Mendalami Filsafat Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Sunday, 22 December 2013 (17:10) | 6,711 views | Print this Article

Oleh : Prof. Dr. Ki Supriyoko, S.D.U., M.Pd.
Wakil Presiden Pan-Pacific Association of Private Education di Jepang, Wakil Ketua Umum Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, Anggota Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), Direktur Pascasarjana Pendidikan UST Yogyakarta, Pembina Sekolah Unggulan “Insan Cendekia” Turi, Sleman, Yogyakarta, Pendiri dan pengasuh Pesantren “Ar-Raudhah” Yogyakarta, Ketua RT-29 Celeban Baru Yogyakarta tahun 1981 sd sekarang (32 tahun)

Ki Supriyoko

—-Butir-Butir Pemikiran dalam Seminar Landasan Pedagogik Pendidikan “Menggali Nilai-Nilai Pedagogik Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan Relevansinya dengan Pendidikan Guru dan Kebangsaan” Diselenggarakan oleh Sekolah Pascasarjana UPI Bandung, 17 Des 2013—-

A. PENDAHULUAN
A1. Ki Hadjar Dewantara (KHD) adalah tokoh pendidikan nasional yang sekaligus merupakan Bapak Pendidikan Nasional Indonesia; sewaktu mudanya banyak berkecimpung dan berjuang melalui dunia politik, dunia pers, dunia kebudayaan, dan tentu saja juga dunia pendidikan sebagaimana yang kita kenal selama ini.

A2. Tepat di tanggal 3 Juli 1922, KHD yang saat itu masih bernama R.M. Soewardi Soerjaningrat mendirikan National Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa). Pendirian lembaga pendidikan dan kebudayaan ini dilakukan bersama Sang Isteri, Nyi Sutartinah, dan teman-teman seperjuangannya seperti Ki Soerjoputro, Ki Soetatmo Soerjokoesoemo dan Ki Pronowidigdo.

A3. Pendirian Tamansiswa disambut positif masyarakat luas waktu itu. Di awal KHD menyelenggarakan Taman Indria (Taman Kanak-kanak); yang berkembang menjadi Taman Muda (Sekolah Dasar), Taman Dewasa (Sekolah Menengah Pertama), Taman Madya (Sekolah Me-nengah Atas), Taman Karya Madya (Sekolah Menengah Kejuruan), Taman Guru (Sekolah Pendidikan Guru), dan Sarjanawiyata (univer-sitas). Bahkan pernah mendirikan Taman Tani (nonformal).

A4. Pada tahun 1932, KHD yang didukung oleh segenap organisasi yang bergerak di bidang pendidikan melawan kebijakan pemerintah kolo-nial Belanda, Onderwijs Ordonnantie (OO) dengan mengaplikasikan politik diam sambil melawan (lijdelijk verset). OO pada dasarnya adalah kebijakan pemerintah untuk menindas sekolah swasta.

A5. Sebelum dan selama memimpin Tamansiswa, KHD banyak mengha-silkan konsep pendidikan untuk memajukan bangsa Indonesia yang secara filosofis memang layak untuk didalami dan diimplementasi.

B. ALIRAN FILSAFAT
B1. Lingkup filsafat pada dasarnya meliputi tiga bagian; adalah ontologi, epistemologi dan aksiologi. Ontologi mempelajari hakikat dan asal-usul dari segala wujud yang ada; epistemologi mempelajari struktur, metode dan keabsahan pengetahuan tertentu; sedangkan aksiologi mempelajari nilai-nilai kehidupan manusia seperti halnya benar salah dan baik buruk dalam bersosialisasi dengan masyarakat.

B2. Dalam filsafat pendidikan muncul aliran (mazhab) dengan tokohnya; yaitu Aliran Idealisme (Parmenides: 540-475 B.C., Aristocles Plato: 427-347 B.C, Al-Ghazali: 1059-1111, dsb.); Aliran Realisme (Aristo-teles: 384-322 B.C., Saint Thomas Aquinas: 1225-1274, Francis Ba-con: 1561-1626, dsb.); Aliran Materialisme (Demokritos: 460-360 B.C., Thomas Hobbes: 1588-1679, August Comte: 1786-1857, dsb.); Aliran Pragmatisme (Charles Peirce: 1839-1914, William James: 1842-1910, John Dewey: 1859-1952, dsb.); Aliran Eksistensialisme (Soren A. Kierkegaard: 1813-1855, Martin Buber: 1878-1965, Karl Jasper: 1883-1969,dsb.); Aliran Progresivisme (William O. Stanley: 1822-1913, Lawrence B. Thomas: 1888-1935, George Axtelle: 1893-1974, dsb.); Aliran Perenialisme (Marcilio Ficino: 1433-1499, Gio-vanni Pico Della Mirandola: 1463-1494, Robert Maynard Hutchins: 1899-1977, dsb); Aliran Esensialisme (Johan Amos Cornenius: 1592-1670, George Wilhelm Friedrich Hegel: 1770 – 1831, Johan Fried-drich Herbart: 1776-1841, dsb.); dan Aliran Rekonstruksionisme (Ha-rold Rugg: 1886-1960, George Silvester Count: 1889-1974, Theodore Brameld: 1904-1987, dsb.).

B3. Konsep pendidikan KHD dapat dimasukkan ke dalam filsafat Aliran Idealisme. Aliran ini menyatakan nilai itu bersifat mutlak; benar salah dan baik buruk secara fundamental tidak berubah dari generasi ke generasi. Manusia mestinya berlaku jujur, adil, ikhlas, pemaaf, kasih sayang pada sesama karena itu merupakan kebaikan yang universal. Konsep pendidikan budi pekerti yang dikembangkan oleh KHD pada dasarnya mengacu kepada nilai benar dan salah serta baik dan buruk yang bersifat mutlak dan universal.

B4. Konsep pendidikan KHD juga bisa dimasukkan dalam filsafat Aliran Rekonstruksionisme. Aliran ini menyatakan tujuan pendidikan adalah membuat aturan sosial yang ideal dan merekonstruksi budaya pada masyarakat majemuk. Konsep Trikon yang dikembangkan KHD, ter-diri dari kontinuitas, konvergensitas dan konsentrisitas, pada dasar-nya memberi tempat budaya masyarakat lain yang majemuk ke dalam budaya masyarakat setempat sepanjang perpaduan antarbudaya terse-but bersifat akulturatif dan saling mengisi.

B5. Konsep-konsep pendidikan KHD lainnya kiranya pantas didalami dan diimplementasi; antara lain adalah Konsep Trihayu, Konsep Ke-seimbangan, Konsep Dasar dan Ajar, Konsep Trisentra Pendidikan, Konsep Kebangsaan, Konsep Kekeluargaan, Konsep Among, Konsep Tutwuri Handayani, Konsep Tringa, Konsep Trirasa, Konsep Trina, dan Konsep Tri Pantangan.

B6. Konsep Trihayu yang terdiri dari memayu hayuning salira, memayu hayuning bangsa, dan memayu hayuning manungsa (bawana) me-nyatakan bahwa pendidikan itu hendaknya dapat barmanfaat bagi diri sendiri, bagi bangsa dan bagi masyarakat dunia.

B7. Konsep Keseimbangan menyatakan bahwa pendidikan itu hendaknya secara seimbang dapat mengembangkan kecerdasan (intelectuality) di satu sisi dan kepribadian (personality) di sisi yang lain pada Sang Anak. Kecerdasan tanpa diimbangi kepribadian membuat Sang Anak menjadi pintar tetapi buruk; sebaliknya kepribadian tanpa diimbangi kecerdasan membuat Sang Anak menjadi baik tetapi bodoh.

B8. Konsep Dasar dan Ajar menyatakan bahwa perkembangan jiwa Sang Anak itu tergantung pada dua aspek sekaligus; yaitu aspek dasar dan aspek ajar. Aspek dasar adalah pemberian Tuhan YME pada masing-masing anak seperti bakat dan potensi diri; sedangkan ajar adalah pendidikan dan pelatihan bagi Sang Anak. Apabila Sang Anak memi-liki dasar yang positif serta ajar yang positif maka perkembangan jiwanya akan positif; demikian pula sebaliknya.

B9. Konsep Trisentra Pendidikan yang terdiri dari keluarga, perguruan dan pergerakan menyatakan bahwa keberhasilan pendidikan sangat ditentukan tiga aspek sekaligus; yaitu keluarga, perguruan dan ma-syarakat. Pendidikan Sang Anak berhasil kalau pendidikan keluarga baik, pendidikan perguruan atau sekolah baik dan lingkungan masya-rakatnya baik; sebaliknya pendidikan Sang Anak tidak akan berhasil kalau pendidikan keluarga buruk, pendidikan perguruan atau sekolah buruk dan lingkungan masyarakatnya juga buruk.

B10. Konsep Kebangsaan menyatakan bahwa pendidikan harus mampu menghantarkan Sang Anak memiliki jiwa dan semangat kebangsaan yang memadai; mendudukkan bangsa (Indonesia) di atas segala, tidak boleh menonjolkan status sosialnya, status ekonominya, agamanya, etnisnya, sukunya, dan golongannya sendiri.

B11. Konsep Kekeluargaan menyatakan hendaknya pendidikan sebaiknya dilakukan dalam suasana keluarga (family atmosphere), sebagaimana hubungan yang terjadi dalam keluarga seperti antara anak dengan ibu, anak dengan ayah, dan adik dengan kakak.

B12. Konsep Among menyatakan mendidik Sang Anak itu harus dilandasi dengan rasa ikhlas untuk mengasuh dan membimbing sebagaimana dengan seorang “pangemong” dengan anak yang diasuh dan dibim-bingnya. Mendidik Sang Anak tidak sebatas pertemuan pada jam-jam efektif di kelas dan/atau di sekolah; akan tetapi dilaksanakan secara terus menerus selama 24 jam setiap harinya.

B13. Konsep Tutwuri Handayani yang terdiri dari tutwuri dan handayani menyatakan dalam mendidik hendaknya dilakukan dengan memberi kesempatan pada Sang Anak untuk mengembangkan dirinya sendiri; manakala dalam perjalanannya ada hal yang keluar dari rel pendidik-an maka pendidik wajib memberi bimbingan dan arahan. Pada anak usia anak-anak, semisal anak TK, maka porsi handayani lebih domi-nan; sebaliknya pada anak usia dewasa, semisal mahasiswa PT, maka porsi tutwuri lebih dominan.

B14. Konsep Tringa yang terdiri dari ngerti, ngrasa, dan nglakoni menya-takan bahwa untuk mengoptimalkan hasil pembelajaran maka Sang Anak perlu menguasai pengetahuan yang sedang dipelajari (ngerti), mengambil sikap positif terhadap sesuatu yang dipelajari (ngrasa) dan mempraktikkan apa yang dipelajari (nglakoni).

B15. Konsep Trisakti Jiwa yang terdiri dari cipta, rasa, dan karsa menya-takan bahwa untuk mengoptimalkan hasil pembelajaran maka kepada Sang Anak haruslah dikembangkan daya cipta atau kreativitasnya (cipta), daya pemahaman dan perasaannya (rasa), dan juga dibangun motivasinya (karsa) untuk mempelajari sesuatu.

B16. Konsep Trina yang terdiri dari niteni, nirokake dan nambahi menya-takan bahwa untuk mempelajari segala sesuatu bisa ditempuh dengan cara “mengenali dan mengingat” sesuatu yang dipelajari (niteni), menirukan sesuatu yang dipelajari (nirokake), serta mengembangkan sesuatu yang dipelajari (nambahi).

B17. Konsep Tripantangan yang terdiri harta, tahta dan wanita menyata-kan bahwa seorang pendidik dilarang keras berburu harta secara tidak jujur, semisal korupsi (pantangan harta); berburu kekuasaan dan/atau kedudukan secara tidak wajar, semisal “membeli” jabatan (pantangan tahta) serta “bermain” dengan wanita secara tidak sah, semisal main selingkuh (pantangan wanita).

C. PENUTUP
Secara historis KHD adalah putra Indonesia yang berani menentang pemerintah kolonial secara terang-terangan demi bangsa dan negaranya; semisal atas tulisannya ‘Als ik een Nederlander Was’ (De Expres, 13 Juli 1913) yang berisi penentangan rencana pemerintah kolonial Belanda yang akan memperingati 100 tahun hari kemerdekaannya (dari jajahan Perancis) di tanah jajahan (Indonesia) telah membuat dirinya dibuang ke Belanda.

Di samping merupakan seorang pejuang kemerdekaan, KHD adalah tokoh pendidikan nasional juga menjadi Bapak Pendidikan Nasional yang tanggal lahirnya, 2 Mei, telah ditetapkan oleh Pemerintah RI sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Konsep pendidikan KHD memang cukup komprehensif, khas, dina-mis dan banyak yang dijadikan sebagai dasar untuk membangun pendidikan nasional Indonesia. Konsep pendidikan KHD juga banyak dipelajari oleh ilmuwan manca negara seperti Cina, India, Belanda dan Amerika Serikat (AS). Dengan demikian sudah pada tempatnya kalau kita sendiri mengkaji, mendalami dan sekaligus mengimplementasi filsafat pendidikan Ki Hadjar Dewantara.

Tulisan lain yang berkaitan:

imgMengembalikan Makna Pendidikan yang Diwariskan Ki Hajar Dewantara (Sunday, 1 May 2011, 840 views, 119 respon) Penulis : Eko Ari Prabowo —-Guru SMA Negeri 2 Merauke Papua—- KETIKA Ki Hajar Dewantara mendirikan perguruan Taman Siswa tanggal 3 Juli...
Tulisan berjudul "Mendalami Filsafat Pendidikan Ki Hajar Dewantara" dipublikasikan oleh Admin ISPI (Sunday, 22 December 2013 (17:10)) pada kategori Karya Tulis, Makalah. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0.
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itRedditTechnoratiBlinklist
DesignfloatDiigoMixxMeneameFurlMagnolia

Komentar Anda?

«
»