Menerima Rektor LPTK

Thursday, 27 August 2015 (19:14) | 68 views | Print this Article

Istana Wakil Presiden. Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla menerima rektor yang tergabung dalam Lembaga Pendidikan Tinggi Kependidikan (LPTK) di Istana Wakil Presiden, Kamis, 7 Mei 2015. Mengawali pertemuan, Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung Sunaryo Kartadinata, menyampaikan bahwa dunia pendidikan saat ini dalam keadaan mendesak memerlukan peningkatkan kualitas bangsa, yang dimulai dari profesionalisme tenaga kependidikan guru. “Untuk mengembangkan tenaga kependidikan guru, perlu tersedia sarana dan prasarana yang memadai yakni asrama guru yang saat ini jumlahnya masih sangat terbatas,” ujar Sunaryo.

Untuk mengawal pendidikan, lanjut Sunaryo, perlu menyiapkan guru masa depan yang berkualitas. Untuk mencapai hal tersebut, Sunaryo menyarankan agar kualitas LPTK juga ditingkatkan. “Guru yang bermutu baik adalah yang dihasilkan dari Lembaga Pendidikan Tinggi Tenaga Kependidikan yang bermutu baik pula,” tegas Sunaryo.

Lebih jauh Sunaryo menjelaskan langkah-langkah yang dapat dilakukan agar LPTK memiliki kualitas yang baik. Pertama, mutu guru perubahan harus diproyeksikan untuk menyiapkan anak bangsa agar siap memasuki dunia global, atau paling tidak memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang dalam waktu dekat akan segera terwujud. Artinya, guru yang disiapkan memiliki kapasitas dan memenuhi standar yang dibutuhkan. “Guru adalah sebagai sebuah siklus kehidupan, harus dikawal sejak rekrutmen seleki calon mahasiswa calon guru, dengan standar yang jelas,” lanjut Sunaryo.

Untuk menghasilkan guru yang bermutu, Sunaryo menilai, mereka yang telah lulus dengan profesi guru, juga harus diasramakan. Sebagaimana tercantum dalam Undang-undang (UU) Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, bahwa ‘guru yang diangkat oleh pemerintah adalah guru yang bersertifikat’. “Hal itu merupakan perintah UU yang kami yakini sebagai sebuah wahana pendidikan terutama yang menyangkut pendidikan kepribadian,” tegas Sunaryo.

Yang kedua, kata Sunaryo, guru mendapatkan ikatan dinas, dimana juga merupakan perintah UU. Atau, setidaknya pola ini diperuntukkan bagi mereka yang sedang dalam pendidikan profesi guru.

Yang ketiga, lanjut Sunaryo, penyediaan infrastruktur. Ia berpendapat, agar guru dan dosen yang bermutu betul-betul memiliki feeling terhadap persoalan pendidikan dan sekolah, maka pemerintah harus menyediakan sarana yang mendukung. Misalnya, menyediakan sekolah laboratorium, atau jika di fakultas kedokteran ada teaching hospital yaitu sebagai tempat research, untuk berinovasi, melatih calon-calon guru, termasuk juga melatih ‘menggurukan para dosen’ supaya mereka juga merasakan dunia guru ketika mereka mengajarkan sesama guru.

Menanggapi hal tersebut, Wapres menyampaikan agar pembangunan sarana pendukung seperti laboratorium sekolah (labskul) dapat dilaksanakan dengan bekerjasama sekolah-sekolah di bawah Kementerian Pendidikan Dasar, Menengah dan Kebudayaan, dan di bawah dinas-dinas pendidikan. “Sehingga pada prinsipnya sekolah dimanapun, itu bisa menjadi laboratorium sekolah (labschool) dan tentunya memerlukan sebuah pemikiran, sistem, dan kordinasi yang jelas,” tegas Wapres.

Terkait indikator sekolah yang bagus, Wapres berpandangan bagaimana suatu sekolah dapat membuat murid bodoh menjadi pintar. “Kalau [murid] yang masuk itu bodoh kemudian keluar menjadi pintar, itu berarti sekolah bagus. Tetapi kalau yang masuk pintar keluar juga pintar, itu belum tentu bahwa sekolah tersebut bagus”, ucap Wapres.

Sementara, menanggapi rencana pemanfaatan asrama guru, Wapres meminta agar yang diasramakan adalah yang telah diterima menjadi guru bukan ketika diterima menjadi mahasiswa kependidikan. “Jadi yang diasramakan setelah dia diterima menjadi guru, baru diasramakan bukan saat menjadi mahasiswa,” tegas Wapres

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi M. Nasir yang turut hadir dalam pertemuan tersebut menyampaikan akan membahasnya lebih jauh. “Program ini harus diintegrasikan, dan nanti akan ada Direktorat Penyiapan Tenaga Guru yang saat ini belum ada,” ujar M Nasir.

Duabelas Rektor yang hadir bertemu Wapres Jusuf Kalla tersebut adalah Rektor Universitas Negeri Medan (Unimed) Prof. Ibnu Hajar, Rektor Universitas Negeri Jakarta Prof. Djaali, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Prof. Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Semarang (Unes) Prof. Fathur Rokhman, Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Prof. Warsono, Rektor Universitas Negeri Malang (UM) Prof AH. Rofiuddin, Rektor Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Prof. Nyoman Jampel, Rektor Universitas Negeri Makasar (UNM) Prof. Arismunandar, Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Prof Syamsu Qomar Badu, Rektor Universitas Negeri Manado (Unima) Prof E.A. Tuerah, Raektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung Prof. Sunaryo Kartadinata, dan Guru Besar Unesa Prof. Muchlas Samani.

Hadir mendampingi Wapres Jusuf Kalla adalah Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Prof. Dr. M. Nasir, Sekretaris Wakil Presiden Mohamad Oemar, Deputi Seswapres Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Penanggulangan Kemiskinan Bambang Widianto, dan Staf Khusus Wapres Sofjan Wanandi. (Supriyanto)

Tulisan lain yang berkaitan:

Tulisan berjudul "Menerima Rektor LPTK" dipublikasikan oleh Admin ISPI (Thursday, 27 August 2015 (19:14)) pada kategori Berita Kampus, Kegiatan. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.