Burung Walet dan Ayam Jago

Wednesday, 10 May 2017 (07:50) | 800 views | Print this Article

Oleh: Mukhlis, S.IP, S.Pd.
Guru SMP Negeri 3 Sragi, Pekalongan, Jawa Tengah. Menempuh pendidikan pascasarjana (S2) di STAIN Pekalongan dan Anggota ISPI

Pengantar: Cerita mempunyai kekuatan dalam membentuk karakter. Melalui narasi yang mengalir, pembaca atau pendengar tidak terasa memperoleh pendidikan yang membentuk karakter dan kepribadian tanpa terbebani. Itulah kelebihan cerita atau dongeng; sehingga metode bercerita ataupun mendongeng (story telling) dari dulu digunakan dalam mendidik anak.

Di sebuah rumah sederhana yang terletak di ujung desa, tinggalah keluarga Pak Amat. Sebagaimana layaknya orang desa, Pak Amat beserta istrinya memelihara ayam. Tidak dalam jumlah banyak, tetapi hanya lima ekor saja. Pak Amat bukan peternak ayam, tetapi seorang petani. Memelihara ayam bukan kegiatan utama, tetapi hanya sebagai kegiatan tambahan saja.

Ayam Pak Amat terdiri dari empat ekor ayam betina dan satu “Jago” si ayam jantan. Si Jago terlihat paling gagah. Dengan bulu berwarna merah keemasan yang sangat indah, Jago merasa bangga. Lebih-lebih punya suara kukuruyuk yang melengking dan nyaring, membuat ayam-ayam betina kagum dan senang bila berada dekat dengan si Jago. Si Jago seolah-olah menjadi raja diantara ayam-ayam yang lain.

Di sudut rumah Pak Amat, tepatnya dibawah atap samping rumahnya, juga tinggal sepasang burung walet. Burung walet bertubuh kecil dengan bulu hitam sedikit ada warna putih di bagian dadanya. Suara burung walet hanya bercicit tidak nyaring. Keadaan burung walet sangat jauh berbeda dengan keadaan ayam jago yang gagah besar, berbulu indah, dan bersuara nyaring.

Kesempurnaan bentuk tubuh Jago yang gagah, dihiasi bulu-bulu berwarna keemasan dan suara kukuruyuk yang merdu, membuat Jago berbangga diri. Merasa dirinya paling gagah, timbul sikap sombong. Hal ini tampak sekali ketika melihat “Lena-Leni” sepasang walet yang juga membuat sarang di atap rumah Pak Amat.

“Hai, jelek! Lagi ngapain kamu di situ? Kerjanya bolak-balik terbang dan bertengger di atas. Apa kamu tidak bisa makan, kok tubuhmu kecil terus ndak besar-besar?!”

Mendengar kata-kata Jago yang bernada mengejek tersebut, Lena-Leni hanya bercicit. “Sudah, ndak usah hiraukan”, begitu kata Lena si walet jantan kepada Leni, dengan maksud  menguatkan hati Leni untuk tidak terpancing emosinya dan menjadi marah.

“Hai! Mengapa hanya mencicit saja. Sini turun ke tanah, nanti saya beri makan biar badanmu besar seperti saya. Kukuruyuuuk!”

Kata-kata Jago terus keluar dari mulutnya dengan nada merendahkan walet. Lena dan Leni yang mendengar ejekan Jago semakin tak sabar untuk menyahut. Namun lagi-lagi Lena si walet jantan terus menghibur Leni untuk tidak meladeni ejekan Jago. “Sabar ya sayang, tidak usah terpancing emosi. Lebih baik mengalah, daripada ikut-ikutan sombong”, kata Lena si walet jantan.

Kukuruyuuuk! Akulah Jago. Tidak ada burung yang lebih bagus dari aku. Kukuruyuuuk! Buluku indah, suaraku merdu; tidak seperti walet yang hanya bisanya mencicit. Kukuruyuuuk! Ayolah turun ke tanah walet, akan kuberi makan biar tubuhmu besar seperti aku”, suara Jago terus menerus seolah bernyanyi sambil mengejek burung walet.

Karena kata-kata Jago yang selalu mengejek, kesabaran yang dipertahnkan walet akhirnya jebol juga. Terutama Leni si walet betina tidak tahan mendengar ejekan ayam Jago. Leni pun menanggapi ejekan Jago dengan kata-kata yang cukup membuat Jago marah.

“Kami tidak kekurangan makan Jago! Justru di atas makanan berlebihan. Makanya sering juga berjatuhan ke tanah dan dikais-kais oleh mu kan?” begitu kata Leni si walet betina sedikit menyombongkan diri.

Mendengar jawaban walet, ayam Jago tersinggung juga karena memang kebiasaan ayam selalu mengais-ngais sesuatu di tanah dengan mengorek-korek menggunakan kaki (cakar)-nya.

“Hei, hei…, walet! Kalau kamu tidak kekurangan makan, mengapa tubuhmu kecil terus? Lihatlah tubuhku nih! Besar, gagah, dan perkasa. Tidak seperti kamu yang bertubuh kecil mungil.”

“Ha ha ha…, perkasa katamu? Bukan! Bukan perkasa, tetapi gendut tahu? Makanya kamu tidak bisa terbang. Buat apa mempunyai sayap kalau tidak bisa terbang. Percuma!” kata Leni menanggapi ejekan si Jago.

Kata-kata walet tadi betul-betul membuat Jago marah. Dengan sigap, seketika itu pula Jago mengepakkan sayapnya terbang dan hinggap di atas jemuran baju yang berada di samping rumah Pak Amat sambil berkukuruyuk. Maksudnya ingin menunjukkan bahwa dirinya juga bisa terbang. Namun pada saat yang sama istri Pak Amat melihat ayam jagonya bertengger di jemuran baju, langsung mengusirnya.

“Hus… hus… hus! Ayam kok naik-naik. Ayo turun!” begitu kata istri Pak Amat sambil membawa bilah bambu untuk mengusir ayam jagonya.

Melihat peristiwa tersebut, si walet tambah  metertawakan Jago dengan suara cicitannya yang riuh. “Makanya kalau ndak bisa terbang, sudahlah di bawah saja, gendut?!” ledek Leni si walet betina.

Mendengar ledekan Leni, ayam Jago semakin geram. Rasa-rasanya ingin mengejar walet, namun apa daya dirinya tidak bisa terbang tinggi seperti walet. Ayam Jago baru merasa kalau dirinya ternyata mempunyai kekurangan. Kalau selama ini ia memandang burung walet itu lemah, tidak bisa apa-apa, ternyata mempunyai kelebihan juga. Ia bisa terbang gesit, lincah, meliuk-liuk di udara. Tidak seperti dirinya yang tidak mampu mengangkat tubuhnya yang memang lebih gendut dari burung walet. Penilaian diri yang dilakukan oleh ayam Jago, sebenarnya menyadarkan kalau dirinya mempunyai kelemahan yaitu tidak bisa terbang seperti burung walet. Namun karena diliputi perasaan bangga diri yang terlalu besar, menyebabkan Jago tetap sombong.

Kukuruyuuuk! Huh, awas kau walet. Jika aku sudah bisa terbang tinggi, akan kukejar kau sampai ujung langit!”, kata-kata Jago sambil kesal.

“Mana mungkin, Jago bisa terbang sampai ujung langit?! Yang bener aja Jago. Kalau kenyataannya tidak bisa melakukan, itu namanya orang sombong, tau?” lagi-lagi Leni si walet betina mencoba menghentikan kesombongan Jago.

“Sudah-sudah. Jangan bertengkar terus. Kalau mencari kesalahan orang lain, pasti tidak ada habis-habisnya. Ayo pergi!”, kata Lena mancoba  menghentikan pertengkaran yang dari tadi tidak selesai. Kedua walet itupun terbang tinggi meninggalkan ayam Jago.

Kukuruyuuuk!” Dengan  perginya walet Jago merasa menang. Jago tetap merasa paling hebat dan menyombongkan diri. Jago pun memanggil-manggil ayam betina dengan cara berkokok sambil mengorek-korek tanah. Bahkan kali ini Jago pergi ke pinggir jalan umum untuk mencari perhatian banyak orang.

Dengan bangganya Jago menunjukkan keperkasaannya di depan ayam-ayam betina, bulunya yang indah merah keemasan, menjadi daya tarik ayam-ayam betina.  Ayam  Jago terus berkokok sambil mengajak ayam-ayam betina berkeliaran di pinggir jalan.

Sampai pada suatu saat, terjadi peristiwa nahas menimpa ayam-ayam Pak Amat. Ketika ayam-ayam itu berkeliaran dipinggir jalan, ada seorang pengendara sepeda motor ngebut dari arah barat. Karena begitu kencang dalam berkendara, ketika berpapasan dengan pengendara lain dari arah yang berlawanan, maka si pengendara motor yang ngebut tadi agak ke tepi jalan dan kurang terkendali, akhirnya menabrak kerumunan ayam-ayam Pak Amat yang berada di pinggir jalan.

Keoook! Keok…keok! Wuush!” antara suara ayam dan deru motor yang ngebut bercampur. Tampak satu ekor ayam menggelepar-gelepar, dan yang lain bubar lari tunggang langgang sambil bersuara keok, keok, kencang sekali.

Rupaya, ayam betina teman si Jago tewas menjadi korban tabrak lari. Jago sendiri kesakitan karena kaki kirinya terluka ikut terserempet sepeda motor. Sekarang Jago berjalan pincang karena kaki kirinya sakit.

Pak Amat yang baru pulang dari sawah segera menghampiri ribut-ribut suara ayam  berkotek. Dijumpainya satu ekor ayam tergeletak sudah mati di pinggir jalan. “Wah, rugi besar ini! Ayamku mati tertabrak motor. Kalau begini terus, lama kelamaan bisa habis ayamku nih. Ini harus dikandang, biar tidak berkeliaran di jalan”, begitu kata Pak Amat sendirian.

Pak amat tidak marah-marah, karena bukan pengendara motor yang salah. Menurut pemikiran Pak Amat, kalau  sarana jalan dibuat oleh manusia memang tujuannya adalah untuk digunakan berlalu lintas. Apabila ada kendaraan yang lewat di jalan, berarti sudah benar. Sebaliknya jika ayam berkeliaran di jalan, itu yang kurang benar. Sehingga apabila terjadi peristiwa ayam tertabrak sepeda motor bukan salah pengendara motor, tetapi ayamlah yang salah. Dari kejadian ini, akhirnya mendorong Pak Amat berpikir untuk membuatkan kandang bagi ayam-ayamnya.

***

Malihat musibah yang dialami Jago, Lena dan Leni ikut sedih. Bagaimanapun juga, sebagai tetangga ikut merasa