemberian remunerasi tidak mampu mengurangi korupsi. Koruptor tetap saja merajalela. Lalu, pendekatan dan cara apa lagi?

Pendekatan teologis dan agama. Inilah salah satu pendekatan yang boleh jadi dapat membantu pemberantasan korupsi. Dua organisasi Islam terbesar di negeri ini, Muhammadiyah dan NU mencoba melakukan pendekatan teologis ini dengan melakukan telaahan dan rumusan fikih korupsi bekerja sama dengan Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan (di Indonesia). Hasilnya adalah sebuah buku dengan judul yang bisa membuat orang tersentak: Korupsi itu Kafir (Bandung: Mizan, 2010).

Istilah ‘kafir’ secara konvensional lazimnya digunakan untuk menyebut mereka yang menolak dan mengingkari kebenaran Islam, baik di masa silam maupun sekarang. Istilah ini dalam kenyataannya kurang berkenan bagi mereka yang tidak menerima kebenaran Islam, tegasnya kaum non-Muslim. Bagi mereka, sebutan ‘kafir’ terhadap mereka dalam perasaan mereka bernada merendahkan. Apalagi kalau yang disebut ‘kafir’ itu adalah orang Muslim karena yang bersangkutan ternyata adalah koruptor.

Mengapa koruptor itu kafir? Banyak dalil Alquran dan hadis yang diajukan Muhammadiyah dan NU, yang kemudian melakukan pendekatan yang lazim dalam Ushul al-Fiqh, seperti qiyas dan mashalih al-mursalah. Intinya, koruptor itu kafir-termasuk yang beragama Islam-karena mereka mengabaikan larangan berbagai ajaran Islam tentang tidak bolehnya melakukan korupsi. Menurut kajian NU dan Muhammadiyah, secara fiqhiyah, korupsi dapat mengambil bentuk sejak dari ghulul (pencurian aset publik), hirabah (perampokan harta orang lain), risywah (suap), khiyanat (khianat), mukabarah/ghasab (pemindahan aset secara tidak sah), sariqah (pencurian), intikhab (pengutilan aset), sampai aklu suht (memakan barang haram).

Dengan landasan fiqhiyah dan metodologi Ushul Fiqh yang cukup kuat, menyebut koruptor sebagai kafir menjadi valid. Menyebut koruptor sebagai ‘kafir’ bisa menimbulkan dampak psikologis-keagamaan tertentu. Apalagi, Muhammadiyah dan NU dalam kajian fikihnya juga menyimpulkan: jika ‘koruptor’ itu beragama Islam, yang ketika ia meninggal dunia kelak, jenazahnya tidak perlu dishalatkan para pimpinan agama seperti ustaz, kiai, atau ulama umumnya. Koruptor yang kafir itu pun disebut terjauh dari surga dan, sebaliknya, bakal tenggelam ke dalam neraka. Na’udzu billah min dzalik.

Tulisan lain yang berkaitan:

imgPeran Pendidik Memerangi Korupsi (Friday, 19 December 2014, 181 views, 0 respon) “Sebenarnya tiap guru yang mengampu mata pelajaran apa pun dapat menanamkan nilai-nilai antikorupsi” Oleh : Heni Purwono, S.Pd., M.Pd. Guru SMAN ...
Tulisan berjudul "Koruptor Itu Kafir" dipublikasikan oleh Admin ISPI (Thursday, 2 September 2010 (17:16)) pada kategori Opini. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0.
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itRedditTechnoratiBlinklist
DesignfloatDiigoMixxMeneameFurlMagnolia

923 Responses to "Koruptor Itu Kafir"

    Trackbacks

    Check out what others are saying about this post...
    1. wide shoes says:

      wide shoes…

      I saw this really good post today….

    2. John Galt…

      … it’s not that I don’t suffer, it’s that I know the unimportance of suffering, I know that pain is to be fought and thrown aside, not to be accepted as part of one’s soul and as a permanent scar across one’s view of existence….

    3. igun Pro says:

      … [Trackback]…

      […] Informations on that Topic: ispi.or.id/2010/09/02/koruptor-itu-kafir/ […]…

    4. Wow!…

      A very fascinating post….

    5. Cool sites…

      […]we came across a cool site that you might enjoy. Take a look if you want[…]……

    6. Looking around…

      I like to browse around the online world, often I will just go to Digg and follow thru…

    7. Websites worth visiting…

      […]here are some links to sites that we link to because we think they are worth visiting[…]……

    8. Recent Blogroll Additions……

      […]usually posts some very interesting stuff like this. If you’re new to this site[…]……

    9. travel zoo says:

      Online Article……

      […]The information mentioned in the article are some of the best available […]……

    10. Just Looking…

      When I was browsing yesterday I saw a great post about…

    11. Recommeneded websites…

      […]Here are some of the sites we recommend for our visitors[…]……

    12. Gems form the internet…

      […]very few websites that happen to be detailed below, from our point of view are undoubtedly well worth checking out[…]……

    13. Recent Blogroll Additions……

      […]usually posts some very interesting stuff like this. If you’re new to this site[…]……

    14. Websites you should visit…

      […]below you’ll find the link to some sites that we think you should visit[…]……

    15. Websites worth visiting…

      […]here are some links to sites that we link to because we think they are worth visiting[…]……

    16. Just Browsing…

      While I was browsing yesterday I noticed a great article about…

    17. wide shoes…

      I saw this really great post today….

    18. Serotonin says:

      Sources…

      […]check below, are some totally unrelated websites to ours, however, they are most trustworthy sources that we use[…]……

    19. Wow!…

      A very awesome post….

    20. Wow!…

      A very spectacular post….

    21. Wow!…

      A very spectacular post….

    22. Wow!…

      A very spectacular post….

    23. Useful and precise…

      Its difficult to find really informative and precise information but here I noted…



    Komentar Anda?

    «
    »