Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru Dalam Menerapkan Model Pembelajaran CTL Melalui Pelatihan Model “Klasemen ” Bagi Guru-guru SMP/SMA/SMK di Kabupaten Dompu Semester Gasal Tahun Pelajaran 2010-2011

Friday, 9 March 2012 (14:44) | 5,385 views | Print this Article

Oleh : Drs. SUAIDIN USMAN
Pengawas SMA/SMK Kabupaten Dompu, NTB dan Anggota ISPI

Abstract. Contextual Teaching Learning (CTL) is a concept of learning that helps teachers relate what is taught with real-world situations of students and encourage students to make connections between their knowledge with its application in their lives as family members and society. With that concept, the learning outcomes expected to be more meaningful for students. The learning process takes place naturally in the form of student work and experience, rather than transferring knowledge from teacher to student. Learning strategies are higher than any results.

The purpose of this supervisory action research was to determine the extent to which building inspectors enhance teachers’ ability to apply learning model Contextual Teaching Learning (CTL) through training “Classification”(Klasemen)

In a supervisory action research area was conducted in two cycles, the results of actions taken are proven to improve the performance of teachers to achieve the ideal standard. From 67.93% in cycle I, can be increased to 93.92% in cycle II,

The results of this action shows that coaching supervisors through training standings model can improve the performance of teachers in using the learning model CTL target schools in the district Dompu Lessons Year 2010/2011

Key words: the ability of teachers, learning model CTL, training “Classification” .

I. PENDAHULUAN
Kemampuan guru merupakan faktor pertama yang dapat mempengaruhi keberhasilan pembelajaran. Guru yang memilikim kemampuan tinggi akan bersikap kreatif dan inovatif yang selamanya akan mencoba dan mencoba menerapkan berbagai penemuan baru yang dianggap lebih baik untuk pembelajaran siswa. Suatu asumsi bahwa peningkatan mutu pembelajaran di sekolah dapat dicapai melalui peningkatan mutu sumber daya manusia (guru dan tenaga kependidikan lainnya), walaupun diakui bahwa komponen-komponen lain turut memberikan kontribusi dalam peningkatan mutu pembelajaran. Peningkatan sumber daya menusia telah banyak dilakukan pemerintah, terutama peningkatan kompetensi guru. Usaha ini berupa peningkatan kompetensi melalui pendidikan dan pelatihan, workshop atau bentuk lainnya.

Dalam aspek perencanaan misalnya, guru dituntut untuk mampu mendesain perencanaan yang memungkinkan secara terbuka siswa dapat belajar sesuai dengan minat dan bakatnya., seperti kemampuan merumuskan tujuan pembelajaran, kemampuan menyusun dan menyajikan materi atau pengalaman belajar siswa, kemampuan untuk merancang desian pembelajaran yang tepat sesuai dengan tujuan yang akan dicapai, kemampuan menentukan dan memanfaatkan media dan sumber belajar, serta kemampuan menentukan alat evaluasi yang tepat untuk mengukur keberhasilan proses pembelajaran.

Disamping itu, peningkatan profesionalisme guru di kabupaten Dompu juga dilakukan melalui kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), atau pola-pola lain seperti, seminar , lokakarya atau workshop. Namun demikian hasil belajar siswa masih memprihatinkan dan sampai saat ini kenyataannya bahwa hasil evaluasi belajar yang dicapai di kabupaten Dompu belum semuanya sesuai dengan standar minimal yang ditetapkan pemerintah.

Hal yang sama juga terjadi terhadap guru SMP/SMA/SMK di kabupaten Dompu. Pelatihan terhadap guru-guru tersebut telah banyak diikutkan dalam kegiatan diklat baik yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan kabupaten Dompu, LPMP, Bimtek KTSP-SSN oleh Direktorat Pembinaan SMA yang difasilitasi oleh Fasilitator Pusata maupun daerah, PPPPTK, dan lain sebagainya , namun hasil belajar siswa mereka masih dibawah standar yang diharapkan.

Pengamatan yang dilakukan peneliti , bahwa pada struktur program dalam panduan pelatihan yang disusun pada setiap kegiatan diklat atau workshop, masih didominasi oleh kegiatan menyusun administrasi pembelajaran, dan hanya sedikit kegiatan yang membimbing guru dalam penguasaan materi serta penggunaan model-model pembelajaran CTL serta keterampilan menggunkan media pembelajaran yang sesuai. Disamping itu, pada umumnya para guru yang telah mengikuti diklat atau workshop jarang mensosialisasikan hasil-hasil diklatnya kepada rekan-rekan mereka di sekolah. Hal ini terjadi karena kepala sekolah mereka jarang memberi kesempatan untuk mensosialisasikan program tindak lanjut hasil diklat kepada rekan-rekannya di sekolah.

Berdasarkan hal tersebut, Nawawi (1993) menyatakan bahwa ” program kelas tidak akan berarti bilamana tidak terwujudkan menjadi kegiatan. Untuk itu peranan guru sangat menentukan karena kedudukannya sebagai pemimpin pendidikan di antara peserta didik dalam suatu kelas”. Guru bertanggung jawab untuk mengatur, mengarahkan dan menciptakan suasana yang dapat mendorong peserta didik untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan di dalam kelas.

Untuk menunjang tugas tersebut maka guru perlu ditunjang dengan kemampuan profesional yang memadai. Guru yang profesional adalah guru yang menguasai kurikulum, menguasai materi pelajaran, menguasai model-model dan atau metode-metode pembelajaran, menguasai penggunaan media pembelajaran, menguasai teknik penilaian pembelajaran, dan komitmen terhadap tugas. Dengan demikian diharapkan proses pembelajaran yang dilaksanakan guru, dapat dicapai tanpa pemborosan waktu, tenaga, material, finansial, dan bahkan pemikiran sehingga pada gilirannya tujuan sekolah dapat dicapai secara efektif dan efisien.

Beeby (1987) menyatakan bahwa pelajaran-pelajaran yang diberikan guru amat kurang sekali variasinya, dan dengan sedikit kekecualian, pola yang sama telah menjadi standar di ulang-ulang sepanjang jam pelajaran sekolah. Kadang-kadang guru mulai mengajar dengan hanya mendiktekan saja pelajarannya dan jika masih ada waktu baru memberikan penjelasan sekedarnya tidak mencerminkan pembelajaran CTL apa lagi tanpa variasi dengan penggunaan media yang sesuai maupun sumber-sumber belajar yang memadai. Apabila kebiasaan seperti itu tetap dipraktekan oleh para guru di kelas selama proses pembelajaran, maka dapat dipastikan bahwa peningkatan mutu pendidikan akan sulit dicapai.

Guru dikatakan tidak saja semata-mata sebagai pengajar (transfer of knowledge), tetapi pendidik (transfer of value) dan sekaligus sebagai pembimbing yang memberikan penghargaan dan menuntun murid dalam belajar (Sardiman, 1990). Para pakar pendidikan seringkali menegaskan bahwa guru adalah sumber daya manusia yang sangat menentukan keberhasilan program pendidikan. Pada umumnya kegiatan guru hanya mentrasfer pengetahuan atau pengalamannya dengan sedikit memberi kesempatan siswa untuk berdiskusi dan diakhiri dengan pemberian tugas atau latihan tanpa menggunakan media dan sumber belajar yang memadai.

Setelah ditelusuri melalui pengamatan atau dialog peneliti dengan beberapa guru , faktor penyebabnya adalah kebanyakan guru-guru kurang menguasai pembelajaran CTL dan ketrampilan penggunaan media serta sumber belajar yang ada sehingga pembelajaran yang mereka laksanakan masih didominasi dengan cara mentrasfer dari pada menciptakan pembelajaran yang memberi kesempatan siswa untuk mengkonstruksi pengetahuannya.

Bettencourt,1989 dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (2006) menyatakan “Konsep keilmuan tidak dapat ditransfer oleh guru kepada siswa melainkan siswa itu sendiri yang mengkonstruksinya dari data yang diperoleh melalui pancaindranya”.

Berdasarkan uraian di atas, tampak bahwa model dan strategi pembelajaran yang tepat akan berdampak positif bagi siswa. Namun kenyataan yang ada pada semester 2 thn 2010/2011 menunjukkan hal yang terbalik. Dari hasil supervisi menunjukkan bahwa 90 % guru masih banyak yang belum menggunakan strategi pembelajaran yang tepat sesuai dengan karaketristik siswa dan situasi kelas. Bila ditelusuri lebih lanjut, faktor yang meyebabkan guru belum mampu melaksanakan strategi pembelajaran dengan tepat karena kinerja menyusun desain model pembelajaran CTL belum optimal, bahkan ada yang tidak membuat. Penerapan model CTL pembelajaran sangat penting, karena perencanaan yang baik berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Oleh karena itu diperlukan adanya perubahan paradigma dalam melaksanakan pembelajaran yang semula guru berpikir bagaimana mengajar menjadi berpikir bagaimana siswa belajar.

Untuk mengatasi hal tersebut di atas, maka peneliti berkeinginan membantu guru di Kabupaten Dompu untuk meningkatkan kemampuan mereka menyusun model-model dan ketrampilan menggunakan media Pembelajaran Melalui kegiatan Pelatihan model ”Kelasmen”

Berdasarkan latar belakang masalah yang dipaparkan di atas maka dapat di rumuskan permasalahan dalam penelelitian ini yaitu :
1. Bagaimanakah meningkatkan kemampuan guru dalam mendesain model-model pembelajaran CTL melalui pelatihan model ”Kelasmen”?
2. Apakah setelah mengikuti Pelatihan model ”Kelasmen” dapat meningkatkan kinerja guru dalam menggunakan model pembelajaran CTL ?

Berbagai upaya pemecahan masalah yang telah dilakukan untuk meningkatkan kinerja guru dalam mendesain model pembelajaran CTL, antara lain memperdalam pengetahuan bidang studi yang harus dikuasi guru, memperdalam pengetahuan tentang model dan strategi pembelajaran dan syarat-syarat pembuatan model pembelajaran CTL dan lain sebagainya. Namun fokus perbaikan yang dilakukan untuk pemecahan masalah dalam penelitian ini adalah meningkatkan kinerja guru dalam mendesain dan mengunakan model pembelajaran melalui kegiatan Pelatihan Model Klasemen dengan langkah –langkah sebagai berikut :
1. Melalui pelatihan model klasemen ini diberikan pembekalan dan bimbingan teknis pembuatan desain model pembelajaran CTL .
2. Pada proses perkembangan kinerja menyusun dan mendesain model pembelajaran CTL, dilakukan perbaikan-perbaikan terhadap draf-draf awal suatu model pembelajaran.
3. Mendiskusikan hasil evaluasi kegiatan pembelajaran dan memberikan refleksi terhadap semua kegiatan yang sudah dilakukan
4. Dengan adanya refleksi atau umpan balik dari fasilitator dan guru-guru sejenis diharapkan ada motivasi sehingga kinerja guru dalam menyusun desain model pembelajara CTL dapat ditingkatkan.
5. Merevisi perencanaan siklus berikutnya berdasarkan hasil yang diperoleh pada siklus sebelumnya.

Dari latar belakang masalah, rumusan masalah, dan pemecahan masalah yang telah dipaparkan di atas maka hipoetesis tindakan dapat dirumuskan sebagai berikut.
”Kemampuan guru menggunakan model pembelajaran CTL dapat di tingkatkan melalui pelatihan model ”Klasemen”, dengan demikian dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa.”.

Sesuai dengan permasalahan di atas, maka tujuan penelitian ini ingin mengetahui dan mendiskripsikan :
1. Peningkatkan kemampuan guru dalam mendesaian model-model pembelajaran CTL melalui pelatihan model ”Kelasmen di SMA binaan Kabupaten Dompu
2. Peningkatan kemampuan guru dalam menggunakan model pembelajaran CTL melalui pelatihan model ”Kelasmen di SMA binaan Kabupaten Dompu
3. Respon guru setelah diterapkannya kegiatan Pelatihan Model Klasemen dalam kaitanya dengan kemapuan dalam menggunakan model pembelajaran CTL.

Sejalan dengan tujuan penelitian yang dilakukan maka Manfaat Penelitian ini yaitu :
1. Melalui workshop kegiatan Pelatihan Model Klasemen dapat memberikan pengalaman belajar bagi guru, untuk menemukan model pembelajaran sesuai dengan karaketristik siswa dan situasi kelas yang ada.
2. Guru, memiliki kemampuan dalam mendesai model-model pembelajaran CTL sehingga dapat dijadikan alternatif bagi guru sehingga tercipta suasana belajar yang kondusif dalam upaya peningkatan prestasi belajar siswa.
3. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai alternatif untuk meningkatkan kemampuan guru menggunakan model-model pembelajaran CTL serta didukung oleh keterampilan menggunakan media pembelajaran yang sesuai

Kerangka Berpikir

Dalam kaitannya dengan pembinaan kemapuan guru melalui pelatihan model Klasemen , maka Amstrong (1990: 209) bahwa tujuan pelatihan atau workshop adalah untuk memperoleh tingkat kinerja yang diperlukan dalam pekerjaan mereka dengan cepat dan ekonomis dan mengembangkan kinerja-kinerja yang ada sehingga prestasi mereka pada tugas yang sekarang ditingkatkan dan mereka dipersiapkan untuk menerima tanggung jawab yang lebih besar di masa yang akan datang. Siswanto (1989: 139) mengatakan pelatihan atau workshop bertujuan untuk memperoleh nilai tambah seseorang yang bersangkutan, terutama yang berhubungan dengan meningkatnya dan berkembangnya pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang bersangkutan. pelatihan atau Workshop dimaksudkan untuk mempertinggi kinerja dengan mengembangkan cara-cara berpikir dan bertindak yang tepat serta pengetahuan tentang tugas pekerjaan termasuk tugas dalam melaksanakan evaluasi diri (As’ad, 1987: 64).

Dari paparan di atas, menunjukkan bahwa peningkatan kemapuan guru dalam mendesain serta menggunakan model pembelajaran CTL melalui kegiatan pelatihan model kelasemen yang lebih menekankan pada metode kolaboratif konsultatif akan memberikan kesempatan sharing antara satu guru dengan guru lain. Dengan demikian, pemahaman terhadap model atau strategi pembelajaran CTL dapat ditingkatkan baik dalam teoretisnya maupun implementasinya. Dengan demikian dapat diduga bahwa melalui workshop Pelatihan model kelasemen dapat meningkatkan kemapuan guru mendesain dan menggunkana model pembelajaran CTL.

II.METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research) yang bertujuan untuk meningkatkan kemapuan guru menggunakan model pembelajaran CTL melalui diklat model klasmen di sekolah binaan penulis di Kabupaten Dompu. Tindakan yang dilakukan adalah workshop diklat model klasmen penyusunan model pembelajaran CTL. Jenis penelitian tindakan yang dipilih adalah jenis emansipatori. Jenis emansipatori ini dianggap paling tepat karena penelitian ini dilakukan untuk mengatasi permasalahan pada wilayah kerja peneliti sendiri berdasarkan pengalaman sehari-hari. Dengan kata lain, berdasarkan hasil observasi, refleksi diri, guru bersedia melakukan perubahan sehingga kinerjanya sebagai pendidik akan mengalami perubahan secara meningkat.

Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan model Kemmis dan Taggart yang terdiri dari atas empat langkah, yakni: perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi (Wardhani, 2007: 45 dan Suharsimi Arikunto, 2006:93) . Model ini dipilih karena dalam pembelajaran selalu diawali dengan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Dalam Penelitian ini akan dilaksanakan dalam dua siklus, dan langkah-langkah dalam setiap siklus meliputi perencanaan, pelaksnaan tindakan, observasi, dan refleksi.

Penelitian ini dilaksanakan pada semester gazal tahun 2011/2012 selama empat bulan mulai dari bulan agustus sampai bulan desember mulai dari persipan penyusunan proposal sampai dengan pembuatan laporan yang disesuaikan dengan jadwal KTI-Online P4TK TK dan PLB Bandung Tahun 2011 , dengan subjek penelitian guru-guru yang hadir sebanyak 76 orang, yang terbagi atas dua wilayah . Wilayah A ( guru-guru SMP dan SMA Kecamatan Dompu,Woja dan Pajo yang berjumlah 42 orang. Wilayah B ( Guru-guru SMP, SMAN dan SMK di Kec. Kempo dan Manggelewa Manggelewa yang berjumlah 34 orang, Sedangkan yang menjadi objek penelitian adalah kemapuan guru dalam mendesain , menggunakan model pembelajaran CTL. Di samping itu, dari hasil supervisi ditemukan kelemahan guru dalam mendesain dan menggunakan model pembelajaran dalam peroses pembelajaran di kelas.

Tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:
(1) Tahap refleksi awal, (2) Tahap perencanaan, (3) Tahap pelaksanaan tindakan, (4) Tahap observasi dan (5) Tahap refleksi.

Uraian masing-masing tahap dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

(1).Refleksi Awal : Pada tahap refleksi awal kegiatan yang dilakukan peneliti adalah dialog dengan kepala sekolah dan guru tentang kemampuan mereka menggunakan model pembelajaran CTL dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.

(2).Tahap Perencanaan : Pada tahap perencanaan, beberapa kegiatan yang dilakukan adalah adalah menyusun struktur program pelatihan, menyiapkan bahan-bahan pelatihan, menyiapkan alat/media pembelajaran yang dibutuhkan dalam pelatihan, menyusun instrumen pengamatan peserta dan fasilitator, menyusun jadwal kegiatan pelatihan, menyampakan informasi tertulis kepada guru agar membawa bahan-bahan seperti; kurikulum, silabus, RPP bahan ajar, Laptop dan sebagainya.. Penelitian ini terlaksana sebanyak dua siklus, yaitu siklus kesatu melaksanakan tindakan pelatihan dengan menggunakan metode pembelajaran deduktif. Siklus kedua melaksanakan tindakan pelatihan dengan menggunakan metode pembelajaran induktif

(3).Tahap Pelaksanaan Tindakan : Pelaksanaan tindakan yang dimaksudkan adalah melaksanakan pelatihan sesuai rencana dengan skenario sebagai berikut :
Tahap Pertama :menerapkan pelatihan model “Kelasmen” dengan menggunakan metode deduktif yaitu peserta diberikan pemahaman penggunaan model pembelajaran secara teoritis (enactive, iconic) kemudian peserta mendiskusikan dan menggunakannya dalam pembelajaran dikelompok masing-masing
Tahap Kedua : Menerapkan Pelatihan model “Kelasmen” dengan menggunakan metode induktif yaitu peserta diminta menggunakan model pembelajaran dan menjelaskan cara menggunakannya pada peserta lain.( Pada dasarnya tahapan kedua memiliki prosedur yang sama dengan tahapan pertama , hanya saja diadakan perbaikan pada hal-hal yang dilihat ada kelemahan serta mempertahankan hal-hal yang sudah berjalan dengan baik. Tidak menutup kemungkinan juga dilakukan modifikasi terhadap hal-hal sudah baik supaya tindakan yang diberikan tidak membosankan).

(4). Observasi : Kegiatan observasi adalah mengamati aktivitas peserta diklat dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan dan dilakukan oleh teman sejawat

Aspek yang diobservasi terhadap pelaksanaan dan hasil pemberian tindakan, sebagai berikut.
a) Aspek yang di Observasi pada Proses Pelaksanaan Workshop yaitu kesiapan mental dan fisik guru, kesiapan bahan , kehadiran peserta dan kesiapan Laptop dengan kriteri (S = siap, TS= tidak siap , H= hadir, dan TH= tidak hadir).
b). Aspek yang di observasi pada mendesain Model Pembelajaran yaitu :kesesuaian dengan format, relefansi antara waktu dengan bahan ajar, pebukaan, inti , penutup, alat/ bahan/suber belajar , penilaian, dan kesan umum desain model pembelajaran CTL yang dibuat .

(5). Refleksi : Pada kegiatan refleksi, peneliti melakukan diskusi dengan pengamat untuk menjaring hal-hal yang terjadi sebelum dan selama tindakan berlangsung berdasarkan hasil pengamatan, catatan lapangan, dan hasil wawancara dengan subyek penelitian agar dapat diambil kesimpulan dalam merencanakan tindakan selanjutnya.

Sumber data dalam penelitian ini adalah guru yang mengajar di kelas X ,XI dan XII . Sedangkan data penelitian adalah data kualitatif yang diperoleh dari :
1. Pengamatan Partisipatif: Pengamatan partisipatif dilakukan oleh orang yang terlibat secara aktif dalam proses pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar pengamatan. Hasil pengamatan digunakan untuk menilai keaktifan peserta dalam mengikuti diklat dan kontribusinya dalam membantu teman sejawat menyelesaikan masalah
2. Keterampilan mendesain model pembelajaran CTL: Untuk menilai kemampuan peserta mendesain model pembelajaran dan menggunakan lingkungan sekitar sesuai mata diklat
3. Keterampilan menggunakan model pembelajaran CTL: Untuk menilai keterampilan peserta diklat dalam mengimplementasikan model pembelajaran CTL
4. Wawancara: Wawancara dimaksudkan untuk menggali kesulitan peserta dalam mendesain dan mnggunakan model pembelajaran CTL

Moleong (1999 :190) menyatakan bahwa proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber yaitu dari wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar, foto dan sebagainya.
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis data kualitatif yaitu analisis berdasarkan penalaran logika. Analisis tersebut digunakan atas pertimbangan bahwa, jenis data yang diperoleh berbentuk kalimat-kalimat dan aktivitas-aktivitas peserta diklat. Sedangkan Analisis Kuantitatif digunakan untuk menghitung besarnya peningkatan kemampuann guru melalui pelatihan model Klasemen dengan menggunakan prosentase ( % ).

Indikator Keberhasilan Proses Pelaksanaan pelatihan model kelasemen , guru minimal: Siap secara mental dan fisik = 85%, Kesiapan bahan = 85%, Kehadiran = 90%, Kesiapan laptop = 60 %. Sedangan indikator keberhasilan Hasil Pelaksanaan Pelatihan: 85% guru mendesain model pembelajaran CTL sesuai dengan format yang relevan dengan kondisi pembelajaran., 85% guru memperoleh skor baik dan sangat baik pada aspek relevansi antara waktu dengan bahan ajar, 85 % guru pada aspek pembukaan dalam kategori baik dan sangat baik, 85 % guru pada aspek kegiatan inti dalam kateori baik dan sangat baik., 85 % guru pada aspek kegiatan penutup (kesimpulan, pos-test dan waktu) dalam kategori baik dan sangat baik. Apabila kurang dari 85% guru tidak mememenuhi indikator keberhasilan yang telah ditetapkan, berarti tindakan dianggap belum berhasil. Oleh karena itu perlu dilakukan perbaikan dan dilaksanakan pada siklus berikut,.

Secara umum Pelaksanaan Pelatihan dapat di jelaskan sebagai berikut :
Fase 1 : Orientasi peserta kepada masalah : Agar kegiatan peserta berorientasi kepada masalah, maka perencanaan pelatihan yang dirancang dan dimulai dari kegiatan penetapan tujuan yang jelas, kemudian merancang situasi masalah yang akan diselesaikan peserta, dan mengorganisasikan sumber daya serta rencana logistik yang digunakan.
a. Penetapan tujuan: Dalam pelaksanaannya, pelatihan model ”Kelasmen” diarahkan untuk mencapai tujuan yang sifatnya membantu peserta mengembangkan ketrampilan berpikir dan pemecahan masalah, dan menjadi peserta yang mandiri
b. Merancang situasi :Pelatihan model ”Kelasmen” dirancang untuk memberi keleluasaan kepada peserta memilih masalah untuk diselidiki dan dicoba, karena cara ini dapat meningkatkan motivasi peserta. Masalah yang dirancang sebaiknya authentik, mengandung teka-teki, memungkinkan kerjasama,
c. Organisasi sumber daya dan rencana logistik :Dalam pelatihan
model “Kelasmen” peserta belajar dengan berbagai sarana, material, atau peralatan. Pelaksanaannya dapat dilakukan di kelas, di laboratorium, di perpustakaan atau di luar kelas bahkan di luar tempat pelatihan. Oleh karena itu pengorganisasian sumber daya dan logistik menjadi tugas fasilitator yang utama dalam merancang pelatihan model “Kelasmen”

Fase 2 : Mengorganisasikan peserta untuk belajar :Pelatihan model ”Kelasmen” dibutuhkan pengembangan ketrampilan kerjasama dalam melakukan sesuatu untuk memecahkan masalah. Untuk itu perlu bantuan fasilitator dalam merencanakan dan mengorganisasikan tugas-tugas peserta, sehingga diperlukan kelompok belajar kooperatif. Pengorganisasian peserta dalam kelompok ini memperhatikan kemampuan/keterampilan akademik peserta,

Fase 3 : Membimbing peserta secara individu maupun kelompok
Pada fase ini fasilitator membantu peserta mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, dilatih dengan berbagai pertanyaan untuk membantu peserta memikirkan suatu tindakan untuk memecahkan masalah. Disamping itu fasilitator mendorong peserta untuk melakukan sesuatu dengan menggunakan material manipulatif, gambar-gambar atau simbol-simbol untuk memecahkan masalah

Fase 4 : Menjelaskan atau mengkomunikasikan hasil
Fasilitator mendorong terjadinya pertukaran informasi atau ide secara bebas dalam melatih peserta mengkomunikasikan konsep yang dimiliki sehingga terciptanya kemampuan peserta menjelaskan konsep menggunakan model pembelajaran CTL dengan media/sumber pada peserta lain.

Fase 5 : Mengembangkan masalah dalam bentuk-bentuk lain
Fasilitator mendorong dan membimbing peserta mengembangkan masalah dengan cara menyajikan dalam bentuk lain.

Fase 6 : Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalahTugas fasilitator pada fase akhir ini adalah membantu peserta menganalisis dan mengevaluasi proses berpikir mereka sendiri, dan ketrampilan penyelidikan yang mereka gunakan.

III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Kondisi Awal

Gambaran hasil yang didapat berdasarkan rekaman fakta/observasi di lapangan, para guru .pada awalnya pemahaman terhadap model pembelajaran CTL beserta strategi pelaksanaannya sangat kurang, hal ini dikarenakan persepsi guru menganggap bahwa model dan strategi pembelajaran tidak terlalu penting, penyusuanan model strategi pembelajaran hanya merupakan persyaratan administrasi sehingga model pembelajaran CTL yang dibuat tidak sesuai dengan karakatristik mata pelajaran dan siswa.

Demikian pula tampak jelas, kinerja guru dalam mendesain model dan strategi pembelajaran CTL hanya didasari oleh contoh-contoh yang ada tanpa menganalisis secara kritis berdasarkan standar yang ada sehingga kualitas model pembelajaran CTL jauh dari apa yang diharapkan. Hampir semua guru ditemukan kurang paham semua aspek yang ada dalam mendesaian model pembelajaran CTL. Kesalahan umum yang tampak adalah: (1) guru belum mampu menyusun tujuan pembelajaran, (2) guru belum mampu menguraikan materi ajar dengan baik, (3) guru belum mampu membuat langkah-langkah pembelajaran sesuai metode pembelajaran yang dituliskan, (4) guru belum mampu membuat penilaian sesuai dengan metode yang digunakan, dan (5) guru belum mampu memanejemen waktu baik dalam kegiatan awal, inti dan penutup.

Dengan kondisi awal seperti kesan umum masih jauh dari standar yang di harapkan. Sehingga ini perlu adanya tindakan nyata yang diharapkan mampu meningkatkan kinerja guru dalam mendesain model strategi pembelajaran CTL, yakni berupa pelatihan model “Klasemen” .

B. Deskripsi Hasil Tindakan Siklus I

Pada tahap ini melaksanakan pelatihan model “klasemen” dengan menggunakan metode deduktif sesuai rencana dan skenario yang telah di siapkan . Pengamatan terhadap pelaksanaan tindakan, yaitu menitikberatkan pada kompetensi guru dalam menyusun scenario model pembelajaran CTL sebagai akibat diterapkan diklat workshop model ‘Klasemen’. Tujuan dilaksanakan pengamatan adalah untuk mengetahui kegiatan yang mana patut dipertahankan, diperbaiki, atau dihilangkan sehingga kegitan pembinaan melalui pelatihan model Klasemen benar-benar berjalan sesuai dengan tujuan dan mampu meningkatkan kinerja guru dalam mendesain model pembelajaran CTL.

Kegiatan peserta juga diobservasi, baik menyangkut kesiapan mental dan fisik guru, kesiapan bahan-bahan yang dibawa guru pada waktu diklat workshop, kehadiran guru, kesiapan laptop, kualitas scenario model strategi pembelajaran, dan respon guru .
Dari hasil pengamatan terhadap aktivitas peserta dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan, diperoleh data sebagai berikut.

Tabel 1. Hasil Observasi Kesiapan Guru Siklus I
Aspek yang Diamati
Kesiapan mental dan fisik guru Kesiapan bahan Kehadiran Guru Kesiapan Laptop
S TS S TS H TH S TS
Jumlah 67 16 49 27 76 7 11 65
Persentase (%) 78.95 19.28 64.47 35.53 91.57 9.21 14.47 85.53
Pencapaian indiaktor keberhasilan Belum tercapai Belum tercapai Sudah
Tercapai Belum
Tercapai

Keterangan: S = siap, TS= tidak siap, H= hadir, TH= tidak hadir
Dari Tabel 1. di atas, diperoleh data pada aspek kesiapan mental dan fisik; 67 orang atau 78,95% peserta siap dan 16 orang atau 19,28% tidak siap. Pada aspek kesipan bahan; tampak bahwa 49 orang guru atau 64,47% siap dan 27 orang guru atau 35,53% belum siap. Pada aspek kehadiran guru tampak bahwa dari 83 orang guru yang direncanakan untuk pembinaan ,ternyata yanh hadir 76 orang atau 91,57% dan 7 orang guru atau 9,21% tidak hadir. Pada aspek kesiapan laptop tampak bahwa 11 orang atau 14,47% siap dan 65 orang guru atau 85,53% belum siap. Berdasarkan dekripsi ini tampaknya kesiapan guru dalam mengikuti worksop belum memenuhi kriteria keberhasilan untuk semua aspek.
Dari hasil evaluasi terhadap desain model pembelajaran CTL yang dibuat oleh guru untuk Wilayah A dan B setelah diadakan pelatihan model “Klasemen” pada tahap awal (siklus I) diperoleh kinerja guru mendesain model pembelajaran CTL seperti tampak pada Tabel 2. berikut.

Tabel 2. Kinerja Guru Mendesain Model pembelajaran CTL Siklus I
Aspek yang Dinilai Skor
1 2 3 4
Jml % Jml % Jml % Jml %
Format 13 17.11 13 17.11 31 40.79 19 25.00
Relevansi 5 6.58 18 23.68 42 55.26 11 14.47
Pembukaan 7 9.21 15 19.74 35 46.05 21 27.63
Inti 6 7.89 14 18.42 40 52.63 16 21.05
Penutup 3 3.95 10 13.16 33 43.42 30 39.47
Alat/Bahan/Sumber 6 7.89 17 22.37 41 53.95 12 15.79
Penilaian 5 6.58 39 51.32 32 42.11 0 0.00
Kesan Umum 13 17.11 13 17.11 50 65.79 0 0.00
Keterangan: 4 = sangat baik 2 = cukup , 3 = baik, 1 = tidak baik
Pada Tabel 2. di atas, terlihat bahwa pada aspek format; 13 orang guru atau 17,11 % guru dalam kategori tidak baik, 13 orang guru atau 17,11% tergolong cukup, 31 orang atau 40,79% tergolong baik dan 19 orang guru atau 25,00% tergolong sangat baik. Bila dijumlahkan antara yang berkategori baik dan sangat baik mencapai 50 orang guru atau 65,79%. Pada aspek relevansi antara waktu dengan bahan ajar, tampak bahwa 5 orang guru atau 6,58% tergolong tidak baik, 18 orang guru atau 23,68% tergolong cukup, 42 orang atau 55,26% tergolong baik dan 11 orang atau 14,47% tergolong sangat baik. Bila dijumlahkan antara yang baik dan sangat baik mencapai 53 orang atau 69,74%. Pada aspek pembukaan; 7 orang guru atau 9,21% guru dalam kategori tidak baik, 15 orang guru atau 19,74% tergolong cukup, 35 orang atau 46,05% tergolong baik dan 21 orang atau 27,63% tergolong sangat baik. Bila dijumlahkan antara yang berkategori baik dan sangat baik mencapai 55 orang atau 72,37%. Pada aspek inti pembelajaran; 6 orang atau 7,89% guru dalam kategori tidak baik, 14 orang atau 18.42% tergolong cukup, 40 orang atau 52.63% tergolong baik dan 16 orang atau 21.05% tergolong sangat baik. Bila dijumlahkan antara yang berkategori baik dan sangat baik mencapai 56 orang atau 73,68%. Pada aspek penutup pembelajaran; 1 orang atau 3.95% guru dalam kategori tidak baik, 10 orang atau 13.16% tergolong cukup, 33 orang atau 43.42% tergolong baik dan 30 orang atau 39.47% tergolong sangat baik. Bila dijumlahkan antara yang berkategori baik dan sangat baik mencapai 43 orang atau 56,58%. Berdasarkan dekripsi pada tabel 1 dan 2 tampaknya kinerja guru mendesain dan menerapkan model pembelajaran CTL para guru belum memenuhi indikator kinerja yang telah ditetapkan pada semua aspek, baik menyangkut kesiapan maupun kinerja guru mendesai model pembelajaran CTL.

Dari hasil yang diperoleh menunjukkan kinerja guru dalam mendesain model pembelajaran CTL pada siklus I belum menunjukkan hasil sesuai dengan indikator kinerja yang telah ditetapkan. Setelah diadakan refleksi terhadap hasil yang diperoleh, diputuskan untuk memperbaiki terutama memperjelas tentang aspek-aspek yang belum sesuai dengan indikator kinerja yang telah ditetapkan. Dari hasil tersebut tampaknya secara umum guru membuat desain model pembelajaran tidak sesuai dengan format terutama dalam hal waktu. Demikian pula halnya dengan kegiatan awal, belum menunjukkan proporsi waktu yang sesuai, guru belum jelas membedakan mana kegiatan awal, inti dan penutup.

Terkait dengan kesiapan guru, ditemukan bahwa guru belum menyadari bahwa pentingnya desain model strategi pembelajaran CTL. Selain itu guru belum lengkap memiliki silabus, RPP, dan bahan ajar. Terkait dengan kesiapan laptop, guru kebanyakan tidak memiliki; alternatif solusinya adalah meminjamkan pada sekolah lain atau memanfaatkan komuter yang ada di sekolah. Berdasarkan hasil refleksi itu, itu diputuskan untuk memantapkan kegiatan pembinaan lebih memfokuskan pada aspek-aspek yang belum memenuhi indikator kinerja yang telah ditetapkan.

Dari masalah tersebut, diputuskan untuk memperbaiki beberapa langkah dalam siklus I, yakni memfokuskan pada penjelasan tentang format dan aspek penilaian dalam kaitannya dengan mendesain model pembelajaran. Langkah-langkah ini dijalankan pada siklus II dengan tetap mempertahankan kegiatan yang lain yang sudah dianggap baik. Untuk meningkatkan kesiapan guru, fasilitator memberikan kesadaran bahwa betapa penting perencanaan pembelajaran yang dibuat guru sebelum melaksanakan pembelajaran. Yang berbasis CTL

C. Deskripsi Hasil Tindakan Siklus II

Pada siklus II, menerapkan Pelatihan model “Kelasmen” dengan menggunakan metode induktif. Sesuai dengan refleksi hasil siklus I , langkah-langkah yang diambil pada dasarnya memiliki prosedur yang sama dengan siklus I, hanya saja diadakan perbaikan pada hal-hal yang dilihat ada kelemahan serta mempertahankan hal-hal yang sudah berjalan dengan baik. dengan memfokuskan pada penjelasan aspek-aspek yang belum dipahami guru lebih menitikberatkan pada aspek pembimbingan secara individu dalam suatu kelompok. Kemudian peserta diminta menggunakan model pembelajaran dan melakukan presentasi visual untuk menjelaskan cara menggunakannya pada peserta lain dan kelompk lain meberikan tanggapan , masukan . Peneliti sebagai fasilitatot memberikan refleksi dan penguatan juga melakukan modifikasi terhadap hal-hal sudah baik supaya tindakan yang diberikan tidak membosankan.
Setelah siklus II dijalankan yang mengacu pada refleksi dan pemecahan masalah pada sikuls I diperoleh data seperti tampak pada Tabel 4.3 berikut.

Tabel 3. Hasil Observasi Kesiapan Guru Siklus II
Aspek yang Diamati
Kesiapan mental dan fisik guru Kesiapan bahan Kehadiran Guru Kesiapan Laptop
S TS S TS H TH S TS
Jumlah 76 0 73 3 76 0 60 16
Persentase (%) 100 0.00 96.05 3.95 100 0 78.95 21.05
Pencapaian indiaktor keberhasilan Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai

Keterangan: S = siap, TS= tidak siap, H= hadir, TH= tidak hadir

Dari Tabel 3 di atas, tampak bahwa: pada aspek kesiapan mental dan fisik; seluruh peserta 76 orang guru yang hadir atau 100% peserta siap. Pada aspek kesiapan bahan; tampak bahwa 73 orang guru atau 96,05% siap dan 3 orang atau 3,95% belum siap. Pada aspek kehadiran guru tampak bahwa 76 orang guru yang hadir pada siklus I masih sama pada siklus II atau 100% hadir atau 0,00% tidak hadir. Pada aspek kesiapan laptop tampak bahwa terjadi peningkatan yang signifikan yaitu 60 orang guru atau 78,95% siap dan 16 orang guru atau 21,05% tidak siap.Berdasarkan dekripsi ini tampaknya kesiapan guru dalam mengikuti pelatihan model Klasemen telah memenuhi kriteria keberhasilan untuk semua aspek. Namun belum sepenuhnya tercapai seratus persen.

Dari hasil evaluasi terhadap penyusunan desain model strategi pembelajaran CTL yang dibuat oleh guru setelah diadakan tindakan melalui peltihan model Klasemen pada siklus II diperoleh kinerja guru mendesain daan menerapkan model pembelajaran CTL seperti tampak pada Tabel 4. berikut.

Tabel 4. Kinerja Guru Menerapkan Model pembelajaran CTL
Siklus II
Aspek yang Dinilai Skor
1 2 3 4
Jml % Jml % Jml % Jml %
Format 0 0.00 3 3.9 30 39.5 43 56.6
Relevansi 0 0.00 5 6.58 37 48.68 34 44.74
Pembukaan 1 1.32 6 7.89 40 52.63 29 38.16%
Inti 0 0.00 2 2.63 37 48.68 37 48.68
Penutup 0 0.00 2 2.63 35 46.05 39 51.32
Alat/Bahan 0 0.00 7 9.21 35 46.05 34 44.74
Penilaian 0 0.00 9 11.84 36 47.37 31 40.79
Kesan Umum 0 0.00 2 2.63 20 26.32 54 71.05
Ket : 4 = sangat baik 2 = cukup, 3 = baik 1 = tidak baik
Dari Tabel 4. di atas, pada aspek format; tidak ada guru atau 0,00% guru dalam kategori tidak baik, 3 orang guru atau 3,9% tergolong cukup, 30 orang atau 39,5% tergolong baik dan 43 orang guru atau 56.6% tergolong sangat baik. Bila dijumlahkan antara yang berkategori baik dan sangat baik mencapai 73 orang guru atau 96,05%. Pada aspek relevansi antara waktu dengan bahan ajar, tampak bahwa 0 orang atau 0,00% tergolong tidak baik, 5 orang atau 6.58% tergolong cukup, 37 orang atau 48,68% tergolong baik dan 34 orang atau 44,74% tergolong sangat baik. Bila dijumlahkan antara yang baik dan sangat baik mencapai 71 orang atau 93,42%. Pada aspek pembukaan; 1 orang atau 1,32% guru dalam kategori tidak baik, 6 orang atau 7,89% tergolong cukup, 40 orang atau 52,63% tergolong baik dan 29 orang atau 38,16% tergolong sangat baik. Bila dijumlahkan antara yang berkategori baik dan sangat baik mencapai 69 orang atau 90,79%. Pada aspek inti pembelajaran; tidak ada atau 0,00% guru dalam kategori tidak baik, 2 orang atau 2,63% tergolong cukup, 37 orang atau 48,68% tergolong baik dan 37 orang atau 48,68% tergolong sangat baik. Bila dijumlahkan antara yang berkategori baik dan sangat baik mencapai 74 orang atau 97,37%. Pada aspek penutup pembelajaran; tidak ada orang atau 0,00% guru dalam kategori tidak baik, 2 orang atau 2,63% tergolong cukup, 35 orang atau 46,05% tergolong baik dan 39 orang atau 51,32% tergolong sangat baik. Bila dijumlahkan antara yang berkategori baik dan sangat baik mencapai 74 orang atau 97,37%. Demikian pula pada aspek Alat/Bahan/Sumber belajar , Penilaian dan kesan umum menunjukkan peningakatan yang sangat signifikan jauh di atas standar yang telah di tetapkan.

Berdasarkan dekripsi pada tabel 3. dan 4. tampaknya kinerja guru mendesain model pembelajaran para guru sudah memenuhi indikator kinerja yang telah ditetapkan pada semua aspek, baik menyangkut kesiapan maupun kinerja menyusun desain model strategi pembelajaran CTL . Dengan hasil seperti itu, berarti tindakan yang diberikan efektif dalam meningkatkan kinerja guru dalam menyusun desain model pembelajaran CTL.

Penilaian Respon Guru terhadap desain model Pembelajaran melalui pelatihan ini penting dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang respon guru terhadap kegiatan pelatihan yang telah diterapkan . Ternyata hasil observasi menunjukan bahwa guru merespon positif terhadap kegiatan tersebut, maka kegiatan tersebut perlu dilanjutkan dalam kegiatan-kegiatan yang lain.

D. Pembahasan Hasil Penelitian
Berdasarkan analisis dan pembahasan seperti yang telah dipaparkan pada bagian sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan aktivitas peserta dalam kegiatan penyususnan desain model pembelajaran CTL bagi guru di Kabupaten Dompu melalui pelatihan model ”klasemen”. Di samping itu juga, terjadi peningkatan kinerja guru dalam menyusun desain model pembelajaran CTL melalui pelatihan model Klasemen dari siklus I ke siklus II pada masing-masing aspek dengan target ketercapaian sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melalui pelatihan model Klasemen dapat meningkatkan kinerja guru dalam mendesai model pembelajaran guru di di kabupaten Dompu .

Keberhasilan tindakan ini disebabkan oleh pemahaman secara menyeluruh tentang model pembelajaran CTL sangat diperlukan. Dengan pemahaman yang baik, maka model pembelajaran CTL dapat disusun dengan baik. Mengoptimalkan pemahaman guru terhadap model pembelajaran CTL melalui pembinaan intensif dalam bentuk penyelenggaraan pelatihan model Klasemen menunjuk pada metode kooperatif konsultatif dimana diharapkan para guru berdiskusi, bekerja sama dan berkonsultasi secara aktif, serta presentasi visual . Aktivitas ini akan sangat membantu mereka dalam memahami konsep-konsep dasar penyusunan model pembelajaran CTL serta pada akhirnya nanti mereka mampu menyusun model dan strategi pembelajaran CTL dengan baik dan benar.

Dalam kaitannya dengan pembinaan melalui pelataiahan model Klasemen , maka penelitian ini juga sesuai dengan apa yang dikatakan Amstrong (1990: 209) bahwa tujuan pelatihan adalah untuk memperoleh tingkat kinerja yang diperlukan dalam pekerjaan mereka dengan cepat dan ekonomis dan mengembangkan kinerja-kinerja yang ada sehingga prestasi mereka pada tugas yang sekarang ditingkatkan dan mereka dipersiapkan untuk menerima tanggung jawab yang lebih besar di masa yang akan datang. Siswanto (1989: 139) mengatakan pelatihan bertujuan untuk memperoleh nilai tambah seseorang yang bersangkutan, terutama yang berhubungan dengan meningkatnya dan berkembangnya pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang bersangkutan. Pelatihan dimaksudkan untuk mempertinggi kinerja dengan mengembangkan cara-cara berpikir dan bertindak yang tepat serta pengetahuan tentang tugas pekerjaan termasuk tugas dalam melaksanakan evaluasi diri (As’ad, 1987: 64).

Dari paparan di atas, menunjukkan bahwa peningkatan kemapuan guru melalui kegiatan pelatihan model Klasemen yang lebih menekankan pada metode kolaboratif konsultatif akan memberikan kesempatan sharing antara satu guru dengan guru lain. Dengan demikian, pemahaman terhadap model pembelajaran CTL dapat ditingkatkan baik dalam teoretisnya maupun implementasinya.

IV. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A.Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tindakan di atas, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut :
1. Pelatihan Model Klasemen dapat memberikan pengaruh terhadap peningkatan kemampuan dan kinerja guru dalam menyususun, mendesain dan menggunakan model pembelajaran CTL di Kabupaten Dompu,
2. Peningkatan kemampuan dan kinerja guru dalam menyususun, mendesain dan menggunakan model pembelajaran CTL berdampak pada peningkatan hasil belajar siswa di Kabupaten Dompu.
3. Guru memberikan respon sangat positif terhadap kegiatan penyusuan model pembelajaran CTL melalui pelatihan model Klasemen. Dengan demikian kegiatan pelatihan model klasemen memberikan dampak positif terhadap kinerja guru dalam menyusun , mendesain model pembelajaran CTL.

A. Rekomendasi

Berdasarkan hasil penelitian, hal-hal yang disarankan adalah sebagai berikut:
1. Pelataihan Model Klasemen dapat dilakukan oleh pengawas sekolah terhadap guru- guru , khususnya guru mata pelajaran,
2. Dalam pembelajaran guru perlu diarahkan untuk merencanakan RPP model pembelajaran yang berbasis CTL dengan berbagai pendekatan dan strategi yang inovatif, , serta menyiapkan media dan sumber belajar dengan baik.
3. Persiapan guru dalam perencanaan model pembelajaran CTL , khususnya dalam hal media dan sumber belajar, perlu difasilitasi oleh sekolah sehingga media dan sumber belajar yang dipersiapkan dapat lebih optimal
4. Guru sebaiknya menyusun model pembelajaran CTL berdasarkan kebutuhan siswa dan memperhatikan proporsi waktu yang ada dan tidak hanya mencontoh strategi pembelajaran yang telah ada,
5. Agar pembinaan melalui workshop model pelatihan Klasemen dapat berjalan secara efektif, maka semua guru harus mampu bekerjasama dengan peserta lain yang bersifat kolaboratif konsultatif,
6. Peningkatan kinerja guru dalam menyusun dan menggunakan model pembelajaran CTL akan berjalan dengan efektif bila semua komponen sekolah memfasilitasi kegiatan tersebut secara rutin,
7. Sebaiknya Dinas Pendidikann senantiasa memfasilitasi dalam semua kegiatan dalam rangka meningkatkan kinerja guru dalam menyusun strategi model pembelajaran berbasil CTL,
8. Pembinaan penyusunan model pembelajaran CTL melalui workshop pelatihan model Klasemen , dapat dijadikan salah satu alternatif dalam meningkatkan kompetensi guru pada umunya

Daftar Pustaka
1. Beeby, C.E. 1987. Pendidikan di Indonesia. Terjemahan BP3Kdan YIIS, Jakarta.
2. ……………………………….., Laporan Penelitian Tindaakan Kelas, Sebagai Karya Tulis Ilmiah dalam Kegiatan Pengembangan Profesi Pengawas Sekolah, Bacaan Pendukung, PMPTK, 2008
3. Djamaan Satori, Aan Komariah; Metodologi Penelitian Kualitatif , Alfabeta Bandung 2009
4. Pusdiklat. 2003. Prinsip-prinsip Manajemen Penataran. Sawangan: Pusdiklat Pegawai Depdiknas
5. Kementrian Pendidikan Nasionasl. 2011, Pedoman Kegiatan Pemngembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) Jakarta
6. Depdiknas. 2007. Pedoman Pengembangan Strategi Pembelajaran Pendidikan Dan Penataran Pendidikan Formal Jakarta.
7. Suharsimi Arikunto; Penelitian Tindakan Untuk Guru, Kepala Sekolah & Pengawas,Jogyakarta,Aditya Media

8. Tita Lestari,(2008), Metencanakan dan Melaksanakan Penelitian Tindakan Sekolah ” dari Sekolah Binaan kami Untuk Sekolah Binaan Anda” Makalah Disampaikan Pada Kegiatan Pembekalan Pembimbing Penelitian Tindakan Sekolah tanggal 16 s.d 17 Mei 200 di Hotel Peocer, Cisarua Bogir

9. Suhardjono,; Pertanyaan dan jawaban Sekitar Penelitian Tindakan Kelas dan Tindakan Sekolah, Penerhit Cakrawala Indonesia LP3 , Universitas Negeri Malang.

Tulisan lain yang berkaitan:

imgAncaman Malapraktek dan Kriminalissasi Guru Dalam Dunia Pendidikan di Indonesia (Tuesday, 6 December 2016, 226 views, 0 respon) Oleh : Suaidin Usman Seorang Praktisi Pendidikan Indonesia, Pengawas SMA/SMK Kab. Dompu, Nusa Tenggara Barat dan Anggota ISPI Suaidin...
imgModel Pembinaan Pendidik Profesional (Suatu Penelitian dengan Pendekatan Lesson Study pada Guru-Guru Sekolah Muhammadiyah Kabupaten Sukoharjo) (Friday, 19 December 2014, 855 views, 0 respon) Oleh : Dr. Tjipto Subadi Dosen pada Pendidikan Geografi, FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta dan Sekretaris III PP ISPI 2014-2019 Abstrak Tujuan...
imgUpaya Peningkatan Kemampuan Guru Dalam Menggunakan Model Pembelajaran CTL Melalu Pelatihan Model “Klasemen” Bagi Guru-Guru SMA Wilayah Binaan Di Kabupaten Dompu Semester Gasal Tahun Pelajaran 2009-2010 (Saturday, 4 February 2012, 5,844 views, 0 respon) Oleh: Drs. SUAIDIN Pengawas SMA/SMK Kabupaten Dompu, NTB dan Anggota ISPI ABSTRAK “Upaya Peningkatan Kemampuan Guru Dalam Menggunakan Model ...
imgLANGKAH CERDAS PERSIAPAN UJIAN NASIONAL 2011 (Monday, 21 March 2011, 2,642 views, 36 respon) Oleh : Drs.Suaidin —Pengawas SMA/SMK Kab. Dompu, Nusa Tenggara Barat— Setelah Pemerintah Republik Indonesia dalam hal ini Kemendiknas...
Tulisan berjudul "Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru Dalam Menerapkan Model Pembelajaran CTL Melalui Pelatihan Model “Klasemen ” Bagi Guru-guru SMP/SMA/SMK di Kabupaten Dompu Semester Gasal Tahun Pelajaran 2010-2011" dipublikasikan oleh Admin ISPI (Friday, 9 March 2012 (14:44)) pada kategori PTK. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.