Bukan Sarjana Muda—-Kisah Seorang Guru yang Menjadi Sarjana di Umur 50 Tahun

Sunday, 29 September 2013 (11:51) | 403 views | Print this Article

Oleh : Zulkarnaen Arsi dan Achi-tm Penulis

Bisa jadi sarjana jaman sekarang mungkin sekilas terlihat mudah. Namun dalam kenyataannya, banyak sekali orang-orang yang kesulitan untuk menempuh jenjang S1 itu. Biasanya terbentur oleh masalah ekonomi, waktu, keluarga, kesehatan atau situasi dan kondisi yang sulit dijabarkan.

Bila menjadi sarjana di jaman yang penuh dengan akses pendidikan seperti saat ini saja susah, bagaimana menjadi sarjana di era 80-an?

Achjar Chalil lahir di Rantau Kwala Simpang Aceh Timur, pada tahun 1954. Lahir dari keluarga guru yang hidup sederhana dan dibesarkan oleh keluarga yang broken home. Meski berulang kali harus bolak-balik bergantian ikut ayah dan ibu sehingga pendidikannya sempat terbengkalai, tak membuat beliau patah arang untuk terus sekolah.

Menjadi tukang cuci piring di warung bakso, tukang tambal ban, sampai menarik becak beliau lakoni supaya tetap bisa bersekolah. Sampai akhirnya beliau hijrah ke Jakarta, mengadu nasib ingin jadi pedagang. Namun suara hatinya terpanggil untuk menjadi guru ketika melihat anak-anak SMA nongkrong di terminal saat jam pelajaran sekolah.

Dengan kecerdasannya, beliau mendapat beasiswa D3 untuk menjadi guru. Namun ternyata jalan hidup tak selamanya mulus untuk bisa menjadi sarjana.

Nikmati perjalanan hidupnya yang sederhana dan penuh semangat. Dengan tetap menjadi guru, beliau bisa berkenalan dengan Adi Sasono (Mantan Menteri Koperasi), menjadi konsultan non formal Pak Hudaya Latuconsina (Kepala Dinas Pendidikan Prov Banten), menjadi salah satu pendidik di INS Kayu Tanam (Padang) hingga akhirnya menjadi ketua umum Asosiasi Guru Penulis Indonesia.

Dapatkan buku autobiografi Achjar Chalil yang ditulis sendiri oleh beliau pada tahun 2007. Achjar Chalil meninggal pada umur 54 tahun pada tahun 2010 namun semangat perjuangannnya tidak akan berhenti.

***
Testimoni :
Farid Anfasa Moeloek (Mantan Menteri Kesehatan RI Kabinet Pembangunan VII Dan Menteri Kesehatan RI Kabinet Reformasi Pembangunan)

Assalamualaikum.wr.wb
Yth Bung Achjar Chalil,
Buku Bung sudah saya baca. Bagus, menggambarkan ‘keuletan’ anak bangsa. Sayang tidak semua anak bangsa menpunyai ‘karakter’ keuletan seperti itu. Andaikan semua anak bangsa mempunyai karakter keuletan seperti itu, bangsa kita sudah jauh berubah wajahnya. Tidak seperti sekarang, anak bangsa kita ‘cengeng’, tidak ulet, pemalas, banyak menuntut dari berbuat, sering mengeluh (sifat yang dibenci M, Sjafei), reaktif tidak proaktif, tidak kreatif apalagi berinovasi (tidak mempunyai sifat inovatif)….ach banyak lagi (saya takut, nanti dikatakan saya yang banyak/sering mengeluh….). ”DO SOMETHING”…..untuk mengubah ‘karakter2 negatif’ tersebut!!
Saya dan isteri saya sangat senang namanya tercantum di dalam buku Otobiografi Bung Achjar……(kata BUNG….untuk saya lebih menonjolkan SPIRIT, ketimbang PAK Achjar…; tempo hari Bung pernah menanyakan hal ini bukan pada saya….)
Salam takzim untuk keluarga.
Wassalam,
F.A. Moeloek

Tentang Achjar Chalil di Mata Saya.
Oleh : Hudaya Latuconsina (Kepala Dinas Pendidikan Propinsi Banten)

Achjar Chalil yang saya kenal adalah orang yang penuh dedikasi dan memiliki semangat tinggi, terutama sekali dalam rangka pembaruan dalam bidang pendidikan. Dan contoh-contoh kongkretnya adalah diwujudkan dalam memberikan guidance di INS Kayutanam sekaligus juga memberikan inspirasi terhadap arah yang harus diperbaiki dalam rangka penyelenggaraan sekolah INS Kayutanam. Dalam artian yang luas saya mengenal beliau sebagai sosok yang tidak pernah berhenti belajar terbukti dengan upaya yang telah dilakukannya pada saat beliau berdiskusi untuk sebuah kepentingan peningkatan kualifikasi di jenjang akademik.

Prof. Dr. H. Fasli Jalal (Mantan Wakil Menteri Pendidikan Nasional 2010-2011, sekarang menjabat sebagai ketua BKKBN)

Beliau itu dengan gigih selalu memikirkan bagaimana guru-guru agar lebih professional. Salah satunya adalah bagaimana guru-guru lebih banyak menulis lebih dalam, dan juga lebih luas aspek yang dia tulis. Dan karena itulah dalam berbagai kontak dengan beliau, saya sangat menghargai.

Betapa tanpa dukungan sepeser pun dari pemerintah dan dengan menggunakan gajinya sendiri beliau menggembangkan guru-guru dalam sebuah komunitas yang diberi nama AGUPENA. Karena itu saya sangat mengapresiasi perjuangan beliau. Mudah-mudahan Perjuangan, pengorbanan yang sudah di dedikasikan menjadi amal ibadah di hadapan Allah SWT.

CARA ACHJAR CHALIL MENCINTAI ALLAH
Oleh : Naijan Lengkong (Ketua Umum Agupena)

“Saya mencintai Allah. Saya rindu untuk bertemu Allah. Karena itu saya ingin segera dipanggil untuk menghadap-NYA”. Itulah kata-kata Pak Achjar Chalil di hadapan saya ketika kami duduk berdua diatas balkon sebuah hotel yang menghadap pantai Padang. Ketika itu kami sedang melakukan konsolidasi untuk pembentukan Agupena Wilayah Sumatera Barat. Saya ternganga. Luar biasa. Ganjil. Kata-kata itu selalu terngiang-ngiang di telinga saya hingga hari ini.

Bayangkan, ketika sebagian besar orang berdoa ingin dipanjangkan umur, agar bisa merasakan kenikmatan dunia lebih lama lagi, sosok Achjar Chalil malah memohon sebaliknya. Dia malah inmgin segera menghadap-NYA.

DAPATKAN SEMANGAT BELAJAR DARI BUKU INI, SEMANGAT MERAIH SARJANA, SEMANGAT MENUNTUT ILMU DAN SEMANGAT UNTUK MENCINTAI ALLAH.

Judul : Bukan Sarjana Muda
Penulis : Achjar Chalil Spd
Hlmn : 122 Hlmn.
Harga : Rp.35.000,- (PRE ORDER sebelum 15 Oktober hanya 25 ribu saja – belum ongkir)
Penerbit : Penerbit RUMAH PENA

Untuk pemesanan silakan inbox fb : Rumah Pena atau inbox langsung ke Achi-tm Penulis. Seluruh royalti dari penjualan buku ini akan disumbangkan kepada anak bungsu Alm Achjar Chalil yang masih sekolah kelas 6 SD yang sudah menjadi yatim sejak dia berumur 8 tahun.

Tulisan lain yang berkaitan:

imgTantangan Sarjana Pendidikan di Era Globalisasi (Saturday, 25 January 2014, 399 views, 0 respon)   Oleh: Doddy Novarianto Staf Pendidik SMAN 1 Ngantang,  Malang, Jawa Timur   Doddy Novarianto Itulah kenyataan yang sedang di hadapi dan...
imgMenjadikan Sarjana Pendidikan Sadar Mutu (Thursday, 2 January 2014, 321 views, 0 respon) Oleh : Dra. Dyah Budiarsih, M.Pd Pengawas TK/SD Kec. Purwokerto Timur, Kab. Banyumas, Propinsi Jawa Tengah, Juara I Pengawas Berprestasi Tingkat...
imgPeran Sarjana Pendidikan dalam Peningkatan Mutu (Tuesday, 4 September 2012, 606 views, 0 respon) oleh Nurul Nitasari, S. Pd Alumnus Universitas Negeri Semarang “Mau ke mana para sarjana setelah lulus kuliah?” pertanyaan itulah yang menjadi...
imgPeranan Guru dalam meningkatkan Budi Pekerti siswa (Monday, 23 January 2012, 2,406 views, 0 respon) Oleh: Nina Rahayu Nadea Guru SMP Pasundan 7 Bandung Guru merupakan sosok yang sangat diperlukan dalam lingkup pendidikan. Kenapa? Karena guru...
imgSarjana Pendidikan Tanpa SK Pegawai (Sunday, 21 August 2011, 484 views, 564 respon) Oleh Idrus Bin Harun —-Pendidik di SDN 48 Banda Aceh, Jl Rama setia. Deah Glumpang Banda Aceh dan bergiat di Komunitas Kanot...
Tulisan berjudul "Bukan Sarjana Muda—-Kisah Seorang Guru yang Menjadi Sarjana di Umur 50 Tahun" dipublikasikan oleh Admin ISPI (Sunday, 29 September 2013 (11:51)) pada kategori Karya Tulis, Kegiatan, Kegiatan, Resensi Buku. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.