Guru Kreatif, Tak Henti Menebar Virus

Tuesday, 1 September 2015 (22:00) | 139 views | Print this Article

Oleh : Yonas Suharyono, S.Pd., M.Pd.
Guru SMP Negeri 1 Cilacap, redaktur jurnal Widyanata, Disdikpora Kabupaten Cilacap

Yonas Suharyono

Guru kreatif adalah guru yang tidak pernah puas dengan apa yang telah dilakukan dalam pembelajaran di kelas yang dikelolanya. Ada saja ulah dibuatnya untuk mengondisikan kelas menjadi lebih hidup, bergairah, dan menantang. Guru seperti ini yang sekarang ini dibutuhkan untuk mendekatkan peserta didik dengan virus-virus kreativitas.

Adakalanya sebuah kreativitas dan inovasi lahir dari sebuah kebetulan dan bisa juga ketidakberdayaan. Seorang guru, dengan keterbatasan sarana yang dimiliki mampu menciptakan suasana menyenangkan dengan memanfaatkan benda-benda sederhana di seputar tempat mengajar. Benda-benda tersebut kemudian diberdayakan dalam pembelajaran di kelas, dan menyebarkan virus-virus kreatif di benak para peserta didik.

Lazimnya, virus itu sesuatu yang sangat merugikan. Virus adalah parasit berukuran mikroskopik yang menginfeksi sel organisme biologis. Virus bersifat parasit obligat, hal tersebut disebabkan virus hanya dapat bereproduksi di dalam material hidup dengan menginvasi dan memanfaatkan sel makhluk hidup karena virus tidak memiliki perlengkapan selular untuk bereproduksi sendiri. (http://id.wikipedia.org/wiki/Virus).

Istilah virus biasanya merujuk pada partikel-partikel yang menginfeksi sel-sel eukariota (organisme multisel dan banyak jenis organisme sel tunggal), sementara istilah bakteriofage atau fage digunakan untuk jenis yang menyerang jenis-jenis sel prokariota (bakteri dan organisme lain yang tidak berinti sel).

Virus sering diperdebatkan statusnya sebagai makhluk hidup karena ia tidak dapat menjalankan fungsi biologisnya secara bebas jika tidak berada dalam sel inang. Karena karakteristik khasnya ini virus selalu terasosiasi dengan penyakit tertentu, baik pada manusia (misalnya virus influenza dan HIV), hewan (misalnya virus flu burung), atau tanaman (misalnya virus mosaik tembakau/TMV).

Virus juga merambah perangkat canggih bernama komputer. Perangkat perusak adalah perangkat lunak yang diciptakan untuk menyusup atau merusak sistem komputer, peladen atau jejaring komputer tanpa izin dari pemilik. Istilah ini adalah istilah umum yang dipakai oleh pakar komputer untuk mengartikan berbagai macam perangkat lunak atau kode perangkat lunak yang mengganggu atau mengusik. Istilah ‘virus computer’ kadang-kadang dipakai sebagai frasa pemikat (catch phrase) untuk mencakup semua jenis perangkat perusak, termasuk virus murni (true virus).

Perangkat lunak dianggap sebagai perangkat perusak berdasarkan maksud yang terlihat dari pencipta dan bukan berdasarkan ciri-ciri tertentu. Perangkat perusak mencakup virus komputer, cacing komputer, kuda Troya (Trojan horse), kebanyakan kit-akar (rootkit), perangkat pengintai (spyware), perangkat iklan (adware) yang takjujur, perangkat jahat (crimeware) dan perangkat lunak lainnya yang berniat jahat dan tidak diinginkan. Menurut undang-undang, perangkat perusak kadang-kadang dikenali sebagai ‘pencemar komputer’; hal ini tertera dalam kode undang-undang di beberapa negara bagian Amerika Serikat, termasuk California dan West Virginia. (http://id.wikipedia.org/wiki/Virus).

Akan halnya ‘virus’ yang tertera pada judul tulisan ini. Virus yang dimaksud penulis merupakan gejala menularnya beberapa aktivitas inovatif guru-guru kreatif kepada guru-guru lain dari daerah berbeda. Proses penularan virus inovasi ini berlangsung cepat dan merata ke setiap guru yang ketika itu serius mengikuti presentasi dari para peserta lomba kreativitas guru (LKG) tingkat nasional yang berlangsung di Jakarta, 25 s.d. 29 November 2012 lalu. Tercatat 72 guru (dari 720 guru) menyebarkan virus masing-masing kepada semua peserta, sehingga terdapat sedikitnya 72 virus guru mewabah dalam waktu relatif singkat.

Virus ini terdiri atas berbagai jenis, namun intinya sama, yakni virus kreatif, virus inovatif, virus eksploratif, virus rekreatif, virus kolaboratif yang sangat ampuh dan sugestif terhadap guru-guru peserta lomba. Bagi guru-guru yang sugestibel dan rentan terhadap virus ini pastilah akan cepat tertular dan terinveksi dan dengan cepat menyebar ke seluruh sistem yang dia miliki.

Namun demikian tidak usah resah, karena virus ini bukanlah jenis perusak, jahat, dan pencemar seperti virus yang menyerang sistem komputer tersebut di atas. Virus guru ini, merupakan istilah yang dihembuskan salah satu peserta lomba, kemudian menjadi isu dan berkembang di tegah-tengah guru-guru kreatif, inovatif, eksploratif, untuk menumbuhkan gairah dalam menciptakan trik-trik mutakhir dalam menyongsong abad 21. Karena levelnya nasional dan diikuti oleh guru-guru dari seluruh Indonesia, maka virus dimaksud akan segera menyebar, mewabah mulai dari D.I. Aceh, hingga Papua.

Penulis, yang menjadi bagian dari LKG tingkat nasional tahun 2012, sangat berharap virus-virus ini juga segera berkembang ke seluruh guru di Cilacap, mulai TK, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK untuk masuk menjadi guru yang memiliki kreativitas tinggi dalam melayani peserta didik dan masyarakat.
***

Tulisan lain yang berkaitan:

Tulisan berjudul "Guru Kreatif, Tak Henti Menebar Virus" dipublikasikan oleh Admin ISPI (Tuesday, 1 September 2015 (22:00)) pada kategori Artikel, Karya Tulis. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.