Peranan Sarjana Pendidikan Untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan di Indonesia

Wednesday, 10 August 2011 (18:31) | 533 views | Print this Article

Oleh : Prihatin Widiyanto, S.Pd —- Guru SMK N 2 Banyumas dan Aktivis ALCoB (APEC Learning Community Builder)

Pendidikan merupakan bagian tak terpisahkan dalam proses dinamika peradaban suatu bangsa. Pendidikan bergerak paralel dengan kemajuan suatu bangsa; semakin maju pendidikan, semakin kuat pula bangsa tersebut. Dalam tata dunia global yang kompetitif dewasa ini, pendidikan diyakini sebagai determinan utama bagi daya saing suatu bangsa atas bangsa lain. Karena itu tidak mengherankan ketika capaian-capaian di bidang teknologi informasi/komunikasi dan teknologi transportasi telah berhasil mengantarkan dunia kepada globalisasi ekonomi dan budaya, negara-negara maju segera merevitalisasi kinerja pendidikan nasional mereka agar mampu meningkatkan keunggulan daya saing mereka dalam kancah kompetisi global.

Di dalam negeri sendiri, perkembangan-perkembangan yang terjadi sejak Indonesia dilanda multi krisis pada tahun 1997 dan reformasi tata kehidupan politik nasional telah menimbulkan kegelisahan di kalangan pemikir dan praktisi pendidikan tentang wajah pendidikan Indonesia masa depan, terutama jika dikaitkan dengan tantangan-tantangan kompetisi global tadi. Berbagai seminar, lokakarya dan pelatihan pun kemudian diselenggarakan di mana-mana bertujuan menemukan paradigma baru dan merumuskan kebijakan dasar serta strategi pengembangan pendidikan nasional di masa depan. Pertanyaannya adalah, seberapa jauh kesiapan dunia pendidikan kita menangani tantangan-tantangan tersebut? Bagaimana strategi yang diperlukan bagi pengelolaan pendidikan yang berorientasi masa depan?

Public Good dan Investasi

Sebagian dari model-model pendidikan yang berkembang di Indonesia adalah model pendidikan sekolah. Di luar itu terdapat model-model lain seperti pendidikan model pesantren, model kursus, model kelompok belajar dan sebagainya. Model pendidikan sekolah bersifat formal, terstruktur dan terorganisir. Penanggungjawab utama penyelenggaraan pendidikan model ini adalah pemerintah. Pemikiran yang mendasari mengapa tanggungjawab penyelenggaraan pendidikan model sekolah dibebankan utamanya kepada pemerintah adalah karena pendidikan model ini merupakan public good.

Sebagai barang publik, pendidikan model sekolah berarti hak bagi setiap warga negara untuk mengenyamnya. Karena itu hanya pemerintah yang—dengan jaringan birokrasi yang menggurita menjangkau seluruh wilayah geografis, otoritas hukum dan dukungan keuangan negara—memiliki kapasitas untuk mengemban amanat memeratakan layanan pendidikan kepada semua warga negara. Kesediaan pemerintah menjalankan amanat ini bisa dilihat dari upaya-upaya pemerintah dalam meningkatkan angka partisipasi pendidikan, memperbanyak jumlah sekolah dan dalam menaikkan anggaran pendidikan.

Selanjutnya selain dipandang sebagai public good, pendidikan model sekolah juga dipandang sebagai investasi bagi kekuatan dan keunggulan daya saing bangsa pada kancah pergaulan dan persaingan internasional. Pandangan tentang pendidikan sebagai sebuah investasi merupakan pandangan yang secara intrinsik mengkaitkan pendidikan dengan masa depan. Di sini pendidikan sekolah tidak hanya menjadi lembaga transmisi nilai dan keyakinan serta budaya lama, namun lebih dari itu pendidikan sekolah adalah lembaga untuk membekali para pesertanya agar memiliki kapasistas yang diperlukan untuk hidup secara berhasil di masa
depan. Berdasarkan pandangan pendidikan sebagai investasi, pemerintah—yang merasa sebagai pihak paling bertanggungjawab dalam penyelenggaraan pendidikan sekolah secara nasional—berupaya untuk merelevansikan pendidikan sekolah dengan rumusan masa depan nasional.

Instrumen Pembangunan
Ketika Indonesia berhasil mendapatkan kemerdekaan pada tahun 1945, tantangan berikutnya adalah mewujudkan kesejahteraan ekonomi dan keadilan sosial. Orla gagal menghadirkan kesejahteraan ekonomi dan keadilan sosial karena periode ini diwarnai banyak pertentangan antar elemen bangsa dan sejumlah pemberontakan yang dilatarbelakangi keragaman letak geografis, etnis dan agama. Saat Orba tampil menggantikan Orla, agenda utama mereka adalah pembangunan nasional dalam arti pembangunan ekonomi melalui modernisasi. Belajar dari pengalaman buruk Orla, agar pembangunan ekonomi bisa dilaksanakan secara berhasil, Orba mensyaratkan adanya stabilitas politik. Maka, dua agenda kembar pembangunan nasional mereka adalah penciptaan stabilitas politik dan pembangunan ekonomi.

Teori pembangunan yang diterapkan adalah teori modernisasi Rostow (Mutammam, 2002), seorang teoritisi ekonomi dari Amerika Serikat. Teori ini mendeskripsikan wajah masa depan Indonesia berpuncak pada terwujudnya masyarakat bangsa yang ditandai oleh high mass cosumption. Yakni bangsa modern yang sejahtera, ditandai dengan kemampuan konsumsi yang tinggi dan serba kecukupan. Untuk menuju ke arah sana, jalan yang harus ditempuh adalah apa yang selama ini dikenal sebagai tahapan-tahapan pembangunan ekonomi jangka panjang 25 tahunan dan jangka pendek 5 tahunan. Semua itu mensyaratkan stabilitas politik yang mantap.

Berdasar pandangan pendidikan sebagai investasi, Orba secara sangat ketat merelevansikan pendidikan sekolah dengan rumusan masa depan nasional yang sangat ekonomistik tersebut. Alih-alih dari berfungsi sebagai wahana proses memekarkan potensi-potensi manusia sehingga memiliki keungulan berupa fleksibilitas dalam menjalani kehidupan dan menangani tantangan-tangannya di masa depan, pendidikan sekolah kemudian menjadi instrumen pembangunanisme. Pendidikan pun menjadi tidak otonom, ia dipaksa mengabdi kepada pembangunan ekonomi dan prasyarat tunggalnya yaitu penciptaan stabilitas politik. Jejak-jejaknya bisa ditemukan pada struktur dan kandungan kurikulum, pada ungkapan-ungkapan seperti “pendidikan nasional adalah menyiapkan manusia pembangunan,” dan sebagainya. Bahkan dalam kaitannya dengan pendidikan sebagai instrumen penciptaan stabilitas politik, Elson (2001, hlm. 203) mencatat presiden Soeharto mengatakan: “Tanpa pendidikan yang menjadikan Pancasila sebagai landasan dan arah, kita tidak bisa mengembangkan masyarakat berdasar Pancasila.”

Menginvestasikan pendidikan sekolah untuk kepentingan semata pembangunan ekonomi dan penciptaan stabilitas politik adalah pengingkaran dari hakikat pendidikan, yaitu pembebasan, pemberdayaan dan pemekaran potensi-potensi unik pesertanya. Pengalaman pendidikan di masa Orba membuktikan, memaksakan secara ketat pendidikan relavan dengan pembangunan atau menjadikannya sebagai instrumen strategis pembangunan berakibat pada penyelenggaraan pendidikan berorientasi pembentukan, pembudayaan (budaya Pancasila dengan tafsir formal, tunggal dan tertutup) dan pembangunan manusia yang utuh namun seragam cara berrfikir dan cara berreaksi terhadap tantangan. Ujung-ujungnya, bukannya pendidikan yang mengarahkan pembangunan, dengan mensuplai gagasan-gagasan kreatif dan
inovatif, pendidikan justru diarahkan mewujudkan gambaran masa depan yang telah dipatok. Padahal sejujurnya masa depan tidak pernah bisa dipatok dan dideskripsikan secara ketat. Sebagai bukti, Indonesia adalah negara yang paling mengalami kesulitan untuk bangkit dari krisis ekonomi yang melanda Asia tahun 1997. Sebagian besarnya hal ini karena kegagalan pengelolaan pendidikan yang, dengan dalih investasi, subordinat terhadap pembangunan ekonomi dan politik.

Kecenderungan-kecenderungan Masa Depan
Seperti telah dinyatakan di depan, revolusi teknologi di bidang informasi, komunikasi dan transportasi telah berhasil mengubah dunia menjadi sebuah global village atau desa tunggal dunia. Dalam global village jarak geografis menjadi relatif tidak efektif lagi. Menggunakan teknologi telekomunikasi orang-orang dari berbagai dunia yang berbeda bisa “duduk bersama dalam satu ruang” melakukan rapat atau diskusi. Semua peristiwa di dunia, baik yang menyedihkan seperti perang dan bencana alam, yang menggembirakan seperti keberhasilan penemuan-penemuan di bidang medis dan ilmu pengetahuan, maupun yang menghibur seperti piala dunia sepakbola dalam waktu yang sama bisa diikuti oleh jutaan warga desa dunia yang berbeda secara geografis, etnis, kultur dan religi. Bukan hanya arus informasi dan komunikasi yang membanjiri semua pelosok dunia, prestasi teknologi transportasi rupanya telah memungkinkan arus lalu lintas perjalanan dunia menjadi sangat padat.

Hidup dalam dunia yang global berarti hidup bersama secara terbuka dengan kelompok-kelompok atau bangsa-bangsa yang selama ini disikapi sebagai the others, orang lain. Mulai dari kelompok-kelompok keagamaan, kelompok etnis, kelompok gender, kelompok transeksual, sampai dengan kelompok sipil miluter. Plural dan multikultural adalah identitas sosial dan budaya masa depan. Agar bisa hidup secara bermakna dalam lingkungan yang plural dan multikultural, manusia-manusia masa depan dituntut memiliki kapasistas untuk bersikap demokratis, toleran, kritis, dan kooperatif dan peduli HAM.

Di luar pluralisme dan multikulturalisme, kecenderungan lain masa depan adalah menguatnya era bisnis—dan profesi-profesi baru—di bidang jasa. Di antara yang bisa disebut di sini adalah jasa penelitian, jasa konsultan, jasa pelatih, jasa akuntan, jasa bantuan hukum, jasa iklan, jasa hiburan, jasa keamanan, jasa boga, jasa rias, jasa arsitektur, jasa transportasi, jasa pendidikan dan pelatihan, perhotelan dan wisata, jasa kebersihan sampai dengan jasa keamanan dan jasa demo. Bagi dunia pendidikan, kecenderungan menguatnya bisnis dan profesi-profesi baru di bidang jasa tersebut berarti menguatnya kesadaran akan keragaman kecerdasan, keterampilan dan keahlian individu. Kecenderungan yang semakin menguat tentang pengakuan terhadap keunikan individu-individu.

Dengan semakin intensnya pergaulan internasional, kecenderungan lain masa depan adalah menguat tuntutan para pengguna produk barang dan jasa terhadap terpenuhinya standard-standard internasional. Ini artinya, kompetisi dan persaingan kualitas produk barang dan jasa menjadi semakin ketat. Hanya produk-produk barang dan jasa yang berbasis ilmu, seni dan etika global yang akan memenangi persaingan. Dalam hal produk air minum, misalnya, yang akan memenangi persaingan adalah produk air minum yang secara ilmu pengetahuan terbukti higien dan menyehatkan, secara seni dikemas indah dan secara etika tidak menyalahi pihak manapun. Hal yang sama terjadi pada produk-produk lain di bidang barang dan jasa, seperti mobil, rumah, pendidikan, perhotelan, rumah sakit, dan sebagainya.

Menyatunya ilmu, seni dan etika sebagai kriterium standard inernasional produk-produk barang dan jasa menandakan berkembangnya suatu jenis ekonomi dan perdagangan berbasis ilmu, seni dan etika. Pembacaan kalangan pendidikan terhadap ini adalah pertama terjadinya kecenderungan integrasi ilmu, seni dan etika. Kedua, terjadi kecenderungan investasi untuk eksplorasi dan ekploitasi ilmu, seni dan etika. Harus dibaca pula kecenderungan terjadinya imperialisme ilmu. Bangsa yang secara kuantitatif dan kualitatif lebih menguasai ilmu adalah yang akan eksis dalam pergaulan dan persaingan internasional karena mampu memenuhi permintaan kebutuhan terhadap produk-produk barang dan jasa berstandar internasional. Dalam bahasa Toffler (1990), satu dari tiga sumber kekuasaan masa depan adalah ilmu, di samping uang dan massa.

Akhirnya, mengutip Maynard, Semiawan (2000) mengatakan bahwa setelah dunia menjadi global oleh revolusi teknologi informasi dan komunikasi, gelombang kehidupan berikutnya adalah gelombang respiritualisasi. Pada gelombang ke empat kehidupan manusia ini, manusia kembali kepada spiritualisme. Maka muncullah berbagai gerakan penyelamatan lingkungan seperti green peace, gerakan anti korupsi, gerakan anti polusi, serta ideologi pembangunan berwawasan lingkungan atau eco-developmentism.

Sekarang pertanyaannya adalah, bagaimana kecenderungan-kecenderungan masa depan tersebut bisa dibaca dan selanjutnya diproyeksikan ke dalam praktek-praktek pendidikan sekolah? Suatu pandangan tentang pendidikan sebagai investasi seharusnya—meski tidak dengan cara yang terlalu ketat—merelevansikan struktur, kandungan dan praktek pendidikan dengan kecenderungan-kecenderungan masa depan dan bukan dengan pembangunan ekonomi dan politik yang rumusannya telah dipatok secara ketat sebagaimana eksperimen Orba di masa lalu.

Pendidikan Sekolah Berorientasi Masa Depan
Pendidikan sekolah adalah investasi, baik bagi individu pebelajar sendiri maupun bagi kumpulan individu-individu sampai tingkat bangsa. Sebagai investasi, pendidikan dengan sendirinya berorientasi masa depan, baik masa depan individu maupun masa depan bangsa. Orientasi masa depan pendidikan sekolah penting bagi pemenuhan aspek tuntutan untuk bisa bertahan hidup (drive to survive) dan untuk bisa berkembang (drive to grow) di masa depan dari individu orang perorang maupun kolektivitas bangsa. Proyeksi orientasi masa depan pendidikan sekolah terbaca dalam asumsi dasar dan filsafat yang dianut, kurikulum dan metode pembelajaran yang diberlakukan , kultur dan iklim yang dikembangkan, maupun teknologi pendidikan yang dipergunakan.

Seperti telah diuraikan, paling kurang terdapat empat kecenderungan masa depan yang penting bagi orientasi pendidikan. Berkaitan dengan pluralisme dan multikulturalisme, pendidikan sekolah hendaknya mensterilkan diri dari rasisme. Sebaliknya pendidikan sekolah merupakan wahana persemaian dan pengembangan ajaran tentang hak asasi manusia, keadilan, kepedulian antar sesama, kritisisme, kejujuran, toleransi, kerjasama, dan demokrasi. Kurikulum dan praktek-praktek pendidikan sekolah harus memuat dan mencerminkan hal-hal tersebut.

Karena masa depan ditandai oleh kuatnya pengakuan terhadap keunikan individu (individual uniqueness) beserta keragaman kecerdasan (intelligence), keterampilan (skills), keahlian (expertise), maka pendidikan sekolah tidak lagi menganut filsafat yang mengajarkan keserupaan potensi manusia. Asumsi dasar tentang manusia sebagai unik selanjutnya
berpengaruh pada pilihan filsafat pendidikan yang menekankan memberdayakan dan memekarkan potensi ketimbang membudayakan dan membentuk peserta didik. Yang pertama akan memberikan fleksibilitas yang tinggi dalam hal kemampuan peserta didik untuk survive dan growth di masa depan, seperti apa pun situasi masa depan tersebut nantinya. Kelemahan yang kedua adalah kalau social setting masa depan yang ditemui ternyata berbeda dengan yang dibayangkan pada saat mengikuti pendidikan.

Pendidikan sekolah adalah wahana bagi peserta didikanya untuk mengkonstruksi pengetahuan bukan sekadar transmisi pengetahuan. Di sini iklim dan kultur kolaborasi antara guru dan murid menjadi sangat penting. Pendidikan sekolah seharusnya memberikan pilihan-pilihan kepada warganya untuk berkembang, mengkonstruk diri sesuai dengan potensi-potensi kecerdasan manusia yang memang multiple; mulai dari kecerdasan intelektual, kecerdasan emosi, kecerdasan kinestetik, dan sebagainya sampai dengan kecerdasan naturalis. Selanjutnya bentuk evaluasi pendidikan dan alat ukurnya pun menjadi tidak lagi seragam seperti semata UN.

Menanamkan kecintaan kepada ilmu dan seni serta kesetiaan pada etika adalah identitas lain dari pendidikan berorientasi masa depan. Bila apresiasi pendidikan sekolah kontemporer terhadap ketiganya masih bersifat mekanik, maka tidak demikian seharusnya. Mengapa demikian karena di masa depan, integrasi ilmu, seni dan etika akan menjadi karakter utama keunggulan produk apapun termasuk produuk budaya dan pendidikan sendiri. Manusia masa depan adalah manusia yang hidup dengan ilmu, seni dan etika. Di masa depan manusia yang tidak memiliki ilmu, tidak mencintai seni dan tidak beretika akan terpelanting ke pinggiran. Logikanya, pendidikan yang tidak menanamkan kecintaan kepada ilmu dan seni serta kesetiaan pada etika adalah pendidikan yang tidak punya orientasi masa depan.

Catatan Penutup
Perubahan pengelolaan sistem pendidikan dari sentralistik yang serba terpusat secara nasional di Jakarta menjadi desentralistik di tingkat Kabupaten/Kota serta launching kebijakan nasional Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) jika dikelola dengan baik sesungguhnya menghadirkan peluang improvisasi kreatif. Berbeda dari masa sentralistik yang mengharuskan wajah seragam semua satuan pendidikan, era desentralisasi memberikan otoritas kepada pemerintah Kabupaten/Kota, kantor dinas diknas, dewan pendidikan dan sekolah sendiri untuk mengembangkan model pendidikan berorientasi masa depan—sebagai investasi bagi para pesertanya yang dituntut untuk bertahan hidup (survive) dan bisa berkembang (grow) di masa depan. Juga sebagai investasi bagi bangsa ini agar bisa bertahan dan berkembang dalam pergaulan dan persaingan antar bangsa. Empat pihak yang disebut terakhir harus berani berimprovisasi secara kreatif dalam mengemban amanat mengembangkan public good tersebut.

Rujukan
Elson, R. E. (2001). Soeharto. Cambridge, UK: Cambridge University Press.
Murgatroyd dan Morgan. (1992). Total Quality Management and the School. Buckingham: Open University Press.
Mutammam. (2002). Tarekat dan Modernitas. Makalah tidak diterbitkan.
Semiawan, C. (2000). Relevansi Kurikulum Pendidikan Masa Depan. Dalam Sindhunata (editor). Membuka masa depan anak-anak kita: Mencari kurikulum abad XXI (hlm. 19-31). Yogyakarta: Kanisius.
Toefler, Alvin. (1990). Powershift: Knowledge, wealth, and violence at the edge of the 21st century. New York: Bantam Books.

Tulisan lain yang berkaitan:

imgTantangan Sarjana Pendidikan di Era Globalisasi (Saturday, 25 January 2014, 422 views, 0 respon)   Oleh: Doddy Novarianto Staf Pendidik SMAN 1 Ngantang,  Malang, Jawa Timur   Doddy Novarianto Itulah kenyataan yang sedang di hadapi dan...
imgMenjadikan Sarjana Pendidikan Sadar Mutu (Thursday, 2 January 2014, 374 views, 0 respon) Oleh : Dra. Dyah Budiarsih, M.Pd Pengawas TK/SD Kec. Purwokerto Timur, Kab. Banyumas, Propinsi Jawa Tengah, Juara I Pengawas Berprestasi Tingkat...
imgBukan Sarjana Muda—-Kisah Seorang Guru yang Menjadi Sarjana di Umur 50 Tahun (Sunday, 29 September 2013, 440 views, 0 respon) Oleh : Zulkarnaen Arsi dan Achi-tm Penulis Bisa jadi sarjana jaman sekarang mungkin sekilas terlihat mudah. Namun dalam kenyataannya, banyak sekali...
imgPeran Sarjana Pendidikan dalam Peningkatan Mutu (Tuesday, 4 September 2012, 641 views, 0 respon) oleh Nurul Nitasari, S. Pd Alumnus Universitas Negeri Semarang “Mau ke mana para sarjana setelah lulus kuliah?” pertanyaan itulah yang menjadi...
imgPeranan Guru dalam meningkatkan Budi Pekerti siswa (Monday, 23 January 2012, 2,473 views, 0 respon) Oleh: Nina Rahayu Nadea Guru SMP Pasundan 7 Bandung Guru merupakan sosok yang sangat diperlukan dalam lingkup pendidikan. Kenapa? Karena guru...
Tulisan berjudul "Peranan Sarjana Pendidikan Untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan di Indonesia" dipublikasikan oleh Admin ISPI (Wednesday, 10 August 2011 (18:31)) pada kategori Makalah. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Responses are currently closed, but you can trackback from your own site.

5 Responses to "Peranan Sarjana Pendidikan Untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan di Indonesia"

    Trackbacks

    Check out what others are saying about this post...
    1. Blogs ou should be reading…

      […]the following are a couple of references to web pages that we connect to since we think they’re really worth browsing[…]…

    2. … [Trackback]…

      […] Read More here: ispi.or.id/2011/08/10/peranan-sarjana-pendidikan-untuk-meningkatkan-mutu-pendidikan-di-indonesia/ […]…

    3. atdhe says:

      Super Website…

      […] that is the end of this article. Here you’ll find some sites that we think you’ll appreciate, just click the links over[…]…

    4. … [Trackback]…

      […] There you can find 73662 additional Informations: ispi.or.id/2011/08/10/peranan-sarjana-pendidikan-untuk-meningkatkan-mutu-pendidikan-di-indonesia/ […]…

    5. Works.Bepress.com

      ISPI | Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia Pusat » Peranan Sarjana Pendidikan Untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan di Indonesia



    «
    »