Story Telling Sebagai Model Pendidikan Karakter (Perspektif Tony R. Sanchez dan Victoria Stewart, Universitas Toledo)

Friday, 8 May 2015 (10:37) | 524 views | Print this Article

Oleh : Mukhlis, S.IP, S.Pd.
Guru SMP Negeri 3 Sragi, Pekalongan, Jawa Tengah.
Penulis sedang menempuh pendidikan pascasarjana (S2) di STAIN Pekalongan
Anggota ISPI

Mukhlis

Tony Sanschez (2006), dalam tulisan yang berjudul The Remarkable Abigail: Story Telling for Character Education menjelaskan bahwa keberhasilan pembelajaran di sekolah yang mencakup tiga ranah; aspek kognitif, afektif, dan psykomotorik, -seperti yang dianjurkan oleh John Dewey- ternyata fakta dilapangan bukan diperoleh dengan cara mengajarkan materi bahan ajar semata. Dalam penelitiannya Tony menemukan justru pembelajaran yang menggunakan metode bercerita (the art of story telling), bisa diperoleh hasil belajar yang mencakup ketiga ranah tersebut.

Dengan menyertakan pendapat Lockwood dan Harris (1985), Tony menjelaskan bahwa suatu peristiwa sejarah, merupakan cerita perjuangan manusia yang dramatis, penuh konflik moral, yang sangat berguna bagi siswa untuk mengambil nilai (baik dan buruk) dengan cara berpikir dan merefleksi diri, setelah mendengarkan cerita tersebut. Lebih lanjut dijelaskan bahwa cerita sangat berkaitan dengan kegiatan seseorang untuk mengambil kesimpulan tentang nilai-nilai kebenaran, integritas moral, kejujuran, loyalitas, dan nilai-nilai baik lainnya. Dengan demikian melalui cerita sejarah tersebut siswa dapat menganalisis perilaku-perilaku mana yang sesuai dengan nilai-nilai kehidupan yang telah dipelajarinya melalui cerita sejarah (story telling). Dengan demikian siswa mampu mengambil tindakan sesuai pilihannya dalam menghadapi dilema kehidupan yang dialaminya. Begitu pentingnya nilai-nilai karakter ini maka Tony Sanchez menganjurkan untuk memupuk karakter baik melalui pembelajaran di sekolah.

Egans (1988) memberikan catatan khusus tentang pendidikan nilai (pendidikan karakter). Menurutnya, siswa lebih bisa memahami konsep nilai budaya secara mendalam melalui cerita atau kisah (story) yang disampaikan oleh guru di kelas. Melalui gambaran profil dan karakter tokoh dalam cerita dapat menghubungkan (conecting) kepada wawasan pemikiran yang lebih luas dalam diri siswa. Esensi cerita/kisah dalam pendidikan karakter, dapat mengarahkan karakter peserta didik menjadi lebih baik sehingga dapat menjadi jembatan dalam menghadapi konflik-konflik kejiwaan siswa terhadap kegiatan yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Cambell (1988) memberi catatan bahwa cerita sejarah (story) tidak semata-mata hanya memberitakan pola pikir dan nilai-nilai penting bagi generasi muda, namun cerita sejarah dapat mengajarkan “kebijaksanaan hidup”. Dia juga menjelaskan bahwa pendidik (guru) pada saat ini cenderung kurang memberi penekanan pada nilai-nilai karakter dalam proses pembelajarannya lebih disebabkan karena ketidak mampuan guru dalam menggunakan strategi pembelajaran yang tepat dalam menanamkan karakter. Menanggapi pendapat Cambell ini, Sanchez dan Mill mengajukan metode story telling bisa dijadikan alternatif untuk digunakan dalam pendidikan karakter. Disamping itu, Sanchez juga mengungkapkan bahwa story telling dapat digunakan untuk membentuk karakter warga negara yang baik.

Sumber Nilai yang Tak Terhingga
Dalam studi sosial, dijumpai bahwa tiap-tiap zaman ada nilai-nilai kesejarahan yang perlu diambil, digali dari peristiwa tersebut sebagai nilai-nilai pilihan bagi kehidupan umat manusia. Peristiwa-peristiwa tersebut merupakan pengalaman riil dari kehidupan seseorang dalam situasi dan masa yang berkembang pada saat itu. Beberapa kisah petualangan berkaitan dengan tradisi, kepercayaan, dan kebudayaan masa lalu merupakan cermin bagi kehidupan sekarang. Pada kehidupan masa purbakala budaya maupun setting-nya sudah berubah bentuk dan sangat berbeda, namun dalam kehidupan tersebut mengandung nilai-nilai luhur yang tetap berlaku pada saat sekarang.

Kehidupan sosial yang dipelajari melalui cerita sejarah mengandung nilai luhur yang tak terhingga. Kita bisa mudah menyebut misalnya; nilai hormat kepada sesama (respect), sikap berani (courage), kejujuran (honesty), tanggung jawab (responsibility), ketekunan / ulet (perseverance), keadilan (justice), dan kebaikan hati (kindness). Itu semua merupakan fondasi karakter yang bisa dituturkan melalui berkisah tentang sejarah kehidupan (story telling).

Tantangan Bagi Guru dalam Pembelajaran Karakter
Perkembangan zaman menuntut pendidikan karakter menjadi penting. Namun dalam pelaksanaannya tidaklah mudah karena fakta dalam kehidupan banyak hal yang kurang mendukung terselenggaranya pendidikan karakter dengan baik. Untuk mewujudkan efektivitas pendidikan karakter, kreativitas guru sangat diperlukan. Banyak tantangan yang perlu dijawab oleh guru sehingga nilai-nilai karakter bisa diterima oleh siswa.

Tantangan pertama yang harus dipahami oleh seorang pendidik adalah bagaimana seorang guru mengerti betul prinsip-prinsip karakter yang akan menjadi bahan ajar bagi siswa. Dalam kisah Abigail yang dijadikan contoh oleh Tony, ada beberapa yang menjadi saran dan perlu diperhatikan guru dalam pembelajaran karakter di sekolah. Penerapkan pendidikan tersebut diutamakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan:
1. Nilai-nilai apa yang digambarkan dalam sebuah cerita?
2. Seberapa penting untuk melakukan sesuatu yang benar dimana seseorang percaya akan kebenaran itu?
3. Seberapa penting mengerjakan sesuatu yang benar dalam kehidupan setiap harinya?
4. Adakah di masyarakat mau menerima jika melakukan tindakan-tindakan yang tidak benar?
5. Seberapa sulit menerima peran-peran yang tidak lazim dilakukan oleh seseorang berkaitan dengan perbedaan jender (laki-laki/wanita) seperti yang dialami oleh tokoh Abigail?
6. Seberapa tinggi dunia pendidikan dan masyarakat terdidik menghargai perbedaan?
7. Bagaimana pandangan seseorang tentang nilai-nilai karakter pada saat ini?

Tantangan berikutnya yang perlu diperhatikan adalah bagaimana seorang pendidik menemukan strategi pembelajaran yang tepat sehingga pendidikan karakter itu bisa diterapkan dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini, Tony Sanchez memberikan alternatif dengan metode story telling yang ternyata cukup efektif sebagaimana sudah diterapkan di sekolah-sekolah Amerika Serikat.

Refleksi Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah
Dalam kesempatan peringatan hari pendidikan tanggal 2 Mei tahun ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengingatkan, bahwa wajah masa depan Indonesia berada di ruang-ruang kelas. Akan tetapi, hal itu bukan berarti bahwa tanggung-jawab membentuk masa depan itu hanya berada di pundak pendidik dan tenaga kependidikan, pada lembaga/institusi pendidikan saja. Secara konstitusional, mendidik adalah tanggung jawab negara namun secara moral mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Esensi pernyataan ini bagi guru adalah bahwa keberhasilan mencetak generasi muda yang akan menetukan Indonesia ke depan, seperti apa wajah Indonesia ke depan, terletak pada kualitas pembelajaran di kelas oleh guru. Dengan kata lain, guru sangat menentukan kemajuan bangsa.

Dalam bagian yang lain Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Bapak Anies Baswedan mengatakan, Ki Hadjar Dewantara menyebut sekolah dengan istilah “Taman”. Taman adalah tempat belajar yang menyenangkan. Anak datang ke taman dengan senang hati, berada di taman juga dengan senang hati dan pada saat harus meninggalkan taman maka anak akan merasa berat hati. Pertanyaannya, sudahkah sekolah kita menjadi seperti taman? Sudahkah sekolah kita mejadi tempat belajar yang menyenangkan?

Sekolah menyenangkan memiliki berbagai karakter, diantaranya adalah; sekolah yang melibatkan semua komponennya, baik guru, orang tua, siswa dalam proses belajarnya; sekolah yang pembelajarannya relevan dengan kehidupan; sekolah yang pembelajarannya memiliki ragam pilihan dan tantangan, dimana individu diberikan pilihan dan tantangan sesuai dengan tingkatannya; sekolah yang pembelajarannya memberikan makna jangka panjang bagi peserta didiknya.

Di hari Pendidikan Nasional ini, Menteri pendidikan dan Kebudayaan mengajak kepada seluruh pendidik dan tenaga kependidikan untuk kembali pada semangat dan konsep Ki Hadjar Dewantara bahwa sekolah harus menjadi tempat belajar yang menyenangkan. Sebuah wahana belajar yang membuat para pendidik merasakan kalau kegiatan mendidik sebagai sebuah kebahagiaan. Sebuah wahana belajar yang membuat para peserta didik merasakan belajar sebagai sebuah kebahagiaan. Pendidikan sebagai sebuah kegembiraan. Pendidikan yang menumbuh-kembangkan potensi peserta didik agar menjadi insan berkarakter Pancasila.

Perkembangan kehidupan masyarakat di negara kita yang begitu cepat telah disorot oleh berbagai kalangan dan merekomendasikan perlunya pendidikan karakter diterapkan dalam kurikulum pendidikan. Konsekwensi logis dari kebijakan tersebut, guru harus melaksanakan pembelajaran berkarakter. Berdasar refleksi implementasi pendidikan karakter yang sekarang ini berjalan, masih perlu dicari berbagai strategi yang tepat agar pendidikan karakter bisa lebih efektif. Pertanyaannya adalah strategi, pendekatan, dan metode apa yang tepat untuk pembelajaran yang mengandung pendidikan karakter di sekolah?

Banyak hal yang sangat terkait dengan keberhasilan pendidikan karakter melalui pembelajaran di kelas. Sebagai guru profesional harus merasa tergugah untuk ikut menyukseskan pendidikan karakter bagi kepentingan pembangunan bangsa, menyiapkan generasi yang berkarakter. Penelitian-penelitian pembelajaran karakter yang efektif perlu dilakukan oleh guru. Salah satu alternatif yang bisa dicoba adalah melalui metode story telling.[]

Daftar Pustaka
Hadjioannou, Xenia. Fostering Awareness Through Transmediation: Preparing Pre-Service Teachers for Critical Engagement with Multicultural Literature . International Journal of Multicultural Education. Vol. 16, No. 1 Tahun 2014 halaman 1 – 20
Pidato Sambutan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dalam rangka Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2015.
Sri Susilowati. Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah. Makalah dipresentasikan di STAIN Pekalongan. 2015
Sanchez, Tony R., The Remarkable Abigail: Story Telling for Character Education. The High School Journal – April/May 2006 halaman 14 – 21

Tulisan lain yang berkaitan:

imgBurung Walet dan Ayam Jago (Wednesday, 10 May 2017, 81 views, 0 respon) Oleh: Mukhlis, S.IP, S.Pd. Guru SMP Negeri 3 Sragi, Pekalongan, Jawa Tengah. Menempuh pendidikan pascasarjana (S2) di STAIN Pekalongan dan Anggota...
imgBanjir dan Pendidikan Lingkungan Hidup (Thursday, 30 January 2014, 504 views, 0 respon) Oleh : Mukhlis, S.Pd., S.Ip. Guru SMP 3 Sragi Pekalongan, Mahasiswa Pascasarjana STAIN Pekalongan, Anggota ISPI Mukhlis Banjir tahun ini menjadi...
imgPeningkatan Kualitas Pembelajaran IPS Melalui Pemanfaatan Media Cuplikan Film Sejarah (Tuesday, 5 February 2013, 3,592 views, 0 respon) Oleh: MUKHLIS, S.IP, S.Pd. Guru SMP 3 Sragi Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah, anggota ISPI Abstrak Minat siswa rendah terhadap pelajaran IPS untuk...
imgMemperingati Hari Pendidikan ”Bangkitnya Generasi Emas Indonesia” (Thursday, 3 May 2012, 2,474 views, 0 respon) Oleh: Mukhlis, S.Ip., S.Pd. Anggota ISPI dan Guru SMP 3 Sragi Kab. Pekalongan Khutbah Jumat, 4 Mei 2012 اْلحَمْدُ للهِ...
Tulisan berjudul "Story Telling Sebagai Model Pendidikan Karakter (Perspektif Tony R. Sanchez dan Victoria Stewart, Universitas Toledo)" dipublikasikan oleh Admin ISPI (Friday, 8 May 2015 (10:37)) pada kategori Artikel, Karya Tulis. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.