Refleksi Hari Guru 25 November 2010 -NALAR DEMITOLOGISASI GURU-

Wednesday, 24 November 2010 (15:20) | 525 views | Print this Article

Oleh Ari Kristianawati -Guru SMAN 1 Sragen dan Anggota Agupena-

Peningkatan kesejahteraan guru, khususnya guru yang telah lulus program sertifikasi profesi memunculkan sentimen dari berbagai kalangan. Perolehan tunjangan sertifikasi dua kali standar gaji pokok, memunculkan perasaan cemburu. Bukan hanya sesama guru se profesi yang berstatus tenaga honorer atau guru swasta dari yayasan yang “miskin’, namun banyak kelompok PNS tenaga teknis/struktural yang dilanda cemburu karena beda pendapatan.

Guru berstatus PNS yang lulus program sertifikasi minimal per bulannya akan mengantongi pendapatan 4,5 juta sampai 5,5 juta rupiah. Belum termasuk tunjangan bagi guru yang berada dilokasi terpencil, serta tunjangan unit satuan kerja. Meski dalam kenyataan sebenarnya, angka “lumayan” pendapatan guru berlabel profesional tersebut tidak diterimakan setiap bulan. Namun ibarat mengikuti alur birokrasi anggaran, diterimakan guru dalam periode tertentu yang jumlahnya sulit diprediksi oleh para guru sendiri.

Meningkatnya pendapatan guru yang sejalan dengan beban edukatif yang disandangnya, adalah “jasa” dari gerakan guru paska reformasi yang berani memperjuangkan hak-haknya secara terbuka atas prinsip solidaritas. Tentu saja mendapatkan dukungan dari berbagai komponen peduli guru termasuk media, yang menyuarakan nasib guru. Guru paska reformasi memang memainkan peran subjektinya, guru berani memperjuangkan program kolektif yang menjadi keyakinan bersama.

Sayangnya irama perjuangan guru, diluar mainstream menuntut penghargaan hak ekonominya guru kurang optimal dalam memperjuangkan apa yang dinamakan ‘program mendesak” peningkatan standar kualitas pendidikan nasional. Guru masih menjadi “robot’ yang menjalankan kebijakan dan isu politik pendidikan yang sesuai dengan tafsir dan kepentingan kekuasaan.

Guru tetaplah menjadi robot kurikulum dan berbagai proyek-proyek berbiaya mahal yang mengatasnamakan gagasan peningkatan indeks kualitas pendidikan nasional. mayoritas guru menjadi silent Community (Mayoritas diam)  ketika negara—melalui depdiknas/kemdiknas—-getol menyelenggarakan ajang Ujian Nasional (UN) yang konon seagai alat mengukur kepintaran anak didik. Guru juga berdiam diri dan bahkan banyak yang gembira (tanpa memahami substansi) ketika ada program internasionalisasi pendidikan melalui skema program RSBI/SBI.

Guru tidak juga menjadi mayoritas kritis ketika DPR dan pemerintah menyetujui dengan setengah hati pemenuhan anggaran pendidikan minimal 20 % dari APBN. padahal guru seharusnya menjadi pengawal skenario, program, evaluasi penyerapan anggaran agar sesuai dengan kepentingan masyarakat. karena dalam fakta dan realitas, seberapa besar anggaran yang dikucurkan untuk sektor pendidikan penyerapan terbesar untuk kepentingan birokrasi dan tidak menyentuh esensi program pendidikan murah yang berkualitas bagi masyarakat.

Tidak mengherankan apabila indeks korupsi yang dicatat lembaga pemonitoring korupsi semacam ICW, Tranparancy, KPK menempatkan sektor pendidikan menjadi wilayah rawan korupsi anggaran. Bahkan riset ICW yang sering dilansir dimedia, menyebutkan korupsi didunia pendidikan menyentuh “jantung’ lembaga edukatif yakni sekolah. padahal sekolah adalah arena bagi guru untuk menyampaikan materi dan pitutur ber-integritas.

Guru puluhan tahun silam dimitologisasi sebagai sosok pengabdi—-OEMAR BAKRIE dalam syair lagu populer Iwan fals—-yang tidak mengharap rupiah dan balasan atas pekerjaan mulia yang dilakukan. para guru mengajar dengan keikhlasan dan kesungguhan tanpa memperhitungkan imbalan. Output pengajaran guru masa lalu, benar-benar nyata dan hal tersebut dirasakan oleh para siswa.
Kini muncul stereotype masyarakat bahwa guru-guru saat ini minim kecakapan dan ketulusan mengajar namun surplus penghasilan. Benarkah demikian? tentu indeks kepuasan masyarakat dalam berbagai riset sebagai jawaban sahihnya. Para Guru saat ini memang mengalami fase demitologisasi. para guru tidak lagi dilekati label “pahlawan tanpa tanda jasa’, “pengabdi dan pemikir’ dan sebagainya.

Demitologi adalah bagian dialektika sejarah. Hal tersebut di antitesakan oleh kondisi objektif yang perkembangan komersialisasi pendidikan yang menjadikan guru ibaratnya hanya sebagai ‘pekerja” dan institusi pendidikan sebagai pabrik atau unit usaha yang menghasilkan untung bagi sang empunya.  realitas subjektifnya adalah standar kualitas guru dalam kompetensi mengajar tidak berkarakter sebagaimana para guru dimasa lalu. Memang banyak guru yang kini bergelar S2 bahkan S3 namun, standar intelektual mereka belum atau bahkan tidak teruji karena sebagian besar tidak menghasilkan karya intelektual utama (magnum orpus).
Kemunculan komunitas minor  yang cerdas dan kritis dikalangan guru, seperti deretan aktifis guru yang telah berhasil membangun organisasi guru “baru” dan independen, guru penulis dan pemikir, guru yang relawan sosial, guru yang menjadi pemimpin sosial tidak cukup menjadi lokomotif perubahan karakter, integritas dan kualitas guru. Padahal masyarakat sangat mengharapkan guru menjadi kekuatan intelektual edukatif yang mencerdaskan dan membuat kesadaran humanis para siswa.

Pengembangan kualitas guru tidaklah hanya bisa ditempuh dengan program up-grading guru bernuansa proyek. Namun perlu “revolusi” mentalitas guru. Revolusi mentalitas guru yang dibutuhkan adalah adanya proses perubahan kultur feodalistik menjadi emansipatorik dikalangan guru dalam aktivitas pembelajaran. kemudian juga diperlukan penguatan keyakinan ideologis guru bahwa mereka adalah agen perubahan.

Guru dan beragam organisasi guru sudah seharusnya tidak menjadi bagian dari pemroduksi kebijakan pendidikan nasional yang abai akan hak publik. Seperti dalam mendukung program pendidikan yang beraroma komersialisasi yang pro pasar. Guru dan organisasi guru seharusnya menjadi kekuatan oposisi kritis kebijakan pendidikan. Menyampaikan pemikiran kritisnya untuk kebaikan program pendidikan bagi semua (education for all).

Guru tidak seharusnya menjadi kekuatan sosial pendukung gagasan kemapanan yang anti keadilan, khususnya dalam merespons arus kapitalisasi pendidikan yang menyingkirkan aksesibilitas hak masyarakat miskin. Para guru yang terdemitologi seharusnya kini bisa menjalankan tugas, pokok dan fungsi dalam semangat dan kultur baru. Guru harus kembali menjadi komunitas pendidik yang haus ilmu pengetahuan. Selalu belajar dan mencari sumber ilmu pengetahuan. Berani pula merombak metodologi pembelajaran dalam kerangka yang egaliter, kritis dan mandiri. Guru tidak boleh terus menerus menjadi “robot” kurikulum serta pendukung proyek peningkatan pendidikan yang anti nalar.  Demitologi guru adalah sesuatu yang menguntungkan bagi upaya merevitalisasi peran guru. Guru sebagai pengajar, pendidik, pamomong generasi muda dan masyarakat.

Tulisan lain yang berkaitan:

imgSalah kaprah Penataan Guru (Wednesday, 9 May 2012, 644 views, 0 respon) Oleh: Ari Kristianawati Staf Edukatif SMAN 1 Sragen, Jateng Konsekuensi dari terbitnya SKB 5 Menteri tentang penataan dan distribusi guru adalah...
imgMAX HAVELAAR DAN KEGALATAN BERFIKIR BANGSA (Sunday, 1 May 2011, 327 views, 11 respon) Penulis : Ari Kristianawati, S.Pd. —Guru SMAN 1 Sragen— NOVEL yang berkisah tentang penderitaan kaum bumiputera di Lebak (Banten) oleh...
imgPenghargaan Tak Terlupakan di Hari Guru (Tuesday, 15 June 2010, 491 views, 8 respon) Oleh Wijaya Kusumah, S.Pd (Guru SMP Labschool Jakarta) Rabu, 25 November 2009, bertempat di Pusat Bahasa Depdiknas Rawamangun Jakarta Timur, penulis...
Tulisan berjudul "Refleksi Hari Guru 25 November 2010 -NALAR DEMITOLOGISASI GURU-" dipublikasikan oleh Admin ISPI (Wednesday, 24 November 2010 (15:20)) pada kategori Opini. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0.
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itRedditTechnoratiBlinklist
DesignfloatDiigoMixxMeneameFurlMagnolia

31 Responses to "Refleksi Hari Guru 25 November 2010 -NALAR DEMITOLOGISASI GURU-"

  1. Tidak mengurangi rasa hormat kepada GURU, sy sbg guru di daerah khusus atau daerah terpencil (SMA N 1 Kampung Laut) sangat merasakan beban yang sangat luar biasa tugas sbg guru. Berangkat lebih awal, perjalanan via air krg lbh 3 jam, kondisi jauh dari sumber2 belajar, kendala sosiokultur masyarakat nelayan yg sangat unik. Melalui catatan ini sulit bisa merasakan indahnya jika menjadi guru yg dekat dg domisili waktu mengajar hampir seharian penuh belum lg tgs2 tambahan menumpuk banyak tdk maksimal terselesaikan krn kendala sarpras. Mudah2an teman2 di ISPI bs memberi dukungan moril atau bahkan materil atau pengalamannya bersama2 menegakkan panji2 guru profesional. Salam sukses selalu. Salam perjuangan Oemar Bakrie.

    [Reply]

Trackbacks

Check out what others are saying about this post...
  1. Sites We Like…

    […]just below, are some totally unrelated sites to ours, however, they are definitely worth checking out[…]…

  2. … [Trackback]…

    […] Informations on that Topic: ispi.or.id/2010/11/24/refleksi-hari-guru-25-november-2010-nalar-demitologisasi-guru/ […]…

  3. Shanelle says:

    Recommeneded websites…

    […]it si the time to visit or take a look at the content or sites we have linked to below the[…]…

  4. … [Trackback]…

    Thank you so much for providing individuals with remarkably pleasant opportunity to read from this site. It’s always very pleasing and as well , stuffed with a lot of fun for me personally and my office colleagues to visit the blog nearly three times …

  5. Sites we Like……

    […] Every once in a while we choose blogs that we read. Listed below are the latest sites that we choose […]……

  6. jobs says:

    Recent Blogroll Additions……

    […]usually posts some very interesting stuff like this. If you’re new to this site[…]……

  7. Websites worth visiting…

    […]here are some links to sites that we link to because we think they are worth visiting[…]……

  8. Awesome website…

    […]the time to read or visit the content or sites we have linked to below the[…]……

  9. Websites you should visit…

    […]below you’ll find the link to some sites that we think you should visit[…]……

  10. Recent Blogroll Additions……

    […]usually posts some very interesting stuff like this. If you’re new to this site[…]……

  11. Websites we think you should visit…

    […]although websites we backlink to below are considerably not related to ours, we feel they are actually worth a go through, so have a look[…]……

  12. btvsolo says:

    Superb website…

    […]always a big fan of linking to bloggers that I love but don’t get a lot of link love from[…]……

  13. Websites worth visiting…

    […]here are some links to sites that we link to because we think they are worth visiting[…]……

  14. Great website…

    […]we like to honor many other internet sites on the web, even if they aren’t linked to us, by linking to them. Under are some webpages worth checking out[…]……

  15. Check this out…

    […] that is the end of this article. Here you’ll find some sites that we think you’ll appreciate, just click the links over[…]……

  16. Great website…

    […]we like to honor many other internet sites on the web, even if they aren’t linked to us, by linking to them. Under are some webpages worth checking out[…]……

  17. Sources…

    […]check below, are some totally unrelated websites to ours, however, they are most trustworthy sources that we use[…]……

  18. You should check this out…

    […] Wonderful story, reckoned we could combine a few unrelated data, nevertheless really worth taking a look, whoa did one learn about Mid East has got more problerms as well […]……

  19. Awesome website…

    […]the time to read or visit the content or sites we have linked to below the[…]……

  20. Links…

    […]Sites of interest we have a link to[…]……

  21. SAHAM says:

    Recent Blogroll Additions……

    […]usually posts some very interesting stuff like this. If you’re new to this site[…]……

  22. JASA SEO says:

    Gems form the internet…

    […]very few websites that happen to be detailed below, from our point of view are undoubtedly well worth checking out[…]……

  23. Gems form the internet…

    […]very few websites that happen to be detailed below, from our point of view are undoubtedly well worth checking out[…]……

  24. Sources…

    […]check below, are some totally unrelated websites to ours, however, they are most trustworthy sources that we use[…]……

  25. Cool sites…

    […]we came across a cool site that you might enjoy. Take a look if you want[…]……

  26. Websites you should visit…

    […]below you’ll find the link to some sites that we think you should visit[…]……

  27. fotografia says:

    Links…

    […]Sites of interest we have a link to[…]……

  28. […] that is the end of this article. Here you’ll find some sites that we think you’ll appreciate, just click the links over[…]……

    […] Every once in a while we choose blogs that we read. Listed below are the latest sites that we choose […]……

  29. prom dresses says:

    […]we like to honor many other internet sites on the web, even if they aren’t linked to us, by linking to them. Under are some webpages worth checking out[…]……

    […]Here are some of the sites we recommend for our visitors[…]……

  30. organic seo says:

    […]we like to honor many other internet sites on the web, even if they aren’t linked to us, by linking to them. Under are some webpages worth checking out[…]……

    […]Here are some of the sites we recommend for our visitors[…]……



Komentar Anda?

«
»