Model Pembinaan Pendidik Profesional (Suatu Penelitian dengan Pendekatan Lesson Study pada Guru-Guru Sekolah Muhammadiyah Kabupaten Sukoharjo)

Friday, 19 December 2014 (17:23) | 962 views | Print this Article

Oleh : Dr. Tjipto Subadi
Dosen pada Pendidikan Geografi, FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta dan Sekretaris III PP ISPI 2014-2019

Abstrak
Tujuan penelitian ini mendiskripsikan; 1) identifikasi permasalahan peningkatan profesional guru-guru sekolah Muhammadiyah Kabupaten Sukoharjo melalui lesson study, 2) langkah-langkah lesson study yang efektif untuk meningkatkan profesionalitas guru tersebut, Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis, paradigmanya definisi sosial yang bergerak pada kajian mikro, subjek penelitiannya kepala dinas pendidikan, kepala sekolah, guru, anggota DPRD. Teknik pengumpulan data dengan observasi, dokumentasi, dan wawancara, sedangkan teknik analisis datanya menggunakan fist order understanding dan second order understanding. Kesimpulan penelitian ini: 1) terdapat empat masalah dalam upaya meningkatkan profesionalitas pendidik yaitu: permasalahan internal, eksternal, komitmen dan kemauan guru 2) Langkah-langkah lesson study yang efektif adalah lesson study berbasis research PTK (Penelitian Tindakan Kelas); dengan tahapan plan-do-see; dikoordinasikan melelui MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah), implentasi lesson study berbasis MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran.
Kata Kunci: peningkatan, profesional, pendidik, lesson study, validasi, model

Latar Belakang
Kualitas pendidikan di Indonesia sangat memprihatinkan jika dibandingkan dengan kualitas pendidikan Negara lain, Balitbang (2003) mencatat bahwa dari 146.052 SD di Indonesia ternyata hanya 8 sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Program (PYP). Dari 20.918 SMP di Indonesia ternyata juga hanya 8 yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Program (MYP), dan dari 8.036 SMA ternyata hanya 7 sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program (DP). Khusus  kualitas guru (2002-2003) data guru yang layak mengajar, untuk SD hanya 21,07 % (negeri) dan 28,94% (swasta), untuk SMP 54,12 % (negeri) dan 60,09 % (swasta), untu SMA 65,29 % (negeri) dan 64, 73 % (swasta), serta untuk SMK 55,49% (negeri) dan 58,26 % (swasta). (Subadi, 2009)

Data rendahnya mutu pendidikan tersebut menunjukkan ada masalah dalam sistem pendidikan di Indonesia. Pertama; masalah mendasar adalah kesalahan paradigma pendidikan yang mendasari keseluruhan penyelenggaraan sistem pendidikan. Kedua; masalah yang berkaitan dengan model pembinaan guru dan strategi pembelajaran. Ketiga; masalah lain yang berkaitan dengan aspek praktis penyelenggaraan pendidikan, antara lain; biaya, sarana dan prasarana, kesejahteraan guru.

Upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan antara lain; pemerintah telah menetapkan UU RI, Nomor 14 Tahun 2005 tantang Guru dan Dosen. UU ini menuntut penyesuaian penyelenggaraan pendidikan dan pembinaan guru atau dosen, agar guru atau dosen menjadi profesional. Pada satu pihak, pekerjaan sebagai guru atau dosen akan memperoleh penghargaan yang lebih tinggi, tetapi pada pihak lain pengakuan tersebut mengharuskan guru atau dosen memenuhi sejumlah persyaratan standar minimal sebagai seorang professional yaitu kualifikasi akademik, sertifikat pendidik, dan kompetensi.

Kualifikasi akademik harus diperoleh melalui pendidikan tinggi program S1 atau D4. Sertifikat pendidik harus diperoleh melalui pendidikan profesi. Sedangkan jenis kompetensi yang dimaksud pada UU tersebut meliputi, Kompetensi pedagogik, Kompetensi kepribadian, Kompetensi sosial, dan Kompetensi professional.

Selain perangkat UU, lesson study yang dikembangkan di Jepang tersebut bisa dijadikan sebagai anternatif model pembinaan guru di Indonesia. Lesson study dalam penelitian ini dimaksudkan suatu proses pelatihan guru yang bersiklus, diawali dengan guru berkolaborasi dengan guru lain melakukan kegiatan pembelajaran bersiklus melalui tiga tahap; plan-do-see.

Permasalahannya; 1) Bagaimana mengidentifikasi permasalahan peningkatan profesional guru-guru sekolah Muhammadiyah Kabupaten Sukoharjo melalui lesson study, 2) Bagaimana langkah-langkah lesson study yang efektif untuk meningkatkan profesionalitas guru tersebut.

Penelitian ini bertujuan mendiskripsikan; 1) identifikasi permasalahan peningkatan profesional guru-guru sekolah Muhammadiyah Kabupaten Sukoharjo melalui lesson study, 2) langkah-langkah lesson study yang efektif untuk meningkatkan profesionalitas guru tersebut.

Peningkatan profesionalitas pendidik dimaksudkan peningkatan kualitas tugas guru utamanya pembelajaran, dalam arti usaha untuk menjadikan pembelajaran lebih baik sesuai dengan keadaan yang diinginkan, kriterianya bersifat normatif yaitu hasil tindakan yang lebih baik dibandingkan dengan keadaan sebelumnya. Peningkatan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah peningkatan kualitas pembelajaran yang berpengaruh positif kepada prestasi akademik siswa. Pembelajaran seperti  ini pada hakikatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungan, sehingga terjadi perubahan perilaku yang lebih baik (Mulyasa, 2002: 100). Dalam upaya guru meningkatkan profesionalisme dalam proses pembelajaran menurut Harta (2009: 9-14) seorang guru memiliki perang sebagai sumber belajar, fasilitator, organisator, demonstrator, canselor, motivator dan evaluator.

Dr. Tjipto Subadi (berkopiah putih) saat menjadi tim formatur Munas VII ISPI 2014

Untuk menjadi guru professional diperlukan pembinaan secara intensif, model pembinaan guru yang telah berhasil adalah lesson study. Lesson Study merupakan model pembinaan guru profesional yang dikembangkan di Jepang sejak tahun 1900-an, Di Jepang lesson study bisa dilaksanakan oleh kelompk guru-guru di suatu distrik atau diselenggarakan oleh kelompok guru sebidang pelajaran sejenis, seperti MGMP (di Indonesia). Kelompok guru dari beberapa sekolah berkumpul untuk melaksanakan lesson study. Lesson Study yang sangat populer di Jepang adalah yang diselenggarakan oleh suatu Sekolah dan dikenal sebagai konaikenshu. Konaikenshu juga dibentuk oleh dua kata yaitu konai yang berarti di sekolah dan kata kenshu yang berarti tranning. Jadi istilah konaikenshu berarti school-based in-service training atau in service education within the school atau in house workshop.

Pada tahun 1970-an pemerintah Jepang merasakan manfaat dari konaikenshu dan sejak itu pemerintah Jepang mendorong sekolah-sekolah untuk melaksanakan konaikenshu dengan menyediakan dukungan biaya dan insentif bagi sekolah yang melaksanakan.  Kebanyakan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di Jepang melaksanakan konaikenshu. Walaupun pemerintah Jepang telah menyediakan dukungan biaya bagi sekolah untuk melaksanakan konaikenshu tetapi kebanyakan sekolah melaksanakan secara sukarela karena sekolah merasakan manfaatnya. Lesson study di Indonesia. Lesson study berkembang di Indonesia melalui IMSTEP (Indonesia Mathematics and Science Teacher Education Project) yang diimplemantasikan sejak Oktober tahun 1998 di tiga IKIP yaitu IKIP Bandung (sekarang bernama Universitas Pendidikan Indonesia/UPI), IKIP Yogjakarta (sekarang bernama Universitas Negeri Yogyakarta/UNY) dan IKIP Malang (sekarang bernama Universitas Negeri Malang /UNM) bekerja-sama dengan JICA (Japan International Cooperation Agency). Tujuan Umum dari IMSTEP adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan matematika dan IPA di Indonesia, sementara tujuan khususnya dalah untuk meningkatkan mutu pendidikan matematika dan IPA ditiga IKIP yaitu IKIP Bandung, IKIP Yogyakarta, dan IKIP Malang. Pada permulaan implementasi IMSTEP, UPI, UNY, dan UM, dulu bernama IKIP Bandung, IKIP Yogyakarta, dan IKIP Malang. .(Tim  LS UPI, 2007: 20-21).

Lesson study dalam perkebangan ilmu dan teknologi di Indonesia terutama dalam hal research oleh para peneliti digunakan sebagai desain penelitian lesson study berbasis PTK (Penelitian Tindakan Kelas) yang dapat dilaksanakan dalam beberapa macam. Mengacu pendapat Kemmis dan McTaggart (1997) ada tiga macam lesson study berbasis PTK, yakni (1) lesson study berbasis PTK yang dilakukan secara individual (2) lesson study berbasis PTK yang dilakukan secara kolaboratif, dan (3) lesson study berbasis PTK yang dilakukan secara kelembagaan.

Lesson study berbasis PTK yang dilakukan secara individual dimaksudkan seorang guru yang melakukan PTK berkedudukan sebagai peneliti sekaligus sebagai praktisi. Sebagai peneliti, guru harus mampu bekerja pada jalur penelitiannya, yakni jalur menuju perbaikan dengan langkah-langkah yang dapat dipertanggung jawabkan dalam arti guru yang bersangkutan harus menjamin kesahihan data yang dihimpun sehingga mendukung objektivitas penelitian yang dilakukan serta ketepatan dalam menginterpretasi dan  menarik kesimpulan hasil penelitian.

Lesson Study  berbasis PTK yang dilakukan secara kolaboratif, melibatkan sekelompok guru sehingga ada guru sebagai peneliti dan ada guru sebagai praktisi, dapat pula dilakukan kolaborasi antara guru dengan dosen. Dalam kolaborasi antara guru dan dosen, permasalahan digali bersama di lapangan, dosen dapat sebagai inisiator untuk menawarkan pemecahan atas dasar topik area yang dipilih. Dalam hal ini validitas penelitian lebih terjamin karena ada posisi sebagai peneliti dan posisi sebagai praktisi.

Lesson Study berbasis PTK yang dilakukan secara kelembagaan, dilakukan dalam bentuk PTK individual ataupun dalam bentuk kolaboratif dan memiliki skop terbatas atau berfokus pada topik area yag sempit, misalnya; penelitian hanya berfokus pada hubungan antara proses pembelajaran dan hasil yang ingin dicapai.  PTK yang dilakukan secara kelembagaan memiliki skop penelitian yang lebih luas dan ditujukan untuk perbaikan lembaga. Dengan demikian dalam satu penelitian dapat ditetapkan beberapa topik area. Dalam PTK yang dilakukan secara kelembagaan melibatkan kolaborasi secara luas  melibatkan banyak pihak yang terkait, sisalnya melibatkan siswa, guru, karyawan, orang tua, kepala sekolah, dinas, dan dosen  perguruan tinggi, dan stakeholder ataupun yang lainnya.

Tujuan utama PTK yang dilakukan secara kelembagaan adalah untuk memajukan lembaga. Oleh karena itu, dapat dibuat kelompok-kelompok peneliti menurut topik-topik area yang relevan dengan kelompok yang bersangkutan. Menurut Kemmis dan McTaggart (1997) dalam PTK bentuk ini kelompok-kelompok kecil yang ada di dalamnya dapat melakukan kegiatan eksperimen untuk menguji beberapa inovasi untuk permasalahan yang ada.

 

Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis, paradigmanya definisi sosial yang bergerak pada kajian mikro. Tempat penelitian di Sekolah-Sekolah Muhammadiyah Kapupaten Sukoharjo. Waktu penelitian Maret-November 2014. Subjek penelitiannya Kepala Dinas pendidikan, Kepala Sekolah, guru, siswa. Teknik pengumpulan data dengan observasi, dokumentasi, dan wawancara, sedangkan teknik analisis datanya menggunakan teori  fisrt order understanding dan second order understanding (Subadi 2013). Analisis data menggunakan tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu; reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi (Miles dan Huberman, 1992:15-21).

 

Hasil Penelitian dan Pembahasan
Anggit seorang  guru  Matematika di SMK Muhammadiyah Sukoharjo menjelaskan bahwa permasalahan yang dihadapi oleh guru-guru Sekolah Muhammadiyah Sukolarjao antara lain; permasalahan internal, permasalahan ini berasal dari guru, misalnya; kemampuan guru dalam pengembangan kurikulum menjadi pembelajaran berkualitas, kemampuan guru dalam pengembangan instrumen penilaian hasil pembelajaran berkualitas, kemampuan guru dalam penguasaan micro teaching sebagai in service training dan pre service training bagi guru, kemampuan guru dalam penguasaan konsep keilmuan dan langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran inovatif, dan  kemampuan guru dalam penguasaan lesson study sebagai model untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Sedangkan permasalah ekternal, permasalah ini berasal dari siswa, kepala sekolah, pengawas, lingkungan, kurikulum, sarana dan prasarana, misalnya; kemampuan siswa dalam berinteraksi dengan guru, materi, media, dan sesama teman dan pola pengembangannya, kemampuan siswa dalam penguasaan kompetensi yang diajarkan guru, rendahnya frekuensi supervisi dari kepala sekolah/pengawas, potensi alam sekitar yang kurang mendukung kegiatan pembelajaran, sosialisasi pengembangan kurikulum yang kurang merata, terbatasnya sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah.

Menurut Sukirman, dosen pendamping pengembangan lesson study FKIP-UMS dan pakar lesson study UNY menjelaskan bahwa; banyak permasalahan peningkatan profesional guru dengan pendekatan LS, antara lain: Komitmen guru dalam melaksanakannya, melaksanakannya secara konsisten/ajeg, kebanyakan guru kurang ada kebiasaan membaca, kebanyakan guru hanya menyampaikan materi ajar, padahal kurikulumnya KBK. Selanjutnya Sukirman menekankan bahwa kunci kesuksesan lesson study, selain dipengaruhi oleh guru, juga dipengaruhi oleh Kepala Sekolah, Pengawas, yang didukung dana dari Dinas Pendidikan.

Menurut Trikuat, Ketua Majlis Pendidikan Dasar dan Menegah PDM Kabupaten Sukoharja menjelaskan; Permasalahan pelatihan untuk peningkatan kualitas pendidik adalah (1) kemauan guru/semangat guru, jika guru tidak meranga butuh berarti tidak akan muncul kemauan yang keras pada diri guru itu sendiri, maka maupun Dikdasmen mengadakan pelatihan kepada guru yang tidak memiliki kemauan yang keras maka hasil dari petihan tersebut tidak akan berhasil (2) implementasi setelah pelatihan, jika guru yang sudah mengikuti pelatihan tidak diikuti implentasi dalam melaksanakan tugas sehari-hari, maka pelatihan itu agan mengamali kegagalas.

Menurut Tulus Sutoyo, Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah Sukoharjo bahwa: Permasalah peningkatan kualitas pendidik di Sukoharjo itu tidak bisa lepas dengan K3S dan Pejabat Pendidikan (Kepala Dinas), karena model pembinaan guru dengan lesson study ini sifatnya alternatif bukan merupakan kebijakan dari atas yang wajib atau harus dilakukan.

Hasil angket yang peneliti berikan kepada beberapa guru-guru SLA Muhammadiyah  Kabupaten Sukoharjo bahwa permasalahan yang dihadapi guru SLA untuk pengembangan keprofesian berkelanjutan  melalui lesson study adalah sebagai berikut; 1) kemampuan guru dalam pengembangan kurikulum menjadi pembelajaran berkualitas, 2) sumber belajar yang dimiliki dan pemanfaatannya, 3) interaksi pembelajaran dan pola pengembangannya, 4) pola pemanfaatan potensi alam sekitar untuk mendukung kegiatan pembelajaran, 5) pengembangan instrumen penilaian hasil pembelajaran berkualitas, 6) kemampuan siswa dalam penguasaan kompetensi yang diajarkan guru, 7) konsep-konsep keilmuan dan langkah-langkah inovasi pembelajaran, 8) penguasaan lesson study sebagai model untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Berdasarkan uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa permasalahan yang dihadapi oleh guru-guru Muhammadiyah di Kabupate Sukoharjo dalam pengembangan keprofesian berkelanjutan melalui lesson study, terdapat 2 faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

Permasalaha Internal, permasalahan ini berasal dari guru, antara lain; (1) kemampuan guru dalam pengembangan kurikulum menjadi pembelajaran berkualitas, (2) kemampuan guru dalam pengembangan instrumen penilaian hasil pembelajaran berkualitas, (3) kemampuan guru dalam penguasaan konsep keilmuan dan langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran inovatif, dan (4) kemampuan guru dalam penguasaan lesson study sebagai model untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Permasalahan Eksternal, permasalahan ini berasal dari siswa, kepala sekolah, pengawas, lingkungan, kurikulum, sarana dan prasarana, misalnya; (1) kemampuan siswa dalam berinteraksi dengan guru, materi, media, dan sesama teman dan pola pengembangannya (2) kemampuan siswa dalam penguasaan kompetensi yang diajarkan guru (3) rendahnya frekuensi supervisi dari kepala sekolah/pengawas (4) potensi alam sekitar yang kurang mendukung kegiatan pembelajaran (5) sosialisasi pengembangan kurikulum yang kurang merata (5) terbatasnya sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah.

Berdasarkan hasil angket dapat paparkan bahwa tingkat kesulitan guru-guru Muhammadiyah  Sukoharjo dalam pengembangan keprofesian berkelanjutan memalui lesson study sepeti tabel di bawah ini:

Tabel: Tingkat Kesulitan Guru dalam Pengembangan Model

Skor

Skor

Pertanyaan nomer

Jml

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

A

4 4 2 8 7 5 5

0

2 10 2 7 3 5 64

 B

11 11 8 8 8 10 12 6 6 7 6 7 8 2 110

C

9 10 10 9 9 8 8 13 16 6 12 11 10 5 125

D

5 2 4 5 5 6 3 10 4 4 7 4 5 4 68
Skor

J u m l a h

378

 

Dari tabel tersebut di atas menunjukkan bahhwa tingkat kesulitan sebagai berikut: Sangat banyak mengalami kesulitan, (62:378)x100% = 16,4%. Cukup banyak mengalami kesulitan,(108:378)x100%= 28,57%. Sedikit mengalami kesulitan, (125:378)x100% = 33,06%. Merasa sangat mudah, (68:378)x100% = 17,98%.

Pelaksanaan Lesson Study Yang Efektif di Sekolah-Sekolah Muhammadiyah berbasis PTK (Penelitian Tindakan Kelas), dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Tahap Plan (planning)/perencanaan. 2) Tahap Do (melaksanakan) atau implementasi (action) pembelajaran dan observasi. 3) Tahap refleksi (reflection) dan evaluasi terhadap perencanaan dan implementasi pembelajaran tersebut dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran. Seperti terlihat pada lampiran 1 foto siklus 1 dan 2.

Pespon siswa terhadap pembelajaran berbasis lesson study dari hasil angket dan wawancara kepada siswa peserta open lesson diperoleh keterangan sebagai berikut: sebelum pelaksanaan lesson study terdapat perbedaan yang signifikan dengan setelah pelaksanaan lesson study  yaitu; untuk SMA 15 %  dan 55% ,  SMK 20% dan 60%, seperti terlihat pada lampiran 2  Tabel 1.

Sedangkan menurut beberapa guru bahwa pelakasanaan lesson study di Sekolah Muhammadiyah Kabupaten Sukoharjo sangat baik sebagai pembinaan pendidik profesional dan  menyatakan setuju dengan program lesson study  kerena “terjadi peningkatan cukup signifikan pada kompetensi guru”, indikatornya; 1) perangkat pembelajaran menjadi lebih lengkap dan siap, 2)  penguasaan IT lebih meningkat, 3) metode dan strategi pembelajaran meningkat, hal ini dapat dilihat pada lampiran 3 Tabel  2.

Pada Tabel 2 itu terlihat bahwa pelaksaan lesson study di SMA dan SMK Muhammadiyah Kabupaten Sukoharjo masing-masing mencapai kategori standar 55 (positif) dan 59 (positif) dari kategori standar 60 (sangat positif), hal ini membuktikan bahwa lesson study sebagai model pembinaan guru untuk meningkatkan keprofesionalan sangat tepat dan perlu berkelanjutan.

Selain peningkatan kompetensi guru, secara umum pelaksanaan lesson study juga memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas pembelajaran dan perbaikan mutu guru, secara khusus kontribusi tersebut adalah kontribusi peningkatan persiapan pembelajaran; Kontribusi menumbuhkan kerja kolaborasi; Kontribusi pengembangan strategi pembelajaran; Kontribusi kolegialitas; Kontribusi kesiapan belajar siswa; Kontribusi perbaikan proses pembelajaran berdasarkan hasil refleksi; konstribusi pengembangan media pembelajaran; konstribusi pengembangan perangkat penilaian.

Oleh karena itu, implementasi program lesson study sebagai model pembinaan guru perlu dimonitor dan dievaluasi sehingga akan diketahui bagaimana keefektifan, keefesienan dan perolehan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.

Pembahasan
Permasalahan peningkatan profesionalitas pendidik dengan pendekatan lesson study pada guru-guru Sekolah Muhammadiyah Kabupaten Sukoharjo antara lain: Pertama, Permasalahan internal, permasalahan ini berasal dari guru, misalnya; kemampuan guru dalam pengembangan kurikulum menjadi pembelajaran berkualitas, kemampuan guru dalam pengembangan instrumen penilaian hasil pembelajaran berkualitas, kemampuan guru dalam penguasaan konsep keilmuan dan langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran inovatif, dan kemampuan guru dalam penguasaan lesson study sebagai model untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Kedua, Permasalah ekternal, permasalah ini berasal dari siswa, kepala sekolah, pengawas, lingkungan, kurikulum, sarana dan prasarana, misalnya; kemampuan siswa dalam berinteraksi dengan guru, materi, media, dan sesama teman dan pola pengembangannya, kemampuan siswa dalam penguasaan kompetensi yang diajarkan guru, rendahnya frekuensi supervisi dari kepala sekolah/pengawas, potensi alam sekitar yang kurang mendukung kegiatan pembelajaran, sosialisasi pengembangan kurikulum yang kurang merata, terbatasnya sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah.

Ketiga, Komitmen guru dalam melaksanakannya, melaksanakannya secara konsisten/ajeg, kebanyakan guru kurang ada kebiasaan membaca, kebanyakan guru hanya menyampaikan materi ajar, padahal kurikulumnya KBK. Selanjutnya Sukirman menekankan bahwa kunci kesuksesannya LS, selain guru, adalah Kepala Sekolah, Pengawas, yang didukung dana dari Dinas Pendidikan.

Keempat, Kemauan guru/semangat guru, jika guru tidak meranga butuh berarti tidak akan muncul kemauan yang keras pada diri guru itu sendiri, maka maupun Dikdasmen mengadakan pelatihan kepada guru yang tidak memiliki kemauan yang keras maka hasil dari petihan tersebut tidak akan berhasil, Implementasi setelah pelatihan, jika guru yang sudah mengikuti pelatihan tidak diikuti implentasi dalam melaksanakan tugas sehari-hari, maka pelatihan itu agan mengamali kegagalan.

Pembahasan permasalahan yang dihadapi guru dalam mengembangkan model peningkatan kualitasnya tidak jauh berbeda dengan penelitian Chokshi  (2005) dalam Subadi (2009) yang judul: Reaping the Systemic Benefits of Lesson Study, berkesimpulan bahwa pelaksanaan pembelajaran perlu adanya motivator dan visi yang jelas maka, permasalahan yang bersumber dari siswa yaitu kurangnya motivasi untuk belajar harus segera dicarikan solusinya agar tercipta pembelajaran yang menyenangkan. Permasalahan eksternal yang berbunyi terbatasnya sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah sejalan dengan  hasil penelitiannya Chokshi (2004) yang berjudul: Challenges to Importing Japanese Lesson Study, bahwa pembelajaran dengan metode praktek lebih cepat bisa mendukung pemahaman anak terhadap suatu pelajaran, karena didukung dengan sarana dan prasarana. Oleh karena itu permasalahan sarana dan prasarana harus segera dicari solusinya.

Saran dari Thompson (2007) dalam Subadi (2009) dalam penelitian yang berjudul: Inquiry in the Life Sciences: The Plant-in-a-Jar as a Catalyst for Learning berkesimpulan bahwa: (1) Adanya usaha guru untuk mengubah pola pembelajaran, ini berarti guru dituntut lebih kreatif dan inovatif. (2) Guru mencari terobosan untuk menyampaikan materi pelajaran pada KD tertentu agar pembelajaran menjadi lebih menyenangkan. (3) Usaha guru membuat modul pembelajaran untuk referensi siswa. Lebih lanjut Thompson menyarankan bahwa pentingnya pengembangan profesional para pendidik yang lebih kreatif dan inovatif yang dapat mempengaruhi pembelajaran sehingga menjadi pembelajaran yang menyenangkan dan demokratis.

Apabila  pembahasan tentang permasalahan yang dihadapi guru dalam mengembangkan model peningkatan kualitasnya dihubungkan dengan penelitian  Stewart (2005), dalam Subadi (2009) dengan judul : A Model for Teacher Collaboration, maka saling melengkapi dan ada kesesuaian.  Hasil penelitian Stewart menunjukkan bahwa cara yang terbaik untuk menyempurnakan perbaikan yang sifatnya positif di setiap tingkatan kelas pada suatu sekolah adalah dengan mengadopsi suatu model.

Robinson (2006) dalam penelitiannya yang berjudul: Prospective Teachers’ Perspectives On Microteaching Lesson Study) berkesimpulan bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan micro-teaching yang melibatkan beberapa guru mendukung hubungan pembelajaran yang berupa teori dan praktik sejalan dengan pembahasan hasil penelitian tersebut di atas.

Selain itu penelitian lesson study ini sesuai hasil penelitian William Cerbin and Bryan Kopp (2006) dosen University of Wisconsin-L Crosse yang berjudul: Lesson Study as a Model for Building Paedagogical Knowledge and Improving Teaching, salah satu bahasannya bahwa model lesson study guru dapat mengadakan kolaborasi memecahkan kesulitan untuk mencapai tujuan pembelajaran antara mengajar dan belajar siswa yang bermutu. Marsigit (2007) dalam “Mathematics Teachers’ Professional Development Through Lesson Study in Indonesia” pada bahasan penelitiannya menuliskan bahwa model lesson study memberikan kesempatan kepada guru dan para siswa untuk membangun inisiatif baru.

Langkah lesson study yang efektif berbasis MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran)  dengan tahapan-tahapan: plan (planning/perencanaan), do (tindakan dan observasi), see (refleksi dan evaluasi). Agar lebih efektif lesson study sebagai model pembinaan guru-guru disarankan melelui K3S (Kelompok Kerja Kepala Sekolah), MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah), dan implementasi (program) melalui kegiatan (KKG) Kelompok Kerja Guru, implementasi (plaksanaan) lesson study di sekolah masing-masing oleh guru model, dilakukan monevin secara rutin, didukung dengan dana, tim wark, motivasi implementasi oleh guru di lapangan.

Dampag dari efektivitas lesson study, 1) sebelum pelaksanaan lesson study terdapat perbedaan yang signifikan dengan setelah pelaksanaan lesson study  yaitu; 15 %  dan 50% untuk siklus I,  20% dan 50% untuk siklus II, 2) terjadi peningkatan cukup signifikan pada kompetensi guru”, indikatornya;  perangkat pembelajaran menjadi lebih lengkap dan siap,  penguasaan IT lebih meningkat, metode dan strategi pembelajaran meningkat, perlu adanya keberlanjutan program lesson study, 3) kontribusi kualitas pembelajaran, antara lain; Kontribusi peningkatan persiapan pembelajaran. Kontribusi menumbuhkan kerja kolaborasi. Kontribusi pengembangan strategi pembelajaran. Kontribusi kolegialitas. Kontribusi kesiapan belajar siswa. Kontribusi perbaikan proses pembelajaran berdasarkan hasil refleksi.Kontribusi pengembangan media pembelajaran. Kontribusi pengembangan perangkat penilaian.

Kesimpulan
1.    Terdapat empat masalah dalam upaya meningkatkan profesionalitas pendidik yaitu: permasalahan internal, eksternal, komitmen dan kemauan guru

2.    Langkah-langkah lesson study yang efektif adalah lesson study berbasis research PTK (Penelitian Tindakan Kelas); dengan tahapan paln-do-see; dioordinasikan melelui MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah), implentasi lesson study berbasis MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran.

3.    Dampag dari efektivitas lesson study, 1) sebelum pelaksanaan lesson study terdapat perbedaan yang signifikan dengan setelah pelaksanaan lesson study  yaitu; 15 %  dan 50% untuk siklus I,  20% dan 50% untuk siklus II, 2) terjadi peningkatan cukup signifikan pada kompetensi guru

Rekomendasi

  1. Kepada Pemerintah, hendaknya lesson study di jadikan model pembinaan guru professional.
  2. Kepada Kepala Sekolah, kendaknya melakukan pembinaan guru berbasis lesson study secara terus menerus dan berkesinambungan.
  3. Kepada Legeslatif, hendaknya memberikan pos anggaran pembinaan guru professional berbasis lesson study.

Ucapan Terima Kasih
Dalam kesempatan ini peneliti mengucapkan terima kasih kepada Direktorat Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional RI yang telah membari bantuan dana dengan Surat Perjanjian Nomor: 007/O06.2/Pp/Sp/2012 Tertanggal 24 Februari 2012. Terima kasih juga peneliti sampaikan kepada Rektor, Ketua LPPM Universitas Muhammadiyah Surakarta, yang telah memberika rekomendasi sehingg penelitian ini berjalan dengan baik. Terima kasih juga peneliti sampaikan kepada Pimpinan Muhammadiyah Majlis Dikdasmen Kapupaten Sukoharjo, yang telah member ijin kepada peneliti untuk berkolaborasi dengan Kepala Sekolah, guru dan siswa dalam penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA
Chakhshi, Sonal, Clea Fernandes. 2004. Cellenger to Importing Japanes Lesson Study. Bloomington Concerns, Miscoseptions, and Nuancen. www.proquets.umi.com.

—————– . 2005. Reaping the Systemic  Benefits of Lesson Study Bloomington: insights from the U.S. Vol 86. www.proquets.umi.com.

Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Undang-Undang Republik Indonesi., Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Depdiknas RI.: Jakarta.

—————– . 2005. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14

Harta Idris dan Djumadi. 2009. Pendalaman Materi Metode Pembelajaran. Modul PLPG. Departeman Pendidikan Nasional. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Panitia Sertifikasi Guru Rayon 41: Surakarta.

Kemmis Stephen & McTaggart Robin. 1997. The Action Research Planner. Deakin University Press.

Marsigit. 2007. Mathematics Teachers’ Professional Development Through Lesson Study in Indonesia. Eurasia Journal of Mathematics, Science & Technology Education, 3 (2), 141-144.

Miles, B. M., Michael, H. 1992. Qualitative Data Analisys, dalam H.B. Sutopo, Taman Budaya Surakarta dan Aktivitas Seni di Surakarta, Laporan Penelitian, FISIPOL UNS.

Mulyasa. 2004. Menjadi Kepala sekolah Profesional, Remaja rosda Karya, Bandung.

Robinson N. 2006. Lesson Study: An example of its adaptation to Israeli middle school teachers. (Online): stwww.weizmann.ac.il/G-math/ICMI/ Robinson proposal.doc

Roger A. Stewart, Jonathan L. Brenderfur. 2005. Phi Delta Kappan, Bloomington: May 2005. Vol. 86. Iss. 9, pg.681, 7 pgs.

Subadi. T (2009). Pengembangan Model Peningkatan Kualitas Guru Melalui Pelatihan Lesson Study Bagi Guru SD  Se-Karesidenan Surakarta (Laporan Penelitian di Publikasikan di Perpustakaan Pusat UMS).

Subadi T. 2009. Pengembangan Model Untuk Meningkatkan Kualitas Guru Melalui Pelatihan Lesson Study di Sekolah Dasar Kota Surakarta. Jurnal Sekolah Dasar Kajian Teori dan Praktik Pendidikan. Tahun 18. Nomor 2 November 2009. ISSN 0854-8285. Malang: UN Malang.

Subadi T., Sutarni, Ritas P., Kh. (2013). A Lesson Study as a Development Model of Professional Teachers. (Macrothink Institute Journal International  of Educatian. ISSN 1948-5476. Vol. 5, No. 22013). United States. info@macrothink.org. Website: www.macrothink.org.

Subadi. T (2010). Pengembangan Model Peningkatan Kualitas Guru Melalui Pelatihan Lesson Study Bagi Guru SD  Se-Karesidenan Surakarta (Laporan Penelitian di Publikasikan di Perpustakaan Pusat UMS).

Sugiyanto, 2008, Model-Model Pembelajaran Inovatif, Modul PLPG, Panitia Sertifikasi Guru (PSG) Rayon 13, UNS, Surakarta.

Stephen L. Thompson, 2007, Science Activities, Washington: Winter 2007. Vol. 43. Iss. 4, pg.27, 7 pgs.

Stewart, R, Brederfur, J. 2005. Fusing Lesson Study and Aithetic Achievent. Bloomington: A. Model for Teacher Collabooration. www.proquest.umi.com

Tim Piloting. 2007. Laporan Kegiatan Piloting. Bandung: IMSTEP-JICA FMIPA UPI.

Tim Pengembang Sertifikasi Kependidikan. 2003. Pedoman Sertifikasi Kompetensi Tenaga Kependidikan (draft).Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi Ditjen Dikti Depdiknas.

William Cerbin and Bryan Kopp. 2006. Lesson Study as a Model for Building Pedogogical Knowledge and Improving Teaching. In International Journal of Teaching and Learning in Higher Education. 18 (3), 150-257. ISSN 1812-9129

Tulisan lain yang berkaitan:

imgUpaya Meningkatkan Kemampuan Guru Dalam Menerapkan Model Pembelajaran CTL Melalui Pelatihan Model “Klasemen ” Bagi Guru-guru SMP/SMA/SMK di Kabupaten Dompu Semester Gasal Tahun Pelajaran 2010-2011 (Friday, 9 March 2012, 5,593 views, 0 respon) Oleh : Drs. SUAIDIN USMAN Pengawas SMA/SMK Kabupaten Dompu, NTB dan Anggota ISPI Abstract. Contextual Teaching Learning (CTL) is a concept of...
imgUpaya Peningkatan Kemampuan Guru Dalam Menggunakan Model Pembelajaran CTL Melalu Pelatihan Model “Klasemen” Bagi Guru-Guru SMA Wilayah Binaan Di Kabupaten Dompu Semester Gasal Tahun Pelajaran 2009-2010 (Saturday, 4 February 2012, 6,289 views, 0 respon) Oleh: Drs. SUAIDIN Pengawas SMA/SMK Kabupaten Dompu, NTB dan Anggota ISPI ABSTRAK “Upaya Peningkatan Kemampuan Guru Dalam Menggunakan Model ...
Tulisan berjudul "Model Pembinaan Pendidik Profesional (Suatu Penelitian dengan Pendekatan Lesson Study pada Guru-Guru Sekolah Muhammadiyah Kabupaten Sukoharjo)" dipublikasikan oleh Admin ISPI (Friday, 19 December 2014 (17:23)) pada kategori Artikel, Karya Tulis, PTK. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.