Kepemimpinan Entrepreneur Kepala Sekolah

Friday, 16 May 2014 (17:20) | 5,751 views | Print this Article

Oleh : Dr. Uhar Suharsaputra, M.Pd
Anggota ISPI Kabupaten Kuningan, Pengawas Dindikpora Kuningan, Dosen pascasarjana Uniku. Lulusan terbaik Program Doktor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI Bandung) tahun 2008. Penulis Buku, Peneliti dan Trainer dalam Pengembangan SDM Pendidikan, juga seorang Konsultan Penelitian dan Pembangunan Pendidikan.

Kepemimpinan merupakan factor kunci dari suatu organisasi dan manajemen, kepemimpinan dalam berbagai lembaga akan menentukan perkembangan organisasi serta bagaimana proses manajemen dalam organisasi berjalan dalam mencapai tujuannya. Kapabilitas organisasi dan mutu manajemen menjadi ukuran penting bagi keberhasilan pemimpin dalam melaksanakan peran kepemimpinannya, sehingga  karakter dan kompetensi pemimpin akan menjadi dasar penting dalam membawa suatu organisasi semakin maju atau justru semakin mundur dalam melaksanakan peran organisasinya di masyarakat.

Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan dalam organisasi sekolah, mempunyai posisi yang penting, meskipun bukan satu satunya, bagi kemajuan sekolah, sehingga peningkatan kompetensi berkelanjutan bagi kepala sekolah menjadi suatu keharusan mengingat berbagai tantangan yang dihadapi baik dari lingkungan internal dan terutama lingkungan eksternal yang terus berubah dengan cepat yang mendorong makin kuatnya ketidak pastian (uncertainty) masa depan. Dalam kondisi yang demikian diperlukan kepemimpinan pendidikan yang tidak hanya mampu menjaga jalannya pendidikan di sekolah, namun juga kemampuan untuk mengantisipasi perubahan yang terjadi melalui berbagai inovasi yang dapat menjadikan perubahan sebagai arena pergumulan kreatif dalam terus memberikan kontribusi bagi peningkata mutu pendidikan melalui pendidikan di sekolah.

Dengan mengingat hal tersebut, diperlukan kepemimpinan yang mengedepankan kreativitas dan inovasi dalam menggerakan dan mengarahkan organisasi sekolah menuju tingkat optimal dalam mencapai mutu pendidikan yang handal dan kompetitif bagi kemajuan masyarakat dan bangsa, untuk itu kepemimpinan entrepreneur (Entrepreneurial Leadership) dapat menjadi salah satu model kepemimpinan yang dapat mengantisipasi perkembangan masyarakat dewasa ini yang berubah cepat, luas dan banyak.

  • A.    Konsep Entrepreneurship dan Entrepreneur

Entrepreneurship biasa diartikan sebagai kewirausahaan,  menurut Kuratko & Hodgetts (2004) entrepreneurship merupakan proses dinamis dari visi, perubahan dan kreasi yang tertuju pada penciptaan dan pelaksanaan ide-ide baru serta solusi kreatif (Entrepreneurship is a dynamic process of vision, change, and creation. It requires an application of energy and passion towards the creation and implementation of new ideas and creative solutions).

Kewirausahaan berkaitan dengan bagai mana suatu proses terjadi dalam terwujudnya suatu inovasi dalam konteks kehidupan social masyarakat, bahkan Schumpeter ekonom  terkenal abad dua puluh yang mempopulerkan istilah entrepreneur dan peranannya dalam pembangunan ekonomi, mengemukakan teori pembangunan ekonomi berbasis entrepreneurship, dia menyatakan dalam bukunya, The Theory of Economic Development (1934) (Ulrich Witt, 2001)

“entrepreneurship is at the core of carrying out new combinations of resources, i.e. innovations. He had argued that entrepreneurial innovativeness gives rise to an incessant competitive restructuring of the economy and to economic growth, where — in a somewhat elitist interpretation — the mainspring of endogenous economic change is to be found in the exceptional personality and the achievement motivation of entrepreneurs” (Ulrich Witt, 2001, www.druid.dk)

Kewirausahaan merupakan inti dari implementasi kombinasi sumberdaya yaitu inovasi, mencari dan menerapkan berbagai hal baru atau kombinasi baru merupakan kekuatan yang mampu meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakat, dan bila kemampuan tersebut dimiliki oleh seseorang maka disebutlah wirausaha atau entrepreneur. Lebih jauh apa yang dimaksud dengan entrepreneur ? secara sederhana dapat dimaknai sebagai orang yang melakasanakan kewirausahaan dalam melakukan berbagai kegiatannya khususnya yang bernilai ekonomi yang dapat meningkatkan pembangunan. Kuratko dan Hodgetts (2004:832) mendefinisikan entrepreneur sebagai berikut :

“Entrepreneur. An innovator or developer who recognize and seizes opportunities; converts these opportunities into workable/marketable ideas; adds values through time, effort, money, or skill; assumes the risks of the competitive marketplace to implement these ideas; and realizes the reward from these efforts”

Entrepreneur adalah seorang innovator dan pembangun yang mampu memanfaatkan peluang serta menjadikannya sebagai hal yang produktif. Dengan demikian nampak bahwa seorang entrepreneur adalah orang yang mengorganisir, mengelola dan menanggung suatu resiko bisnis. Seorang entrepreneur  selalu berusaha untuk memperoleh keuntungan dengan menggunakan berbagai cara yang baru/inovasi, karena dia seorang inovator, memanfaatkan berbagai peluang untuk mendapat laba, sehingga terjadi perubahan baik dalam barang dan jasa yang dihasilkan maupun dalam perluasan pangsa pasar. Seorang entrepreneur adalah orang yang dapat merubah  peluang menjadi suatu ide yang dapat dilaksanakan dan dapat memberi nilai tambah

“Entrepreneurs use innovation to exploit or create change and opportunity for the purpose of making profit. They do this by shifting economic resources from an area of lower productivity into an area of higher productivity and greater yield, accepting a high degree of risk and uncertainty in doing so”.(www.palgrave.com)

Penggunaan inovasi dalam mendorong perubahan dimaksudkan untuk mendapat keuntungan, hal ini dilakukan dengan mengelola sumberdaya agar dapat memberikan produktivitas yang optimum, dan karena penggunaan hal baru (inovasi) tersebut mempunyai unsur probabilitas dan ketidak pastian, maka seorang entrepreneur harus siap menerima resiko yang akan terjadi akibat kegiatan yang dilakukannya. Dengan demikian nampak bahwa inovasi dengan berbagai manifestasi perwujudannya, merupakan hal yang menjadi fungsi utama dari seorang entrepreneur sebagaimana dikemukakan Kuratko dan Hodgetts (2004:138) bahwa “Innovation is the key function in the entrepreneurial process”, dan  “Entrepreneurship is often considered to be a process of innovation (NCE,2001), hal ini sejalan dengan Drucker (1985) dalam Kuratko dan Hodgetts (2004:138)  yang menyatakan “Innovation is the specific function of entrepreneurship…. It is the means by which the entrepreneur either creates new wealth-producing resources or endows existing resources with enhanced potential for creating wealth”. Entrepreneur menjadi faktor yang dapat mendorong dalam meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakat. Seorang entrepreneur dapat mendorong pada pertumbuhan ekonomi melalui inovasi baik dalam produk atau jasa yang dihasilkan, maupun dalam penentuan alokasi sumberdaya yang lebih produktif.

Secara historis, peran entrepreneur dalam kehidupan ekonomi telah lama menjadi perhatian para ekonom, ini menunjukan bahwa konsep entrepreneur sangat terkait erat dengan kehidupan ekonomi dan pembangunan ekonomi. Memang dalam perkembangannya,  sampai tahun 1950-an,  kebanyakan definisi dan referensi kewirausahaan datang dari para ekonom  (Kuratko&Hodget, 2004:29). Peran entrepreneur yang sangat menonjol dalam kehidupan dan pembangunan ekonomi dengan inovasi dan motivasi berprestasinya telah menumbuhkan kesadaran bahwa sifat entrepreneur sangat dibutuhkan tidak hanya dalam konteks pembangunan ekonomi namun juga dalam bidang kehidupan lainnya. Oleh karena itu, dalam perkembangannya istilah entrepreneur tidak hanya berkaitan dengan ekonomi dan bisnis namun juga dengan bidang kehidupan lain  termasuk organisasi nirlaba, yang memerlukan karakteristik entrepreneur. Vipin Gupta, et.al  (2004) memandang bahwa

“Thinking like an entrepreneur no longer just refers to people assuming risks in order to implement a new business plan. The mindset is now a strategy of renewal within existing organizations”. (Berfikir seperti entrepreneur tidak lagi hanya berkaitan dengan menanggung resiko dalam melaksanakan rencana bisnis baru, namun merukan suatu strategi pembaruan dalam organisasi yang ada)

Dalam hubungan ini, apa yang dilakukan Osborne dan Gaebler (1992) merupakan salah satu upaya menerapkan jiwa entrepreneur dalam bidang di luar ekonomi/pembangunan ekonomi yakni sector publik (birokrasi pemerintahan).  Menurut Osborne dan Gaebler (1992) dalam upaya mentransformasikan sector public (birokrasi pemerintah), jiwa wirausaha dapat diterapkan melalui sepuluh prinsip yaitu :

  1. Pemerintahan katalis. Mengarahkan ketimbang mengayuh
  2. Pemerintahan milik masyarakat. Memberi wewenang ketimbang melayani
  3. Pemerintahan yang kompetitif. Menyuntikan persaingan ke dalam pemberian pelayanan
  4. Pemerintahan yang digerakan oleh misi. Mengubah organisasi yang digerakan oleh aturan.
  5. Pemerintahan yang berorientasi hasil. Membiayai hasil bukan masukan
  6. Pemerintahan berorientasi pelanggan. Memenuhi kebutuhan pelanggan, bukan birokrasi
  7. Pemerintahan wirausaha. Menghasilkan ketimbang membelanjakan
  8. Pemerintahan antisipatif. Mencegah daripada mengobati
  9. Pemerintahan desntralisasi
  10. Pemerintahan berorientasi pasar. Mendongkrak perubahan melalui pasar.

Prinsip-prinsip tersebut di atas meskipun didasarkan pada kondisi Amerika, namun telah dijadikan paradigma baru dalam pemerintahan oleh berbagai negara baik secara keseluruhan maupun hanya beberapa prinsip yang dipandang sesuai. Meskipun prinsip-prinsip tersebut juga mengacu pada dunia bisnis, dan pemerintahan jelas berbeda dengan bisnis, namun Osborne dan Gaebler yang juga mengakui adanya  perbedaan ini menyatakan bahwa ”tentu banyak kemiripan. Sebenarnya kami yakin bahwa 10 prinsip kami itu mendasari keberhasilan setiap lembaga di dunia saat ini – pemerintah, swasta, atau nirlaba” (Osborne&Gaebler, terj. 1999:24).

Dalam bidang kepemimpinan pun karakteristik entrepreneur mendapat perhatian, apalagi bila dilihat bahwa dalam konteks ekonomi pun entrepreneur/ entrepreneurship berkaitan dengan individu yang menonjol yang dapat merubah dan menggerakan dari situasi yang ada ke situasi yang lebih produktif, hal ini juga diungkapkan oleh Schumpeter (dalam Kurtako&Hodgetts, 2004: 29) entrepreneurship….consists in doing things that are not generally done in the ordinary course of business routine; it is essentially a phenomenon that come under the wider aspect of leadership. Kewirausahaan berkaitan dengan melakukan sesuatu yang umumnya tidak dilakukan dalam kondisi bisnis biasa, kewirausahaan secara esensial merupakan gejala yang muncul dalam aspek kepemimpinan yang lebih luas.

Jennifer James  dalam bukunya Thinking in the Future Tense (1998) berpendapat bahwa entrepreneurship merupakan faktor penting dalam menghadapi perubahan yang cepat. Hal ini dikarenakan karakteristik yang dimiliki oleh seorang entrepreneur yaitu :

  • Bakat menemukan hal menarik dan berharga yang tidak dilihat oleh orang lain
  • Fleksibilitas
  • Kecerdasan dan keterampilan
  • Pemilihan relung
  • Kecepatan langkah dan agenda ganda
  • Saluran-saluran baru
  • Pemikiran hipotetis
  • Pemikiran atau aplikasi komparatif
  • Pemikiran radikal

Karakteristik tersebut menggambarkan bagaimana seorang wirausaha atau entrepreneur bertindak dalam menghadapi berbagai tantangan yang dihadapinya, dan hal inipun jelas akan berpengaruh pada kepemimpinannya dalam suatu organisasi termasuk sekolah sebagai organisasi/lembaga pendidikan

 

  1. B.     Konsep Kepemimpinan Entrepreneur (Entrepreneurial Leadership)

Kepemimpinan entrepreneur merupakan kepemimpinan yang menerapkan jiwa kewirausahaan dalam  menjalankan peran kepemimpinannya. Penerapan prinsip entrepreneur dalam mempengaruhi anggota organisasi akan memberi dampak pada kinerja mereka sejalan dengan prinsip dan nilai seorang entrepreneur. Mintzberg (1973) telah memasukan entrepreneur sebagai salah satu unsur decisional role, dimana manager mencari peluang untuk kemudian berinisiatif terhadap sesuatu untuk melaksanakan perubahan. Ini bermakna bahwa  salah satu sikap kunci dari entrepreneur yaitu inovatif akan diperlukan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam bidang manajemen dan kepemimpinan, apalagi jika mengingat bahwa  dewasa ini tingkat perubahan yang terjadi sangat cepat dalam berbagai bidang kehidupan.

Sementara itu, kaitan kepemimpinan entrepreneur dengan bidang di luar bisnis, Patricia W Ingraham & Heather G Taylor (2004) menyatakan sebagai berikut :

Entrepreneurial leadership models are also beginning to mark the public sector. Numerous scholars have noted that there is increasing evidence of innovative or entrepreneurial leadership behavior by employees located at all levels of public organizations—and this phenomenon has been linked to enhanced public sector effectiveness.

Kutipan di atas menunjukan bahwa model kepemimpinan entrepreneur dengan berbagai karakteristiknya telah banyak dipergunakan pada berbagai organisasi public, dan ini dimaksudkan untuk meningkatkan keefektifan sector public. Untuk itu diperlukan pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan kepemimpinan entrepreneur agar dapat diperoleh suatu perspektif  entrepreneur dalam konteks kepemimpinan, berikut ini akan dikemukakan beberapa definisi kepemimpinan entrepreneur yang dikemukakan para pakar :

Entrepreneurial Leadership.. as the entrepreneur’s ability to anticipate, envision, maintain flexibility, think strategically, and work with others to changes that will create a viable future for the organization    (Hitts, Ireland, dan Hoskisson 2001 dalam Kurtako & Hodgetts, 2004:570)

Entrepreneurial Leadership … as a way for entrepreneur to anticipate, envision, maintain flexibility, think strategically, and work with others to initiate changes that will create a viable future for the growth-oriented venture (Kurtako & Hodgetts,2004:570)

Entrepreneurial leadership is given a new, integrative definition as, leadership that creates visionary scenarios that are used to assemble and mobilize a ‘supporting cast’ of participants who become committed by the vision to the discovery and exploitation of strategic value creation.( Gupta,  MacMillan and Surie, 2004)

Dari beberapa pengertian di atas, nampak bahwa kepemimpinan entrepreneur merupakan kepemimpinan/pemimpin yang mempunyai kemampuan untuk mengantisipasi berbagai perubahan dengan visi masa depan yang jelas serta berupaya mendorong suatu kerjasama dalam melakukan perubahan melalui fleksibilitas menjalankan perannya dalam mengelola organisasi.

Dalam menjalankan tugas dan perannya, Pemimpin entrepreneur berusaha menggunakan pengaruhnya untuk menjadikan kegiatan organisasi mempunyai posisi yang berbeda melalui berbagai kebijakan yang dapat merubah organisasi meskipun hal itu akan berbeda dengan yang lain, dan ini dilakukan dengan suatu keyakinan dan optimisme.  Menurut Doig & Hargrove, (1990) dalam Patricia W Ingraham & Heather G Taylor (2004)

“Entrepreneurial leaders have a strong motivation to “make a difference” and work to do so with determination and optimism. These individuals look for opportunities to forge their own direction, despite strong central organizational control”.

Semua itu terjadi karena pemimpin entrepreneur selalu mencari peluang dalam menjalankan organisasi kea rah kondisi yang makin meningkat, untuk itu peran pemimpin entrepreneur memerlukan suatu keberanian untuk berubah. pemimpin entrepreneur membangun tujuan/visi yang dapat mendorong bawahan berupaya bekerja ke tingkat kinerja yang tinggi serta menentukan strategi-strategi yang inovatif dalam mencapai hal tersebut. Untuk melaksanakan peran tersebut, maka Pemimpin entrepreneur perlu memiliki tiga karakter kunci yaitu : (1) being inclined to take more business-related risks; (2) favoring change and innovation to obtain competitive advantage; and (3) competing aggressively with other firms. (Vipin Gupta, et.al. 2004). Lebih jauh Vipin Gupta, et.al. (2004) mengusulkan lima syarat agar kepemimpinan entrepreneur dapat efektif yaitu :

  • extract exceptional commitment and effort from organizational stakeholders,
  • convince them that they can accomplish goals,
  • articulate a compelling organizational vision,
  • promise their efforts will lead to extraordinary outcomes, and
  • persevere in the face of environmental change

sementara itu Vadim Kotelnikov (2005), yang mendefinisikan kepemimpinan entrepreneur sebagai kepemimpinan berdasarkan sikap kerja mandiri (self-employed) memerinci ciri-cirinya sebagai berikut :

Mengambil inisiatif, menunjukan kreativitas kewirausahaan, keberanian mengambil resiko, serta bertanggung jawab atas kegagalan dan mengambil pelajaan darinya menjadi hal yang menggambarkan kepemimpinan entrepreneur, dan   semua itu melibatkan penguatan kepercayaan dalam berfikir dan bertindak dalam merealisasikan tujuan organisasi bagi kemanfaatan pemangku kepentingan (Vadim Kotelnikov, 2005). Sementara itu Dave Lavinsky, (2005) berpendapat bahwa kepemimpinan entrepreneur memiliki karakteristik sebagai berikut :

  • Build trust and confidence among employees
  • Communicate effectively with them
  • Seeking self-improvement: A great leader always seeks to become even better.
  • Possessing technical skills: While the leader may not need to have the greatest technical skills in their organizations, they need to be savvy enough to lead the team.
  • Accepting responsibility for actions: Leaders and companies always make mistakes. Great leaders don’t place blame on others.
  • Making decisions: Good leaders must make good and timely decisions.
  • Being a role model: A leader must set an example to employees and guide them to excel.

Menurut Ireland dan Hitt 1999, dalam Kuratko dan Hodgetts (2004:570) komponen-komponen kepemimpinan entrepreneur adalah :

  • determining the firm’s purpose or vision
  • exploiting and maintaining the core competencies
  • developing human capital
  • sustaining an effective organizational culture
  • emphasizing ethical practices
  • establishing balanced organizational control

kepemimpinan entrepreneur menggambarkan kepemimpinan yang mempunyai visi yang dengan visi tersebut mengelola dan mempertahankan kompetensi serta mengembangkan kualitas SDM. Disamping itu pepemimpinan entrepreneur juga mempertahankan dan membangun budaya organisasi yang efektif secara inovatif, etis dan melakukan pengawasan organisasi secara seimbang

 

C.    Kepala Sekolah sebagai Pemimpin Pendidikan

Kepala Sekolah adalah pemimpinan yang yang menjalankan perannya dalam memimpin sekolah sebagai lembaga pendidikan, Kepala Sekolah berperan sebagai pemimpin pendidikan. Secara umum kepemimpinan pendidikan dapat diartikan sebagai kepemimpinan yang diterapkan dalam bidang pendidikan, pengertian dari kepemimpinan itu sendiri pada dasarnya mempunyai sifat yang umum dan hal itu juga dapat berlaku dalam bidang pendidikan. Secara lebih khusus bila diterapkan pada organisasi pendidikan seperti sekolah, maka kepemimpinan pendidikan dalam tataran organisasi sekolah akan berkaitan dengan kepemimpinan kepala sekolah (school leader/principal), hal ini disebabkan kepala sekolah merupakan orang yang punya otoritas dalam mengelola sekolah guna mencapai tujuan yang telah ditentukan (meskipun dalam perkembangannya posisi guru juga dapat dipandang sebagai pemimpin pendidikan dalam level di bawah kepala sekolah).

Namun demikian kepala sekolah sebagai manajer sekolah tidak serta merta dapat memerankan sebagai pemimpin pendidikan, hal ini berkaitan dengan perbedaan antara manajemen dengan kepemimpinan meskipun keduanya punya kaitan, menurut Law, Smith dan Sinclair (dalam C Turney, et.al 1992:46) kepemimpinan merupakan bagian penting dari manajemen. Lebih lanjut mereka mengemukakan posisi kepemimpinan dalam konteks sekolah sebagai berikut :

“leadership, in the context of school, help bring meaning and a sense of purpose to the relationship between the leader, the staff, the students, the parent and the wider school community. Leadership is not only a matter of what a leader does, but how a leader makes people fell abort themselves in the work situation and about the organization itself” (C Turney, et.al 1992:48),  (kepemimpinan dalam konteks sekolah adalah memberi makna dan kesatuan tujuan dalam hubungannya antara pemimpin, staf, siswa, orang tua serta masyarakat luas. Kepemimpinan tidak semata terkait dengan apa yang dilakukan seorang pemimpin, tapi juga terkait dengan bagaimana pemimpin membuat pegawainya merasa bersemangat dalam bekerja memajukan organisasi)

kepemimpinan Kepala Sekolah merupakan factor penting yang dapat memberi makna dan kesatuan tujuan antara pemimpin, staf, siswa, orang tua siswa serta masyarakat secara keseluruhan. Kepemimpinan tidak hanya berbicara apa yang dilakukan pemimpin namun juga berkaitan dengan bagaimana pemimpin membuat orang/pegawai nyaman dan bersemangat dalam bekerja dan dalam organisasi itu sendiri. Sementara itu McCall (1994:19) mengemukakan pendapatnya tentang kepemimpinan pendidikan (sekolah) sebagai berikut :

“Leadership: providing purpose and direction for individuals and groups; shaping school culture and values, facilitating the development of shared strategic vision for the school; formulating goals and planning change efforts with staff and setting priorities for one’s school in the context of community and district priorities and student and staff needs” (kepemimpinan: menentukan tujuan dan arah bagi individu dan kelompok, membangun nilai dan budaya sekolah, memfasilitasi pengembangan visi strategic bersama bagi sekolah, merumuskan tujuan dan merencanakan upaya perubahan dan menentukan prioritas bagi sekolah yang terkait dengan prioritas kebutuhan masyarakat serta kebutuhan staf dan siswa)

menyediakan tujuan dan arah bagi anggota organisasi dan kelompok, membentuk budayaa dan nilai, mengembangkan visi sekolah yang didukung bersama, serta merencanakan perubahan dalam menghadapi tantangan kehidupan masyarakat yang terus berubah menjadikan pemimpin pendidikan memegang peran yang menentukan dalam mempertahankan dan mengambangkan sekolah dalam kehidupan masyarakat.

Dengan demikian kepemimpinan pendidikan/pemimpin lembaga pendidikan perlu terus mengembangkan diri agar dapat berperan efektif dalam membawa organisasi sekolah kearah yang lebih baik dan berkualitas. Menurut Roland S Barth (1990:64) Kepala Sekolah merupakan kunci sekolah yang baik dan berkualitas, factor potensial penentu iklim sekolah, serta sebagai pendorong bagi pertumbuhan para Guru. Sementara itu berkaitan dengan pemimpin sekolah yang efektif U.S. Department of Education (2004:3) menyatakan bahwa kepala sekolah yang efektif memahami bahwa mereka berada dalam posisi untuk menggerakan orang lain melalui :

  • articulating and modeling core values that support a challenging and successful education for all; (mengartikulasikan dan memodelkan nilao-nilai inti yang mendukung pendidikan yang menantang dan sukses bagi semua)
  • establishing a persistent, public focus on learning at the school, classroom, community, and individual levels;(memapankan focus public secara konsisten atas pembelajaran pada tingkatan  sekolah, kelas, masyarakat dan individu)
  • working with others to set ambitious standards for learning; (bekerja dengan yang lain untuk menentukan standar pembelajaran yang tinggi)
  • demonstrating and inspiring shared responsibility and accountability for student outcomes”.(menunjukan dan memberi inspirasi tanggungjawab dan akuntabilitas bersama atau peran lulusan di masyarakat)

Kepala Sekolah tidak bisa hanya memerankan peran dan tugasnya dengan mengandalkan pada kekuasaan formal legal, dia harus dapat menjadi contoh model dari nilai utama yang mendukung keberhasilan sekolah. Untuk itu mengokohkan focus pada pembelajaran baik pada tataran internal maupun eksternal menjadi tuntutan yang harus diperhatikan. Kepala sekolah harus mampu bekerja sama dalam menentukan visi dan tujuan sekolah dan mengplementasikannya secara bersama dengan seluruh anggota organisasi dengan mengacu pada standar yang telah ditentukan, hal ini dimaksudkan agar tingkat ketercapaian suatu tujuan dapat diketahui dengan tepat sebagai bahan evaluasi kinerja organisasi sekolah secara bersama. Untuk itu kepala sekolah harus mampu melaksanakan perannya dengan baik agar dapat memberi inspirasi akan perlunya tanggungjawab dan akuntabilitas pelaksanaan tugasnya pada seluruh pemangku kepentingan pendidikan terutama berkaitan dengan kemampuan lulusan untuk berperan dalam kehidupan masyarakat.

Tuntutan sebagaimana dikemukakan di atas menunjukan betapa berat namun dominannya peran kepala sekolah dalam membangun pendidikan, terlebih lagi dalam era perubahan yang cepat dewasa ini. Dalam konteks perubahan tersebut dan kaitannya dengan kepemimpinan, Fullan (dalam Fullan, ed. 1997:97) berpendapat perlunya memperluas pengertian kepala sekolah sebagai agen perubahan. Menurut Peterson (dalam Fullan, ed. 1997:102) terdapat lima nilai yang diperlukan bagi kepemimpinan sekolah masa depan (di era perubahan yang sangat cepat) yaitu :

  • Openness to Participation. Our organization values employees actively participating in any discussion or decision affecting them (terbuka pada partisipasi.menilai tinggi keaktifan partisipasi bawahan/pegawai)
  • Openness to Diversity. Our organization values diversity in perspective leading to a deeper understanding of organizational reality and an enriched knowledge base for decision making (terbuka terhadap perbedaan. Mengapresiasi perbedaan dalam upaya pemahaman lebih mendalam untuk meningkatkan pengetahuan sebagai dasar pembuatan keputusan)
  • Openness to Conflict. Our organization values employees resolving conflict in a healthy way that leads to stronger solutions for complex issues (terbuka pada konflik. Mengapresiasi pegawai dalam memecahkan konflik dengan cara yang sehat guna mendorong solusi yang lebih kuat untuk isu-isu yang rumit)
  • Openness to Reflection. Our organization values employees reflecting on their own and other’s thinking in order to achieve better organizational decision (terbuka untuk berfikir reflektif.mengapresiasi pegawai melakukan refleksi atas apa yang dilakukan serta pada pemikiran orang lain guna mencapai keputusan organisasi yang lebih baik)
  • Openness to Mistakes. Our organization values employees acknowledging mistakes and learning from them (terbuka pada kesalahan. Mengapresiasi pegawai yang mengakui kesalahan dan dapat belajar dari kesalahan tersebut)

keerbukaan merupakan hal penting yang dapat mendorong pada perubahan, baik dalam penangan dengan masalah internal organisasi maupun dengan masalah-masalah eksternal berkaitan dengan respon terhadap berbagai perubahan yang sangat cepat. Peran kepemimpinan pendidikan dalam pengembangan organisasi sangat besar. Menurut  Wayne Morris (2006) peran kepala sekolah sangat besar dalam  menentukan kreativitas dan keberhasilan perubahan dan inovasi di sekolah

Teachers can do a lot to encourage creativity in their classes but it’s a job only half done without the support of the school leadership. School leaders have the ability to build an expectation of creativity into a school’s learning and teaching strategies. They can encourage, recognize and reward creativity in both pupils and teachers. School leaders have the ability to provide resources for creative endeavours; to involve teachers and pupils in creating stimulating environments; to tap the creativity of staff, parents and the local community and much more. They have the ability to make creativity art of the staff development programme; to include creativity in everyone’s performance reviews; to invite creative people into the school and most important of all, to lead by example (Wayne Morris, 2006) (guru dapat melakukan banyak hal untuk meningkatkan kreativitas dalam pembelajaran, tapi itu tidak akan matang/berhasil tanpa dukungan dari kepala sekolah. Kepala sekolah punya kemampuan membangun ekspektasi kreativitas ke dalam pembelajaran di sekolah serta strategi pembelajaran oleh guru. Mereka dapat mendorong, mengenali dan memberi imbalan atas kreativitas baik bagi guru maupun murid. Kepala sekolah punya kemampuan menyediakan sumberdaya untuk upaya-upaya kreatif, melibatkan guru dan murid dalam menciptakan stimulus lingkungan, membuka kreativitas staf, orang tua dan masyarakat. Mereka punya kemampuan menjadikan kreativitas menjadi seni dalam program pengembangan pegawai, menjadikan kreaivitas sebagai dasar penilaian kinerja, mengundang orang kreatif ke sekolah, dan yang lebih penting memimpin dengan memberi contoh dalam hal kreativitas)

Menurut Davis et.al (2005,) kepala sekolah yang sukses berpengaruh pada prestasi siswa melalui : (1) the support and development of effective teachers (dukungan dan pengembangan guru yang efektif), dan (2) the implementation of ef­fective organizational processes (pelaksanaan proses organisasi yang efektif).

Pengaruh kepala sekolah terhadap prestasi siswa meskipun bersifat tidak langsung jelas akan sangat signifikan bagi pengembangan organisasi sekolah, sebab SDM utama pendidikan yaitu guru akan dapat berkembang dan meningkat diiringi dengan proses organisasi yang makin efektif sehingga secara sistemik hal itu akan mendorong pada peningkatan mutu pendidikan yang berkesinambungan manakala proses organisasi dapat efektif dan mampu terus membelajarkan diri dalam kontek interaksi antara aspek idiografik/individu guru dengan Kepala sekolah dalam kontek perubahan organisasi.

Sejalan dengan pendapat tersebut Hammond (2007) menyatakan bahwa pengaruh kepala sekolah terjadi melalui :

“First, through the selection, support, and development of teachers and teaching processes, and  second, through processes that affect the organizational conditions of the school. Processes that affect organizational conditions operate at the school level, including building school community and developing school procedures and plans, as well as at the classroom level, through developing curriculum, instruction, and assessment”(pertama, melalui seleksi, dukungan, dan pengembangan guru serta proses pembelajaran, dan kedua melalui proses yang mempengaruhi kondisi organisasi sekolah. Proses-proses yang mempengaruhi kondisi organisasi beroperasi pada tingkat sekolah, termasuk membangun komunitas sekolah, mengembangkan prosedur dan rencana sekolah, juga pada tingkatan kelas melalui pengembangan kurikulum, pembelajaran, serta penilaian).

dengan demikian kepala sekolah perlu terus mengembangkan diri agar pelaksanaan peran dan tugasnya dapat mendorong organisasi sekolah kearah yang lebih efektif dan berkualitas sesuai dengan tuntutan masyarakat yang terus berkembang. Pengaruh kepala sekolah terhadap organisasi serta SDM pendidikan di sekolah jelas mengindikasikan betapa dominannya peran kepala sekolah bagi peningkatan mutu pendidikan bila peran tersebut benar-benar dilaksanakan secara efektif dan terencana, hal ini tidak berarti peran unsur lain tidak penting, namun hanya menunjukan bahwa peran sebesar apapun yang dimainkan fihak lain akan tidak atau kurang bermakna dan memberi dampak signifikan bagi pengembangan organisasi sekolah dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan.

Menurut  Leithwood, Seashore-Louis, Anderson, and Wahlstrom (2004, dalam Hammond, 2007) terdapat tiga  praktek kepemimpinan  yang utama dalam konteks kepemimpinan di sekolah:

  • Developing people — Enabling teachers and other staff to do their jobs effec­tively, offering intellectual support and stimulation to improve the work, and providing models of practice and support. (membangun manusia. Memberdayakan guru dan staf untuk melakukan pekerjaannya secara efektif, memberikan dukungan intelektual dan dorongan untuk memperbaiki pekerjaan, serta menyediakan model-model pelaksanaan dan dukungan pekerjaan)
  • Setting directions for the organization — Developing shared goals, monitoring organizational performance, and promoting effective communication.(menentukan arah organisasi, me-ngembangkan tujuan bersama, memantau kinerja organisasi, serta mengembangkan komunikasi yang efektif)
  • Redesigning the organization — Creating a productive school culture, modify­ing organizational structures that undermine the work, and building collabora­tive processes. (merancang ulang organisasi, menciptakan budaya sekolahyang  produktif, mengembangkan struktur organisasi yang merintangi pekerjaan serta membangun proses kolaboratif)

Kepala sekolah baik sebagai manajer maupun leader di sekolah bekerja bersama orang lain, dan keberhasilannya juga dapat ditunjukan oleh bagaimana orang lain (guru dan staf) dapat berkembang serta meningkat kemampuan dan kompetensi mereka dalam menjalankan tugas profesinya, untuk itu pengembangan orang menjadi cirri utama dari keberhasilan kepala sekolah menggerakan organisasi sekolah serta mengisinya dengan SDM pendidikan yang makin bermutu. Semua itu dilakukan sudah barang tentu dengn mengacu pada tujuan serta arah yang telah dirumuskan serta disepakati bersama sehingga dapat terinternalisasi dengan kuat dalam setiap individu anggota organisasi, dengan arah itu kinerja organisasi dapat dipantau baik arahnya maupun gradasi pencapaiannya, dan hal itu hanya dapat dilakukan apabila komunikasi dalam organisasi dapat berjalan baik, untuk itu kepala sekolah perlu terus mengembangkan kemampuan komunikasinya secara efektif, sehingga kegiatan organisasi benar-benar menjadi konsern bersama dari seluruh anggota organisasi menuju pada makin meningkatnya mutu pendidikan.

sementara itu hasil penelitian tentang Kepala Sekolah di Inggeris tahun 2000 (Goleman, 2006. www.ASCD.org) menunjukan bahwa gaya personal pemimpin berpengaruh kuat pada iklim orgsnisasi bagi guru dan prestasi. Guru merasa puas apabila hal berikut terdapat di sekolah yaitu :

  • Led flexibly rather than sticking to needless rules.(dipimpin secara fleksibel ketimbang kaku pada aturan yang tak diperlukan)
  • Let them teach in their own way, holding them accountable for the results. (membiarkan guru mengajar secara otonom, dengan tetap menuntut akuntabilitas hasil pembelajaran)
  • Set challenging but realistic goals for excellence. (menetapkan tujuan yang menantang namun realistic untuk mencapai keunggulan)
  • Valued their efforts, recognizing a job well done. (menghargai upaya guru, serta mengapresiasi pekerjaan yang dilakukan dengan baik)

Kondisi sekolah yang dapat memberikan rasa puas bagi guru jelas akan berdampak pada prilaku dan kinerja guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai agen pembelajaran. Untuk itu kepala sekolah perlu terus berupaya untuk memelihara dan memperbaiki budaya dan iklim sekolah yang kondusif bagi pembelajaran kreatif-inovatif, dan itu dapat terjadi jika terdapat otonomi pengakuan dan apresiasi pada para pegawai dalam melaksanakan tugasnya, sehingga dapat berdampak pada seluruh stakeholder sekolah

“Principals who desire to improve a school’s culture, must foster an atmosphere that helps teachers, students, and parents know where they fit in and how they can work as a community to support teaching and learning. Creating a school culture requires instructional leaders to develop a shared vision that is clearly communicated to faculty and staff. Additionally, principals must create a climate that encourages shared authority and responsibility if they are to build a positive school culture” (Angus MacNeil, & Valerie maclin, www.cnx.org). (kepala sekolah yang ingin memperbaiki budaya sekolah harus membantu berkembangnya atmospir yang membantu guru, murid, dan orang tua mengetahuikecocokan merekaserta bagaimana mereka dapat bekerja sebagai komunitas untuk mendukung proses pembelajaran. Menciptakan budaya sekolah memerlukan kepemimpinan instruksional untuk mengembangkan visi bersama yang terkomunikasikan secara jelas pada seluruh anggota organisasi. Demikian juga, kepala sekolah harus menciptakan iklim yang mendorong otoritas dan tanggungjawab bersama jika mereka akan membangun budaya sekolah yang posistif)

Dari uraian di atas,nampak bahwa Kepala Sekolah (principal) adalah urat nadi pembaharu yang harus menjadi contoh dan suri tauladan bagi personil lain di dalam suatu sekolah, dia punya otoritas yang cukup untuk membentuk, memelihara dan mengembangkan iklim dan budaya sekolah yang positif dan kondusif bagi berkembangnya organisasi sekolah. dialah yang menjadi penentu maju mundurnya pendidikan, serta berhasil atau tidaknya suatu program yang telah direncanakan. Banyak syarat serta kompetensi yang harus dimiliki oleh Kepala sekolah baik ilmu pengetahuan, sikap kepribadian maupun keterampilan. Oleh karena itu apabila Kepala sekolah sudah menjiwai dan menjalankan hal – hal seperti di atas maka penyelenggaraan pendidikan akan berjalan lancar serta kualitas pendidikan yang diharapkan akan tercapai.

 

D.    Kepemimpinan Entrepreneur (Wirausaha) Kepala Sekolah  

Dengan memperhatikan tantangan perubahan serta karakteristik pemimpin entrepreneur, serta peran yang harus dimainkan kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan, nampak bahwa dunia pendidikan dalam hal ini sekolah memerlukan kepemimpinan yang dapat menghadapi berbagai tantangan perubahan dan kepemimpinan entrepreneur akan dapat memberikan kontribusi signifikan bagi organisasi sekolah dalam menyikapi hal tersebut sebagaimana dikemukakan oleh Caldwell dan Spinks (1992:79), dalam konteks organisasi Sekolah dewasa ini, yang berpandangan bahwa Sekolah memerlukan pemimpin Entrepreneur/ wirausaha

“An appraisal of current context of schooling suggests that entrepreneurial schools and entrepreneurial leaders are precisely what are called for…… original meaning of entrepreneurship, one which emphasises creativity, confidence, and an enduring contribution to the community” (penilaian terhadap persekolahan dewasa ini menyarankan agar sekolah dan pemimpin wirausaha benar-benar diperlukan…makna orsinil dari kewirausahaan, adalah seseorang yang menekankan pada kreativitas, kepercayaan, dan kontribusi yang terus menerus bagi kepentingan masyarakat/komunitas)

pemimpin sekolah yang menekankan pada kreativitas, kepercayaan serta kontribusi bagi masyarakat sebagai cirri kepemimpinan entrepreneur amat diperlukan dalam suatu organisasi sekolah. Dengan kepemimpinan entrepreneur seorang kepala sekolah akan mampu mengembangkan organisasi kearah yang lebih inovatif melalui peningkatan kreativitas, kepercayaan dan kerjasamanya dengan masyarakat. Pemimpin entrepreneur adalah pemimpin yang proaktif dalam mencari dan memanfaatkan peluang untuk mencapai kesuksesan, dan hal ini menunjukan bahwa pemimpin yang demikian akan membawa perubahan dalam organisasi kearah yang lebih adaptif dalam menghadapi berbagai perubahan lingkungan, dan hal ini juga menunjukan orientasi ke masa depan menjadi dominan pada pemimpin entrepreneur.

Kondisi yang demikian sejalan dengan pendapat  Razik dan Swanson (1995 : 563) yang menyatakan bahwa kepemimpinan pendidikan mencakup beberapa kemampuan (ability) yaitu : to have a vision of the future, to see into the intentions of other, and   to take effective action (mempunyai visi masa depan, memahami maksud fihak lain, dan mengambil tindakan yang efektif). Kemampuan-kemampuan tersebut akan menjadikan organisasi sekolah mampu memperkuat integrasi internal serta adaptasi eksternal, sehingga daya hidup organisasi sekolah akan dapat bertahan dan mampu bersaing di era global dewasa ini.

Secara umum kepemimpinan wirausaha merupakan kepemimpinan yang dapat mendorong organisasi dinamis, inovatif serta memberdayakan melalui pembelajaran yang terjadi dari mulai tahapan individu, kelompok sampai organisasi (masalah ini akan dibahas dalam topic learning organization), semua itu hanya dapat dilakukan apabila kepala sekolah sebagai Key Factor dari keberhasilan pendidikan di sekolah dapat berperan optimal serta dapat menerapkan prinsip kewirausahaan dalam mengelola organisasi sekolah.

Tabel 1. Ciri-ciri Kepala Sekolah Wirausaha

Ciri Generik

  • Berinisiatif untuk melakukan sesuatu bagi kepentingan organisasi
  • Inovatif  kreatif dalam menjalankan tugas
  • Visioner dengan orientasi yang kuat ke masa depan
  • Berfikir strategis
  • Mempunyai motivasi berprestasi yang kuat
  • Mandiri dan optimis
  • Berani mengambil resiko dalam melakukan sesuatu
  • Bertanggung jawab atas apa yang dilakukan, tidak menyalahkan orang lain
  • Mampu berubah dan mengelola perubahan/manajemen perubahan
  • Berani melakukan sesuatu meskipun berbeda dari yang lain dan dari kebiasaan
  • Menjadi model dalam menjalankan tugas secara baik
  • Belajar dan membelajarkan bawahan secara terus menerus untuk meningkatkan kompetensi/kemampuan organisasi
  • Mencari dan memanfaatkan peluang secara efektif
  • Mendorong kreativitas pegawai/bawahan
  • Komunikatif dan memberdayakan pegawai/bawahan

Ciri Spesifik

  • Memperkuat dan mengembangkan hubungan dengan masyarakat serta Memberdayakan komite sekolah
  • Mentransformasikan aspirasi siswa, guru, tenaga kependidikan serta komite sekolah ke dalam visi sekolah, serta mensosialisasikannya kepada seluruh pemangku kepentingan pendidikan
  • Memfasilitasi Guru dan Tenaga Kependidikan untuk meningkatkan kompetensi melalui diskusi, pelatihan dan sekolah lanjut
  • Menjadi mitra Guru dalam mengembangkan mutu proses pembelajaran
  • Aktif mencari informasi tentang perkembangan ilmu khususnya ilmu di bidang kependidikan serta menerapkan kebijakan dari superstruktur pendidikan secara kreatif
  • Memperkuat dan mentransformasikan proses pembelajaran dengan menggunakan pengetahuan yang terus berkembang
  • Berfokus pada memperbaiki proses pendidikan/pembelajaran ketimbang menunggu hasil pendidikan/pembelajaran

Ciri-ciri tersebut, baik ciri generik maupun spesifik pada dasarnya melihat kepemimpinan dan pemimpin entrepreneur/wirausaha pada apa yang dikerjakannya atau pada performance (actual performance), sehingga arahnya lebih menekankan pada best practices dari kerakter kinerja pemimpin wirausaha dan dalam konteknya dengan dunia pendidikan.

Demikian juga halnya dengan peran kepemimpinan kepala sekolah sebagaimana tercantum dalam Permendiknas No  19 tahun 2007 tentang standar pengelolaan pendidikan, dimana dalam bidang kepemimpinan, kinerja kepala sekolah dirinci sebagai berikut

  1. menjabarkan visi ke dalam misi target mutu;
  2. merumuskan tujuan dan target mutu yang akan dicapai;
  3. menganalisis tantangan, peluang, kekuatan, dan kelemahan sekolah/madrasah;
  4. membuat rencana kerja strategis dan rencana kerja tahunan untuk pelaksanaan peningkatan mutu;
  5. bertanggung jawab dalam membuat keputusan anggaran sekolah/madrasah;
  6. melibatkan guru, komite sekolah dalam pengambilan keputusan penting sekolah/madrasah. Dalam hal sekolah/madrasah swasta, pengambilan keputusan tersebut harus melibatkan penyelenggara sekolah/madrasah;
  7. berkomunikasi untuk menciptakan dukungan intensif dari orang tua peserta didik dan masyarakat;
  8. menjaga dan meningkatkan motivasi kerja pendidik dan tenaga kependidikan dengan menggunakan sistem pemberian penghargaan atas prestasi dan sangsi atas pelanggaran peraturan dan kode etik;
  9. menciptakan lingkungan pembelajaran yang efektif bagi peserta didik;
  10. bertanggung jawab atas perencanaan partisipatif mengenai pelaksanaan kurikulum;
  11. melaksanakan dan merumuskan program supervisi, serta memanfaatkan hasil supervisi untuk meningkatkan kinerja sekolah/madrasah;
  12. meningkatkan mutu pendidikan;
  13. memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya;
  14. memfasilitasi pengembangan, penyebarluasan, dan pelaksanaan visi pembelajaran yang dikomunikasikan dengan baik dan didukung oleh komunitas sekolah/madrasah;
  15. membantu, membina, dan mempertahankan lingkungan sekolah/madrasah dan program pembelajaran yang kondusif bagi proses belajar peserta didik dan pertumbuhan profesional para guru dan tenaga kependidikan;
  16. menjamin manajemen organisasi dan pengoperasian sumber daya sekolah/madrasah untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, sehat, efisien, dan efektif;
  17. menjalin kerja sama dengan orang tua peserta didik dan masyarakat, dan komite sekolah/madrasah menanggapi kepentingan dan kebutuhan komunitas yang beragam, dan memobilisasi sumber daya masyarakat;
  18. memberi contoh/teladan/tindakan yang bertanggung jawab

dari 18 aspek kepemimpinan kepala sekolah seperti dikemukakan di atas nampak bahwa hampir semuanya menunjukan apa yang harus dikerjakan oleh kepala sekolah dalam memerankan sebagai pemimpin, dimana di dalamnya aspek manajerial/manajemen lebih mendapat penekanan sehingga apabila hal tersebut dapat terlaksana, maka hanya akan membuat organisasi sekolah berjalan dalam siklus rutin, meskipun demikian bagimana kepala sekolah mengerjakan atau melaksanakan peran tersebut akan ditentukan oleh kemampuan atau kompetensi yang dimiliki oleh masing-masing kepala sekolah, sehingga variasi kinerja kepala sekolah akan tetap terlihat dalam aktualisasi pelaksanaan peran dan tugas yang dilaksanakan kepala sekolah, bukan karena apa yang dikerjakannya tapi oleh bagaimana dikerjakannya. Untuk itu pendekatan kompetensi dalam melihat pelaksanaan peran dan tugas kepala sekolah menjadi penting, dan pemerintah juga telah menetapkannya bahwa kompetensi kewirausahaan merupakan kompetensi yang disyaratkan bagi seorang kepela sekolah yang dalam permendiknas no 13 tahun 2007 disebutkan bahwa kompetensi kewirausahaan tercermin dari kemampuan kepala sekolah untuk:

  1. Menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah/madrasah.
  2. Bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah/madrasah sebagai organisasi pembelajar yang efektif.
  3. Memiliki motivasi yang kuat untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pemimpin sekolah/madrasah.
  4. Pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala yang dihadapi sekolah/madrasah.
  5.  Memiliki naluri kewirausahaan dalam mengelola kegiatan produksi/jasa sekolah/madrasah sebagai sumber belajar peserta didik.

Kompetensi kewirausahaan kepala sekolah bila termanifestasikan dalam kinerja kepemimpinan akan mewujudkan kepemimpinan entrepreneur kepala sekolah, dimana dengan kepemimpinan itu kepala sekolah akan selalu berusaha mengembangkan organisasi sekolahnya melalui kinerja inovatif dengan motivasi berprestasi yang tinggi, sehingga mentransformasikan kewirausahaan kedalam kepemimpinan pendidikan menjadi sesuatu yang tepat yang akan membawa organisasi sekolah mampu berkembang dan kompetitif dalam perkembangan masyarakat yang sangat cepat perubahannya serta perkembangan iptek  yang amat akseleratif, yang semua itu memerlukan respon kepemimpinan dan implementasi kepemimpinan entrepreneur kepala sekolah merupakan suatu keharusan yang tidak bisa ditawar lagi pada saat sekarang ini.

E.     Penutup

Manajemen dan kepemimpinan merupakan dua istilah yang punya kaitan dan sering dipandang identik, namun masing-masing sebenarnya berbeda dalam kontek organisasi (Sergiovani, Duke, Lipham, Kotter), pelaksana manajemen disebut manajer, dan pelaksana kepemimpinan disebut pemimpin. Ada pandangan bahwa manajemen lebih luas dari kepemimpinan dan ada juga yang sebaliknya, namun terlepas dari kontroversi tersebut dalam tataran prktek lapangan idealnya seorang kepala sekolah adalah seorang pemimpin yang baik sekaligus manajer yang baik pula artinya kepala sekolah harus mempunyai kemampuan kepemimpinan dan kemampuan manajemen sekaligus.

Seorang manajer lebih menekankan pada pelaksanaan tugas melalui cara yang teratur dengan prosedur yang jelas serta secara ketat menerapkan fungsi-fungsi manajemen dalam mencapai tujuan organisasi yang telah ditentukan. Seorang manajer lebih mengacu pada apa yang suadah biasa dilakukan serta mempertahankannya untuk mencapai proses organisasi yang efektif dan efisien, sehingga dalam bekerjanya seorang manajer lebih bersifat rutin dari waktu-kewaktu, yang penting organisasi dapat berjalan dengan stabil dalam menjalankan perannya. Berbeda dengan seorang manajer, dalam melaksanakan perannya seorang pemimpin lebih menekankan pada perubahan dan penentuan arah, serta upaya-upaya yang inovatif visioner dalam membuat organisasi mampu berperan lebih produktif, lebih maju dan lebih bermutu, sehingga mereka lebih menekankan pada pembelajaran dan pemberdayaan seluruh sumberdaya organisasi, akibatnya kinerja seorang pemimpin lebih berdampak dinamis bagi organisasi.

Seorang kepala sekolah jelas memerlukan kemampuan manajemen dan kepemimpinan, sehingga organisasi sekolah dapat stabil secara internal dan responsip terhadap factor eksternal yang terus mengalami perubahan. Dalam konteks sekarang ini kepala sekolah sebagai pemimpin nampaknya makin diperlukan penguatan mengingat akselerasi perubahan yang makin sulit diprediksi, namun demikian kemampuan sebagai manajer tetap diperlukan dalam upaya menata organisasi sekolah berjalan secara efektif dan efisien, oleh karena itu keseimbangan keduanya menjadi hal yang perlu terus dikembangkan.

Posisi ideal bagi seorang kepala sekolah, terwujud jika peran manajer dan peran pemimpin berada dalam posisi keseimbangan (continuity and change), posisi yang berat ke pemimpin merupakan posisi dengan peran dominan kepala sekolah sebagai pemimpin (change), kondisi ini akan menjadikan perubahan dan inovasi menjadi etos kerja yang dibangun sehingga organisasi menjadi dinamis sedang posisi yang berat ke manajer  menunjukan posisi dimana kepala sekolah berperan dominan hanya sebagai manajer (continuity) yang cenderung hanya menjaga keteraturan, prosedur serta etos kerja standar yang dituntut dari Guru dan Staf, sehingga kinerja organisasi cenderung rutin dan statis. Kontinum seperti dikemukakan di atas, nampaknya masih perlu dikaji lebih dalam dengan bukti-bukti empiris, namun sebagai kerangka awal memahami dinamika organisasi sekolah pembedaan tersebut cukup membantu.

Belakangan ini, nampaknya terdapat kecenderungan yang cukup menonjol terkait dengan peran Kepala Sekolah dalam melaksanakan tugasnya yaitu pelaksanaan peran manajer yang lebih banyak dijalankan ketimbang kepala sekolah sebagai leader (pemimpin), hal ini terjadi tidak terlepas dari kerumitan birokrasi administrasi yang makin membelit tugas-tugas kepala sekolah dalam mengelola organisasi pendidikan sehingga  pelaksanaan peran sebagai  pemimpin agak kurang atau bahkan mungkin tidak ada sama sekali. Kondisi ini jelas akan berdampak pada perkembangan organisasi sekolah yang diharapkan dapat memberi dampak bagi perubahan masyarakat kearah kehidupan yang lebih baik dan lebih bermutu.

Oleh karena itu upaya untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan wirausaha bagi kepala sekolah menjadi langkah yang sangat strategis guna mendorong terus dicapainya keseimbangan, dan hal ini sudah barang tentu harus dengan tetap menjaga dan memperkuat peran sebagai manajer, sehingga perubahan yang dilakukan dalam organisasi sekolah tetap berlandaskan fondasi kesinambungan, meskipun kondisi seperti di atas sebenarnya disebabkan oleh kurangnya upaya pengembangan aspek kepemimpinan Kepala sekolah

 

F.     Daftar Pustaka

Barth, Roland S.. 1990. Improving School from Within. San Francisco : Jossey – Bass.

Beck Lynn G. & Murphy, Joseph. (2000). The Four Imperatives of Successful Scholl. Corwin Press, Inc. California

Bush, Tony., Marianne Coleman. (2006). Leadership and Strategic Management in Education. terj. Fachrurrozi, Jogyakarta,  IRCISoD.

Caldwell, Brian J., & Jim M. Spinks. (1992). Leading the Self – Managing School. Washington DC : The Falmer Press.

Gupta,Vipin Ian C. MacMillan and Gita Surie (2004)  Entrepreneurial Leadership: Developing and Measuring a Cross-Cultural Construct Journal of Business Venturing, Elsevier Inc., 19 (241-260), www.leadershipreview.org.  (11 September 2007)

Ingraham, Patricia W. & Heather Getha-Taylor (2004) Leadership in the Public sector:Models and Assumptions for Leadership Development.

Jennifer James (1998). Thinking in the Future Tense

Kasali, Rhenald. (2006) Change, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama.

———— (2007). Re-Code, Your Change DNA. Jakarta, Gramedia. Pustaka Utama

Katzenbach, John R. (2000). Peak Performance, ALigning the Hearts and Minds of Your Employees. Boston : Harvard Business School Press.

Keith, Sherry., Robert H Girling. (1991). Education, Management, and Participation. Boston : Allyn and Bacom.

Kelley, Tom. (2005) The learning person, The ten Faces of innovation, www.thetenfaces.com. (13 Agustus 2007)

Klaus, Beck. (1997). Organizational learning http://www.sfb504.uni-mannheim.de/glossary/orglearn.htm (10 Mei 2006)

Klausmeier, Herbert J., William Goodwin. (1971). Learning and Human Abilities 4th . New York : Harver & Row Publisher.

Kotelnikov, Vadim  (2005) Entrepreneurial Leadership,  New Managerial Task in the Era of Rampant Change, www.1000ventures.com ( 11Sept 2007)

Kuratko, Donald F. (2007)  Entrepreneurial leadership in the 21st century: guest editor’s perspective. Journal of Leadership & Organizational Studies www.ezinearticle.com (,11September 2007)

Kuratko, Donald F. dan Hodget (2004)  Entrepreneurship, New York, John Willey & Son

Lavinsky, Dave  (2005) Entrepreneurial Leadership, www.ezinearticle.com (,11 September 2007)

Osborne, David., Gaebler, Ted. (1992). Mewirausahakan Birokrasi, terj. Abdul Rosyid, Jakarta : PPM

Osher, David., Steve Fleischman (2005) Positive Culture in urban School, www.ASCD.org. (7 Agustus 2007)

Palmer, Joy A.. (2001). Fifty Modern Thinkers on Education. Terj.  London : IRCISoD.

Pariata Westra et al. (1977): Ensiklopedi Administrasi, Jakarta: Gunung Agung.

Perkins, David. (1992). Smart School, Better Thinking and Learning for Every Child. New York : The Free Press.

Suharsaputra, Uhar (2013) Administrasi Pendidikan, Cet 2 Edisi Revisi, Bandung, Refika Aditama

———— (2013) Menjadi Guru Berkarakter. Cet 2, Bandung, Refika Aditama

Turney C. et al. (1992). The School Manager. Sydney : Allen & Unwin.

 

Tulisan lain yang berkaitan:

Tulisan berjudul "Kepemimpinan Entrepreneur Kepala Sekolah" dipublikasikan oleh Admin ISPI (Friday, 16 May 2014 (17:20)) pada kategori Artikel, Karya Tulis. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.