Catatan Harian Eko Hastuti

Wednesday, 4 January 2012 (17:24) | 149 views | Print this Article

Oleh: Dra. Eko Hastuti, M.M.
Guru di SMP 1 Wonosobo, Pembimbing Ekstra Jurnalistik dan Anggota ISPI

Curhat 1 Kotak
Wonosobo, Minggu, 27 Maret 2011, jam 21 : 12: 19

Hujan semakin keras terdengar gemerisiknya. Seperti tentara baris dengan langkah tegap dan serentak menimbulkan irama yang kompak. Setiap langkahnya seakan mengkoyak-koyak batinku yang sedang bergolak. Ingin rasanya teriak sekuat tenaga, selebar mulut menganga. Untuk melepaskan gundah hati yang membelenggu dan membeku, membatu di sudut karang berbatu.

Dinginnya malam juga semakin menusuk tulang meski tubuhku sudah berbalut switer biru motif kotak-kotak. Bahkan setiap garis yang menghubungkan antara kotak satu dengan kotak lainnya nyata seperti suasana batin yang terkotak-kotak juga. Kadang aku masuk di kotak kiri, saat kucoba menyelami situasi yang ada, ku berlari ke kotak lainnya. Kuharap di situ kutemukan suasana baru yang lebih netral tanpa mengenal kotak tapi ternyata garis yang membentuk kotak bahkan semakin tajam. Garis itu pun tak membuatku terkurung di dalamnya.

Aku kembali keluar dengan sadar bahwa kotak itu bukan ruangku apalagi rumahku tempat ku berlindung dari hujan dan dinginnya malam. Pada pergerakkan selanjutnya, kubersandar di dermaga tuk berlabuh.

Lagi-lagi jangkar yang kulempar tak sampai ke kotak ketiga. Kotak itu nampak kosong tapi taksanggup kubuka. Aku enggan membukanya. Enggan menguak misteri kotak itu dengan mata dan hati terbelalak. Kiuntip melalui lubang kecil tuk mengukur. Barangkali kotak itu cocok denganku atau sesuai dengan ukuran bajuku. Lagi-lagi aku batal berniat baik, karena sebagian kotak itu berkarat dan berbau.

Aku tak mungkin masuk ke dalam kalau hanya akan dapat terkontaminasi oleh nurani yang berkarat. Lalu aku jadi sangat naïf. Kupilih berdiri di luar kotak. Kupandang satu persatu isi kotak dengan segala ulahnya. Kucoba kenali satu persatu karakter yang ditunjukkannya. Bak aquarium kupandang ikan-ikan yang sedang bercengkerama dengan asyiknya. Ada yang sangat sibuk mencari umpan. Ada yang senang mengekor di belakang ikan besar. Ada yang makan ceceran umpan yang berjatuhan. Tapi ada juga yang berebut menyantap umpan dengan berjibaku takut tak dapat bagian.

Hah…ada pula yang sampai tak sempat tengok kiri tengok kanan karena matanya tertuju di ujung kail yang dilemparkan. Hem…itulah yang kuyakini ada. Persengkokolan dengan payung time work, egoisme bertopeng dedikasi. Ambisi dengan baju profesionalisme. Dan keserakahan materi dan gengsi berbalut tanggungjawab.

Aku terduduk diam di luar kotak. Kudiam seribu basa. Kututup mata rapat-rapat. Cukup kiranya kulihat fenomena itu. Fenomena kehidupan yang semakin mengkotak-kotak. Kuingin melepas switer penghangat tubuh yang bercorak kotak-kotak, tapi dinginnya malam semakin menusuk, tidak saja tulang berbalut daging tapi batin berbalut kejujuran , keteguhan, serta ketegasan hati. Biar apa kata penghuni kota-kotak itu.

Aku tak perlu tutupi biar mereka tahu kalau aku dan kotakku cukup jadi milikku sendiri. Kotakku telah kupatri kuat-kuat sangat rapat.

Kapan saat butuh kubuka nanti, pasti aku akan membuat fenomena lain agar dunia ini lebih bervariasi. Hanya saja kotakku tak lagi berbentuk kotak-kotak , karena aku memang tidak suka dengan kotak itu sendiri.

Kotakku takbergaris lagi, karena tepat di garis cakrawala dan fatamorgana. Tapi kuharap kotak yang kubuat, sangat beda dengan kotak-kotak yang ada. Entahlah…kotak macam apa!

Curhat 2 Garis
Wonosobo, Senin, 28 Maret 2011 Jam 03:22:10

Garis adalah coretan panjang baik lurus, bengkok atau melengkung. Garis lurus dapat menjadi haluan atau tuntunan hidup. Kalau hidup kita isi dengan berbagai aktivitas positif. Ya…lurus tidaknya garis yang kita buat akan berdampak pada garis hidup itu sendiri. Namun, buatlah garis yang lurus jangan bengkok atau melengkung kalau ingin hidup kita baik-baik saja. Minimal itu upaya kita, doa kita, dan harapan/asa kita.

Bukankah kita hanya bisa berusaha, Tuhan Sang Penentu garis hidup itu sendiri? Kata orang bijak, garis hidup itu sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Hanya kita sendiri yang bisa menjaga, memelihara, memupuk dan mengembangkannya, atau mengubah bila itu mungkin.

Berbicara soal garis, aku jadi sangat sadar kalau saat kita berada di garis belakang, kita harus tahu posisi dan porsi. Tahu diri dan tahu situasi. Itulah yang kadang membuat kita harus berdiam diri pada situasi yang takperlu buka mulut, unjuk gigi atau tunjuk jari. Biarlah orang berlomba menuju di garis depan untuk memimpin suatu perlombaan. Beradu cepat membuka jalan tak peduli jalan itu bengkok atau lengkung. Biarlah orang akan beradu argumentasi biar nampak cerdas dan pintar sendiri, aku tak suka begitu. Pintar tak perlu dipamerkan, gelar taktayak diumbar. Pangkat, jabatan, apalagi harta kekayaan sangatlah tabu jadi bahan obrolan. Orang akan tahu sendiri saat kita diam pun. Karena semua itu jadi satu garis bila kita menilainya dengan satu sikap bahwa semua itu titipan Tuhan. Kapan pun, di mana pun saat Tuhan menghendaki garis itu putus, kita stop. Taksanggup lagi menyambungkan garis dari satu titik ke titik lain karena suratan takdir.

Tapi sebelum garis akhir itu digoreskan, takperlu kita menunggu dalam diam. Banyak yang harus kita lakukan meski tidak berada di garis depan atau garis tempur. Memang saat di barisan depan kita menjadi kunci dan tombak bagi orang-orang di belakang kita? Tapi, saat kita di garis belakang pun kita tetap memegang peran untuk melakukan apa yang harus kita lakukan sesuai kapasitas kita masing-masing.

Jadi, jika dibilang berdiri di garis lurus, itu posisi yang menyulitkan, itu benar. Karena kita harus pegang kuat-kuat pendirian dan prinsip agar garis itu tetap lurus. Garis yang taktergoyahkan meski dibengkokkan atau dilengkungkan kecuali kita sendiri yang melakukan. Karena bila kita yang melakukan sudah diukur dengan penuh pertimbangan dan kematangan. Aku cukup paham, bahwa garis yang kubuat adalah goresan nurani yang terdalam. Cerminan pribadi yang menuntunku membuat coretan-coretan, menghubungkan antara titik – titik dari hulu ke hilir pada garis akhir.

Curhat 3 Bulat
Wonosobo, Jumat, 20 Mei 2011 jam 18:35:00 WIB

Kata bulat dapat bersinonim dengan kata bundar. Artinya tak bersudut atau berbentuk lingkaran. Saat kusadar bahwa posisi di luar kotak dan garis itu toh tetap masuk dalam lingkaran, aku terperangah. Bak terbangun dari mimpi di siang bolong, aku terbengong. Bahwa hidup kapan pun di mana pun selalu masuk pada sebuah lingkaran/bulatan atau system bahkan mekanisme yang selalu berputar. Roda tak mungkin ditahan agar as tidak bergerak. Inti dari lingkaran atau bulatan adalah menyatunya titik-titik menjadi garis yang menghubungkan antara udik dan hilir antara ujung dan pangkal. Andaikan lingkaran itu layaknya alur atau plot sebuah prosa fiksi, maka jalinan tahap-tahap alur akan tersaji dengan indah baik itu dari awal menuju akhir atau sebaliknya. Bisa juga muncul secara acak agar ending cerita tak bisa diduga apalagi diakhiri sendiri tanpa kompromi. Mungkin alur kilas balik atau flash back lebih menantang. Mungkin pula plot campuran yang bikin hati semakin penasaran. Mungkin….toh alur hidup tak bisa kita yang tentukan.

Minimal layar dibentangkan saat laju perahu tak tentu karena arah angin tak karuan. Artinya hidup tidak harus ikut arus deras yang menggerus pondasi rumah tapi tidak pula harus melawan arus kalau energi kita takkuat menahannya. Mungkin dengan berdiri tegak di garis batas pertemuan arus. Asal tongkat pegangan kita kokoh, garis yang kita bentangkan lurus dan kotak yang mengotakkan kita musnahkan, mungkin lingkaran yang muncul akan menjadi sebuah ikatan yang saling menguatkan. Jadilah bulat kata (sepakat) walau tanpa perundingan di meja bundar. Saat masing-masing pribadi tahu diri dan tahu porsi tak perlu ada garis apalagi kotak. Yah….bulatan atau lingkaran telah menjadi ikatan kuat yang akan membuat mekanisme menjadi sehat.

Artinya tekad bulat harus dikukuhkan kalau alur akan dimulai untuk mengisi dinamika system yang hebat. Pancangkan tekadmu, kobarkan semangatmu, kibarkan benderamu tuk menyongsong hari-hari depanmu yang pasti kan meraih prestasi. Lupakan garis yang melintang, terjanglah kotak yang menghadang. Mulai detik ini, kumulai menghubungkan garis menjadi bulat di luar kotak agar tekad yang bulat selalu segar dan mekar.

Tulisan lain yang berkaitan:

imgFoto Inspiratif Permudah Tulis Syair Tembang (Thursday, 8 March 2018, 168 views, 0 respon) Oleh Dra. Eko Hastuti, M.M. Guru SMP Negeri 1 Wonosobo dan anggota ISPI Eko Hastuti Keterampilan menulis bagi sebagian besar siswa SMP sangat rendah....
imgRefleksi Hari Kebangkitan Nasional (Saturday, 21 May 2016, 91 views, 0 respon) Oleh : Dra. Eko Hastuti, M.M. Anggota ISPI dan staf edukatif pada SMP Negeri 1 Wonosobo Sebagian warga Indonesia khususnya yang bekerja pada instansi...
imgEko Hastuti, Sarjana Pendidikan yang Aktif Mengelola Perpustakaan Srikandi (Thursday, 17 April 2014, 693 views, 14 respon) Oleh : Deni Kurniawan As’ari Redaksi web ISPI dan Humas ISPI Eko Hastuti Redaksi web ISPI kembali menurunkan profil sarjana pendidikan yang...
imgKiat Menulis Artikel Bagi Guru (Saturday, 14 July 2012, 1,006 views, 0 respon) Oleh : Dra. Eko Hastuti, M.M. Guru SMP Negeri 1 Wonosobo, Anggota ISPI dan Pembimbing Eskur Jurnalistik Disadari atau tidak, sebenarnya seorang guru...
Tulisan berjudul "Catatan Harian Eko Hastuti" dipublikasikan oleh Admin ISPI (Wednesday, 4 January 2012 (17:24)) pada kategori Kegiatan, Media. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.