MENGAPA SARJANA TIDAK MENULIS?

Wednesday, 22 February 2012 (17:40) | 636 views | Print this Article

Oleh: Wardjito Soeharso
Widyaiswara Badiklat Prov. Jateng, Anggota ISPI

Ada kebijakan baru dilontarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dirjen Dikti, Djoko Santoso, saat ini gencar berbicara di media massa, mahasiswa program sarjana, magister, dan doktor, harus menulis karya ilmiah yang diterbitkan jurnal ilmiah sebagai syarat kelulusan. Untuk itu, setiap program studi bisa membuat jurnal ilmiah, dan jika tidak tertampung, karya ilmiah itu bisa dimuat di jurnal online.

Kontan, kebijakan ini menuai pro dan kontra. Yang pro menilai kebijakan ini akan mampu membangun tradisi akademik yang lebih kuat baik untuk dosen maupun mahasiswa. Sedang yang kontra menilai belum saatnya kebijakan ini dimunculkan karena sarana pendukungnya, terutama keberadaan jurnal ilmiah di lingkungan perguruan tinggi dan profesi, masih sangat terbatas kuantitas maupun kualitasnya.

Sesungguhnya, ini kebijakan yang sangat bagus untuk meningkatkan kualitas output pendidikan. Sudah banyak kritik dilontarkan, kualitas lulusan perguruan tinggi kita memprihatinkan. Dari sisi ilmu, sarjana kita payah, tidak memperlihatkan diri sebagai intelektual. Prof. Slamet Rahardjo (alm), guru besar Fak. Sastra UNDIP, dalam suatu kesempatan pernah mengatakan, para sarjana kita seperti pohon pisang: sekali berbuah selesai sudah, lalu mati. Artinya, para sarjana kita selama proses belajar di perguruan tinggi sampai lulus, hanya mampu menghasilkan satu karya ilmiah, yaitu skripsi untuk syarat lulus. Sesudah itu, tak satu pun lagi karya ilmiah muncul dari dirinya.

Kebijakan ini memang belum begitu jelas. Masih ada pertanyaan: apakah karya ilmiah yang harus dimuat jurnal itu di luar skripsi (S-1), tesis (S-2), dan disertasi (S-3)? Bila jawabnya ya, berarti mahasiswa masih harus tetap menulis skripsi, tesis, dan disertasi untuk tiap-tiap jenjang pendidikan tinggi. Karya ilmiah yang harus dimuat jurnal adalah tugas tambahan untuk lebih memberikan bobot kualitas kelulusan mahasiswa. Sedang bila jawabnya tidak, berarti karya ilmiah akhir mahasiswa berupa skripsi, tesis, dan disertasi, itulah yang harus dimuat di jurnal. Kalau ini yang dimaksud, berarti mahasiswa masih memiliki tugas membuat summary dari karya ilmiahnya agar bisa dimuat di jurnal. Sebelum summary itu muncul di jurnal, mahasiswa belum bisa mengikuti ujian untuk mempertahankan karya ilmiahnya.

Apa pun nanti bentuknya, yang jelas kebijakan ini ingin menjawab opini bahwa mahasiswa kita bukanlah mahasiswa berfilosofi pohon pisang: sekali berbuah lalu mati. Setelah lulus jadi sarjana, mereka diharapkan tetap terus menulis. Menulis karya ilmiah di jurnal maupun karya populer di media massa. Kebijakan ini mencoba membangun tradisi akademik di lingkungan sarjana. Sarjana harus menulis, harus membagi ilmu dengan masyarakat.

Tapi, efektifkah kebijakan ini? Mampukah mahasiswa kita membangun kebiasaan menulis karya ilmiah dalam waktu yang singkat? Sepertinya sangat sulit bahkan mustahil membangun kebiasaan menulis secara instan. Membaca dan menulis adalah kebiasaan yang diperoleh melalui proses yang panjang. Mahasiswa kita belum memiliki kebiasaan membaca. Karena kurang membaca mereka lalu tidak menulis. Membaca dan menulis mestinya diperkenalkan sejak dini kepada anak didik di sekolah. Kebijakan Kemendikbud ini seperti menangkap ujung melepas pangkal. Pendidikan tinggi di ujung dan pendidikan dasar menengah di pangkal pada dasarnya bagian tak terpisahkan dari seluruh sistem pendidikan kita. Jadi, bila ingin membenahi pendidikan mestinya dilakukan dari semua lini, dari ujung sampai pangkal. Membangun budaya baca-tulis pada mahasiswa mestinya dimulai dari membangun budaya baca-tulis pada siswa di SD sampai SMA.

Semua sepakat budaya baca-tulis kita masih sangat rendah. Karya tulis ilmiah dosen yang dimuat di jurnal masih sangat sedikit, kalah jauh bila dibandingkan dengan Negara tetangga, Malaysia. Begitu pula, survey membuktikan masyarakat lebih banyak nonton televisi daripada baca koran. Data BPS (2006) memperlihatkan, masyarakat yang suka nonton televisi jauh lebih besar (>80%) dibandingkan mereka yang baca koran ( >20%). Masyarakat kita masih tergolong masyarakat yang lebih mementingkan hiburan daripada menambah informasi dan pengetahuan.

Hal yang sama terjadi pada siswa kita. Progress In International Reading Literacy Study (PIRLS) yang dilakukan untuk mengukur Human Development Index (HDI), yang dilakukan oleh UNDP (2010), menempatkan posisi minat baca siswa Indonesia pada urutan 36 dari 40 negara sample. Posisi itu di atas negara-negara Qatar, Kuwait, Maroko, dan Afrika Selatan. Siswa SMA bisa menghabiskan waktu sekitar 6 jam per hari di depan televisi, sementara untuk kegiatan baca mereka hanya punya waktu tak lebih dari 20 menit. Sekali lagi, data ini menunjukkan Indonesia masih jauh ketinggalan dari negara-negara lain dalam bidang mengembangkan minat baca. Padahal, salah satu tolok ukur kecerdasan suatu bangsa adalah minat baca yang sudah terbangun dengan baik.

Membaca sangat penting untuk membangun budaya menulis. Untuk mampu menulis pasti diperlukan banyak membaca. Semakin banyak orang membaca, pada satu titik tertentu dia akan terangsang untuk mulai menulis. Informasi yang diperoleh dari membaca akan meluber (spill over) sebagai akibat dari daya kritis pikiran ketika menyerap dan memaknai apa yang dibaca. Luberan informasi dari membaca itu, salah satunya berupa tulisan. Jelas kiranya, membaca menjadi langkah awal menulis. Tanpa membaca, orang tidak akan pernah terangsang untuk mulai menulis.

Sekolah belum memberikan pendidikan membaca dengan baik. Siswa belum dipacu semangat membacanya, belum diberi pemahaman bahwa pengetahuan itu diperoleh, dengan membaca sebagai salah satu cara menyerapnya. Yang jadi masalah, kalau gurunya, sarjana lulusan perguruan tinggi saja belum memiliki budaya baca, bagaimana mungkin mereka menularkan budaya baca pada siswa.

Yang paling mendesak saat ini justru membangun budaya baca-tulis di sekolah dasar dan sekolah menengah. Siswa sekolah kalau perlu “dipaksa” membaca dan menulis. Berikan tugas membaca buku secara rutin tiap semester, lalu selesai membaca mereka harus membuat laporan dari hasil membacanya. Bila setiap siswa harus membaca dan menulis laporan 3 judul buku tiap semester, 1 fiksi, 1 non-fiksi (ilmiah), dan 1 hobby, selama sekolah di SMP dan SMA saja, mereka sudah membaca 36 judul buku. Bayangkan, seperti apa wawasan siswa yang sudah membaca dan menulis laporan 36 judul buku.

Untuk itu perlu adanya terobosan baru sebagai upaya memperkenalkan siswa kepada buku-buku yang lebih menarik perhatian. Buku-buku fiksi (sastra) seperti kumpulan puisi atau cerpen (antologi), novel, bahkan drama, sangat bermanfaat untuk siswa dalam memperkaya wawasan tematik dan imaginasi. Buku-buku ilmiah populer yang sekarang banyak beredar, lengkap dengan berbagai pilihan tematik dan pendekatan ilmiahnya, tentu akan sangat bermanfaat untuk menambah pemahaman dan kemampuan analisis keilmuan siswa. Demikian pula, buku-buku tentang hobby, dapat merangsang siswa semakin kreatif untuk mengembangkan minat dan bakatnya.

Dengan membaca banyak jenis dan ragam buku, kemudian siswa diminta menulis laporan membaca dari buku yang sudah dibacanya, secara berkesinambungan siswa mulai dilatih untuk membaca dan menulis secara kritis dan kreatif. Kegiatan semacam ini menjadi dasar pembentukan bangunan tradisi akademik pada diri siswa. Bagaimana pun, siswa sejak dini perlu diperkenalkan dengan tradisi akademik, terutama dalam penulisan karya ilmiah. Salah satu yang paling penting adalah: menghindari plagiarisme, menyebutkan referensi sumber dari berbagai fakta yang diungkap untuk mendukung ide/gagasan yang ditulisnya. Jadi, sejak awal siswa diajari bersikap jujur dan bertanggungjawab atas karya ilmiahnya.

Apabila tradisi akademik ini diperkenalkan kepada siswa sejak dari tingkat pendidikan dasar (SD), maka ketika mereka sudah berada di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), tradisi itu sudah mulai terbentuk, dan ini akan sangat berarti ketika mereka memasuki bangku perguruan tinggi (universitas). Karena sejak SD, SMP, dan SMA, sudah dilatih untuk membaca dan menulis, ketika kuliah di perguruan tinggi pun, mereka sudah terbiasa dengan membaca dan menulis. Kebiasaan ini akan mengantarkan mereka lulus menjadi sarjana yang produktif menulis sekaligus jujur dan bertanggungjawab atas karya tulisnya.

Inilah jawaban dari pertanyaan: mengapa sarjana lulusan perguruan tinggi, sampai sekarang ini, belum memiliki kemampuan menulis yang baik. Semua itu karena satu hal mendasar: mereka tidak memiliki tradisi membaca.
***

Tulisan lain yang berkaitan:

imgSaat Menulis Terasa Membosankan (Friday, 3 June 2016, 108 views, 0 respon) oleh : Yanuardi Syukur, M.Si. Dosen Universitas Khairun, Maluku Utara dan Penulis Buku Yanuardi Syukur Tiap orang pasti pernah merasa bosan...
imgGuru dan Menulis Buku (Saturday, 4 January 2014, 292 views, 0 respon) Oleh : Johan Wahyudi, S.Pd., M.Pd. Guru Penerima Beasiswa Unggulan Kemendikbud Program Doktor (S3) PBI, UNS Johan Wahyudi Akhir-akhir ini, kita...
imgMembangun Kultur Akademis Profetik dengan Menulis (Sunday, 11 March 2012, 431 views, 0 respon) Oleh: Umu Sulaimah S.Pd.I Guru SDIT Ulul Albab Kota Pekalongan) Kemajuan peradaban suatu negeri salah satunya ditentukan oleh pendidikan. Oleh karena...
imgMenggairahkan Siswa Menulis (Thursday, 23 September 2010, 471 views, 750 respon) Oleh Syaiful Mustaqim, SPd.I, Guru Jurnalistik MA Walisongo Pecangaan Jepara dan Pengelola Taman Baca Praja Muda MEDIA cetak yang terbit setiap hari,...
imgHikmah Kegiatan Menulis Bagi Guru (Thursday, 2 September 2010, 373 views, 14 respon) Oleh Ajeng Kania Guru SDN Cibiru 5 Kota Bandung Senin (16/8) petang, penulis mendapat telepon dari staf Pusat Informasi dan Humas (PIH) Kementerian...
Tulisan berjudul "MENGAPA SARJANA TIDAK MENULIS?" dipublikasikan oleh Admin ISPI (Wednesday, 22 February 2012 (17:40)) pada kategori Opini. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

1 Response to "MENGAPA SARJANA TIDAK MENULIS?"

  1. Mereka tidak menulis, karena kegagalan kita merubah ranah afektif. Kita hanya mengejar dua ranah yakni kognitif dan psycomotoris. Benar nggak?

    Ibu-ibu yang hanya sekolah SMA saja nulis di majalah POTRET. Mengapa mereka bisa?

«
»