Al-Azhar; Meneropong Potret Pendidikan di Mesir

Saturday, 30 July 2011 (16:20) | 2,850 views | Print this Article

Oleh: Siti ‘Abidah Subkiyyah (Mahasiswi Al Azhar Mesir Asal Banyumas Jawa Tengah)

Mesir yang terkenal dengan sebutan ardhul anbiyâ (negeri para nabi), memang telah menjadi kiblat keilmuan keislaman dunia. Di samping mempunyai segudang peradaban, negeri seribu menara ini juga merupakan gudang segala ilmu. Ya, negara ini seakan memiliki magnet tersendiri. Terbukti, Mesir telah memikat jutaan hati para pelajar dari berbagai penjuru dunia untuk menimba ilmu di sana. Tentunya, semua ini tak lepas dari peran al-Azhar: pusat pendidikan tertua yang telah melahirkan banyak ulama dunia.

Di sini, penulis akan bercerita sedikit tentang potret pendidikan Mesir, sesuai pengalaman penulis selama belajar di univ. al-Azhar, kurang lebih dua setengah tahun. Banyak sekali pengalaman menarik selama berada di bumi Kinanah, khususnya perihal pendidikan.

Keberhasilan pendidikan memiliki hubungan erat dengan kemajuan sebuah negara. Sumber Daya Manusia (SDM) yang bermutu, tentunya akan memberikan kontribusi bagi perkembangan sebuah negara, bahkan dunia. Dari sini, setidaknya kita perlu memberikan perhatian yang lebih pada pendidikan.

Tentu dalam realisasi keberhasilan pendidikan, banyak elemen yang harus dipenuhi secara sempurna. Mulai dari segi metode atau sarana pendidikan, tenaga pengajar, dan lain-lain. Kesemuanya memiliki nilai penting yang merata. Tanpa sistem pendidikan yang baik, pengajar tidak bisa menjalankan tugasnya secara maksimal. Dan tanpa pengajar yang berkualitas, sistem termutakhir sekalipun seringkali tak berfungsi sebagaimana mestinya.

Berdasar pengamatan penulis pada para pengajarnya, bisa disimpulkan, pengajar —sebagai pemegang kunci sukses— dituntut untuk benar-benar menguasai bidang yang diajarkan. Minat saja tidak cukup. Tapi perlu keahlian dan kedalaman pemahaman materi yang diajarkan. Dengan kata lain, seorang pengajar tidak berhak memegang mata pelajaran di luar spesialisasi keilmuanya. Tentu hal ini akan sangat berpengaruh. Karena ketika seorang pengajar membawakan mata pelajaran yang bukan merupakan spesialisasi keilmuannya, bisa dipastikan hasilnya tak akan maksimal.

Semerta, kualifikasi akademis juga sangat berdampak pada kesuksesan pendidikan. Di Mesir, untuk menjadi seorang guru SD (Sekolah Dasar), mereka diharuskan telah selesai menempuh pendidikan, minimal Strata 1. Sedangkan dosen untuk perguruan tinggi, diwajibkan telah menempuh program Doktoral. Ini sesuai dengan sebutan duktûr untuk istilah dosen bagi mereka. Dengannya, transformasi ilmu pengetahuan akan sesuai harapan.

Para pengajar di lembaga pendidikan al-Azhar, -sekali lagi menurut pengamatan penulis-, adalah tenaga ahli yang kualified. Orang-orang yang benar-benar ingin berkhidmah pada umat melalui ilmunya. Mereka begitu ikhlas menyampaikan ilmu pengetahuan kepada para murid. Imbalan bukan yang utama, tapi berdakwah di jalan Allah saw. menjadi tujuan mereka. Tentu hasilnya akan berbeda, ketika seorang pengajar mengajar karena gaji, dibanding pengajar yang ikhlas dalam mengemban amanat ilmu. Pengajar yang ikhlas akan lebih berbekas. Karena segala yang keluar dari hati, akan masuk ke hati. Dan segala yang keluar dari mulut, akan masuk telinga kiri, keluar telinga kanan, tak berbekas.

Menurut al-Azhar, sistem yang bagus bukan hanya sistem yang bisa mencetak peserta didik menjadi seorang yang mumpuni dalam suatu bidang keilmuan. Tapi pembentukan kepribadian yang baik dan saleh tentunya lebih utama. Karena pendidikan adalah fase dimana peserta didik dicetak menjadi seorang intelek, dalam otaknya juga perilakunya. Intelektualitas kepribadian dan perilaku berkedudukan sangat urgen untuk menghindari terjadinya ketimpangan oleh para intelek ilmu.

Termasuk dalam intelektualitas kepribadian dan perilaku adalah kejujuran saat menghadapi dan mengerjakan ujian. Dalam hal ini, penulis melihat perbedaan sangat kontras antara pendidikan Indonesia dan Mesir. Ditambah lagi dengan berita-berita miring yang dimuat beberapa surat kabar di Indonesia, yang menggambarkan bobroknya moralitas pendidikan kita. Tentu perhatian pengajar untuk masalah ini sangat dibutuhkan. Hal ini semata untuk mencegah terjadinya pembodohan dalam pendidikan. Ketika murid tak lagi bergantung pada usahanya untuk belajar keras, pastinya ini akan berakibat fatal. Akhirnya misi utama pendidikan sebagai langkah untuk mencerdaskan bangsa takkan pernah tercapai.

Berkenaan isu yang semakin merebak dalam dunia pendidikan, bahwa pendidikan sangat mahal dan tidak terjangkau oleh masyarakat miskin, kiranya pemerintah mengambil langkah solutif. Di Mesir, biaya pendidikan sangat terjangkau, bahkan tersedia banyak beasiswa bagi pelajar berprestasi. Seperti yang penulis alami, biaya kuliah seolah tak menjadi soal. Pihak universitas hanya membebani mahasiswanya pada diktat kuliah. Di samping banyak LSM, banyak juga dermawan yang menyediakan uang beasiswa bulanan bagi pelajar berprestasi. Hal ini sangat membantu peningkatan SDM di negara Mesir sendiri. Harapan kita, kiranya sifat masyarakat Mesir yang loman dan perhatian pada pendidikan menjadi cermin keteladanan bagi pemerintah Indonesia, tak ketinggalan para hartawannya.

Penyediaan buku-buku penting dan berkualitas juga dilakukan pemerintah Mesir sejak lama. Setidaknya menjadikan harga buku-buku lebih terjangkau. Buku yang merupakan sumber ilmu dan menjadi kebutuhan pokok dalam pendidikan, tentu harus bisa dijangkau dan sesuai daya beli masyarakat. Dengan ini, pemerintah Mesir telah mencetak buku-buku berkualitas dan primer, kemudian menjualnya dengan harga sangat terjangkau. Implementasi hal di atas direalisasikan dengan semisal; program subsidi buku mantan ibu negara Susan Mubarak, melalui maktabah (toko buku) al-Usrah atau maktabah al-Haiah al-Misriyyah al-‘Ammah ; program membaca untuk semua kalangan (qira’ah li al-jami’); dan pameran buku internasional di Kairo yang digelar setiap tahun. Walhasil, program ini telah berhasil menghapus buta huruf di Mesir hingga hampir 30%, terhitung sejak 1990 sampai 2003. Dengan ini, kebutuhan masyarakat akan sumber ilmu terpenuhi dan tak ada lagi istilah kastanisasi pendidikan.

Stabilisasi dekastanisasi pendidikan di Indonesia perlu digalakkan. Tentunya dengan uluran tangan pemerintah dan berbagai pihak yang bersangkutan. Karena keberhasilan pendidikan harus melibatkan semua pihak yang bersangkutan di dalamnya. Mulai dari pemerintah, lembaga pendidikan, pengajar, hingga peserta didik. Setiap dari mereka memiliki peran tersendiri.

Agaknya tak bijak jika penulis hanya memamerkan kelebihan pendidikan Mesir dan mengacuhkan kelemahan yang ada. Ya, benar kata pepatah: tiada gading yang tak retak. Segala sesuatu pasti mempunyai kekurangan. Pendidikan Mesir dengan seabrek kelebihannya, di sisi lain, ternyata masih ada saja kekurangan. Semisal sistem birokrasi dan administrasi yang carut marut, infrastruktur yang belum memadai, sehingga tak memungkinkan bagi semua mahasiswa untuk masuk dalam kelas; dengan jumlah mahasiswa yang membludak, namun ruang kelas belum bisa menampungnya secara sempurna. Barangkali ini juga yang menyebabkan absen kuliah tak lagi penting di univ. al-Azhar. Bisa dikata, dari segi satu ini, mungkin kita bisa sedikit berbangga. Karena setidaknya sebagian sekolah atau universitas kita di Indonesia, mempunyai sistem birokrasi dan administrasi yang lebih tertata, walau masih banyak juga yang keadaannya masih sangat memprihatinkan.

Dari sini, kita bisa mengambil kesimpulan: ada banyak kelebihan yang pendidikan Mesir miliki, di samping juga kekurangan yang mungkin kita masih selangkah lebih maju dari mereka. Banyak juga persamaan dengan pendidikan kita di Indonesia, selain juga banyak perbedaan. Namun, kiranya banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari corak pendidikan Mesir, dengan al-Azhar sebagai potret. Semoga bermanfaat.

Tulisan lain yang berkaitan:

Tidak ada tulisan lain yang berkaitan!
Tulisan berjudul "Al-Azhar; Meneropong Potret Pendidikan di Mesir" dipublikasikan oleh Admin ISPI (Saturday, 30 July 2011 (16:20)) pada kategori Artikel. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

760 Responses to "Al-Azhar; Meneropong Potret Pendidikan di Mesir"

    Trackbacks

    Check out what others are saying about this post...
    1. Visitor recommendations…

      […]one of our visitors recently recommended the following website[…]……

    2. You should check this out…

      […] Wonderful story, reckoned we could combine a few unrelated data, nevertheless really worth taking a look, whoa did one learn about Mid East has got more problerms as well […]……

    3. Read was interesting, stay in touch……

      […]please visit the sites we follow, including this one, as it represents our picks from the web[…]……

    4. Superb website…

      […]always a big fan of linking to bloggers that I love but don’t get a lot of link love from[…]……

    5. Read was interesting, stay in touch……

      […]please visit the sites we follow, including this one, as it represents our picks from the web[…]……

    6. Wow!…

      A very awesome post….

    7. Wow!…

      A very fascinating post….

    8. Sobriety says:

      Wow!…

      A very awesome post….

    9. Wow!…

      A very spectacular post….

    10. Wow!…

      A very awesome post….



    «
    »