Guru, Berbenahlah!

Sunday, 26 December 2010 (15:09) | 702 views | Print this Article

Oleh Tabrani Yunis –Guru dan Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh–
DALAM sebuah seri diskusi bulanan yang diselenggarakan oleh Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh di SD Negeri Neuheun, Aceh Besar, seorang guru peserta diskusi menyatakan kekesalannya terhadap kritik-kritik yang dialamatkan kepada guru. Perasaan kesal semakin memuncak, ketika pemandu diskusi mengatakan bahwa penyebab utama dari kehancuran dan kemerosotan kualitas pendidikan di negeri ini adalah karena guru.

Pertanyaan dan pernyataan guru di atas, adalah sebuah sikap reaktif terhadap banyaknya kritikan masyarakat terhadap dunia pendidikan yang berujung pada tindakan menyalahkan guru. Setiap kali tulisan yang mengulas tentang pendidikan dari berbagai perspektif itu akan tidak pernah lepas membahas soal guru. Guru kemudian menjadi penyebab terhadap rendahnya kualitas pendidikan di tanah air.

Rasa kesal, rasa sakit hati, atau bahkan sikap menolak terhadap kritik yang disampaikan banyak masyarakat terhadap eksistensi guru dalam membangun pendidikan yang berkualitas, bisa kita fahami, karena faktor penyebab rendahnya kualitas pendidikan di negeri tercinta ini bukanlah bersumber dari faktor tunggal (single factor), tetapi banyak faktor lain yang ikut berperan. Pendidikan sebagai sebuah sistem, mengikuti mata rantai sistem pada semua level. Kita akui, walau sudah 65 tahun kita merdeka, sistem pendidikan kita masih belum ideal dan memiliki standard yang cukup baik, dibandingkan dengan sistem pendidikan di negara-negara yang sudah maju. Disorientasi dalam visi dan misi pendidikan yang kerap menjadi komoditas politik, dan politik pendidikan kita, serta buruknya wajah manajemen pendidikan di negeri ini adalah beberapa penyebab buruknya potret kualitas pendidikn di negeri ini. Jadi, karut-marut dunia pendidikan kita di Indonesia, sekali lagi memang benar, bukan disebabkan oleh satu faktor saja.

Namun, bagi guru yang selama ini dijadikan sebagai ujung tombak bagi pembangunan pendidikan, di lembaga pendidikan formal yang bernama sekolah itu, tidak selayaknya juga guru merasa kesal dan sakit hati ketika sederetan kritik dialamatkan kepada guru. Posisi guru sebagai juru kunci dalam dunia pendidikan memberikan harapan yang sangat besar kepada orang tua, agar anak-anak mereka bisa mendapatkan pendidikan seperti yang mereka harapkan agar sekolah yang dikemudikan oleh para guru, bisa mengantarkan anak-anak mereka menjadi sosok anak yang berilmu, berketerampilan, dan berakhlak mulia.

Kini ketika arus globalisasi semakin deras memasuki ruang kehidupan kita, menyebabkan perubahan moralitas dan polakehidupan semakin global dan menghancurkan moralitas yang sudah dibangun. Ketika dunia semakin global dan budaya konsumtif semakin mengkristal, maka tantangan guru dalam mendidi di sekolah pun semakin pelik dan sulit. Guru dituntut untuk mampu mengantisipasi perubahan perilaku anak didik yang sangat pesat. Bisa jadi di satu sisi, anak semakin cepat perkembangannya dibandingkan dengan guru. Guru pun, ditutut harus mampu membangun masa depan anak yang sukses. Di samping itu, ada realitas bahwa banyak orang tua yang secara serta-merta menyerahkan bulat-bulat anak mereka kepada guru. Namun di pihak lain, tidak sedikit orang tua dari peserta didik tentu tidak pernah mau rugi dan disalahkan ketika mereka sudah mendelegasikan tugas dan fungsi mengajar, dan mendidik anak mereka kepada guru di sekolah.

Pendek kata, di pundak guru ada beban tanggung jawab yang sangat besar dan berat. Maka selalu saja guru dituntut agar profesional dan berkualitas. Beban itu semakin berat dengan besarnya tantangan global yang menantang dan memberikan ancaman terhadap eksistensi guru. Kemajuan teknologi yang begitu pesat dan merubah gaya hidup peserta didik dan masyarakat kita, telah membuat para guru banyak yang kelimpungan. Banyak guru yang tidak mampu dan tertinggal dalam mengimbangi dan mengatasi dampak dari pemilikan alat-alat teknologi oleh peserta didiknya, karena accessibility faktor guru yang rendah terhadap produk teknologi ini. Kemudian, kecepatan peserta didik menguasai teknologi dibandingkan kebanyakan guru juga membuat perubahan moralitas yang semakin complicated, mengubah paradigma kehidupan dan pola hubungan antara peserta didik dengan guru. Kondisi ini membuat guru menjadi kurang berdaya untuk memberikan pelayanan maksimal terhadap peserta didik mereka.

Berbenahlah

Tidak ada kata lain bagi guru, selain harus berbenah menyiapkan diri menghadapi semua kemungkinan yang terjadi sejalan dengan semakin beratnya tantangan guru di masa kini dan masa depan. Para guru harus berani merefleksi, introspeksi serta melakukan koreksi terhadap segala kelemahan dan kekurangan guru selama ini dalam menjalankan tugas profesinya sebagai guru. Diakui atau tidak, persoalan kompetensi guru yang rendah adalah sebuah realitas yang terjadi saat ini dalam dunia pendidikan kita. Sangat banyak guru yang tidak layak mengajar. Persoalannya bukan saja pada syarat administratif, tetapi juga para persoalan kualitas kompetensi.

Antaranews, tanggal 8 Maret 2010 mensinyalir, ekitar 1,3 juta atau 50 persen dari 2,7 juta guru di tanah air belum layak mengajar karena kurang memenuhi standard kualifikasi maupun sertifikasi yang telah ditentukan pemerintah. Memilukan bukan? Padahal, dalam banyak janji pemerintah setiap kali pergantian pucuk pimpinan di negeri ini selalu saja berikar untuk melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas guru. Namun kenyataannya, kualitas guru masih jalan di tempat, bahkan semakin buruk. Betapa memalukan kalau hingga saat ini banyak yang menilai kompetensi guru, berupa pengetahuan, ketrampilan dan sikap profesionalnya tidak jauh berubah. Padahal, usaha pemerintah untuk meningkatkan kualitas dan kesejahteraan guru, dinilai oleh banyak orang sudah cukup signifikan membaik. Oleh sebab itu, selayaknya para guru juga bertanya pada diri sendiri. Mengapa ketika program sertifikasi, program penyetaraan dan juga berbagai penataran guru. Namun mengapa program-program itu tidak mampu mengatasi buruknya rupa guru dalam konstalasi kualitas?

Idealnya ketika program penyetaraan guru yang memberikan kesempatan kepada guru untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan lewat tambahan belajar secara gratis itu bisa meningkatkan kualitas guru. Nyatanya hanya beramai-ramai berburu strata satu agar bisa naik pangkat dan naik gaji. Ketika pemerintah bermaksud meningkatkan kualitas guru lewat program sertifikasi, yang terjadi adalah para guru sibuk mencari dan mengumpulkan sertifikat, sementara pengetahuan dan ketrampilan mengajar tidak ikut meningkat? Celakanya, semua program itu menjadi program pembodohan dan pembohongan secara sistemik. Karena guru tetap tidak berubah dalam hal peningkatan kulaitas. Yang terjadi adalah dekadensi moral guru, karena menjadi pembohong demi kenaikan pangkat dan penghasilan.

Dikatakan demikian, karena banyaknya tindakan manipulasi kala mengurus kenaikan pangkat. Agar guru tidak menjadi pihak yang nanti menjadi destruktif dalam upaya perbaikan kualitas pendidikan, maka guru harus berbenah dan berubah, kembali ke khitah yang hakiki, bahwa kunci perbaikan kualitas pendikan yang utama ada pada diri guru. Maka, berbenahlah dan berkontemplasi serta berbuatlah.

________________________________________________
Tabrani Yunis :
Direktur Center for Community Development and Education (CCDE)
Jl. T.P. Nyak Makam, Pango Raya
PO. Box 141 Banda Aceh 23001
Indonesia
Telp. +62 651 7428446
Email. ccde.aceh@gmail.com, potret.ccde@gmail.com
Web : www.ccde.or.id

Tulisan lain yang berkaitan:

imgRedistribusi Guru dan PPDB Multientry (Wednesday, 12 July 2017, 129 views, 0 respon) Oleh: Jaja Jamaludin Pemerhati dan Praktisi Pendidikan, Pengurus IKA UPI Bandung, Anggota ISPI dan tinggal di Tanjung Bunga Makassar, Sulawesi...
imgMerangsang Guru Aktif dalam Pengembangan Profesi (Tuesday, 30 April 2013, 280 views, 0 respon) GROBOGAN – Guru saat ini dituntut untuk senantiasa berkembang. Untuk merangsang guru agar aktif dalam pengembangan profesi tersebut, Ikatan...
imgGuru, Keluarlah dari Zona Nyaman! (Saturday, 20 October 2012, 355 views, 0 respon) Oleh: Tri Marhaeni Pudji Astuti Ketua Bidang Peningkatan Karir ISPI jateng, guru besar Antropologi Jurusan Sosiologi dan Antropologi Fakultas Ilmu...
imgBu Nurul, Sosok Wanita Karier plus Ibu Rumah Tangga (Monday, 9 April 2012, 323 views, 0 respon) Oleh: Deni Kurniawan As’ari Humas ISPI dan Webmaster www.ispi.or.id Namanya Nurul atau lengkapnya Nurul Mukaromah. Lahir di Cilacap, pada 26...
imgAPAKAH ANDA SUDAH LAYAK MENJADI SEORANG GURU ? (Saturday, 5 March 2011, 3,978 views, 68 respon) Oleh : Susan Nurhasanah Solihah Susan Nurhasanah SolihahAda sebuah saran yang bijak untuk para guru “ Jikalau anda ingin menjadi seorang guru yang...
Tulisan berjudul "Guru, Berbenahlah!" dipublikasikan oleh Admin ISPI (Sunday, 26 December 2010 (15:09)) pada kategori Opini. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

822 Responses to "Guru, Berbenahlah!"

    Trackbacks

    Check out what others are saying about this post...
    1. Related……

      […] please visit the sites many of us follow, most notably this blog, as it represents our picks right from the web […]…

    2. Related Blogs…..

      […] requires pretty long time for building great results. One will need to have real patience […]…

    3. Cool sites…

      […]we came across a cool site that you might enjoy. Take a look if you want[…]……

    4. masaj says:

      The best sites……

      […] Now whenever an individual looks at the existing fashion assertion, it usually is measurement zero […]…

    5. Superb website…

      […]always a big fan of linking to bloggers that I love but don’t get a lot of link love from[…]……

    6. Budeko says:

      Okna…

      … I couldn’t resist linking to that webpage ……

    7. Check this out…

      […] that is the end of this article. Here you’ll find some sites that we think you’ll appreciate, just click the links over[…]……

    8. Trackback for this entry…

      […] the best time to read or visit the content material or sites we’ve linked to below the […]…

    9. Star Riley says:

      Best additions…

      […] despite the fact that sites we link just below are somewhat not associated with ours, we think they’re really worth a go over, and so have a peek […]…

    10. Superb website…

      […] this is actually the end of this informative article. Here you’ll find some sites that we feel you’ll appreciate, click on the links through […]…

    11. Links…

      […] that is the end of this informative article. Here you’ll see a number of sites that we feel you will appreciate, click on the links over […]…

    12. Cool sites…

      […] Just one site which I could perhaps think of for deeper information […]…

    13. Cool sites…

      […]we came across a cool site that you might enjoy. Take a look if you want[…]……

    14. acheter says:

      Links…

      […] I really like to check around the web, habitually I will just set off to Digg and read and check stuff out there […]…

    15. smog test says:

      Blogs to check…

      […] Just about every now and again many of us decide on blogs that we read. Down the page are the best sites that we consider […]…

    16. You should check this out…

      […] I noticed someone having a debate about this on Tumblr and it also linked to […]…

    17. Links…

      […]Sites of interest we have a link to[…]……

    18. Wow!…

      A very fascinating post….

    19. Wow!…

      A very fascinating post….

    20. Noticias says:

      Check this out……

      […] kindly visit the sites many of us follow, which includes this one, as it connotes our choices right from the web […]…

    21. Looking around……

      […] we ran into a cool site that you might appreciate. Check it out if you expect […]…

    22. Gems from the Internet…

      […] Have you ever think of where to go to for a weekend and find yourself going nowhere but hoping you’d […]…



    «
    »