<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ISPI &#124; Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia Pusat</title>
	<atom:link href="http://www.ispi.or.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ispi.or.id</link>
	<description>Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 May 2012 12:53:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Persatuan Indonesia, Harga Mati Pendidikan Kita</title>
		<link>http://www.ispi.or.id/2012/05/16/persatuan-indonesia-harga-mati-pendidikan-kita/</link>
		<comments>http://www.ispi.or.id/2012/05/16/persatuan-indonesia-harga-mati-pendidikan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 12:38:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[persatuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ispi.or.id/?p=3375</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Djoni Kristianto, S.Pd Staf Edukatif di SMA Negeri 1 Tegal Sudah sewajarnya, bahkan merupakan kewajiban bagi setiap warga penghuni bangsa ini untuk sadar bahwa satu-satunya hal yang menjadikan bangsa Indonesia masih ada hingga saat sekarang adalah karena “jantung” persatuan bangsa ini masih berdenyut dalam diri masing-masing warga negaranya. Ibarat udara yang menghidupkan jantung persatuan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Djoni Kristianto, S.Pd</strong><br />
<em>Staf Edukatif di SMA Negeri 1 Tegal</em></p>
<p><img alt="" src="http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-ash2/371626_100001237072029_861622663_n.jpg" class="alignleft" width="160" height="175" />Sudah sewajarnya, bahkan merupakan kewajiban bagi setiap warga penghuni bangsa ini  untuk sadar bahwa satu-satunya hal yang menjadikan bangsa Indonesia masih ada hingga saat sekarang adalah karena “jantung” persatuan bangsa ini masih berdenyut dalam diri masing-masing warga negaranya.  Ibarat udara yang menghidupkan jantung persatuan, Pancasila, baik saat konsep maupun  wujud, telah menjadi sumber nafas  yang menghidupi ratusan juta umatnya selama berabad-abad,yang jejak sejarahnya  dapat kita tilik ulangmulai darizaman  Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Pergerakan Nasional 1908, Sumpah Pemuda, sampai  pada akhirnya mengkristal nilai-nilainya pada Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945. Dari sinilah, kita  warga Indonesia, masyarakat Indonesia,  bangsa Indonesia, Negara Indonesia dan semua yang Indonesia mendapatkan  hidup penuh ruh persatuan dan persaudaraan,  lepas dari belenggu politik adu domba serta penjajahan. Dari sinilah, bangsa kita telah dapat bersanding sejajardengan bangsa-bangsa lain di dunia, sekaligus Pancasila sebagai nilai khas dan unik serta nafas bangsa Indonesia merdeka, disadari atau tidak turut menjejal ke tingkat global sembari menyerukan dan menggemakan perdamaian dunia, menghapuskan penjajahan dan penindasan, serta menghancurkan penjarahan moral spiritual manusia yang sering dilakukan oleh bangsa-bangsa lain yang kurang beradab.Dan, mulai saat itu pula, Pancasila, Indonesia, dankita hidup dan menghidupi.</p>
<p>Dari sejarahnya, jiwa persatuan muncul dari pengalaman pahit bangsa ini manakala penjajahansudah berlangsung ratusan tahun dan telah menghancurkan segala sumber daya bangsa ini untuk kepentingan bangsa penjajah. Kekayaan bangsa kita terampas hampir tanpa sisa, baik kekayaan alam maupun  budayanya. Akibat penjajahan, pikiran dan rasa kita terkebiri. Bangsa kita menjadi bodoh dan kurang rasa sehingga bangsa kita mudah sekali terpecah-belah tanpa menyadari  bahwa selama beratus tahun bangsa  kita telah dihancurkan sendi-sendi kehidupannya oleh penindas menjadi bangsa yang hanya mementingkan kelompoknya sendiri-sendiri. Perjuangan dalam rangka mengusir para penjajah bersifat kedaerahan sehingga sering berujung kesia-siaan.Oleh karenanya,  amat wajar kalau saat terjadi upaya pengusiranpada para penjajah, bangsa kita berulangkali mengalami kegagalan karena memang perjuangan yang dilakukan bangsa kita saat itu masih bersifat primordial.</p>
<p>Namun, hikmah dari kegagalan perjuangan yang terus-menerus itu, bangsa kita belajar dan menyadari bahwa berjuang sendiri-sendiri tak mungkin mendapatkan apa yang bangsa ini cita-citakan yaitu kemerdekaan. Maka, dimulailah babak baru perjuangan bangsa melawan penjajah melalui upaya pembersatuanegoisme  kelompok menjadi komunitas bersama yang bersifat nasional. Dampaknya sungguh luar biasa, bahwa ternyata perjuangan mencapai cita-cita kemerdekaan bangsa dengan cara bersatu di atas perbedaan ras, suku, agama, dan antar golongan dapat terwujud, yaitu Indonesia merdeka.</p>
<p>Dalam perjalanan sejarah pasca kemerdekaan, jiwa persatuan secara nyata telah mampu melanggengkan terus tegaknya  Indonesia sebagai wadah beranekaragamnya kondisi sosial maupun individual masyarakat penghuninya meskipun goncangan dari luar (Belanda dan Sekutu) serta dari dalam bangsa sendiri (PKI, Permesta, RMS, dll) secara bertubi-tubi telah berusaha mengoyak rasa persatuan itu.Jiwa persatuan bangsa kita seperti tercermin dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika tidak goyahkarena kita lelah terus menerus berseteru, baik melawan penjajah maupun warga masyarakat sendiri demi sesuatu yang bersifat sektarian.Kita ingin perdamaian abadi di bumi Indonesia dan dunia.Kita tidak ingin lagi mendengar suara senjata serta dentuman meriam merebak dimana-mana dengan nyawa tercerabut dari raga secara sia-sia. Sekali lagi, naluri- bersatulah yang benar-benar telah membangkitkan semangat kita mewujudkan damai sejati di bumi  Indonesia dari dulu dan sampai sekarang.</p>
<p>Bagaimana rasa itu pada situasi Indonesia sekarang ini?<br />
Dari sekian banyak persoalan yang ada pada bangsa kita sekarang ini, ada satu perkara bangsa yang harus segera disikapi bersama yaitu bagaimana menetapberdirikan bangsa Indonesia untuk selama-lamanya.Kekerasan antar kelompok, ras, suku, agama telah nyata-nyata terjadi dan semakin hari semakin meruncing saja kondisinya.Bahkan upaya mendirikan Negara dalam Negara juga menjadi desas-desus yang meresahkan kita semua. Tentu saja, pembiaran terhadap kejadian ini akan beresiko terhadap keutuhan Negara Indonesia. Inilah ancaman yang jelas hadir di depan kita. Lalu, apa yang harus kita lakukan?</p>
<p>Yang pasti, saat sekarang kesadaran sejarah kebersatuan kita sedang kembali diuji. Sejauh mana bangsa kita akan bertahan sangat ditentukan oleh kemauan untuk berani menanggalkan kepentingan kelompok untuk kepentingan yang lebih besar yaitu bangsa. </p>
<p>Kepentingan bangsa harus menjadi prioritas pertama dan utama Kepentingan bangsa yang hakiki adalah mempertahankan terus-menerus Indonesia agar tidak hancur.Keamanan Negara adalah hal mutlak dan terdepan yang mesti menjadi kebutuhan bangsa ini agar terus bergerak membangun dalam usaha menjapai cita-cita Indonesia sentausa.Untuk itu, dibutuhkan upaya sadar dari seluruh rakyat Indonesia untuk memahami dan menghayati bahwa persatuan adalah hal terpenting dalam hidup bersama, berbangsa, dan bernegara.Percayalah, tanpa persatuan bangsa kita hanya tinggal rangka.Inikah yang kita harapkan?</p>
<p>Mari kita renungkan sejarah berdirinya bangsa kita kembali.Spirit awal perjuangan rakyat kita dalam memerdekakan bangsa ini adalah persaudaraan dan perdamaian. Di antara mereka benar-benar  sadar bahwa perbedaan suku, ras, golongan, ataupun agama adalah justru kekuatan menghancurkan musuh bersama bangsa. Darah yang tercecer,harta yang hilang, bahkan nyawa yang melayang saat memerdekaan bangsa ini bukanlah dari satu golongan saja, tetapi berbagai golongan, dan tidak juga dari satu ras saja, tetapi dari berbagai ras, tidak juga dari satu suku saja, tetapi dari berbagai-bagai suku, bahkan tidak dari satu agama saja tapi sungguh-sungguh dari berbagai umat beragama yang berbeda-beda yang sadar pentingnya Indonesia merdeka. Lupakah kita dengan ini semua?Dimana kita saat dibutuhkan Indonesia?Mengingat kenyataan ini, tidak adakah sedikit rasa terima kasih kita tersentuh?Atau memang kita senang menjadi generasi durhaka yang gampang lupa pada siapa yang melahirkan kita, lupa siapa yang melahirkan bangsa?Sudah kuatkah kita seperti mereka, para pejuang bangsa yang rela berkorban harta, benda,serta nyawa demi bangsa?</p>
<p>Sepertinya, saat ini bangsa kita sedang merindukan kembalinya para penjajah ke pangkuan ibu pertiwi agar kita semua sadar pentingnya persatuan; bahwa sebenarnya kadarcinta kita pada tanah air masih jauh dari harapan, sejauh bintang di langit bila dibandingkan dengan cinta mereka,para pejuang bangsa sejati. Indonesia tak pernah mengeluh meskipun kita telah berlaku tidak adil kepadanya. </p>
<p>Indonesia, tanah air kita  rela meskipun hanya dijadikan tempat menampung setiap buangan air besar kecil kita. Indonesia, tanah air kita tak pernah merengek meskipun kita mengobrak-abrik isi perutnya demi perut kita sendiri. Indonesia,tanah air kita ikhlas menerima segala tindakan kita yang serba memuakkan. Indonesia, tanah air kitatak pernah meminta-minta pada kita.Lihatlah dan renungkan kebesaran hati Indonesia. Jelas jauh  dari sepadan dengan apa telah kita berikan pada bangsa ini. Kita sekarang  bisanya hanya mengeluh, mencaci, mengadu domba sana sini, merongrong, mengobok-oboktanpa pernah berpikir apa yang Indonesia perlukan, padahal kita tahu benar bahwa yang sesungguhnya Indonesia perlukan hanya satu adalah  bersatunya seluruh rakyat Indonesia untuk mencapai tujuan bersama yaitu Indonesia yang sejahtera.</p>
<p>Sebelum terlambat, apa yang mesti kita lakukan terhadap situasi demikian? Jelas, jawaban tak mungkin bisa sesingkat buang angin.Seabreg pemikiran dapat kita gali dari berbagai referansi.Namun, kita masih bisa berharap bila kita bicara mengenai pendidikan sebagai langkah awalnya sebab bukankah hakikat pendidikan adalah membuat manusia menjadi lebih manusiawi. Diharapkan, melalui pendidikan, kita bisasaling introspeksi, kita bisa saling memberi dan menerima dengan penuh keikhlasan.Apalagi pendidikan adalah wadahnya kaum muda yang nantinya diharapkan sebagai pemegang tongkat estafet pelestari dan pembangun  bangsa.Untuk mencapainya, yang harus dilakukan oleh pendidikan kita adalah membangunsistem pendidikan untuk mencipkan   jiwa nasionalisme yang sesungguhnya. Pendidikan harus menempatkan jiwa persatuan nasional  dan cinta tanah air sebagai basis karakternya.  Hal ini tidak bisa ditawar.Ini adalah harga mati sebab percuma kita bicara perbaikan ekonomi, sosial, budaya, politik, moralitas maupun religiusitas kalau bangsa ini sudah hancur lebur gara-gara ambisi kelompok per kelompok yang jelas-jelas mengancam keutuhan NKRI, mencabik-cabik Pancasila dan UUD 45.Kita hanya bisa melakukan perbaikan bila masih ada Indonesia sebagai bangunan yang harus diperbaiki.Kita harus berhenti merasa yang paling besar berjasa atas berdirinya Indonesia hingga merasa lebih berhak berkuasa.Kita harus berhenti merasa yang paling besar sehingga merasa harus lebih berhak berkuasa dan lebih bisa seenaknya.Kita harus berhenti mencaci-maki antar kita sendiri yang sama-sama tidak tahu terima kasih pada ibu pertiwi.Kita harus saling memahami dan toleran terhadap segala perbedaan yang ada.Bukankah adanya kita di dunia ini adalah di luar kemauan kita?Mengapa harus disalahkan jika seseorang lahir dari latar belakang yang jelas jauh berbeda dengan kita, baik suku, agama, ras, ataupun golongan? Sekali-kali kita tak berhak menyalahkan orang lain atas jatidiri kelahirannya karena sesungguhnya sebaik-baik orang adalah mereka yang bermanfaat bagi kehidupan tanpa memandang bawaan kelahirannya.</p>
<p>Dalam kaitannya dengan itu semua, guru sebagai ujung tombak dunia pendidikan mesti merapatkan barisan membentuk kesatuan guna menciptakan situasi yang kondusif, bebas dari prasangka. Guru harusbisa benar-benar digugu dan titiru oleh peserta didiknya, cinta pada sesama, dan jauh dari sikap intoleransi. Sungguh disayangkan kalau ada guru tidak menebar  kasih sayang pada peserta didiknya, malah sebaliknya menabur kebencian dimana-mana.  Kalau demikian, apa yang akan kita tuai dari pendidikan Indonesia?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ispi.or.id/2012/05/16/persatuan-indonesia-harga-mati-pendidikan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nilai Karakter Ujian Nasional</title>
		<link>http://www.ispi.or.id/2012/05/09/nilai-karakter-ujian-nasional/</link>
		<comments>http://www.ispi.or.id/2012/05/09/nilai-karakter-ujian-nasional/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 May 2012 12:24:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[curhat eko hastuti]]></category>
		<category><![CDATA[ujian nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ispi.or.id/?p=3368</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Eko Hastuti Staf Edukatif SMP N 1 Wonosobo, Jateng dan Anggota ISPI Lepas dari pro dan kontra penyelenggaraan ujian nasional bagi siswa jenjang SMP, mulai hari ini, Senin, 23 April 2012 hingga Kamis, 26 April 2012 lusa ujian nasional dilaksanakan serentak di seluruh pelosok tanah air. Tidak peduli itu bagi siswa yang berdomisili [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : <strong>Eko Hastuti</strong><em><br />
Staf Edukatif SMP N 1 Wonosobo, Jateng dan Anggota ISPI</em></p>
<p><img alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_fmX7g6f6I5U/TDRRQggdTHI/AAAAAAAAAME/6pI7vZjYYiY/S968-R/ayo_menulis.jpg" class="alignleft" width="580" height="249" />Lepas dari pro dan kontra penyelenggaraan ujian nasional bagi siswa jenjang SMP, mulai hari ini, Senin, 23 April 2012 hingga Kamis, 26 April 2012 lusa ujian nasional dilaksanakan serentak di seluruh pelosok tanah air. Tidak peduli itu bagi siswa yang berdomisili di kota, desa, gunung, atau pun di daerah pesisir atau kawasan pantai. Ada kecemasan yang menggejala di benak berbagai kalangan yang terlibat langsung dengan momen yang sangat dilematis ini.</p>
<p>Guru, kepala sekolah, orang tua siswa, pejabat terkait di daerah, lebih-lebih siswa itu sendiri. Masing-masing mempunyai kepentingan yang sebenarnya bisa dinetralisir apabila sistem pendidikan tidak terlanjur bermuatkan ideologi industri.” Ujian nasional bagaikan jalan sakti untuk meraih kehidupan. Harus diakui pula, sistem ujian nasional tidak lahir dari kebudayaan dan filosofi pendidikan yang hakiki. Ujian nasional, sadar atau tidak, seakan dimaksudkan untuk menjaring sumber daya manusia yang lahir dari ideologi industri”, kata Saratri Wilonoyudho, dalam artikelnya yang berjudul ” Ujian yang Didramatisasi, (Jawa Pos, Jumat, 20 April 2012).</p>
<p>Demi tercapainya target dari kesertaan ujian nasional, yakni lulus ujian, berbagai upaya telah dilaksanakan oleh berbagai pihak. Sekolah membuat kebijakan strategis berupa Program Sukses UN. </p>
<p>Penambahan jam pelajaran, tryout, melakukan doa bersama (istighosah), bimbingan konseling khusus menghadapi UN, dan sebagainya. Orang tua yang merasa belum cukup dan yakin dengan persiapan itu masih ada yang memasukkan putranya di lembaga bimbingan belajar swasta dengan biaya yang tidak murah. Tentunya bagi orang tua yang cukup dari segi finansial. Fakta ini semakin melebarkan jurang pemisah bagi siswa yang nota bene berasal dari sekolah pinggiran serta dari kalangan keluarga kelas bawah. Guru mata pelajaran nasional (Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA) menanggung beban yang berat. Semaksimal mungkin membekali anak dengan pengayaan dan pelatihan soal secara insentif hingga tidak kenal waktu dan lelah. Sementara siswa sendiri mau tidak mau harus mempelajari dan melahap habis soal-soal yang diberikan guru. Ada banyak cerita yang disuarakan siswa, capai, jenuh, penat, bahkan stres. Tersitanya banyak waktu untuk belajar dan belajar, siswa merasakan kurang adanya keseimbangan variasi hidup seperti berolah raga, bermain, rekreasi, atau sekedar rileks yang cukup dan menyegarkan. Belum lagi beban mental yang ditanggung, seperti khawatir, takut, tegang, dan cemas yang berlebihan. Hingga hari menjelang UN semakin dekat dan dekat, seolah tinggal menghitung hari. Sabtu, 21 April 2012 menjadi hari terakhir menghitung hari sebelum sampai ke hari H (UN) yang petama kali (Senin, 23 April). </p>
<blockquote><p>Siswa kelas 9 dengan wajah sembab, sendu  dan hormat memohon maaf serta doa restu kepada seluruh guru sambil berjabat tangan. Seakan mereka butuh kekuatan moril untuk menghadapi ujian nasional. Ada karakter positif yang muncul dalam situasi sesaat itu. Siswa dengan mudah merasa punya banyak salah hingga harus meminta maaf dengan semua guru. Sesama siswa juga merasa ada rasa senasip sepenanggungan, perasaan yang selama ini mungkin tidak dimiliki oleh setiap siswa. Sesama siswa pun saling meminta maaf dan memaafkan. </p>
</blockquote>
<blockquote><p>Ada perasaan haru dalam nuansa itu. Andai nilai-nilai karakter (meminta maaf setelah berbuat salah, hormat pada guru, hormat dan menghargai orang tua, menghargai teman, dsbnya) melekat di hati setiap siswa, sangatlah bagus. Andai nilai-nilai kejujuran, kerja keras, pantang menyerah, tekun, ulet dan teliti saat mengikuti program sukses UN sudah tumbuh di awal tahun, tentu UN tidak akan mencemaskan apalagi menakutkan. Bukankah penilaian itu merupakan salah satu unsur dari proses pendidikan? Lulus atau gagal juga konsekuensi sebuah penilaian /ujian?</p>
</blockquote>
<p>Upaya pemerintah untuk meminimalisir tindak kecurangan dan ketidakjujuran juga nampak pada penyelenggaraan UN tahun ini. Sistem pengawasan lebih diperketat walaupun tidak melibatkan lembaga independen. Mengingat keterlibatan lembaga independen pada tahun-tahun sebelumya agaknya tidak begitu berarti. Toh tindak kecurangan tetap saja terjadi. Kemajuan sistem penyelenggaraan UN tahun ini, antara lain : a) Denah pembagian paket soal tidak diketahui sebelumnya. Pengawas baru mengetahui setelah membuka amplop soal. Siswa juga tidak tahu paket soal karena denah berganti setiap hari. Siswa mengetahui setelah bel mengerjakan tepat jam 08.00 mulai, artinya siswa boleh membuka soal yang dibagikan dalam posisi terbalik. Panitia penyelenggara tidak tahu-menahu hal itu karena selain pengawas tidak diperkenankan memasuki ruang ujian; b) Siswa disuruh menyalin pernyataan : ” Saya mengerjakan soal ujian dengan jujur ”. Hal ini tentu berdampak positif bagi siswa untuk tidak menyontek atau berbuat curang, seperti menggunakan HP untuk menanyakan atau memberi jawaban; c) Dengan tegas pada salah satu butir tata tertib peserta UN dinyatakan bahwa siswa dilarang membawa alat berupa HP, kalkulator, buku, atau contekan ke dalam ruang ujian. Walaupun mungkin masih ada yang nekat membawa, namun setidaknya telah membuat peserta berpikir dua kali karena ada sangsi yang tegas; d) Pengawas harus mengisi lembar Fakta Integritas agar bertugas secara jujur dan bertanggungjawab. Lembar ini pada tahun-tahun sebelumnya belum ada; d) Segel pada amplop berbentuk panjang dan agak lebar, bertuliskan ” DOKUMEN NEGARA, SANGAT RAHASIA”. Secara tidak langsung, pengawas merasa bertugas sebagai abdi negara yang harus bekerja dengan sungguh-sungguh, jujur, dan bertanggungjawab. Bagi pengawas menjadi peringatan besar karena membawa konsekuensi yang berat bila melanggar/memalsukan dokumen/mencurangi tugas negara.</p>
<p>Perubahan sistem pelaksanaan UN tersebut memang hanya sebuah sistem/aturan. Pelaksanaan di lapangan masing sangat bergantung dengan manusia-manusia yang melaksanakan. Apa pun sistemnya, kalau memang ada niat untuk berbuat tidak jujur, mungkin masih ada celahnya. Namun, beberapa kemajuan sistem tahun ini, setidaknya telah mengkondisikan panitia, pengawas, maupun peserta untuk bersikap hati – hati, cermat, jujur, dan bertanggungjawab. Agar penyelenggaraan pendidikan kembali ke filosofi yang hakiki, yakni upaya penanaman sikap hidup, pandangan hidup, nilai-nilai tentang kehidupan, dan keterampilan hidup. Hal ini sesuai dengan acuan ideologis pendidikan yang menyangkut empat hal. Yakni, (1) mengembangkan kreativitas, kebudayaan dan peradaban, (2) mendukung diseminasi nilai keunggulaan, (3) mengembangkan nilai-nilai demokrasi, kemanusiaan, keadilan, dan keagamaan, dan (4) menumbuhkembangkan secara berkelanjutan kinerja kreatif dan kondusif yang koheren dengan nilai-nilai moral (Saratri Wilonoyudho, Jawa Pos, 23 April 2012). Semoga penyelenggaraan ujian di tahun-tahun mendatang lebih baik, entah itu berupa Ujian Nasional atau model lain yang lebih dapat diterima oleh berbagai pihak di seluruh wilayah Tanah Air  ini. Sehingga hajatan besar (UN) di dunia pendidikan khususnya  pada  jenjang SMP dan SMA ini tidak menimbulkan pro dan kontra lagi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ispi.or.id/2012/05/09/nilai-karakter-ujian-nasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Salah kaprah Penataan Guru</title>
		<link>http://www.ispi.or.id/2012/05/09/salah-kaprah-penataan-guru/</link>
		<comments>http://www.ispi.or.id/2012/05/09/salah-kaprah-penataan-guru/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 May 2012 12:02:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[ari kristianawati]]></category>
		<category><![CDATA[kebijakan pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[masalah guru]]></category>
		<category><![CDATA[penataan guru]]></category>
		<category><![CDATA[Permasalahan Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[tenaga pendidik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ispi.or.id/?p=3361</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ari Kristianawati Staf Edukatif SMAN 1 Sragen, Jateng Konsekuensi dari terbitnya SKB 5 Menteri tentang penataan dan distribusi guru adalah lahirnya kebijakan regional/lokal di daerah, untuk memindahkan guru dari satuan kerja tingkat pendidikan ke satuan kerja tingkat pendidikan yang lain. Upaya penataan dan distribusi guru didasari oleh satu kepentingan, agar guru yang telah lulus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: <strong>Ari Kristianawati</strong><br />
<em>Staf Edukatif SMAN 1 Sragen, Jateng</em></p>
<p><img alt="" src="http://www.sman1sragen.sch.id/sites/default/files/files/guru/Ari%20K.jpg" class="alignleft" width="100" height="140" />Konsekuensi dari terbitnya SKB 5 Menteri tentang penataan dan distribusi guru adalah lahirnya kebijakan regional/lokal di daerah, untuk memindahkan guru dari satuan kerja tingkat pendidikan ke satuan kerja tingkat pendidikan yang lain. Upaya penataan dan distribusi guru didasari oleh satu kepentingan, agar guru yang telah lulus sertifikasi mendapatkan jatah tatap muka mengajar minimal sebanyak 24 jam dan maksimal 40 jam.</p>
<p>Penataan dan distribusi guru yang dibingkai oleh SKB 5 Menteri, diperlukan agar guru yang lulus sertifikasi dan juga guru berstatus PNS memiliki jam mengajar yang &#8220;layak&#8221; sesuai dengan besaran tunjangan yang diperoleh. Penataan dan distribusi guru diatur dan dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan dan kebudayaan kabupaten/kota, sementara Bupati/walikota sebagai penanggung-jawabnya. Jika daerah atau pimpinan daerah tidak melaksanakan program penataan dan distribusi guru dalam salah satu pasal di SKB 5 Menteri tercantum ancaman Pemerintah Pusat akan menghentikan bantuan dana pendidikan ke daerah.</p>
<p>Namun dalam pelaksanaannya program penataan dan distribusi guru menimbulkan banyak persoalan secara teknis dan substansial. beberapa persoalan dalam penataan dan distribusi guru yang bisa dikategorikan antara lain:</p>
<p>pertama, Penataan dan distribusi Guru model SKB 5 Menteri dan permendikbud menyuburkan praktek feodalisme, pragmatisme serta melahirkan apa yang disebut kebijakan yang diskriminatif. Feodalisme dilihat dari kebijakan penataan guru yang didasari oleh kriteria DUK (Daftar urut kepangkatan) dimana guru yang lebih senior diutamakan mendapatkan alokasi jatah mengajar tatap muka minimal 24 jam, hal tersebut jelas bertentangan dengan standar peningkatan mutu pendidikan yang seharusnya lebih mengutmakan dimensi prestasi, kompetensi dan produktifitas.</p>
<p>Pragmatisme terlihat jelas ketika fase penataan dan distribusi guru banyak upaya lobi dan negoisasi dari para guru kepada pihak yang memiliki wewenang dalam penataan dan distribusi guru. Ditengarai program penataan dan distribusi guru diberbagai daerah menjadi ajang KKN gaya baru antara guru dan elemen birokrasi pendidikan. Guru yang tidak ingin dipindah jauh dari lokasi domisilinya melakukan lobi dan negoisasi yang jauh dari sikap integritas sebagai pendidik.</p>
<p>Kebijakan diskriminatif nampak jelas dari beberapa item kebijakan teknis penataan guru. Jabatan-jabatan struktural (fungsi kedinasan lembaga) ada yang bisa dikonversi menjadi alokasi jam mengajar dan ada pula yang tidak bisa dikonversi menjadi alokasi jam mengajar. Jabatan walikelas, petugas piket, pendamping kegiatan siswa tidak dihargai dibanding jabatan wakil kepala sekolah, kepala laboratorium, dsb. apa pertimbangannya? pertimbangan yang anti nalar sehat.</p>
<p>Kedua, penataan dan distribusi guru secara &#8220;kejam&#8221; telah menyingkirkan peran guru tenaga honorer dari jatah mengajar, sehingga banyak dari tenaga guru honorer yang belum masuk data base kependidikan menjadi tenaga pengangguran. Ketiga, Penataan dan distribusi guru model SKB 5 Menteri merendahkan martabat guru karena guru identik dengan &#8220;kuli&#8221;, yang besaran tunjangan profesinya disesuaikan dengan alokasi jam mengajar. sayang hal ini tidak disadari oleh mayoritas guru yang terlanjur berfikir pragmatis dan tidak dilandasi sikap kritis.</p>
<p>Penataan dan distribusi guru dengan perhitungan penyesuaian jatah mengajar minimal 24 jam dan maksimal 40 jam selain memerosotkan martabat guru menjadi seolah tenaga kuli (buruh), juga telah menciptakan bahaya latensi konflik. antara elemen guru disatuan kerja pendidikan terjadi tarik-menarik kepentingan untuk mendapatkan posisi dan jabatan agar tidak menjadi &#8220;objek&#8221; penataan guru.</p>
<p>Penataan guru  sendiri tidak memiliki basis dukungan bagi kesejahteraan guru, karena tidak ada aturan baku yang mendukung pembiayaan program penataan guru. artinya guru yang terkena mutasi atau penataan sehingga harus pindah tempat mengajar yang jauh dari domisilinya tidak mendapatkan tunjangan transportasi sehingga banyak guru yang kehilangan akses ekonomi dan beban pengeluaran gajinya bertambah.</p>
<blockquote><p>Seharusnya penataan dan distiribusi guru yang ideal didasari oleh kebutuhan obyektif tenaga pendidik dan bukan ditentukan oleh kelayakan jam mengajar minimal 24 jam dan maksimal 40 jam, karena guru sebenarnya selainj mengajar disekolah juga menjalankan kewajiban sebagai pendidik diluar jam mengajar disekolah. Guru menyiapkan RPP atau rencana pembelajaran, mengkoreksi tugas siswa, membuat soal, dan sebagainya. sayang hal tersebut tidak diakui sebagai alokasi jam mengajar (jam bekerja).</p></blockquote>
<p>Penataan dan distribusi guru akan percuma saja jika pemerintah menambah jumlah tenaga guru baru melalui pengangkatan honorer besar-besaran dan juga membuka rekruitmen tenaga CPNS baru mulai tahun 2013.  Penataan dan distribusi guru yang ideal adalah berdasarkan kebutuhan mendesak untuk menguatkan proses kegiatan belajar mengajar. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ispi.or.id/2012/05/09/salah-kaprah-penataan-guru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memperingati Hari Pendidikan ”Bangkitnya Generasi Emas Indonesia”</title>
		<link>http://www.ispi.or.id/2012/05/03/memperingati-hari-pendidikan-bangkitnya-generasi-emas-indonesia/</link>
		<comments>http://www.ispi.or.id/2012/05/03/memperingati-hari-pendidikan-bangkitnya-generasi-emas-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 May 2012 04:54:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Makalah]]></category>
		<category><![CDATA[Bangkitnya Generasi Emas]]></category>
		<category><![CDATA[hardiknas]]></category>
		<category><![CDATA[mukhlis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ispi.or.id/?p=3348</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Mukhlis, S.Ip., S.Pd. Anggota ISPI dan Guru SMP 3 Sragi Kab. Pekalongan Khutbah Jumat, 4 Mei 2012 اْلحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ َانفسنا ومن سيات اعمالنا من يهدالله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له :اشهد ان لااله الا الله وحده لا شريك له واشهد ان محمدا عبده ورسوله: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: <strong>Mukhlis, S.Ip., S.Pd.</strong><em><br />
Anggota ISPI dan Guru SMP 3 Sragi Kab. Pekalongan</em></p>
<p>Khutbah Jumat, 4 Mei 2012</p>
<p>اْلحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ َانفسنا ومن سيات اعمالنا من يهدالله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له :اشهد ان لااله الا الله وحده لا شريك له واشهد ان محمدا عبده ورسوله: اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى اله واصحابه والتابعين وسلم تسليما كثيرا اما بعد فيا ايهاالحاضرون اوصيكم ونفسى بتقوى الله  وطاعته لعلكم تفلحون: قال الله تعالى وهو اصدق القائلين اعوذ بالله من الشيطان الرجيم يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون وقال تعالى : وليخش الذين لو تركوا من خلفهم ذرية ضعافا خافوا عليهم فليتقوا الله وليقولوا قولا سديدا </p>
<p><img alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/-apsH9ppa8-c/TvrDtCyCcfI/AAAAAAAAAic/g24LQkBvM58/s150/Picture%2B345.jpg" class="alignleft" width="250" height="200" />Kaum muslimin rahimakumullah<br />
Pertama marilah kita memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah member kenikmatan luar biasa banyaknya. Salah satu dari nikmat itu adalah pada saat ini kita masih bisa berkumpul di sini menjalankan ibadah wajib sholat jumat. Sholawat dan salam mudah-mudahan tercurah kepada Nabi besar Muhammad SAW, kepada keluarganya, para sahabatnya, para pengikut setianya termasuk kita yang selalu mengikuti ajaran-ajaran beliau. Amin.</p>
<p>Yang kedua, marilah kita bersama-sama lebih meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allah swt. Dengan cara berusaha semaksimal mungkin melaksanakan apa-apa yang diperintah Allah dan berusaha menjauhi apa-apa yang dilarang oleh Allah SWT. Dengan demikian kita akan berjalan pada jalan yang lurus, tunduk dan patuh secara ikhlas menjadi hamba Allah, dan begitulah seharusnya sehingga diri kita pantas disebut sebagai seorang muslim, orang yang berserah diri.</p>
<p>Kaum muslimin rahimakumullah<br />
Dua hari yang lalu kita bangsa Indonesia memperingati hari pendidikan nasional. Apa perlunya memperingati hari pendidikan, apa manfaat dan relevansinya bagi kehidupan kita? Barang kali pertanyaan semacam itu perlu kita ajukan, sehingga kita menjadi tahu esensi dari kegiatan memperingati itu sendiri.  </p>
<p>Hadirin rahimakumullah, Sebagaimana peringat-peraingat yang lain, makna memperingati adalah untuk mengenang kembali, supaya ingat. Lalu apa yang perlu diingat terkait dengan hari pendidikan tanggal 2 Mei itu?</p>
<p>Kalau kita kaji lebih dalam, memperingati hari pendidikan sesungguhnya kita diingatkan kepada satu hal yang amat penting dalam pembangunan bangsa. Pendidikan menjadi bagian utama dalam menentukan masa depan bangsa. Melalui pendidikan terbentuklah masyarakat yang berpengetahuan, cerdas, mampu berpikir, dan akhirnya bisa berbuat yang terbaik untuk dirinya dan masyarakatnya. Dari hasil pendidikan itu pulalah akan lahir kebudayaan yang maju, yakni kebudayaan yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. Hal ini sudah terbukti dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Dengan munculnya kaum terdidik diawal tahun 1900-an lahirlah generasi yang mampu mendorong pergerakan nasional untuk memperjuangkan kehidupan bangsa yang lebih baik, yakni sebagai bangsa yang merdeka. Munculnya gerakan kebangsaan seperti: Serikat Islam, Budi Utomo, Muhammadiyah, Indische Party, Taman Siswa, Nahdhatul Ulama dan lain-lain, pada sat itu merupakan hasil dari pendidikan. Tak heran kalau kemudian pada peringatan hari pendidikan tahun ini bertemakan “Bangkitnya Generasi Emas Indonesia”. Makna dari tema tersebut tersirat bahwa bangsa Indonesia ingin mempunyai generasi yang berkualitas, laksana emas yang bernilai tinggi dan laku jual dimanapun karena mempunyai daya saing terhadap bangsa lain. Kualitas seperti itu hanya bisa lahir dari pendidikan.  Seperti itu pulala lah yang selalu dipikirkan oleh sosok Ki Hajar Dewantoro, seorang tokoh pendidikan nasional kita, yang hari lahirnya kita peringati sebagai hari pendidikan nasional.</p>
<p>Kaum muslimin rahimakumullah<br />
Berbicara pentingnya pendidikan, kita semua sudah diingatkan oleh Allah SWT, dalam Al-Qur’an surat An-nisa ayat 9 :</p>
<blockquote><p> “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”  (QS: An-Nisa ayat  9)
</p></blockquote>
<p>Ayat ini menggambarkan pentingnya pendidikan untuk mempersiapkan Sumber Daya Manusia ke depan agar menjadi generasi yang kuat, sejahtera lahir dan batin dalam bingkai iman dan taqwa kepada Allah swt. Dalam ayat tersebut sekaligus ditegaskan model pendidikan yang harus diberikan kepada anak-anak kita. Di akhir ayat ditekankan perlunya mendidik dengan perkataan yang benar/ pendidikan kejujuran.</p>
<p>Hadirin rahimakumullah,<br />
Pendidikan kejujuran inilah yang menjadi inti dari semua usaha pendidikan anak-anak kita. Pendidikan setinggi apapun kalau tidak menyertakan pendidikan kejujuran tidaklah akan melahirkan generasi yang berharga. Malah sebaliknya. Seperti fenomena sekarang ini yang dirasakan oleh bangsa kita, karena beberapa kurun waktu yang lalu, pendidikan kita mengesampingkan pendidikan kejujuran, maka generasi yang lahir sekarang ini ditandai dengan banyak orang pandai/ pintar tetapi yang dapat diharapkan mampu membangun bangsa sangatlah langka. Mereka pintar tetapi memanfaatkan kepintarannya untuk kepentingan sendiri, bahkan tega menggerogoti uang Negara untuk kepentingan diri sendiri.</p>
<p>Untunglah para pengambil kebijakan dibidang pendidikan mulai menyadari betapa pentingnya pendidikan karakter, utamanya pendidikan kejujuran. Pendidikan sekarang ini mulai menerapkan pendidikan karakter, mulai menekankan pendidikan budipekerti, dan sekaligus memandang penting untuk menanamkan nilai-nilai kejujuran. Semua itu merupakan langkah yang ditempuh untuk sepuluh tahun atau dua puluh tahun lagi lahir generasi-generasi emas Indonesia yang bisa merubah wajah Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik.</p>
<p>Hadirin rahimakumullah,<br />
Sebagai anggota masyarakat, sebagai orang tua yang mempunyai anak, marilah kita perhatikan pendidikan putra putri kita. Kita harus peduli terhadap pendidikan anak-anak kita. Ingat, bahwa kewajiban mendidik yang pertama terletak pada pundak kita. Kewajiban untuk mendidik anak itu terletak pada orang tua masing-masing. Walaupun anak kita sudah kita masukkan ke sekolah-sekolah, bukan berarti kita para orang tua lepas dari tanggung jawab mendidik. Oleh karena itu kita -para orang tua- harus ikut aktif memberikan pendidikan terutama menyangkut pendidikan budi pekerti dan akhlakul karimah.</p>
<p>Terkait dengan pendidikan putra-putri kita, Islam telah memberi petunjuk arah yang sangat jelas, yakni untuk membentuk kepribadian anak menjadi anak yang sholeh yang mau mendo’akan kepada orang tua (waladun sholihun yad’uulahu). Disamping itu Allah sendiri telah memberi petunjuk pola-pola pendidikan anak melalui firmannya yang dijelaskan dalam surat Lukman sebagai berikut:<br />
1.      Pola pendidikan pertama adalah pendidikan ke-tauhid-an: memperkenalkan Allah sebagai satu-satunya tuhan, jangan sampai anak menyekutukan Allah dengan tuhan-tuhan yang lain.</p>
<p>Dan ingatlah ketika Lukman berkata kepada anaknya,”wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Q.S 31:13)</p>
<p>2.      Pola pendidikan kedua, menganjurkan selalu produktif dengan amalan-amalan nyata, sekaligus memberi pengertian untuk selalu jujur, karena perbuatannya dinilai oleh Allah.</p>
<p>(Lukman berkata) “Wahai anakku! Sungguh jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau langit, atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah maha halus, maha teliti.”(Q.S 31: 16 )</p>
<p>3.      Pola pendidikan ketiga adalah pembentukan kepribadian anak dengan cara: menekankan untuk mengerjakan sholat, amar makruf dan nahi mungkar, serta melatih sabar.</p>
<p>“Wahai anakku! Laksanakanlah sholat dan suruhlah (manusia) untuk berbuat yang makruf dan cegahlah (meraka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.” (Q.S 31: 17)</p>
<p>4.      Pola pendidikan keempat adalah pendidikan dalam hubungan social dengan cara: menghindari sikap sombong dan angkuh.</p>
<p>“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”  (Q.S 31: 18)</p>
<p>5.      Pola pendidikan kelima adalah pendidikan sopan-santun dalam berkomunikasi.</p>
<p>“Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu, sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Q.S 31 : 19 )</p>
<p>Hadirin rahimakumullah,<br />
Melalui pendidikanlah satu-satunya jalan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat ke depan. Lewat pendidikan pula wajah Indonesia akan berubah ke arah yang lebih baik. Oleh karena itu marilah bersama-sama apa yang telah diusahakan oleh pemerintah melalui kebijakan dibidang pendidikan ini kita dukung. Pemerintah telah mengambil kebijakan pendidikan wajib belajar 9 tahun, dengan membebaskan pungutan-pungutan biaya yang memberatkan sehingga diharapkan semua rakyat bisa bersekolah, memperoleh pendidikan yang berkualitas; semua itu adalah upaya untuk menghasilkan generasi-generasi emas. Dukungan kita sebagai orang tua berupa perhatian yang penuh terhadap kemajuan, prestasi belajar putra putrid kita. </p>
<p>Dukungan kita yang saat ini masih berstatus sebagai siswa/ mahasiswa, belajarlah dengan baik, dengan sungguh, sungguh, karena masa depan diri kamu dan Indonesia ikut ditentukan kesungguhan kamu. Jadilah generasi berkualitas emas, untuk masa depan Indonesia.</p>
<p> “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”  (QS. Al-Mujadalah: 11)</p>
<p>بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم</p>
<p>Daftar pustaka:<br />
-      Pidato sambutan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional tahun 20012<br />
-      Hatta, Ahmad,Dr.,2011. Tafsir Qur’an Per Kata. Jakarta:  Maghfirah Pustaka<br />
-      http://penamasmgl.blogspot.com<br />
-      www.nu.org.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ispi.or.id/2012/05/03/memperingati-hari-pendidikan-bangkitnya-generasi-emas-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tayangan Sinetron</title>
		<link>http://www.ispi.or.id/2012/04/27/tayangan-sinetron/</link>
		<comments>http://www.ispi.or.id/2012/04/27/tayangan-sinetron/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Apr 2012 11:12:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Maswito]]></category>
		<category><![CDATA[sinetron]]></category>
		<category><![CDATA[Wajah Sinetron]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ispi.or.id/?p=3340</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Maswito Pengurus ISPI Pulau Bintan, Riau SEBAGIAN besar tayangan sinetron diberbagai televisi saat ini sungguh memprihatinkan. Kita bisa lihat sendiri, sebagian besar setting sinetron itu memilih rumah mewah, dengan hidup gaya aktor dan aktris yang glamour dengan dandanan yang wah. Kemudian memainkan peran yang kental dengan perselingkuhan dan seks, perebutan harta, persaingan jabatan dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: <strong>Maswito</strong><br />
<em>Pengurus ISPI Pulau Bintan, Riau<br />
</em><br />
<img alt="" src="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/75609_173267299352402_100000073991538_566319_5419258_n.jpg" class="alignleft" width="180" height="240" />SEBAGIAN  besar tayangan sinetron diberbagai televisi saat ini sungguh memprihatinkan.  Kita bisa lihat sendiri, sebagian besar setting sinetron itu  memilih rumah mewah, dengan hidup gaya aktor dan aktris yang glamour dengan dandanan yang wah. Kemudian memainkan peran yang kental dengan perselingkuhan dan seks, perebutan harta, persaingan jabatan dalam bisnis eksekutif dan sebagainya. Akal sehat dalam memandang gerak kehidupan yang seharusnya lebih dominan, bernuansa kerja keras, disertai doa dengan tata cara agama secara benar, nyaris tak kelihatan dalam sinetron kita. Jika ditampilkan itu pun di kemas dengan cara yang amat sederhana.</p>
<p>Hal-hal yang terkait dengan kekerasan, seks, mistik, dan moral rendah digambarkan dalam format yang tidak semestinya ada dalam tayangan yang ditujukan untuk para remaja. Adegan pertengkaran, intrik, pacaran, sebagai hal biasa dan wajar, pelecehan guru dan atribut sekolah dengan tampilan pakaian sekolah yang semi transparan dan minim, cukup banyak dan sering ditampilkan untuk segmen remaja. </p>
<p>Hal seperti ini jelas tidak mendidik dan bisa mengikisi serta merusak moral remaja yang masih mencari identitas diri.</p>
<p>Pemirsa televisi saat ini, umumnya sedang terkena sihir informasi media televisi yang begitu menggoda dan menghibur, tetapi belum tentu mendidik dan mencerahkan. Bahkan sangat boleh jadi, televisi dengan format acaranya saat ini telah terposisikan sebagai “agama baru”  masyarakat Indonesia.</p>
<blockquote><p>Mengapa? Ini di antara alasan menjadikan televisi sebagai “agama baru” sebagaimana dikatakan Anwar Hasan (2007)  alumnus The International Institute of Humant Rights Strasbourg,  Perancis ini adalah karena televisi telah cendrung mengambil alih sejumlah ciri dan fungsi sebuah agama.
</p></blockquote>
<p>Pertama, televisi telah menjadi sesuatu yang sangat dipentingkan dan diutamakan. Nilai pentingnya sebuah televisi dalam rumah tangga telah menjadi kebutuhan dasar secara berjemaah. Sebagaimana layaknya sebuah agama. Di samping itu, televisi tidak hanya sebagai kebutuhan dasar, tapi telah menjadi symbol prestise, sekaligus aksesori utama.</p>
<p>Kedua, sebagai “agama baru” televisi dengan program acaranya juga sudah dapat mengatur jadwal seseorang menjadi kegiatan rutin dalam sehari semalam, sebagaimana layaknya kewajiban beribadah secara rutin dari sebuah ajaran agama. Tengoklah bagaimana para pemirsa mengikuti siara langsung sepakbola dunia pada dini hari. Mereka relah bagadang semalaman dan pada akhirnya kerap meninggalkan kewajiban agama berupa salat subuh. Dengan kata lain, saat itu, mereka telah melakukan perpindahan agama.</p>
<p>Ketiga, jika agama mempunyai penyeru yang oleh pengikutnya dijadikan idola dan panutan, maka saat inipun televisi telah memiliki ciri tersebut. Televisi telah melahirkan sejumlah “nabi baru,” berikut ajarannya, yang kemudian dengan setia diikuti secara fanatik oleh sejumlah pengikutnya. Umumnya, pengikut “agama baru” dari televisi tersebut, telah menganut agama formal sesuai yang tercantum di kartu tanda penduduk secara turun temurun. Dengan demikian, sangat boleh jadi mereka telah mempraktikkan secara berbaur kedua ajaran tersebut. Namun saat jadwal keduanya bertabrakan dan harus memilih salah satunya, maka yang paling sering memenangkan adalah “ajaran agama” yang diperkenalkan oleh televisi.</p>
<p>Tayangan sinetron yang sebagian besar “tak layak” tonton itu  mendapat perhatian khusus pula dari anggota  Ketua Gerakan  Masyarakat Peduli Akhlak Mulia (GMPAM) Provinsi Keulauan Riau, Aida Ismeth.  Saking gerahnya melihat  sebagian besar tayangan sinetron tersebut,  dalam berbagai kesempatan dia  selalu menyampaikan:   “Saya malas nonton sinetron di televisi kita, khususnya televisi swasta. Kesannya terlampau wah, glamour dan tidak mendidik, terutama untuk perkembangan generasi muda. Kalau pun nonton sinetron, yang saya tonton itu cuma SOLEHA di RCTI. Yang lain malas ah, tak mendidik dan menyakitkan hati aja,” ujar  Aida yang juga anggota DPD-RI  utusan  Provinsi  Kepulauan Riau ini ketus.</p>
<p>Menurut Aida, selain banyak yang tidak mendidik, bisnis tayangan televisi yang terkesan huru-hara dan kuis berbau judi masih mendominasi sebagian televisi kita, khususnya televisi swasta. “Bagaimana generasi penerus bangsa kita tidak akan rusak jika setiap hari mereka selalu disuguhkan tayangan sinetron yang tidak bener setiap harinya. Saya minta kepada orang tua agar mengatur jadwal anak-anaknya jika mau menonton televisi serta menyeleksi judul sinetron yang mereka tonton. Kasihan jika nanti mereka ikut terjebak dengan tayangan yang tidak benar itu,” katanya dengan mata berkaca-kaca dengan raut wajah yang kelihatan kecewa dan sedih.</p>
<p>Yang lebih menyedihkan lagi kata istri mantan Gubernur Kepulauan Riau Ismeth Abdullah itu, jam tayang sinetron ini juga serta merta dapat ditonton oleh anak usia sekolah taman kanak-kanan dan sekolah<br />
dasar karena jam tayangnya yang diacak. “Untung saja anak saya sekarang sudah besar dan tidak terpengaruh dengan tontonan seperti itu,” jelas anak Gubernur Riau pertama Mr SM Amin Nasution ini penuh nada syukur. Aida menambahkan secara pribadi dirinya sering menyampaikan keberatan dan berkeinginan untuk menguggat tayangan senetron di televisi kita kepada kolega-koleganya di DPD RI.</p>
<p>Sekarang tergantung sama kita (orang tua, red). Kita harus bijak dan menyeleksi  tayangan sinetron yang akan ditonton anak-anak kita.   Itu salah satu jalan  terbaik yang dapat kita lakukan untuk menyelamatkan anak kita – generasi penerus bangsa dari pengaruh negatif tayangan sinetron saat ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ispi.or.id/2012/04/27/tayangan-sinetron/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Implementasi Pembelajaran Lingkungan Hidup yang Islami</title>
		<link>http://www.ispi.or.id/2012/04/23/implementasi-pembelajaran-lingkungan-hidup-yang-islami/</link>
		<comments>http://www.ispi.or.id/2012/04/23/implementasi-pembelajaran-lingkungan-hidup-yang-islami/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2012 07:14:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[muhamad ridwan]]></category>
		<category><![CDATA[pembelajaran lingkungan hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ispi.or.id/?p=3333</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Muhamad Ridwan, S.Pd., M.Pd. Guru Biologi  MA Al Ihsan Baleendah Bandung, Penerima Satya Lencana Inovator Muda dari Presiden RI dan Anggota ISPI Manusia diciptakan oleh Allah swt untuk menjadi khalifah di muka bumi. Sebagai seorang khalifah, manusia dituntut untuk dapat hidup berdampingan dengan lingkungan hidup. Hal ini sesuai dengan pandangan holistik yang menyatakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : <span style="color: #0000ff;"><strong>Muhamad Ridwan, S.Pd., M.Pd.</strong></span></p>
<p><img class="alignleft" src="http://www.pesantrenalihsanbe.or.id/assets/uploads/image/Pa%20Ridwan.jpg" alt="" width="98" height="130" /><span style="color: #0000ff;"><em>Guru Biologi  MA Al Ihsan Baleendah Bandung, Penerima Satya Lencana Inovator Muda dari Presiden RI dan Anggota ISPI</em></span></p>
<p>Manusia diciptakan oleh Allah swt untuk menjadi khalifah di muka bumi. Sebagai seorang khalifah, manusia dituntut untuk dapat hidup berdampingan dengan lingkungan hidup. Hal ini sesuai dengan pandangan holistik yang menyatakan bahwa manusia merupakan bagian integral dari lingkungan hidup, sehingga perilaku manusia yang merusak lingkungan hidup, pada hakikatnya telah merusak dirinya sendiri.</p>
<blockquote><p>Kerusakan lingkungan hidup yang telah melanda seluruh negara-negara di dunia, tidak lepas dari andil manusia itu sendiri dalam merusak dan mendegradasi kualitas lingkungan hidup sampai tingkat yang membahayakan bagi kehidupan makhluk hidup di dalamnya. Alih-alih manusia menjadi bagian integral dari lingkungan hidup sebagai mana pandangan holistik, malah bergeser kepada pandangan antroposentris yang menempatkan manusia di luar lingkungan hidup. Hal ini membawa konsekuensi bahwa manusia yang merusak lingkungan hidup tidak akan memberikan dampak yang serius bagi kehidupan manusia tersebut.</p></blockquote>
<p>Permasalahan semakin kompleks, manakala pendidikan lingkungan hidup yang diberikan di sekolah cenderung teoritis dan tidak menstimulus siswa untuk mengembangkan potensi dirinya bagi kepentingan kelestarian lingkungan hidup. Padahal dalam pandangan konstruktivisme sebagaimana yang terdapat dalam kurikulum pendidikan lingkungan hidup 2004, siswa harus dapat mengkonstruk pengetahuannya dengan mengoptimalkan segenap keterampilan kognitif, afektif dan psikomotor dalam kegiatan belajar mengajar untuk diimplementasikan pada kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Soemarwoto (2001) mengungkapkan bahwa pendidikan lingkungan hidup harus dibelajarkan sejak usia dini. Orang tua merupakan pihak pertama yang wajib membelajarkannya, misalnya dengan menanamkan kebiasaan membuang sampah pada tempatnya atau menanamkan kebiasaan makan tidak berlebihan. Penanaman kesadaran sejak usia dini, diharapkan dapat melahirkan manusia Indonesia yang peduli terhadap lingkungan hidup.</p>
<p><strong>Integrasi dengan nilai-nilai keislaman</strong><br />
Ada sebuah pertanyaan yang patut dikemukakan dalam tulisan ini. Mengapa pendidikan lingkungan hidup harus diintegrasikan dengan nilai-nilai keislaman ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita terlebih dahulu mengkaji secara seksama tentang isi kandungan Al Qur’an yang merupakan inti ajaran islam yang banyak berbicara tentang fenomena alam. Tidak kurang dari 750 ayat Al Qur’an membicarakan tentang fenmena alam. Salah satu contohnya adalah Firman Allah swt dalam Al Qur’an surat Yunus ayat 101 Perhatikanlah apa yang terdapat di langit dan di bumi. Dalam ayat lainnya yaitu Surat Al Ghasyiah ayat 17-20 Allah swt berfirman, Apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana unta diciptakan, bagaimana langit ditinggikan, bagaimana gunung ditancapkan dan bagimana bumi dihamparkan. Surat Al Syu’ara ayat 7 juga mengemukakan hal yang sama. Allah swt berfirman. Apakah mereka tidak memperhatikan bumi? Berapa banyak Kami tumbuhkan di bumi itu aneka ragam tumbuhan yang baik”. Apabila kajian ayat-ayat Al Qur’an tersebut diteruskan akan semakin banyak jumlahnya.</p>
<p>Orang yang memiliki keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt tidak akan melakukan kerusakan di muka bumi. Shihab (2005) mengungkapkan bahwa berkali-kali Al Qur’an menegaskan bahwa inna Allah la yahdi, sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada al-zhalimin (orang yang berlaku aniaya), al kafirin (orang-orang yang kafir), al fasiqin (orang-orang yang fasik), man yudhil (orang yang disesatkaan), man huwa kadzibun kaffar (pembohong lagi amat inkar), musrifun kazzab (pemboros lagi pembohong) dan lain-lain.</p>
<p>Apabila diperhatikan dari karakteristik manusia yang dijadikan oleh Allah swt sebagai makhluk yang tidak akan diberikan petunjuk, memiliki kemiripan dengan pelaku kerusakan lingkungan hidup. Bukankah orang yang merusak lingkungan hidup termasuk orang yang melakukan perbuatan aniaya terhadap diri sendiri dan orang lain, juga termasuk orang fasik karena mereka mengetahui aturan tentang pengelolaan lingkungan hidup yang baik namun justru malah melanggarnya, sehingga mereka disesatkan oleh Allah swt karena memiliki kecenderungan suka membohongi publik dan hidup berlebih-lebihan (boros).</p>
<p>Menanamkan kesadaran tentang pentingnya menjaga lingkungan hidup yang terintegrasikan dengan nilai-nilai keislaman, merupakan solusi terbaik dalam mengurangi degradasi lingkungan hidup yang dewasa ini marak terjadi di seluruh penjuru dunia. Ghulsyani (2001) mengungkapkan bahwa dalam ajaran islam menjaga lingkungan hidup termasuk ibadah. Hal ini akan memberikan motivasi tersendiri bagi umat islam ketika dihadapkan pada kewajiban menjaga lingkungan hidup.</p>
<p>Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) merupakan bagian integral dari pembelajaran pada setiap pelajaran yang ada dalam tingkat satuan pendidikan. Materi Pendidikan Lingkungan Hidup diperoleh peserta didik melalui kegiatan pembelajaran sehari-hari yang diemban oleh mata pelajaran yang bersangkutan.</p>
<p>Pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup, sebaiknya dibelajarkan dengan menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah, serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. Pada pembelajaran PLH, diharapkan muncul kreativitas peserta didik untuk memahami permasalahan yang berhubungan dengan alam sekitar atau setidak-tidaknya lingkungan di mana peserta didik berada.</p>
<p><strong>Penutup<br />
</strong>Banyak anggapan bahwa terminologi lingkungan hidup lebih dikenal sebagai kosakata dari peradaban barat, sehingga tumbuh anggapan bahwa hanya ahli-ahli dari negara barat yang menguasai lingkungan hidup. Masalah lingkungan hidup ini sifatnya inheren sebagai bagian dari kepribadian seorang muslim. Islam merupakan agama yang realitas sebagai pedoman bagi seorang muslim/muslimah untuk mengurus masalah sehari-hari. Ulama Buya HAMKA mengatakan bahwa Islam tidak hanya mengatur ibadah untuk kepentingan tiap-tiap pribadi dengan Allah semata, tetapi juga memikirkan dan mengatur masyarakat (Alim,2007). Menurut Trimenda (2007), konsep Islam tentang pentingnya konservasi, penyelamatan dan pelestarian lingkungan telah menjadi prinsip ekologi yang dituangkan dalam beberapa kesepakatan pada konvensi dunia yang berkaitan dengan lingkungan. Akan tetapi, belum dimanfaatkan secara nyata dan optimal. Maka, perlu adanya penggalian secara komprehensif tentang konsep tersebut. Kemudian digunakan sebagai teologi lingkungan.</p>
<p>Pendapat Trimenda (2007) perlu diimplementasikan dalam bentuk pendidikan lingkungan hidup yang terintegrasikan dengan nilai-nilai keislaman. Sofyan (2007) mengungkapkan bahwa pendidikan lingkungan secara islami penting untuk mengenal dan menyadari lingkungan hidup, sehingga mampu berperan aktif dalam penyebaran maupun pembinaan lingkungan dan kesehatan. Selain peran pendidik, ulama dan tokoh masyarakat dibutuhkan dalam menanamkan pengetahuan dan kesadaran tersebut kepada masyarakat.</p>
<p>Shihab (2005) mengungkapkan bahwa Setiap jengkal tanah yang terhampar di bumi, setiap angin sepoi yang berhembus di udara, dan setiap tetes hujan yang tercurah dari langit akan dimintakan pertanggungjawaban manusia menyangkut pemeliharaan dan pemanfaatannya. Menurut Alim (2006) masalah lingkungan hidup dan nilai-nilai keislaman berhubungan erat. Pengintegrasian ini diharapkan juga akan melahirkan insan Indonesia yang memiliki kadar keimanan tinggi yang peduli dengan lingkungan hidup</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ispi.or.id/2012/04/23/implementasi-pembelajaran-lingkungan-hidup-yang-islami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

