Republikasi Ruang Publik : Ruang Tidur Dalam Perspektif Geografi

Saturday, 6 April 2013 (14:22) | 626 views | Print this Article

Oleh: Momon Sudarma, S.Pd., M.Si.
Pengajar di AKPER/AKBID Aisyiyah Bandung, STIKOM Bandung dan MAN 2 Kota Bandung.

Abstrak
Bagi manusia modern, tidur tidak sekedar fungsi biologis. Tidur bukan sekedar memejamkan mata untuk beristirahat. Dalam tidur ada makna dan pemaknaan terhadap ruang dan waktu. Seiring perkembangan zaman, ada pergeseran makna dan pemaknaan terhadap ruang, termasuk ruang publik. Oleh karena itu, tidur di kantor, di terminal dan atau di tempat kerja, perlu dimaknai sebagai bagian penting dari strategi kebudayaan dalam memanfaatkan waktu dan ruang. Wacana ini, bermaksud untuk menganalisis perubahan dan konstruksi pemaknaan ruang publik dari pemikiran geografi.

Kata Kunci : tidur, fungsi ruang, makna

Dia tampak santai. Tidak merasa terganggu, dan mungkin juga tidak merasa menggangu. Dengan posisi yang tidak teratur, kadang sambil duduk di kursi, kadang pula sambil membaca koran. Lembaran koran seolah tetap terbuka, namun wajah dan matanya sudah tertunduk lesu. Tertidur. Sahabat yang satu ini, memang sudah dikenal oleh sejumlah rekan, orang yang sangat mudah tertidur. Di meja kerja pun, kalau tidak ada yang mengajaknya berbicara, kadang tak ketahuan lagi kapan ngantuknya, tahu-tahu dia sudah tertidur. Di meja kerja, dia tertidur. Di kelas dia tertidur. Di tempat ibadah pun, tidur. Bahkan, menurut seorang sahabat yang sempat diboncengnya, dia pun sempat terkantuk sesaat sehingga arah jalannya motor yang dikendarainya sempat berbelok arah tak karuan. Untung dengan seketika, dia sadar dan jalan kendaraan kembali normal. Sahabat yang satu ini, di kenal sebagai orang yang sangat mudah tidur dan setiap tempat bisa dijadikan tempat tidur.

Tidur atau tetiduran (sleepness) adalah bagian penting dari kehidupan manusia. Setiap orang memiliki hasrat untuk tidur. Dalam timbangan Kraftl dan Horton (2007) , sepertiga kehidupan manusia dihabiskan untuk tidur. Rata-rata kebutuhan tidur manusia antara 7-9 jam (Colbert, 2008:59) , atau 37 % dari total hidup hariannya. Lamanya waktu tidur ini, masih diyakini sebagai waktu yang cocok untuk kepentingan kesehatan atau produktivitas kerja manusia.

Entah dalam pengertian memenuhi kekurangan jam tidur, atau telah menjadi budaya hidupnya, kini kita sering melihat orang tidur (atau tertidur) di tempat-tempat umum. Di meja kerja, di kendaraan umum, halte terminal, atau ditrotoal bahu-bahu jalan umum. Bagi para pelaku, di tempat-tempat yang menurut pertimbangannya nyaman akan digunakannya sebagai tempat tidur. Mereka tidak membutuhkan waktu dan ruang yang luas. Sesempit apapun ruang, dan sesempit apapun waktunya, bila sempat dan bisa digunakan, maka akan tertidur juga.

Fenomena budaya tidur dan pilihan tempat tidur ini, menjadi fenomena sosial yang menarik untuk dicermati. Setidaknya kita melihat ada tiga pertanyaan pokok, yang dapat diajukan dalam wacana ini. Pertama, di mana orang terbiasa tidur ? Kedua, mengapa mereka tertidur di ruang tersebut ? dan, terakhir, bagaimana kontribusi geografi dalam memandang fenomena budaya tidur di masa sekarang ini ?

Melalui pertanyaan-pertanyaan itu, diharapkan ditemukan solusi praktis dalam menata ruang hidup manusia, serta mampu dijadikan sebagai bagian penting dalam membangun tata ruang yang manusia serta mampu mengembangkan kualitas kehidupan manusia itu sendiri. Tata ruang yang manusiawi, sudah tentu adalah ruang hidup yang memberi kesempatan yang luas dan terbuka bagi teraktualiasikannya hak-hak manusia sebagai manusia.

Kerangka Pemikiran
Sebagaimana dimaklumi bersama, konsep keruangan merupakan pendekatan formal yang digunakan dalam geografi. Konsep ini, bukan saja menjadi bagian penting dalam memperjelas identitas geografi, melainkan memiliki fungsi yang sangat strategis dalam memahami fenomena sosial atau fenomena geosfera. Meminjam pandangan Sunarto (2008:100), wujud hakiki fisik geografi ada tiga, yaitu wadah, isi dan interaksinya. Wadahnya yaitu bentuk lahan atau ruang, isi adalah penghuninya (manusia),dan interaksinya adalah pemanfaatan atau pemaknaan terhadap ruang .

Terkait hal ini, analisis akan dikembangkan berdasarkan pemikiran bahwa (a) setiap ruang memiliki fungsi dan (b) setiap orang memiliki kebebasan atau hak untuk memberikan interpretasi, makna dan pemanfaatan terhadap ruang. Melalui dua asumsi itulah, diharapkan dapat membantu untuk menjelaskan fenomena tidur atau ruang istirahat yang berkembang dalam