Memahami Siswa

Saturday, 18 December 2010 (09:28) | 78 views | 808 komentar | Print this Article

Oleh NUSROTUL BARIYAH, S.Pd (Anggota ISPI, Guru Matematika SMKIT SMART INFORMATIKA Solo, Jawa Tengah) Banyak hal penting yang kita peroleh selama menjadi seorang guru. Tidak hanya ilmu yang bisa kita tularkan, lalu dengannya ilmu kita menjadi bertambah, tetapi lebih dari itu, kita menjadi berfikir bagaimana caranya mentransfer ilmu yang kita miliki agar bisa dimengerti oleh siswa. Selain itu juga, kita tidak hanya berkewajiban mengajar siswa, tetapi kita juga berkewajiban mendidik mereka. Oleh karena itu, kita perlu memahami karakter siswa. Untuk dapat memahami siswa, tentu kita harus belajar bagaimana keragaman karakter siswa. Karakter setiap orang berbeda, demikian juga siswa. Antara individu yang satu dengan yang lain pasti berbeda. Antara pria dan wanita berbeda, apalagi antara siswa SD, SMP dan SMA, pasti juga berbeda. Perbedaan karakter inilah yang menjadikan kita akan merasa tertantang untuk ‘menaklukan’ siswa. Dari sini kita benar-benar belajar menjadi orang yang berusaha untuk memahami orang lain, belajar untuk melatih kesabaran, dan belajar untuk menjadi orang tua atau calon orang tua yang baik.. Mari kita perhatikan tiga fase interaksi dengan anak menurut Imam Ali:

7 tahun pertama = perlakukan ia seperti raja, masa pembentukan tumbuh kembang otak menyerap informasi. Masa ini sama dengan masa anak-anak ketika berada di bangku sekolah dasar. Anak-anak dalam masa ini masih suka bermain. Bahkan mereka tidak segan-segan berlarian di kelas, walaupun kita sebagai guru sedang di depan kelas. Atau bahkan mungkin mereka tanpa malu-malu membuat kegaduhan di kelas ketika guru menerangkan pelajaran. 7 tahun kedua = perlakukan ia seperti tawanan perang dalam kedisiplinan. Masa penanaman sikap. Disiplin disiplin disiplin. 7 tahun ketiga dan seterusnya = perlakukan ia sebagai teman atau sahabat.

Pakar mengatakan bahwa 7 sampai dengan 12 tahun adalah golden age. Usia emas. Saat itulah fase pembentukan sikap, perilaku, dan penanaman nilai yang paling penting. Marilah kita menengok beberapa tokoh Islam yang patut dijadikan contoh: Al Banna hafal Al Qur’an di usia 1O tahun, Qordhowi di usia 1O tahun, Imam Syafi’i 9 tahun, dan Imam Ahmad 7 tahun. Oleh karena itu, begitu pentingnya kita sebaga guru memahami karakter siswa. Nah, apakah kita selama ini merasa bahwa siswa sulit memahami materi yang kita sampaikan? Ataukah, siswa merasa tidak nyaman dengan kita? Apakah kita selalu meluapkan emosi ketika mereka membuat kita murka? Mungkin saja ketidakmengertian mereka pada materi yang kita sampaikan karena kita yang kurang bisa memahami mereka, atau kurang nyamannya mereka dengan kita karena kita yang kurang mengerti karakter mereka. Mari kita berinterospeksi diri dan berusaha menjadi guru yang baik..^_^ _____________ Nusrotul Bariyah merupakan alumnus Pendidikan Matematika Universitas Sebelas Maret Surakarta. Saat ini menjadi guru matematika di SMKIT SMART INFORMATIKA Solo.

Tulisan lain yang berkaitan:

imgREKAYASA PEMBENTUKAN KARAKTER BANGSA (Monday, 18 October 2010, 228 views, 0 respon) Karakter tidak otomatis berkembang pada diri warga bangsa atau peserta didik. Perlu ada rekayasa sosial yang dirancang dan dilaksanakan secara sadar...
imgMenggairahkan Siswa Menulis (Thursday, 23 September 2010, 251 views, 764 respon) Oleh Syaiful Mustaqim, SPd.I, Guru Jurnalistik MA Walisongo Pecangaan Jepara dan Pengelola Taman Baca Praja Muda MEDIA cetak yang terbit setiap hari,...
Tulisan berjudul "Memahami Siswa" dipublikasikan oleh Admin ISPI (Saturday, 18 December 2010 (09:28)) pada kategori Artikel. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

808 Responses to "Memahami Siswa"

  1. Deni Kurniawan As'ari says:

    Menjadi guru ternyata menantang dan sekaligus menyenangkan.
    Semoga para sarjana pendidikan yang menjadi guru dapat merenungkan tulisan ini.

    Makasih.

    Nus Reply:

    @Deni Kurniawan As’ari, Salah satu amal yang tak kan pernah putus pahalanya adalah ilmu yang bermanfaat.

    Admin/Humas Reply:

    @Nus, Sangat setuju dengan pendapat Ibu NUS.

    Salam…

  2. Susan Nurhasanah ,S.Pd. says:

    Menjadi guru sebetulnya tidaklah mudah karena hakekatnya seorang guru harus memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, sosial dan pribadi yang handal dan saling melengkapi satu sama lainnya. So, Jangan jadi guru kalo cuma jadi batu loncatan atau sekedar tak ingin disebut sarjana yg lagi “jobless”.

    Nus Reply:

    @Susan Nurhasanah ,S.Pd., Yups. Guru = digugu lan ditiru.

    Admin/Humas Reply:

    @Susan Nurhasanah ,S.Pd., ” jobless ” itu maksudnya apa ya?

    Sekarang dan ke depan, profesi guru telah banyak diminati. Termasuk kawan-kawan yang bukan sarjana pendidikan sudah banyak yang tertarik menjadi GURU (baca : diguru lan ditiru, kata Bu Nus).

    Di lapangan yang menjadi guru ada sarjana hukum (SH), sarjana sosial (S.Sos), sarjana teknik (ST), sarjana psikologi (S.Psi), sarjana pertanian (SP), sarjana peternakan (S.Pt), sarjana ilmu politik (S.Ip), sarjana ekonomi (SE) dan sarjana lain. Yang belum ditemukan adalah dokter yang jadi guru. hehhe…

    Nah, permasalahannya adalah bahwa ketika di lapangan, tidak cukup hanya mengandalkan ijazah kependidikan atau akta IV saja. Apalagi ke depan pemerintah akan memberikan kesempatan kepada nonsarjana pendidikan untuk berkiprah menjadi guru dengan syarat mengikuti pendidikan profesi guru.

    Sudah saatnya para sarjana pendidikan untuk terus meningkatkan kemampuan profesinya dengan belajar dan belajar.

    Bisa saja nanti, anak-anak akan lebih enjoy diajar oleh guru yang nonsarjana pendidikan karena lebih mampu ketimbang guru yang sarjana pendidikan tetapi GGA (gitu-gitu-aja)dalam cara mengajarnya.

    Show, bangkitlah para sarjana pendidikan Indonesia!!

    Buktikan you are the best….

Trackbacks

Check out what others are saying about this post...
  1. … [Trackback]…

    [...] Read More: ispi.or.id/2010/12/18/memahami-siswa/ [...]…

  2. Salvatore…

    This internet website is my breathing in, extremely great pattern and perfect content material ….



«
»