Pembelajaran Aktif yang Kaku vs yang Fleksibel

Friday, 6 September 2013 (09:56) | 700 views | Print this Article

Oleh: Drs. Darliana, M.Si.
Mantan Widyaiswara Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA) Kemdikbud

Darliana

Pada tahun 2001 Jepang mengadakan reformasi sistem pendidikan untuk meningkatkan kualitas pendidikannya, agar kompetensi yang ditingkatkan pada siswa sesuai dengan yang diperlukan di abad-21. Hasil dari reformasi itu diantaranya adalah pembelajaran aktif yang kaku, seperti model-model pembelajaran dan pembelajaran dengan LKS, ditinggalkan dan diganti dengan pembelajaran aktif yang fleksibel. Pembelajaran aktif yang kaku kualitasnya rendah, sehingga tidak mampu meningkatkan kompetensi siswa yang diperlukan di abad-21. Karena itu, diganti dengan pembelajaran aktif fleksibel yang kualitasnya tinggi untuk meningkatkan kompetensi siswa sesuai dengan yang diperlukan di abad-21. Banyak negara-negara lain di luar Jepang yang datang mempelajari hasil reformasi tersebut dan menggunakannya sesuai dengan keperluannya masing-masing. Dengan hasil reformasi itu, Jepang memasuki abad-21 dengan pembelajaran aktifnya yang baru.

Di Indonesia pengajaran ceramah dikenal sebagai pengajaran yang berpusat pada guru, sedangkan model-model pembelajaran dan kegiatan kelompok dengan LKS sebagai pembelajaran aktif yang berpusat pada siswa. Jika dikaji lebih dalam, model-model pembelajaran dan kegiatan kelompok dengan LKS itu bukan pembelajaran aktif yang berpusat pada siswa, melainkan pembelajaran aktif yang berpusat pada guru.

Dalam model-model pembelajaran, perubahan situasi belajar siswa (langkah-langkah pembelajaran) ditentukan oleh guru, siswa harus mengikuti perubahan situasi belajar yang telah ditentukan guru. Sedangkan dalam kegiatan kelompok dengan LKS, walaupun siswa tampak aktif belajar sendiri dalam kelompoknya dan guru tampak sebagai fasilitator, siswa harus berpikir mengikuti jalan pikiran penyusun LKS melalui sederetan pertanyaan atau titik-titik yang dituliskan dalam LKS. Karena siswa harus mengikuti guru/penyusun LKS, model-model pembelajaran dan kegiatan kelompok yang menggunakan LKS merupakan pembelajaran aktif yang berpusat pada guru. Dalam pembelajaran aktif yang berpusat pada siswa, guru harus mengikuti perubahan situasi belajar yang diperlukan siswa dan mengikuti jalan pikiran siswa. Itulah paradigma pembelajaran aktif yang fleksibel.

Ditinjau dari teori konstruktivis, pembelajaran dengan LKS tidak tepat dalam menerapkan teori konstruktivis. Dalam teori konstruktivis siswa harus mengkonstruk konsep (pengetahuan) sendiri, bukan dikonstrukan oleh orang lain. Dalam pembelajaran dengan LKS, penyusun LKS ikut serta mengkonstruk konsep dalam pikiran siswa melalui sederetan pertanyaan atau titik-titik isian, yang menggiring siswa untuk berpikir mengikuti jalan pikiran penyusun LKS. Dengan pertanyaan-pertanyaan atau titik-titik isian itu, siswa tidak tahu mengapa ia harus mengamati sesuatu seperti yang diinstruksikan dalam LKS, tidak tahu mengapa ia harus memikirkan jawaban pertanyaan yang dituliskan dalam LKS. Yang siswa tahu hanya disuruh mengamati sesuatu seperti yang diinstruksikan dalam LKS dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam LKS. Karena itu, konsep yang terbentuk dalam pikiran siswa merupakan konsep yang dangkal dan keterampilan berpikirnya kurang ditingkatkan.

Dalam pembelajaran aktif fleksibel, guru dengan pertanyaan utamanya yang terbuka dan pertanyaan-pertanyaan lisannya yang mengikuti jawaban siswa, hanya membantu siswa dalam mengungkapkan segenap pengetahuan dan wawasan yang dimiliki siswa, agar siswa dapat mengkonstruk konsep sendiri. Dengan cara itu, siswa harus menentukan sendiri apa yang harus diamatinya, mengapa harus diamatinya, apa yang harus dipikirkannya, mengapa harus dipikirkannya, dan bagaimana dipikirkannya. Karena itu, konsep yang terbentuk dalam pikiran siswa merupakan konsep yang mendalam dan keterampilan berpikirnya ditingkatkan lebih tinggi daripada yang menggunakan LKS.

Dalam pembelajaran aktif fleksibel, kegiatan pembelajaran terdiri atas kegiatan klasikal dialog mendalam, kegiatan kelompok tanpa LKS, dan kegiatan individual. Masing-masing jenis kegiatan tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri. Kegiatan klasikal dialog mendalam efektif dalam meningkatkan sikap-sikap tertentu, minat belajar, keterampilan berpikir tingkat tinggi, dan penguasaan konsep yang mendalam, tetapi tidak meningkatkan psikomotor dan sikap kolaboratif atau kooperatif siswa. Kegiatan kelompok siswa tanpa LKS efektif dalam meningkatkan sikap kolaboratif atau kooperatif siswa, psikomotor, dan keterampilan berpikir, tetapi kurang efektif dalam meningkatkan minat belajar siswa dan penguasaan konsep yang mendalam. Karena setiap jenis kegiatan pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan dalam meningkatkan kompetensi siswa, kegiatan pembelajaran aktif fleksibel divariasikan antara tiga jenis kegiatan tersebut.

Perbedaan pembelajaran aktif yang kaku dengan pembelajaran aktif fleksibel antara lain sebagai berikut.

Pembelajaran Aktif  yang Kaku

Pembelajaran Aktif yang Fleksibel

Kegiatan kelompok dengan LKS
dan model-model pembelajaran.
Kegiatan kelompok tanpa LKS, kegiatan klasikal dialog mendalam, dan kegiatan individual.
Siswa harus mengikuti perubahan situasi belajar (langkah-langkah pembelajaran) yang telah ditetapkan guru. Guru harus mengikuti perubahan situasi belajar yang diperlukan siswa.
Guru/Penyusun LKS ikut serta mengkonstruk konsep dalam pikiran siswa melalui sederetan pertanyaan atau titik-titik isian dalam LKS yang menggiring siswa berpikir mengikuti proses berpikir penyusun LKS. Guru tidak boleh ikut serta mengkonstruk konsep dalam pikiran siswa. Guru hanya membantu siswa dalam mengungkapkan segenap pengetahuan dan wawasan yang dimiliki siswa melalui pertanyaan-pertanyan yang mengikuti jawaban siswa, agar siswa dapat mengkonstruk konsep sendiri.
Rencana pembelajaran merupakan rencana yang pasti, karena siswa harus mengikuti perubahan situasi belajar yang telah ditetapkan guru dan proses berpikir yang telah ditetapkan dalam LKS. Rencana pembelajaran hanya merupakan perkiraan mengenai situasi pembelajaran yang riil yang akan dilaksanakan guru, karena guru harus mengikuti perubahan situasi belajar yang diperlukan siswa dan proses berpikir yang digunakan siswa.
Pelaksanaan pembelajaran harus sama dengan yang direncanakan dalam RPP, tidak boleh diubah. Jika diperlukan siswa, pelaksanaan pembelajaran boleh diubah, walaupun tidak sama dengan yang direncanakan dalam RPP.
Kegiatan pembelajaran merupakan kegiatan yang kompleks dan kaku. Kegiatan pembelajaran merupakan kegiatan yang fleksibel.
Sulit disesuaikan dengan berbagai kondisi sekolah dan siswa di Indonesia. Mudah disesuaikan dengan berbagai kondisi sekolah dan siswa di Indonesia.
Relatif sulit dilaksanakan dalam pembelajaran sehari-hari di sekolah, karena berbeda jauh dengan kebiasaan guru mengajar dan harus menggunakan alat/media tertentu. Relatif mudah dilaksanakan dalam pembelajaran sehari-hari di sekolah, karena dekat dengan kebiasaan guru mengajar dan dapat menggunakan alat/media apa saja yang ada di sekolah atau di lingkungan sekolah.

 

Tulisan lain yang berkaitan:

imgPembelajaran Sains dengan Pendekatan Saintifik dan Literasi Sains (Saturday, 3 January 2015, 7,194 views, 0 respon) Oleh : Nur Wakhidah Jurusan PGMI Fakultas FTK UIN Sunan Ampel Surabaya Pembelajaran bermakna (meaningful learning) dalam mempelajari sains akan...
imgPerbedaan Mindset pada Pembelajaran Aktif Antara Indonesia dengan Jepang (Sunday, 8 December 2013, 523 views, 0 respon) Oleh: Drs. Darliana, M.Si. Mantan Widyaiswara Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK...
Tulisan berjudul "Pembelajaran Aktif yang Kaku vs yang Fleksibel" dipublikasikan oleh Admin ISPI (Friday, 6 September 2013 (09:56)) pada kategori Artikel, Karya Tulis. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.