Membangun Kultur Akademis Profetik dengan Menulis

Sunday, 11 March 2012 (11:08) | 429 views | Print this Article

Oleh: Umu Sulaimah S.Pd.I
Guru SDIT Ulul Albab Kota Pekalongan)

Kemajuan peradaban suatu negeri salah satunya ditentukan oleh pendidikan. Oleh karena itu dalam upaya mencapai kemajuan, aspek pendidikan selayaknya senantiasa menjadi perhatian penting bagi pemerintah. Arah pembangunan dan kebijakan-kebijakan yang digulirkan pemerintah seharusnya mengacu pada upaya peningkatan kualitas pendidikan. Tak hanya sekedar memiliki i’tikad baik untuk memajukan pendidikan tetapi juga perlu memiliki gagasan-gagasan progresif yang akan memperbaharui sisem pendidikan nasional. Memberikan alokasi pendanaan yang proporsional serta mengusahakan ketersediaan teknologi pendidikan menjadi hal yang tidak boleh ditinggalkan dalam upaya tersebut.

Krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak tahun 1997 hingga sekarang ini belum mampu teratasi. Silih bergantinya pucuk pimpinan pemerintahan tak menjadi jaminan bagi perbaikan kondisi perekonomian bangsa. Bahkan negeri ini makin terjebak pada krisis multidimensi yang entah sampai kapan akan berakhir. Kondisi seperti ini, memaksa siapapun terlebih pemerintah untuk bejibaku dan berpikir keras untuk segera keluar dari kungkungan permasalahan ini.

Lembaga pendidikan merupakan salah satu tumpuan harapan bagi bangsa ini untuk bangkit dari segala keterpurukan. Darinya diharapkan muncul generasi-generasi masa depan yang memiliki semangat pembaruan. Di pundak merekalah nasib bangsa ini dipertaruhkan. Lembaga pendidikan yang diharapkan menjadi kawah candradimuka dalam melahirkan agent social of change, terkadang mengalami kelumpuhan. Hal ini disebabkan karena beberapa faktor, salah satu diantaranya adalah lembaga pendidikan mengalami disorientasi dalam memaknai arah dan tujuan pendidikan. Lembaga pendidikan seolah-oleh menjadi lembaga yang hanya mencetak selembar kertas yang bernama ijazah. Namun tak mampu melahirkan sosok-sosok pembaharu yang cerdas dan bermoral. Kredibilitas sebuah lembaga pendidikan tergantung dari barisan nilai yang tertera dalam selembar kertas yang bernama ijazah. Menurut penulis, tak ada yang salah dengan hal ini. Namun yang menjadi embrio kesalahan, apabila selembar kertas ijazah ini merupakan satu-satunya penentu kredibilitas lembaga pendidikan yang didewakan. Dan dapat dipastikan bahwa hal ini akan melahirkan ketimpangan-ketimpangan. Sehingga lembaga pendidikan sebagai salah satu kawah candradimuka dalam melahirkan jiwa-jiwa pembaharu tak akan pernah terwujud.

Disamping hal di atas, pendidikan informal juga menempati ruang yang stategis dalam upaya memajukan peradaban sebuah negeri. Pendidikan dalam keluarga misalnya, menjadi hal yang signifikan yang tidak boleh di tinggalkan. Abdullah Muhammad Abdul Muthiy menyebutkan bahwa penyebab dari krisis peradaban salah satunya adalah karena lemahnya sisi pendidikan yang diterapkan dalam keluarga. Sehingga generasi sekarang ini tak memiliki kelebihan apa-apa, generasi yang minim inovasi dan daya kreatifitas. Kondisi ini disebabkan oleh rendahnya kesadaran dari para orang tua untuk membina dan mendidik putra-putrinya untuk menjadi generasi pembaharu yang dinanti zamannya. Orang tua sebagai guru di rumah, tak menyadari akan kondisi ini. Mungkin seringkali para orang tua tidak berhasil menasehati mereka, tetapi bisa dipastikan bahwa meraka tidak akan pernah gagal dalam meniru perilaku orang tuanya. Menjadi orang tua sekaligus sebagai guru merupakan profesi yang sangat mulia terlebih dalam proses internalisasi penanaman nilai-nilai ketuhanan, akhlak moral dan etika, sehingga keberhasilan pendidikan tak semata ditentukan oleh lembaga pendidikan. Namun keberhasilan pendidikan juga di dukung oleh suksesnya orang tua mendidik anak-anak mereka di rumahnya.

Dengan hal ini, kita semua melihat bahwa pendidikan merupakan hal penting yang menjadi arah dan barometer kemajuan sebuah negeri. Dan keberhasilan ini salah satunya ditentukan oleh kualitas guru sebagai aktor utama dalam pendidikan. Menjadi guru tak semata hanya sebagai profesi, namun ada panggilan jiwa yang tersadarkan oleh makna keberartian untuk menjadikan hidup ini adalah sebuah pengabdian. Sebuah profesi yang menuntut kesungguhan dan keikhlasan. Kesungguhan untuk menjadi director of change yang akan mencetak pelopor perubahan dan pelopor pembaharu. Dengan kesungguhan inilah akan melahirkan totalitas dan keseriusan dalam menjalani profesinya. Bukan semata-mata memenuhi kewajiban karena telah di gaji misalnya. Fauzil Adzim seorang penulis buku, pernah mengatakan bahwa seorang guru yang mengajar karena panggilan jiwa serta memiliki misi untuk mengantarakan anak didiknya kepada kehidupan yang lebih baik secara intelektual dan sosial, akan bisa mengalirkan energi kecerdasan , kemanusiaan, kemuliaan, dan keimanan yang kuat dalam dada setiap anak didiknya.

Sosok guru yang mendidik dengan sepenuh cinta inilah yang diharapkan akan senantiasa ada dalam atmosfir pendidikan kita. Guru memiliki peran yang signifikan untuk merubah wajah peradaban dunia yang carut marut ini. Ia mengemban amanah edukatif yang menghajatkan bagi setiap guru untuk senantiasa meningkatkan kompetensi dan kemampuannya secara kreatif, inovatif, kompetitif, serta memiliki kematangan emosional dan spiritual. Sehingga bisa dipastikan, guru yang ideal dan penuh inovatif akan mampu menyulut api idealisme bagi peserta didiknya, sehingga kelak ia menjadi pembaharu yang dapat dibanggakan.

Namun fakta yang ditemui saat ini terkadang memberikan gambaran yang berbeda mengenai sosok guru. Ada cerminan gambaran negatif tentang kredibilitas moral seorang guru. Mereka melakukan pekerjaan karena berharap kenaikan gaji ansih, atau hanya sekedar menjalankan rutinitas karena tidak ada pilihan profesi yang lain. Sehingga wajarlah, jika kehadiran sebuah lembaga pendidikan tak mampu memberikan sumbangan dan kontributif yang positif bagi lingkungannya. Ada juga guru yang masih memiliki pemikiran konservatif dan kuno sehingga mengekang seluruh daya kreatifitasnya untuk lebih maju. Meninggalkan budaya dan kultur akademisi. Membaca dan menulis misalnya, sehingga keseharian dalam mengajar hanya dihiasai text book thinking, sungguh membosankan mempunyai predikat seorang guru. Tak lagi menjadi sesosok suri tauladan yang digugu lan ditiru. Hal ini juga semakin diperparah oleh lemahnya semangat dalam belajar dan mengajar. Sudah seharusnya seorang guru mampu memberikan spirit bagi peserta didiknya. Rendahnya kapasitas intelektual seorang pendidik akan mempengaruhi tinggi rendahnya kualitas peserta didiknya.

Tulisan ini bukan bermaksud untuk mendiskriditkan guru, hanya mengajak marilah kita semua melakukan perbaikan diri, agar profesi guru tetap dan benar-benar menjadi profesi yang mulia, karena telah menjadi penerang bagi peradaban. Menjadi profesi yang sangat dibanggakan di beberapa Negara maju. Karena profesi guru merupakan jantungnya peradaban. Sebagus-bagusnya sistem pendidikan yang telah dirumuskan, atau secanggih apapun kurikulum yang dirancang tak akan ada apa-apanya tanpa kehadiran seorang guru, pendidikan akan kosong makna dan eksistensi. Oleh karena itu guru memiliki misi profetik yang akan senantiasa melakukan proses transmisi ilmu dalam upaya melakukan proses transformasi peradaban yang lebih maju. Tidak sekedar transfer of knowledge saja, namun lebih dari itu. Guru merupakan sosok inovator dalam menumbuhkan budaya dan kultur akademisi dalam kehidupan ini.

Kita semua perlu menyambut baik dengan program pemerintah dalam upaya untuk meningkatkan kompetensi dan kapabilitas intelektual seorang guru. Salah satunya dengan menelorkan undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang berisi proses sertifikasi. Dikemukakan bahwa sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru dan dosen. Sedangkan sertifikat pendidik adalah bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru dan dosen sebagai tenaga professional.

Berdasarkan pengertian tersebut diatas, Bapak E.Mulyasa dalam bukunya yang berjudul Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru menyebutkan, sertifikasi guru dapat diartikan sebagai suatu proses pemberian pengakuan bahwa seseorang telah memiliki kompetensi untuk melaksanakan pelayanan pendidikan pada satuan pendidikan tertentu, setelah lulus uji kompetensi yang diselenggarakan oleh lembaga sertifikasi. Dengan kata lain, sertifikasi guru adalah proses uji kompetensi yang dirancang untuk mengetahui penguasaan kompetensi seseorang sebagai landasan pemberian sertifikat pendidik. Dalam pengertian yang lain Jamal Ma’mur Asmani mendefinisikan, sertifikasi adalah proses yang harus dilalui seorang guru untuk mendapatkan sertifikat mengajar sebagai tanda bahwa ia telah memenuhi kualifikasi guru ideal sesuai dengan syarat-syarat yang ditetapkan pemerintah, baik yang berhubungan dengan akademis, sosial, dan akuntabilitas publik.

Terjemahan dari undang-undang nomor 14 tahun 2005 tersebut, pemerintah memberlakukan program sertifikasi dan stratafikasi S-1 dan D-4. Dengan program ini diharapkan para guru dan praktisi pendidikan akan melakukan proses akselerasi dan peningkatan kapasitas diri. Sehingga akan mendapatkan sertifikat lulus uji dan akan mendapatkan tunjangan tambahan atas keberhasilannya dalam ujian tersebut. Salah satu bentuk komponen penilaian guru adalah dengan penilaian portofolio yang mencakup penilaian atas pengalaman serta profesionalitas guru yang dibuktikan dengan karya pengembangan profesi, bisa dalam bentuk buku yang dipublikasikan, artikel yang dimuat di media, modul, diktat, media pembelajaran dan lain sebagainya.

Dengan hal tersebut, penulis melihat ada semangat kuat dari segenap praktisi pendidikan untuk lolos dalam ujian tersebut. Disamping upaya meningkatkan kapasitas dan kapabilitas serta kompetensi, agaknya motivasi materialistiklah yang menjadi hal dominan yang mendorong guru-guru, serta tenaga kependidikan bejibaku dalam memperjuangkan selembar sertifikat. Bagi mereka yang ambisius, maka akan cara apapun akan ditempuh agar bisa memenuhi kriteria penilaian portofolio tanpa memperhatikan nilai dan asas kelayakan. Hal inilah yang sesungguhnya akan mencederai integritas moral asasi seorang guru. Kejahatan intelektual pun menjadi pola kriminal yang baru.

Cara yang ditempuh lumayan banyak dan “unik”, bisa dengan membeli karya orang lain atau bisa juga tindakan pemalsuan hasil karya. Yang lebih mengherankan lagi, telah terjadi komersialisasi acara-acara ilmiah. Orang berbondong-bondong mengikuti seminar-seminar yang dikemas secara ilmiah, bahkan berlabelkan seminar regional bahkan seminar nasional. Dengan berbekal uang Rp 50.000 bahkan sampai dengan Rp 200.000,00 orang sudah mendapatkan sertifikat yang akan menambah poin saat uji sertifikasi atau kenaikan pangkat. Bukan kemanfaatan karena telah bertambahnya ilmu pengetahuan setelah mengikuti acara tersebut, tetapi lebih pada selembar sertifikat. Jika tak ada upaya serius dari pemerintah dan tim sertifikasi untuk melakukan pengawasan yang lebih ketat. Maka kondisi seperti ini dikhawatirkan akan menjadi tradisi buruk. Hanya mendewakan formalisme dan simbolisme yang akan mengikis bangunan idealisme dalam ruang pendidikan.

Seharusnya proses sertifikasi menjadi ajang dinamisasi skill, yang selaras dengan upaya merealisasikan misi profetik dengan senantiasa mengembangkan budaya membaca, menulis, meneliti dan menelaah sehingga didapatkan pengembangan dan temuan-temuan baru serta terobosan mutakhir dalam dunia pendidikan. Setiap hari bisa dipastikan ada hal baru yang ditemukan oleh guru karena mereka langsung berhadapan dengan peserta didik yang merupakan partner dalam merealisasikan misi-misi kependidikan. Ada banyak hal yang bisa diteliti, ditelaah dianalisis kemudian ditulis. Yang akan semakin memperkaya referensi bagi dirinya atas hal-hal baru yang ditemuinya selama mengajar. Kenyataan yang terjadi sekarang ini, kemampuan dan kebiasaan guru untuk membuat karya tulis dan mempublikasikannya masih rendah. Hal ini terjadi karena, rendahnya budaya membaca dan melek informasi di kalangan guru. Sehingga wajar jika kemampuan menulis dan menuangkan ide-serta gagasan dalam sebuah tulisan menjadi kebiasaan yang istimewa artinya jarang dilakukan.

Di tengah arus informasi dan komunikasi tanpa batas inilah, menuntut kita semua untuk bergegas dan berbenah diri jika tak mau dikalahkan dan dilindas oleh zaman. Melek informasi menjadi bekalan bagi siapa saja untuk memulai aktifitas menulis, terlebih bagi guru yang mengemban tugas mulia melakukan proses transmisi ilmu yang merupakan ciri utama manusia pembelajar. Budaya tulis menulis merupakan hal yang tak terpisahkan dari icon dunia. Alvin Tofler menyebutkan, dunia bergerak ke arah tiga gelombang, gelombang pertanian menuju gelombang industri, dari gelombang industri akan beralih ke gelombang Informasi.

Di tengah arus informasi seperti sekarang ini, budaya tulis menulis telah menjadi bagian yang tak terpisahkan. Dunia tak lagi mengandalkan sistem komunikasi verbal yang dinilai lamban, tidak efeketif dan efisien. Budaya verbal ini dengan sendirinya akan tergeser dengan budaya tulisan. Terlebih kecanggihan teknologi seperti sekarang ini, yang telah memberikan ruang seluas-luasnya bagi pertukaran informasi melalui tulisan. Dengan menulis, orang akan menuangkan ide dan gagasannya, menyuarakan aspirasinya, memberikan pengaruh serta menyebarkan pemikiranya. Dengan menulis dapat menjadi alat dan instrumen perjuangan, pengabdian, serta pemberdayaan. Namun semua itu tergantung dari orientasi, motivasi dan karakter seorang penulis, yang tak jarang ditemui tulisan-tulisan yang lebih menyesatkan dan memberikan informasi yang salah. Hal ini sangat tergantung oleh siapa yang menggerakkan pena tersebut. Oleh karena itu bagi guru-guru yang mengemban tugas mulia serta misi profetik ini sudah seharusnya menjadikan aktivitas menulis menjadi aktivitas rutin. Menulis merupakan cara untuk mengikat ide dan gagasan, sarana transmisi ilmu, dan menyebarkan nilai-nilai kebaikan serta kebenaran. Kemampuan menulis bukanlah bakat keturunan, melainkan hasil usaha dan kerja keras untuk menulis dan terus menulis. Hal ini merupakan permainan yang cukup menantang. Kultur dan budaya menulis juga merupakan tradisi yang kuat di beberapa Negara maju. Jepang misalnya, siapa yang akan menyangka jika Jepang yang telah luluh lantak karena bom di Hiroshima pada tahun 1945. kemudian akan berubah menjadi Negara yang maju baik dalam bidang ekonomi, budaya, teknologi, bisnis yang menjadi kiblat bagi negara-negara lainnya. Ada pesan yang coba diberikan oleh Jepang bagi Negara-negara lainnya, bahwa Negara ini mampu bangkit dari keterpurukannya. Ada tradisi kuat yang dapat dicontoh dari keberhasilan Jepang, salah satunya adalah kedisiplinannya terhadap waktu. Tiada hari tanpa belajar, bekerja, dan berkarya menjadi slogan masyarakat jepang.

Kita menyadari kemampuan menulis dikalangan guru masih sangat rendah. Hal ini terjadi karena lemahnya semangat dalam belajar dan mengajar. Tidak memiliki pemikiran yang progresif dan rendahnya budaya akademisi dikalangan pendidik. Menurut Amich Alhumami (2008) merujuk pada data dasar Thomson Scientifics’ Web of Sciensce yang menghimpun sekitar 8.700 jurnal ilmiah, monograf dan proceeding conference, menyebutkan bahwa posisi Indonesia jauh berada di bawah Turkey. Indonesia hanya mampu menyumbangkan gagasan pada level internasional sebanyak 5.118. Realitas inilah yang selayaknya membuka mata dan membangkitkan kesadaran bagi guru dan dosen sebagai insan akademisi untuk terus meningkatkan kemampuan dan kapasitas untuk menuangkan ide dan gagasannya melalui tulisan.

Mengutip perkataan Imam Ghozali, kalau engkau bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis. Dengan menulis kita bisa mencerdaskan berjuta-juta manusia tanpa batas. Jadi, bukan hanya sekedar motivasi material ansich atau motivasi kenaikan pangkat saja para guru dan dosen berlomba-lomba meningkatkan kapabilitas serta kemampuan menulisnya. Tetapi lebih pada panggilan jiwa untuk terus menyumbangkan saran dan gagasan serta ide positif bagi kemajuan peradaban bangsa. Membaca dan menulis adalah tradisi para ilmuwan dan guru merupakan seorang Ilmuwan yang tak boleh lepas dari tradisinya. Pekerjaan menulis merupakan pekerjaan orang-orang besar yang memiliki cita-cita besar pula. Menulis berarti memberikan suluh harapan yang akan menerangi dunia dengan ide-ide yang mencerahkan.
Wallahua’lam

Daftar bacaan :
Abdullah Munir.2007. Spiritual Teaching. Spiritual Teaching. Yogyakarta; Pustaka Insan Madani
Hernowo. 2007. Menjadi Guru yang Mau dan Mampu Mengajar secara Kreatif. Bandung. Mizan Learning Center
Jamal Ma;mur Asmani. 2009. Tips Menjadi Guru Inspiratif, Kreatif, dan Inovatif. Yogyakarta; Diva Press
Mulyasa, E. 2008. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung; Rosda Karya
Mulyasa, E. 2008. Menjadi Guru Profesional. Bandung; Rosda Karya
Undang-undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Semarang; CV. Aneka Ilmu

Tulisan lain yang berkaitan:

imgSaat Menulis Terasa Membosankan (Friday, 3 June 2016, 107 views, 0 respon) oleh : Yanuardi Syukur, M.Si. Dosen Universitas Khairun, Maluku Utara dan Penulis Buku Yanuardi Syukur Tiap orang pasti pernah merasa bosan...
imgGuru dan Menulis Buku (Saturday, 4 January 2014, 288 views, 0 respon) Oleh : Johan Wahyudi, S.Pd., M.Pd. Guru Penerima Beasiswa Unggulan Kemendikbud Program Doktor (S3) PBI, UNS Johan Wahyudi Akhir-akhir ini, kita...
imgMENGAPA SARJANA TIDAK MENULIS? (Wednesday, 22 February 2012, 632 views, 1 respon) Oleh: Wardjito Soeharso Widyaiswara Badiklat Prov. Jateng, Anggota ISPI Ada kebijakan baru dilontarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan....
imgMenggairahkan Siswa Menulis (Thursday, 23 September 2010, 463 views, 750 respon) Oleh Syaiful Mustaqim, SPd.I, Guru Jurnalistik MA Walisongo Pecangaan Jepara dan Pengelola Taman Baca Praja Muda MEDIA cetak yang terbit setiap hari,...
imgHikmah Kegiatan Menulis Bagi Guru (Thursday, 2 September 2010, 371 views, 14 respon) Oleh Ajeng Kania Guru SDN Cibiru 5 Kota Bandung Senin (16/8) petang, penulis mendapat telepon dari staf Pusat Informasi dan Humas (PIH) Kementerian...
Tulisan berjudul "Membangun Kultur Akademis Profetik dengan Menulis" dipublikasikan oleh Admin ISPI (Sunday, 11 March 2012 (11:08)) pada kategori Opini. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.