Refleksi Hari Kebangkitan Nasional

Saturday, 21 May 2016 (09:40) | 113 views | Print this Article

Oleh : Dra. Eko Hastuti, M.M.
Anggota ISPI dan staf edukatif pada SMP Negeri 1 Wonosobo

Sebagian warga Indonesia khususnya yang bekerja pada instansi pemerintah dan kalangan dunia pendidikan, tadi pagi tentu melaksanakan upacara Hari Kebangkitan Nasional, yang tepat jatuh pada Jum’at, 20 Mei 2016. Seperti halnya upacara-upacara lainnya, peserta diwajibkan mengikuti serangkaian upacara dengan tertib, khidmat, dan sungguh-sungguh. Baik itu pembina upacara, petugas, maupun peserta karena upacara selain menjadi agenda rutin juga bentuk penghormatan terhadap esensi dari peringatan itu sendiri. Misalnya upacara Hari Kartini, tentu memperingati perjuangan RA Kartini dalam menyetarakan persamaan hak-hak perempuan dan memajukan pendidikan. Upacara Hari Kemerdekaan adalah penghormatan kepada para pahlawan yang gugur dalam memperjuangkan kemerdekaan dan upaya untuk mengisi kemerdekaan itu sendiri. Demikian juga dengan upacara hari besar lainnya, tentu mempunyai esensi masing-masing.

Berkaitan dengan hal tersebut lantas terpikirkan esensi apa kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional tadi? Apakah hanya sekedar ceremonial belaka? Tentu saja tidak. Tanggal 20 Mei 1908 adalah tanggal berdirinya Boedi Oetomo, organisasi pergerakan masyarakat yang bercita-cita Indonesia merdeka. Juga munculnya kesadaran pentingnya organisasi yang berjiwa nasionalisme. Hanya dengan persatuan dan kesatuan Indonesia kita dapat mencapai kemerdekaan. Seperti kita ketahui bahwa Indonesia merupakan negara yang sangat majemuk, baik dari segi bahasa, agama, budaya, suku, dan wilayah berupa pulau-pulau yang tersebar dari Sabang sampai Meraoke. Bhineka Tunggal Ika, menjadi semboyan yang terus disuarakan demi keutuhan bangsa. Namun setelah Indonesia merdeka, apa yang terjadi hingga kini? Pertikaian antar suku masih terjadi, perseteruan dengan dalih agama masih ada, dunia pendidikan masih stagnan, permasalahan sosial terjadi di mana-mana, dan upaya-upaya untuk mencederai kemerdekaan juga menggejala. Dunia pendidikan kita juga masih memrihatinkan. Adanya perkelahian pelajar, pemerkosaan/pencabulan yang dilakukan oleh pelajar, merokok, mengkonsumsi narkoba, membolos sekolah, dan sebagainya. Meski pemerintah sudah mengupayakan peningkatan kualitas pendidikan dengan berbagai cara, namun mutu pendidikan belum menggembirakan. Sebagai guru yang juga orang tua, merasa miris dengan kondisi itu.


Sebagai guru, ada perasaan sedih dan malu. Sedih karena upaya penanaman karakter di sekolah dengan berbagai kegiatan yang positif, tidak sepenuhnya dapat membentengi siswa memiliki pribadi yang unggul, cerdas, terampil, dan berkarakter. Materi pelajaran, pembiasaan, pembudayaan perilaku positif, dan pengembangan kegiatan eskul seperti menulis dalam air saja. Alias pekerjaan yang sia-sia. Dalam hitungan waktu yang sangat terbatas, karena siswa lebih banyak bersama orang tua dan bergaul dengan masyarakat, namun guru menjadi tumpuan kesalahan. Seakan-akan dosa masa kini dan masa depan berada di pundak guru. Padahal sejatinya guru hanya salah satu faktor dalam penyelenggaraan pendidikan, masih ada faktor lain yang berpengaruh. Faktor orang tua, sarana prasarana, kurikulum, kebijakan pemerintah, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, tontonan yang dilihat, dan pengaruh perkembangan teknologi tercanggih ‘internet’ ikut andil dalam keberhasilan pendidikan di sekolah.

Khususnya teknologi sekarang ini berkembang sangat pesat. Di samping berdampak positif, teknologi juga berdampak negatif bahkan menjadi ancaman terhadap kebribadian siswa dan keutuhan NKRI. Mirisnya lagi, derasnya arus teknologi tidak berimbang dengan kualitas pendidikan. Kondisi ini menjadi lahan empuk karena masyarakat termasuk siswa mudah menerima informasi bentuk apa pun tanpa mampu mem-filter hal-hal yang negatif. Tak heran budaya konsumerisme tak terbendung, menjadikan orang malas, boros, tidak mau bersusah payah, serba instan, dan sebagainya. Akhirnya, dengan berbagai cara orang/siswa melakukan kecurangan untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Buktinya, korupsi masih terus terjadi, penegakkan hukum lemah, kolusi, nepotisme, pembocoran soal UN, meyontek, dan lainnya. Juga perilaku-perilaku negatif yang dipertontonkan siswa dalam merayakan kelulusan, seperti mencoret-coret baju segaram, konvoi di jalan raya, merobek-robek seragam, pesta miras, dan lain-lain. Jujur, sebagai guru merasa malu menyaksikan fenomena itu.

Namun rasa sedih dan malu tak cukup untuk menggambarkan keprihatinan itu. Ada rasa kesal bahkan geram, ketika guru dianggap kurang pecus. Sementara di sisi lainnya, guru dibuat tak berdaya, tidak punya keleluasaan dalam mengajar dan mendidik siswa. Guru tidak boleh menghukum siswa yang melanggar tata tertib/norma susila. Guru dengan mudah divonis bersalah dan dipenjarakan. Orang tua tertalu memproteksi guru namun kurang perhatian dengan anak-anaknya sendiri. Jadinya siswa menyepelekan guru, tidak patuh, tidak menghormati/menghargai guru, susah diatur, berani melawan, dan sikap-sikap negatif lainnya.

Sebenarnya masih banyak yang perlu dituangkan di catatan ini, namun cukuplah hal itu menjadi refleksi bersama. Kita harus bangkit dari keterpurukan pendidikan dengan meningkatkan kesadaran bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Tidak perlu menyalahkan satu sama lain, agar generasi muda kita berkarakter dan berkualitas. Semoga peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang ke-108 ini dapat mewujudkan Indonesia yang mampu bekerja dengan nyata, mandiri, dan berkarakter. Salah satunya dengan membudayakan gemar membaca, meminimalisir budaya tutur dan memilih tontonan tayangan (TV/ internet) yang bermanfaat.

Hanya negara maju yang dapat cepat beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan tuntutan global. Sementara salah satu ciri negara maju adalah budaya gemar membaca dan gemar belajar yaang tinggi. Sungguh prihatin, minat baca kita baru peringkat 108 dari 187 negara di dunia, lebih rendah dari lima negara ASEAN, seperti Singapura (26), Brunei (33), Malaysia (61), Thailand (103), dan Filipina (112). Selamat membaca dan selamat memperingati Hari Kebangkitan Nasional!

Tulisan lain yang berkaitan:

imgFoto Inspiratif Permudah Tulis Syair Tembang (Thursday, 8 March 2018, 232 views, 0 respon) Oleh Dra. Eko Hastuti, M.M. Guru SMP Negeri 1 Wonosobo dan anggota ISPI Eko Hastuti Keterampilan menulis bagi sebagian besar siswa SMP sangat rendah....
imgEko Hastuti, Sarjana Pendidikan yang Aktif Mengelola Perpustakaan Srikandi (Thursday, 17 April 2014, 825 views, 14 respon) Oleh : Deni Kurniawan As’ari Redaksi web ISPI dan Humas ISPI Eko Hastuti Redaksi web ISPI kembali menurunkan profil sarjana pendidikan yang...
imgKiat Menulis Artikel Bagi Guru (Saturday, 14 July 2012, 1,030 views, 0 respon) Oleh : Dra. Eko Hastuti, M.M. Guru SMP Negeri 1 Wonosobo, Anggota ISPI dan Pembimbing Eskur Jurnalistik Disadari atau tidak, sebenarnya seorang guru...
imgCatatan Harian Eko Hastuti (Wednesday, 4 January 2012, 166 views, 0 respon) Oleh: Dra. Eko Hastuti, M.M. Guru di SMP 1 Wonosobo, Pembimbing Ekstra Jurnalistik dan Anggota ISPI Curhat 1 Kotak Wonosobo, Minggu, 27 Maret 2011,...
Tulisan berjudul "Refleksi Hari Kebangkitan Nasional" dipublikasikan oleh Admin ISPI (Saturday, 21 May 2016 (09:40)) pada kategori Opini. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.